Menjaga Marwah Rupiah di Tanah Kuantan Singingi: Sebuah Dedikasi Cinta, Bangga, dan Paham
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Fasilitator Daerah CBP Rupiah Kab. Kuansing – Kolaborasi Bank Indonesia Perwakilan Riau & BGTK Provinsi Riau)
Bismillah. Uang bukan sekadar helai kertas bermotif indah atau kepingan logam yang berdenting saat bertumbukan. Di balik setiap lembar Rupiah yang berpindah tangan dari pasar-pasar rakyat hingga ke sudut-sudut pedalaman Kuantan Singingi
Tersimpan napas kedaulatan, jejak sejarah, dan kehormatan sebuah bangsa yang merdeka. Rupiah adalah pengikat kebhinekaan, rajutan identitas yang mempersatukan nusantara dari Sabang sampai Merauke.
Di bawah naungan semangat "Riau Bertuah", kolaborasi mulia antara Bank Indonesia Perwakilan Riau dan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau hadir memperkuat barisan edukasi melalui gerakan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.
Sebuah ikhtiar kebudayaan dan pendidikan untuk menanamkan rasa hormat terhadap mata uang kita sendiri.
Filosofi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah
Menjaga Rupiah memerlukan kepekaan hati dan kecerdasan budi. Tiga pilar utama menjadi kompas dalam memperlakukan uang bangsa:
Cinta Rupiah: Diwujudkan dengan merawat dan memperlakukan setiap lembar uang dengan penuh penghargaan, menjaga kebersihannya, serta menjaganya dari kerusakan fisik.
Bangga Rupiah: Diwujudkan dengan rasa bangga menggunakan Rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menjadikannya benteng kedaulatan ekonomi nasional.
Paham Rupiah: Diwujudkan dengan bertransaksi secara bijak, berhemat, berinvestasi, serta memahami peran strategis Rupiah dalam menjaga stabilitas perekonomian bangsa.
⛔ Pedoman "5 JANGAN" dalam Merawat Uang Rupiah
Agar keutuhan dan keindahan identitas bangsa tetap terjaga, hindari lima perilaku yang dapat merusak lembaran Rupiah:
🚫 JANGAN DILIPAT: Sampaikan rasa hormat dengan membiarkannya tetap lurus dan rapi.
🚫 JANGAN DISTAPLER: Hindari melubangi serat kertas yang dapat merusak ketahanan fisik uang.
🚫 JANGAN DICORET: Jagalah kebersihan wajah pahlawan dan keindahan seni cetak Rupiah.
🚫 JANGAN DIBASAHI: Lindungi dari air agar kertas tidak melunak dan warna tidak pudar.
🚫 JANGAN DIREMAS: Perlakukan lembaran Rupiah dengan lembut, bukan meremasnya hingga kusut.
🔍 Kecermatan Mengenali Keaslian: Metode 3D
Sebagai wujud perlindungan diri dan masyarakat dari ancaman uang palsu, penting bagi setiap warga untuk menguasai metode sederhana namun sangat ampuh dalam memastikan keaslian Rupiah melalui prinsip 3D:
👁️ DILIHAT: Perhatikan warna uang yang terang dan jelas, periksa benang pengaman yang melintas, serta amati gambar saling isi (rectoverso).
✋ DIRABA: Rasakan tekstur kasar khas pada bagian-bagian utama seperti lambang negara, angka nominal, dan cetakan dalam (intaglio).
💡 DITERAWANG: Arahkan uang ke sumber cahaya untuk melihat tanda air (watermark) serta ornamen gambar pahlawan yang tersembunyi dengan presisi.
"Menjaga Rupiah adalah menjaga kehormatan bangsa. Setiap lembar yang terawat rapi adalah simbol kemandirian dan rasa cinta kita kepada Tanah Air."
🏛️ Mengalirkan Literasi di Kuansing Bertuah
Sebagai Fasilitator Daerah CBP Rupiah di Kabupaten Kuantan Singingi, langkah edukasi ini tidak sekadar mentransfer pengetahuan teknis keuangan, tetapi juga menyulut api kebanggaan nasionalisme di kalangan pendidik, siswa, dan masyarakat luas.
Di tanah Riau yang bertuah, marwah Rupiah adalah bagian tak terpisahkan dari martabat masyarakatnya.
Mari bersama-sama kita gaungkan gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
Jaga lembarannya, pahami nilainya, dan banggalah menggunakannya di setiap jengkal negeri!
#cbprupiahriau
#bgtkriau
#biriau
#fasdacbprupiah
#rupiahbedelau

Menjadi Embun yang Luruh Diam-Diam
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd (Coach RR)
Bismillah. Di tengah dunia yang bergerak begitu bising, kita sering kali dipaksa untuk terus bersuara. Panggung-panggung kehidupan dipenuhi oleh sorak-sorai, tempat orang-orang berlomba menepuk dada, memamerkan pencapaian, dan menuntut pengakuan.
