Menghargai Keringat Kreatif: Ketika Karya Seni Disentuh Kedzaliman
"Ronaldo Rozalino"
Bismillah. Keindahan sebuah seni tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik keanggunan setiap gerak tari yang memikat dan harmoni nada musik yang menggetarkan sukma, ada jejak penjelajahan jiwa yang begitu panjang.
Sebuah karya seni adalah muara dari gumpalan ide sebuah entitas bernilai tinggi yang lahir dari kedalaman mikir, energi, dan kontemplasi.
Namun, sering kali penikmat layar hanya menyerap hasil akhirnya tanpa pernah mau tahu betapa berdarah-darahnya sebuah proses.
Mahalnya Sebuah Proses dan Pengorbanan
Membuat karya seni bukan sekadar merangkai nada atau melangkah di atas panggung.
Para seniman, komponis, dan koreografer membagi napas kehidupan mereka di antara banyak persimpangan: mengatur waktu latihan, menunaikan tanggung jawab keluarga, meniti pekerjaan utama, melatih para pelakon, hingga mencari sumber daya untuk menopang karya tersebut.
Ketika panggung pertunjukan usai, penonton bersorak menikmati indahnya kemenangan dan pesona seni yang disajikan. Sayangnya, di balik gempita apresiasi itu, kerap terselip kisah pilu:
hak-hak pekerja seni yang terabaikan atau bahkan dirampas.
Meminta karya orang lain tanpa penghargaan yang layak, menunda upah, atau bahkan enggan membayar hak cipta dan keringat para seniman adalah sebuah bentuk kedzaliman.
Perspektif Al-Qur'an dan Al-Hadis: Larangan Memakan Hak Orang Lain
Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin menaruh perhatian yang sangat mendalam terhadap keadilan, penghargaan atas karya, serta perlindungan terhadap hak-hak sesama manusia.
وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil..."
(QS. Al-Baqarah [2]: 188)
Mengambil, menikmati, atau memangkas hak dan rezeki seorang seniman tanpa kesepakatan dan kerelaan yang adil tergolong dalam perbuatan batil. Ide, tenaga, dan waktu yang telah dicurahkan adalah aset berharga yang wajib dihormati dan dibayar setimpal.
Rasulullah SAW juga menekankan betapa krusialnya menyegerakan penyerahan hak atas jerih payah seseorang:
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
"Berikanlah kepada pekerja upahnya sebelum keringatnya kering."
(HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar)
Keringat seorang seniman baik yang menetes di atas panggung maupun yang terkuras dalam ruang imajinasi dan ide adalah amanah yang harus ditunaikan.
Menunda apalagi merampas rezeki mereka sama artinya dengan memetik buah manis dari pohon yang disiram air mata orang lain.
Membangun Peradaban Melalui Apresiasi Seni
Seni (tari dan musik) adalah cermin kebudayaan dan keindahan rasa. Sebuah peradaban yang beradab tidak hanya dinilai dari seberapa riuh tepuk tangan penikmatnya, tetapi dari seberapa mulia cara masyarakatnya menghargai para kreator di balik layar.
Mari belajar menghargai proses, memuliakan ide, dan memastikan setiap insan seni mendapatkan hak dan rezekinya secara utuh tanpa ada kedzaliman.
Sebab, rezeki yang kita makan dari merampas hak orang lain hanya akan menjadi kegelapan, baik di dunia maupun di akhirat.
Profil Penulis
H. Ronaldo Rozalino,
S.Sn., M.Pd, C.PS, C.ME, C.TM, C.TLE, C.CCW, C.TP, C.TCC, C.QEM, C.IB, C.HTeach, etc.
(Ketua Komunitas Budaya Sanggar Seni Kuantan Mekar • Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kuansing • Guru ASN Seni Budaya SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau • Guru Seni Budaya SMA Taruna Muhammadiyah Riau • Guru Tamu Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kuansing • Composer & Arranger • Guru Penulis 5 Negara ASEAN (Peruas) • Konten Kreator • Bisnis Owner • Composser Arangger • Coach)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar ya