22 Maret 2026

Merajut Rindu di Ambang Syawal: Sebuah Jejak Silaturahmi di Kediaman Camat Kuantan Tengah

Merajut Rindu di Ambang Syawal: Sebuah Jejak Silaturahmi di Kediaman Camat Kuantan Tengah

Di bawah langit Ahad yang teduh, 22 Maret 2026, semilir angin Syawal 1447 H membawa langkah kami menyusuri jalanan Teluk Kuantan. Hari itu bukan sekadar perjalanan biasa; ia adalah sebuah kepulangan menuju simpul masa lalu, sebuah ikhtiar untuk merawat kasih sayang yang sempat tertunda oleh riuh rendahnya dunia.

Saya melangkah bersama pelita hati: istri tercinta, Yeyen Febrina, S.Sn—seorang pendidik di SMPN 2 Teluk Kuantan—serta buah hati kami, Violino Ridho Putra (SMAN 1 Teluk Kuantan), Cello Yenroza Putra (SMP MUTU Teluk Kuantan), dan si bungsu Viola Utari Putri (MIM Teluk Kuantan). Kami membawa serta rindu yang mekar, menuju sebuah pintu yang selalu terbuka hangat.

Reuni Kecil di Serambi Sahabat
Tujuan kami adalah kediaman seorang sahabat lama, rekan seperjuangan semasa mengenyam pendidikan di SMKN 1 Teluk Kuantan. Beliau adalah Bapak Eka Putra, S.Sos., M.Si, sosok bersahaja yang kini memanggul amanah sebagai Camat Kuantan Tengah.

Ada rasa syukur yang membuncah melihatnya tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi khalayak. Masya Allah, sukses dan keberkahan seolah melingkupi langkahnya. Tak disangka, di sana kami pun bersua dengan Sanak Deka, karib seagama dan sealmamater yang kini mengabdi di Setwan DPRD Kabupaten Kuansing. Maka lengkaplah pertemuan itu menjadi sebuah reuni kecil yang dahsyat, menggetarkan sanubari.

Menimba Ilmu, Mengenal Akar
Percakapan mengalir deras layaknya riak Batang Kuantan. Kami tidak hanya bernostalgia tentang kenakalan masa sekolah atau tawa yang pecah di sudut kelas, tetapi juga menyelami kedalaman makna keluarga dan keluhuran budaya.


Sebagai keluarga yang tumbuh besar di tanah perantauan—saya di metropolitan Jakarta dan istri di Tembilahan—petuah dari Pak Eka mengenai adat-istiadat, persukuan, dan filosofi Kenegerian Taluk Kuantan menjadi oase pengetahuan yang sangat berharga. Bagi anak-anak kami, ini adalah pelajaran hidup tentang jati diri dan akar budaya yang tak boleh tercabut meski zaman terus berganti.

“Silaturahmi bukan sekadar tatap muka, melainkan cara kita menyambung ruh dan sejarah yang pernah kita tulis bersama.”

Potret yang Mengabadi
Waktu seolah berlari terlalu cepat saat hati sedang merasa nyaman. Sebelum berpamitan, kami mengabadikan momen ini dalam bingkai potret bersama. Dengan bidikan manis dari putri ananda Pak Eka yang bertindak sebagai fotografer, tawa kami kini abadi dalam selembar digital yang akan dikenang di masa depan.

Terima kasih yang setulus-tulusnya kami haturkan kepada Bapak Eka Putra dan Ibu atas jamuan dan kehangatan yang luar biasa. Doa kami melangit, semoga Bapak sekeluarga selalu berada dalam lindungan, keberkahan, dan ridho Allah SWT.

Salam santun dari kami,
Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd & Keluarga Besar Toko Jembatan Merah & Toko Vicella Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar ya