Kita seolah diwajibkan untuk terlihat hebat di mata sesama. Namun, di balik riuhnya tepuk tangan yang semu itu, pernahkah kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam:
Apalagi yang tersisa dari hidup ini jika seluruhnya habis hanya untuk mengejar pujian?
Hidup, pada hakikatnya, bukan tentang seberapa megah kita berdiri di atas panggung, melainkan seberapa luas teduh yang bisa kita berikan kepada jiwa-jiwa yang sedang kepanasan di bawah terik ujian.
Jika takdir menuntunmu pada sebuah kesempatan untuk mengulurkan tangan, maka bantulah. Ringankan beban yang menggelayuti pundak sesamamu. Dunia ini sudah cukup berat bagi banyak orang; jangan biarkan mereka merangkak sendirian dalam gelap jika kita memiliki secercah cahaya untuk dibagikan.
Ketulusan dalam Sekecil-kecilnya Rupa
Namun, adakalanya jemari kita terlalu pendek untuk merengkuh semua nestapa. Adakalanya kantung kita terlalu tipis untuk menyelesaikan semua perkara materi. Jika hari itu tiba, jangan berkecil hati. Kebaikan tidak pernah mematok harga. Ia adalah mata uang semesta yang bisa dibayarkan lewat apa saja yang bersumber dari ketulusan hati.
“Kalau bisa menguatkan hati orang, lakukanlah. Walau hanya lewat senyum, lewat doa, atau sekadar menyediakan telinga untuk mendengarkan mereka yang sedang dirundung sedih.”
Sebuah senyuman yang tulus bisa menjadi jembatan bagi jiwa yang hampir putus asa. Sebuah doa yang dibisikkan lirih di sepertiga malam bisa menjadi tameng gaib bagi sahabat yang sedang berjuang di ujung badai. Dan sebuah kesediaan untuk duduk diam, mendengarkan isak tangis tanpa menghakimi, terkadang jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan nasihat medis. Kebaikan-kebaikan kecil inilah yang sering kali menyelamatkan hidup seseorang tanpa pernah kita sadari.
Sunyinya Jalan Keikhlasan
Ada sebuah sunyi yang indah dalam jalan keikhlasan. Ia bagaikan akar pohon yang tertanam jauh di dalam gelapnya tanah. Ia tidak pernah pamer kepada dunia betapa cantiknya bunga yang mekar di ranting, atau betapa manisnya buah yang bergelantungan di dahan.
Namun, tanpa keikhlasan sang akar yang terus bekerja dalam senyap, pohon itu akan tumbang dihantam angin.
Maka, tidak apa-apa kalau hari ini tidak ada satu pun manusia yang menyebut kita hebat.
Tidak apa-apa jika peluh dan air mata yang kita teteskan untuk orang lain luput dari pandangan mata dunia. Orang-orang yang ikhlas memang sering kali berjalan seperti angin—tidak terlihat rupa dan wujudnya, namun kesejukannya bisa dirasakan oleh siapa saja yang dilewatinya.
Pujian manusia hanyalah fatamorgana yang datang dan pergi secepat embusan angin. Ia bisa melambungkanmu ke langit dalam sedetik, namun bisa juga menghempaskanmu ke bumi pada detik berikutnya. Menggantungkan kebahagiaan pada pengakuan orang lain adalah cara paling fana untuk merayakan kehidupan.
Jangan Biarkan Hidup Berlalu Tanpa Makna
Waktu adalah anak panah yang melesat cepat dari busurnya. Ia tidak akan pernah berbalik arah. Setiap detak jantung kita adalah hitung mundur menuju sebuah titik henti yang pasti.
Yang paling menakutkan dari akhir sebuah perjalanan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan sebuah penyesalan yang terlambat:
ketika menyadari bahwa hidup kita telah lewat begitu saja seperti bayang-bayang yang menyapu bumi, lalu hilang tanpa pernah memberi manfaat apa pun bagi orang lain.
Mari merenung sejenak, menatap ke dalam diri. Jangan biarkan kita menjadi manusia yang egois, yang hanya sibuk mengumpulkan dunia untuk kepuasan diri sendiri.
Jadilah seperti lilin yang rela menghabiskan dirinya demi memberi terang pada kegelapan di sekelilingnya. Atau jadilah seperti mata air di tengah gurun, yang tak pernah meminta imbalan dari setiap musafir yang mereguk kesegarannya.
Sebab pada akhirnya, saat seluruh tirai panggung dunia ini ditutup, dan nama kita hanya akan terukir di atas batu nisan yang membisu, hanya ada satu pertanyaan yang benar-benar bermakna:
Sudahkah kehadiran kita menjadi berkah bagi semesta?

Menyuarakan Jiwa, Memperkaya Kehidupan: Menyelami Pembelajaran Musik Vokal yang Mendalam
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Guru Musik (Seni Budaya) SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Guru Konten Kreator Riau, Composer & Arranger, Coach)
Bernyanyi bukan sekadar mengeluarkan suara dan menyelaraskan nada. Lebih dari itu, bernyanyi adalah sebuah seni mengekspresikan rasa, menyuarakan jiwa, dan media untuk memperkaya kualitas kehidupan kita.
Di dalam kelas Seni Budaya, khususnya pembelajaran Musik Vokal, kita tidak hanya melatih pita suara agar terdengar merdu, melainkan mengajak siswa untuk mengalami sebuah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang bermakna, berkesadaran, dan menggemirakan.
Bagaimana sebetulnya konsep pembelajaran musik vokal yang mendalam ini diterapkan? Mari kita bedah bersama melalui tiga pilar utama: Pengalaman, Prinsip, dan Siklus Performa Vokal.
1. Pengalaman Pembelajaran Mendalam Vokal
Untuk mencapai esensi dari musik vokal, siswa harus dibawa melampaui rutinitas latihan biasa melalui tiga tahapan pengalaman:
Memahami Teknik & Anatomi: Langkah awal dimulai dengan logika dan pengetahuan. Siswa diajak untuk mengenal mekanisme produksi suara di dalam tubuh mereka sendiri, mulai dari fungsi diafragma, cara kerja pita suara (fonasi), hingga membaca dan memahami notasi musik dengan benar.
Mengaplikasikan Latihan Vokal: Pengetahuan tanpa praktik akan sia-sia. Pada tahap ini, siswa mulai mengaplikasikan teori ke dalam tindakan nyata. Mereka melatih pernapasan yang stabil, mengasah ketepatan intonasi, memperjelas artikulasi kata demi kata, serta mengenali registrasi suara mereka (apakah chest voice, head voice, atau mix voice).
Merefleksi Ekspresi & Makna: Inilah puncak dari pengalaman bernyanyi. Siswa diajak menyelami lirik lagu, merasakan emosi yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu, menjiwainya, hingga mampu melakukan evaluasi mandiri terhadap penampilan mereka sendiri.
2. Prinsip Pembelajaran Mendalam Vokal
Agar proses belajar berjalan secara organik dan membekas dalam sanubari siswa, ada tiga prinsip utama yang wajib dijaga:
Kesadaran Tubuh & Suara: Seorang penyanyi yang baik harus memiliki kesadaran penuh (mindfulness) terhadap fisiknya.
Siswa diajarkan untuk sadar akan postur tubuh yang tegak namun relaks, mampu mendeteksi ketegangan otot yang bisa mengganggu suara, serta memaksimalkan resonansi di area rongga tubuh.
Kebermaknaan Musik: Pembelajaran vokal tidak boleh berdiri sendiri sebagai materi hafalan. Musik harus terhubung dengan konteks kehidupan nyata siswa dan menyentuh emosi pribadi mereka, sehingga setiap lagu yang dinyanyikan terasa hidup.
Kebahagiaan Berekspresi: Kelas musik harus menjadi tempat yang aman dan nyaman. Suasana belajar yang suportif, kreatif, dan menyenangkan akan menumbuhkan rasa percaya diri siswa untuk berekspresi tanpa takut dihakimi.
3. Memahami Siklus Performa Vokal: “The Voice”
Secara teknis dan biologis, memproduksi suara vokal yang indah menyerupai sebuah siklus yang berputar harmonis di dalam tubuh, mirip dengan siklus alam yang seimbang:
Sumber Udara: Segala sesuatu dimulai dari paru-paru. Udara yang dihirup dengan teknik pernapasan yang benar menjadi “bahan bakar” utama.
Fonasi (Pita Suara): Udara yang diembuskan kemudian menggetarkan pita suara, menghasilkan bunyi dasar.
Resonansi: Bunyi dasar tersebut diperkuat dan diperindah di dalam rongga-rongga resonansi tubuh (dada, mulut, hidung, hingga kepala).
Artikulasi & Proyeksi: Suara dibentuk menjadi kata-kata yang jelas melalui alat ucap (lidah, bibir, gigi) lalu diproyeksikan keluar agar terdengar jernih oleh pendengar.
Ekspresi & Dinamika: Sentuhan akhir yang memberikan “ruh” pada lagu melalui permainan volume (keras-lembut) dan penjiwaan emosi yang mendalam.
Transformasi di Ruang Kelas: Diskusi hingga Presentasi
Di SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, konsep ini diwujudkan secara nyata melalui aktivitas belajar kelompok yang interaktif. Siswa tidak belajar sendiri-sendiri secara kaku, melainkan melalui tiga fase transformatif:
Diskusi & Eksplorasi: Siswa berkumpul untuk membedah lagu, bertukar pikiran, dan mengeksplorasi referensi musik bersama-sama dengan bantuan media pembelajaran yang menarik.
Eksperimen & Aplikasi: Di fase ini, siswa langsung mencoba mempraktikkan teknik vokal, mencoba alat bantu latihan, atau berlatih menggunakan keyboard untuk menyelaraskan nada.
Refleksi & Presentasi: Kelompok siswa tampil menunjukkan hasil latihan mereka di depan kelas, menerima umpan balik yang membangun, serta memanfaatkan teknologi (seperti tablet/aplikasi musik) untuk merekam dan mengevaluasi penampilan.
Pembelajaran musik vokal yang mendalam bukan sekadar mencetak penyanyi yang mahir secara teknis, melainkan membentuk manusia yang peka rasa, kreatif, dan menghargai keindahan. Mari kita terus bergerak, membimbing generasi muda untuk bernyanyi mendalam, menyuarakan jiwa, dan memperkaya kehidupan.
Bagaimana pengalaman Anda dalam melatih vokal atau mengajar musik di sekolah? Mari berbagi cerita di kolom komentar!

Menjadi Guru Tetap Waras dan Bermartabat: Memaknai Kembali 9 Kode Etik Guru
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Dunia pendidikan hari ini dinamis sekaligus penuh tantangan. Di tengah derasnya perubahan kurikulum, tuntutan administrasi, dan karakter generasi digital, menjadi seorang pendidik bukanlah perkara mudah. Sering kali muncul pertanyaan di benak kita:
Bagaimana bisa tetap memberikan yang terbaik untuk siswa, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental dan martabat diri sebagai profesional?
Jawabannya terletak pada bagaimana kita memaknai profesi ini. Menjadi guru bukan sekadar tentang datang ke kelas, menjelaskan materi, lalu pulang. Lebih dari itu, ada komitmen moral yang mengikat kita, yang biasa kita sebut sebagai Kode Etik Guru.
Agar tugas mulia ini tidak terasa sebagai beban yang memberatkan, mari kita bedah kembali 9 prinsip utama Kode Etik Guru dengan sudut pandang yang lebih segar—sebuah versi untuk
“Guru Tetap Waras dan Bermartabat”.
1. Membimbing Peserta Didik dengan Sepenuh Hati
Pondasi utama dari pendidikan adalah rasa kasih sayang. Ketika kita mengajar dengan hati, setiap materi yang disampaikan akan lebih mudah diterima. Ingat prinsip sederhana ini:
Anak-anak bahagia, guru pun ikut bahagia!
Hubungan emosional yang positif antara guru dan murid adalah kunci utama terciptanya kelas yang hidup.
2. Jujur dan Profesional dalam Menjalankan Kurikulum
Kurikulum boleh berganti, namun integritas seorang guru harus tetap teguh. Menjadi profesional berarti kita mau terus belajar menguasai metode-metode baru, jujur dalam memberikan penilaian, dan objektif dalam melihat perkembangan setiap anak didik.
3. Mengenal Peserta Didik untuk Membimbing Lebih Baik
Setiap anak adalah individu yang unik dengan latar belakang, potensi, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Tugas kita bukanlah menyamaratakan mereka, melainkan mengenali keunikan tersebut. Dengan mengenal mereka lebih dekat, kita bisa memberikan arahan dan bimbingan yang tepat sasaran.
4. Menciptakan Suasana Sekolah yang Nyaman dan Mendukung Belajar
Sekolah harus menjadi “rumah kedua” yang aman bagi siswa. Sebagai guru, kita berperan penting dalam membangun atmosfer kelas yang suportif, minim tekanan (stres), namun tetap menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi. Suasana yang nyaman akan membuat proses belajar menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan, bukan sebuah kewajiban yang menjemukan.
5. Menjalin Hubungan Baik dengan Orang Tua dan Masyarakat
Pendidikan anak tidak bisa dibebankan kepada sekolah sendirian. Kolaborasi dan komunikasi yang harmonis antara guru dan orang tua adalah jembatan keberhasilan siswa. Ketika visi sekolah dan rumah selaras, tumbuh kembang anak akan lebih optimal.
6. Mengembangkan Mutu dan Martabat Profesi Guru
Zaman terus berubah, begitu pula dengan ilmu pengetahuan. Seorang guru yang bermartabat adalah mereka yang tidak pernah berhenti menjadi “murid”. Terus meng-upgrade diri, mengikuti pelatihan, membaca, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi adalah cara kita menjaga kehormatan profesi ini.
7. Menjaga Semangat Kekeluargaan dan Solidaritas Sesama Guru
Menghadapi tantangan di sekolah akan terasa lebih ringan jika dilakukan bersama-sama. Ruang guru harus menjadi tempat saling mendukung, berbagi praktik baik, dan saling menguatkan, bukan tempat untuk saling berkompetisi secara tidak sehat. Solidaritas inilah yang menjaga kita tetap “waras”.
8. Memperkuat Organisasi Profesi sebagai Ruang Perjuangan dan Pengabdian
Organisasi profesi bukan sekadar wadah formalitas atau urusan administratif. Ini adalah wadah kolektif bagi kita untuk menyuarakan aspirasi, melindungi hak-hak guru, sekaligus meningkatkan kompetensi bersama demi kemajuan pendidikan nasional.
9. Melaksanakan Kebijakan Pendidikan dengan Penuh Tanggung Jawab
Setiap regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tentu memiliki tujuan baik untuk memajukan pendidikan. Sebagai bagian dari sistem, kita dituntut untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab, adaptif, dan tetap kritis demi kebaikan anak didik.
Ngopi Boleh, Etik Tetap Jalan
Menjadi guru yang ideal bukan berarti kita harus menjadi manusia super yang tidak boleh merasa lelah. Kita tetaplah manusia biasa. Mengambil jeda sejenak untuk minum kopi, bercengkrama dengan rekan sejawat, atau menikmati hobi adalah hal yang sangat manusiawi agar pikiran tetap segar.
Namun di atas semua itu, esensi utama yang tidak boleh hilang adalah:
Bukan cuma mengajar, tapi juga membimbing!
Dengan memegang teguh sembilan kode etik di atas, kita tidak hanya berhasil mengantarkan anak-anak didik menuju masa depan mereka, tetapi juga berhasil menjaga diri kita sebagai pendidik yang tetap bahagia, waras, dan penuh martabat.
Selamat mengabdi, guru-guru hebat Indonesia!
Profil singkat penulis:
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Guru SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Aktif diberbagai organisasi: Organisasi pendidikan (IGI Kuansing, Kombel Kayuah SMAN 1 Sentajo Raya, Guru Konten Kreator Riau,) Ormas (PD Muhammadiyah Kuansing, MUI Kab. Kuansing, DMI Kab. Kuansing, Yayasan Mesjid Raya Teluk Kuantan, Forum Literasi Kuansing, DKC Kuantan Tengah, PCM Teluk Kuantan, PERRUAS Riau). Guru penulis Edukasi, Seni Budaya, Guru Penggerak Angkatan 10 Kab. Kuansing, Fasilitator Daerah CBP Rupiah Bank Indonesia dan BGTK Riau, Guru Musik, Motivator Literasi & Edukasi, Narasumber Literasi Nasional, Composer & Arranger, Bisnis Owner Leader, Instruktur Musik, Blogger, Coach, Saat ini memiliki 25 Sertifikat Non Akademik dengan berbagai keilmuan)
Tantangan Zaman di Era Globalisasi
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Sasaran: Santri Akhir (Kelas XII) Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan Teluk Kuantan
Materi yang disusun secara sistematis untuk disampaikan kepada para santri kelas XII MA Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan.
Materi ini dirancang agar relevan dengan tema besar: "Baitul Arqam Sebagai Pilar Pembinaan Kader Muda Berjiwa Islami dan Berorientasi Global."
Materi: Tantangan Zaman di Era Globalisasi
Pemateri: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Sasaran: Santri Akhir (Kelas XII) Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan
1. Pendahuluan: Memahami Wajah Globalisasi
Globalisasi bukan sekadar perdagangan bebas, melainkan hilangnya batas-batas negara melalui teknologi. Bagi santri, globalisasi adalah pedang bermata dua:
* Peluang: Dakwah tanpa batas, akses ilmu pengetahuan dunia, dan kolaborasi internasional.
* Ancaman: Sekularisme, konsumerisme, dan hilangnya identitas akhlak.
"Menjadi global bukan berarti menjadi Barat. Menjadi global berarti memiliki wawasan seluas dunia dengan kaki yang tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren."
2. Tantangan Utama Santri di Era Digital
Sebagai lulusan pesantren di tahun 2026, santri akan menghadapi tantangan berikut:
* Disrupsi Informasi: Banjir informasi (hoaks vs fakta) yang menguji daya kritis (tabayyun).
* Krisis Karakter: Budaya instan yang melemahkan daya juang dan kesabaran (sifat shabr).
* Kompetisi Global: Persaingan dunia kerja yang menuntut keahlian teknis (hard skills) sekaligus integritas (moral).
3. Strategi Menjadi Kader Berorientasi Global
Untuk menjawab tantangan di atas, santri KH. Ahmad Dahlan harus memiliki tiga pilar kekuatan:
A. Literasi dan Teknologi (Intellectual Strength)
Santri tidak boleh "gaptek". Menguasai bahasa asing (Arab & Inggris) serta teknologi digital adalah fardu kifayah untuk memenangkan persaingan global.
B. Karakter Berkemajuan (Strong Character)
Mengadopsi nilai-nilai Muhammadiyah yang inklusif, toleran, namun tetap teguh pada prinsip tauhid. Santri harus menjadi Problem Solver di masyarakat, bukan sekadar penonton.
C. Mentalitas Kemandirian (Self-Reliance)
Globalisasi menuntut kemandirian ekonomi dan pemikiran. Santri harus memiliki jiwa kewirausahaan dan kreativitas agar tidak mudah didikte oleh arus zaman.
4. Peran Santri sebagai Kader Muhammadiyah
Sesuai tujuan Baitul Arqam, santri setelah lulus harus menjadi:
* Pilar Dakwah: Membawa wajah Islam yang sejuk di media sosial dan lingkungan kampus.
* Agen Perubahan: Berani mengkritisi budaya global yang bertentangan dengan norma agama.
* Duta Pesantren: Menunjukkan bahwa lulusan pesantren mampu bersaing di universitas terbaik maupun di kancah internasional.
5. Pesan untuk Santri Akhir
Dunia di luar gerbang pondok sangatlah luas dan keras. Namun, dengan bekal ilmu yang didapat di Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan, kalian adalah "mutiara" yang siap menyinari kegelapan zaman.
"Jangan takut pada globalisasi, tapi takutlah jika kalian kehilangan jati diri sebagai santri di tengah arus globalisasi."
Laporan
Lokakarya 7 “ Panen Hasil Belajar” Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 10
Kabupaten
Kuantan Singingi, Riau
Oleh:
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(PP: Betri Murni, S.Si, Fasilitator: Rizki Ikhwan,
S,Hum)
Teluk Kuantan, 27
Oktober 2024. Bismillah. Guru merupakan garda terdepan Pendidikan oleh sebab
itu Kemendikbudristek mencanangkan Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP)
untuk membentuk seorang tenaga pendidik menjadi pemimpin pembelajaran Abad 21.
Seorang Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh siswa
secara holistic, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk
mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Untuk menjadi
seorang Guru Penggerak seorang guru harus lulus seleksi dan mengikuti Program
Pendidikan Guru Penggerak (PGP). Program Guru Penggerak adalah program
Pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program
ini meliputi pelatihan daring,lokakarya,konferensi, dan pendampingan selama 6
bulan bagi calon guru penggerak.
Pemimpin sekolah, dalam berbagai literatur, disebut
berperan besar dalam menentukan keberhasilan sekolah karena ia mempunyai
tanggungjawab dalam mensinergikan berbagai elemen di dalamnya. Seorang pemimpin
sekolah yang berkualitas akan mampu memberdayakan seluruh sumber daya di
ekosistem sekolahnya hingga dapat bersatu padu menumbuhkan siswa-siswa yang
berkembang secara utuh, baik dalam rasa, karsa, dan ciptanya. Tak dipungkuri,
pemimpin sekolah merupakan salah satu aktor kunci dalam terwujudnya Profil
Pelajar Pancasila (PPP).
Untuk dapat menjalankan peran-peran tersebut, seorang
pemimpin sekolah perlu mendapatkan Pendidikan yang berkualitas sebelum ia
menjabat. Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP), sebagai bagian dari
rangkaian kebijakan Merdeka Belajar episode kelima didesain untuk mempersiapkan
guru-guru terbaik di negeri ini untuk menjadi pemimpin sekolah yang berfokus
pada pembelajaran. Melalui berbagai aktivitas dalam pembelajaran PPGP, kandidat
kepala sekolah masa depan diharapkan memiliki harapan besar agar lulusan PPGP
dapat mewujudkan standar nasional Pendidikan untuk menjamin mutu Pendidikan
diseluruh negeri in, di mana keberpihakan pada siswa menjadi orientasi
utamanya.
Untuk pemenuhan kandidat kepala sekolah yang lebih
optimal menuntut penyesuaian pada desain pembelajaran PPGP. Karena itu,
terhitung dari Angkatan kelima durasi program diefisienkan dari Sembilan bulan
menjadi enam bulan. Selain itu, PPGP juga menerapkan diferensiasi proses untuk
peserta di daerah yang memiliki akses terbatas, baik dari segi tranfortasi
maupun telekomunikasi. Namun terlepas dari moda penyampaian yang beragam, para
Calon Guru Penggerak (CGP) di seluruh Ondonesia sama-sama mempelajari
materi-materi bekal kepemimpinan dengan system on-the-job learning
dimana selama belajar, guru tetap menjalankan perannya di sekolah sekaligus
menerapkan pengetahuan yang didapat dari ruang pelatihan ke dalam pembelajaran di
kelas. Pendekatan pembelajaran juga tetap menggunakan siklus inkuiri yang sarat
dengan refleksi dan praktik langsung, baik bersama sesam CP maupun rekan
sejawat di sekolah. Pendampingan dilapangan juga tetap menjadi kunci dari
keberhasilan implementasi konsep di kelas atau sekolah CGP.
Pembelajaran bersama pengajar praktik (PP) dilakukan
secara individu di satuan Pendidikan masing-masing dan secara berkelompok dalam
bentuk lokakarya. Pendampingan pada lokakarya bertujuan untuk meningkatkan
keterampilan CGP untuk menjalankan perannya,menjejaringkan CGP di tingkat kota,
menjadi ruang diskusi dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh CGP, serta
meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan di tingkat sekolah dan kota.
Dua minggu dari kegiatan lokakarya 6 sebelumnya,
Program Pedidikan Guru Penggerak (PGP) menggelar kembali salah satu agenda
kegiatannya yaitu lokakarya. Untuk program Pendidikan guru penggerak Angkatan
10 lokarkarya yang diselengarakan adalah Lokakarya 7. Lokakarya 6 Program
Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) angkatan 10 dilaksanakan secara serentak pada
tanggal 5 Oktober2024 di Kabupaten/Kota di Provinsi Riau.
Lokakarya 7 berbeda sekali dengan enam lokakarya
sebelumnya. Pada lokakarya 7 kegiatanya di laksanakan selama dua hari kegiatan.
Kegiatan lokakarya 7 untuk PPGP Angkatan 10 kabupaten Kuantan Singingi di
selenggarakan di Gedung SMAN Pintar atas dasar permintaan CGP 10 Kab. Kuantan
Singingi mengingat CGP 10 ada 51 orang sehingga membutuhkan tempat yang luas
dan Alhamdulillah berjalan sukses dan lancar.
Hari Pertama
Kegiatan Lokakarya dihari pertama dilaksanakan pada
Hari Jumat, 25 Oktober dengan agenda kegiatan pembelajaran/ruang diskusi di
kelas. Ada 10 kelas/ruangan diskusi yang di sediakan. Ronaldo Rozalino CGP 10 Kab. Kuansing bergabung di semua kelas yang
h=yang hadir 51 CGP 10 dan 10 PP denganAktivitas
Pembelajaran di Gedung SMAN Pintar Provondi Riau Lokakarya 7
Berbeda dengan lokakarya sebelumnya, kegiatan pembelajaran
dikelas langsung dilaksanakan di kelas dengan agenda kegiatan di Lokakarya 7
yang bertemakan “Panen Hasil Belajar“ terbagi
secara garis dalam 5 kegiatan/sesi.
1. Pembukaan
2. Kelas Belajar Calon Guru Penggerak
3. Berbagi Aksi Nyata
4. Berbagi Dampak Positif
5. Persiapan Pameran Hasil Program
Kegiatan pembelajaran dikelas dimulai dengan pembukaan
yang dipandu oleh PP Rohayati Roeslai, S.Ps.I.
Kegiatan sesi pembukaan dengan tujuan:
1) CGP dapat menciptakan koneksi dengan peserta lain
dan Pengajar Praktik;
2) CGP dapat memahami tujuan dan agenda pada lokakarya
7 ini. Setelah kegiatan pembukaan, aktivitas dilanjutkan dengan Ice Breaking
yang merubah suasana kelas menjadi lebih cair dan para CGP bergairah dan
memberikan respon yang positif.
PP Rohayati Roeslai menyampaikan tujuan dari Lokakarya
7
yaitu:
1) CGP dapat
menjelaskan proses yang dialami dan praktik baik yang didapatkan dalam
mengembangkan program yang berdampak pada siswa;
2) CGP dapat
menjelaskan untuk pengembangan program dari para pengunjung;
3) CGP dapat
membagikan hasil pembelajaran selama 6 bulan dan dampaknya terhadap diri kepada
undangan lokakarya (Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan, Komunitas daerah).
Agenda Lokakarya 7
disampaikan ke para CGP dengan alur di hari pertama:
1) Pembukaan
2) Kelas Belajar CGP
Di hari kedua
1) Pembukaan
2) Kelas Berbagi CGP
3) Pameran Hasil
Belaja
4) Penutupan
Setelah penyampaian
alur agenda Lokakarya 7, di pandu PP Rohayati Roeslai
Kegiatan Pembelajaran di Gedung SMAN Pintar Provinsi
Riau berlanjut pada sesi belajar Calon Guru Penggerak. Tujuan sesi ini adalah:
1) CGP dapat
mengevaluasi tugas lokakarya 6;
2) CGP dapat
mengevaluasi program pelatihan CGP;
3) CGP dapat
merefleksikan capaian dirinya setelah mengikuti program pelatihan Calon Guru
Penggerak;
4) CGP dapat
merefleksikan berbagai praktik baik yang terjadi di kelas, sekolah, atau
lingkungan sehari-hari;
5) CGP dapat membuat
bahan pameran untuk kegiatan sesi atau hari ke-2.
Pada kegiatan ini di pandu oleh PP secara bergantian yang ada 10 PP, para CGP bekerja berdasarkan
kelompok. Ada lima aspek yang akan di evaluasi, yaitu:
1) materi pelatihan;
2) Pengajar Praktik;
3) Media Belajar;
4) Bahan Belajar
(modul, video atau buku saku).
Lima aspek tersebut sudah dituliskan di 5 poster yang
telah di tempel di ruangan kelas/dinding. Para CGP menuliskan hal yang sudah
baik dan hal yang dapat ditingkatkan di tiap aspeknya. Hal yang sudah baik
dituliskan di post-it berwarna hijau, sementara hal yang dapat ditingkatkan
dituliskan di post-it berwarna kuning. Tiap kelompok terdiri dari tiga orang.
Ada 10 kelompok, tiap kelompok bergantian mengisi tiap
aspek.
Kegiatan berjalan sesuai dengan agenda yang telah
disusun oleh para PP. Setelah kurang lebih 90 menit, kegiatan berlanjut pada
sesi berbagi aksi nyata.
Dikegiatan berbagi aksi nyata yang dipandu oleh PP, para CGP diminta untuk mengeluarkan
foto/poster aksi nyata yang pernah dilakukan di program Guru Penggerak, yang
sudah ditugaskan untuk dibawa di Lokakarya 6. Setelah itu, masing-masing CGP
menceritakan aksi nyatanya dalam durasi maksimal 5 menit, dimana para CGP yang
sedang mendengar bisa bertanya kepada yang bercerita. Setelah semua CGP
bercerita tentang foto/poster masing-masing, aktivitas berlanjut pada sesi
berikutnya yaitu Berbagi Dampak Positif.
Dikegiatan Berbagi Dampak positif, masing-masing CGP
mengidentifikasi hal-hal bai kapa yang sudah terjadi atau perubahan positif apa
yang di alami CGP selama 6 bulan.
Terdapat 5 aktor
atau lingkup yang akan di lihat hal-hal baik yang sudah terjadi yaitu:
1) Murid di kelas;
2) Rekan guru di 1
sekolah;
3) Kepala Sekolah;
4) Komunitas
praktisi;
5) Ekosistem belajar
(lingkungan sehari-hari, pengawas, dinas).
Dengan menuliskan hal baik yang sudah terjadi atau
perubahan baik yang sudah dilakukan di tiap aktor atau lingkungan di post-it
yang dibagikan oleh PP, para CGP dengan teliti dan antusias serta secara
bergiliran menempelnya di kertas plano yang sudah di pasang sebelumnya di
dinding kelas.
Kegiatan di hari pertama Lokakarya 7 di tutup dengan
sesi persiapan pemeran hasil belajar tepat pukul 11.30 WIB karena dicepatkan
pada hari Juma.
Produk Yang
Dihasilkan dan Ketercapaian Tujuan Belajar
Berdasarkan tujuan dari Lokakarya 7 ini, maka produk
yang dihasilkan dan ketercapaian tujuan pembelajaran bisa dilihat dari :
1) Rangkuman materi kunci per sub modul, yang
dikaitkan dengan perubahan perilaku dan nilai guru penggerak untuk
"berpihak pada murid" (dipaparkan di kelas berbagi)
2) Ringkasan ide pengembangan program
berdasarkan masukan dan info dukungan pengunjung
3) Persiapan: media presentasi praktik baik di
lingkungan belajar sekolah dan paparan untuk kelas berbagi
Kesimpulan dan Refleksi Pembelajaran
Seorang pemimpin sekolah yang berkualitas akan mampu
memberdayakan seluruh sumber daya di ekosistem sekolahnya hingga dapat bersatu
padu menumbuhkan siswa-siswa yang berkembang secara utuh, baik dalam rasa,
karsa, dan ciptanya. Tak dipungkuri, pemimpin sekolah merupakan salah satu
aktor kunci dalam terwujudnya Profil Pelajar Pancasila (PPP).
Pendidikan Guru Penggerak telah tuntas namun
bersiaplah menghadapi yang lebih lugas.Transformasi Calon Guru Penggerak kini
dinanti untuk menghasilkan berbagai inovasi, memberikan yang terbaik untuk
pendidikan ini, dan selalu menjadi guru
penggerak sejati.
“Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru
melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan
bergerak” – Nadiem Makarim.
Teruslah belajar sampai Allah mengatakan saatnya untuk
pulang - Ronaldo Rozalino
Hari Kedua
Sabtu, 26 Oktober 2024. Bertempat di Gedung
SMAN Pintar Provinsi Riau dilaksanakan Lokakarya 7 hari kedua. Hadir pada
kegiatan tersebut yakni Pjs. Bupati Kuantan Singingi drg. Sri Sardono Mulyanto,
M.Han, Tim BGP Provinsi Riau Rizki,
Ikhwan, S.Hum Fasilitator BGP Riau, PLt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan
Singingi Bapak Hervion, S.Pd,SD, Ketua MKKS SMA Provinsi Riau Bapak Rohandi Abu
Bakar, S.Pd,MM, Dinas Pendidikan
Kabupaten Kuantan Singingi Bapak Armalis selaku Kasi SMP dan Penanggjung Jawab
Guru penggerak dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi, Kasi SD Bapak
Mukzelan, S.Pd, Panitia dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuantan
Singingi, Para pejabat dilingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi
, para Pengawas, para kepala sekolah CGP, 10 Pengajar Praktik (PP), dan 51 CGP
10 Kabupaten Kuantan Singingi
Seperti hal nya pada lokakarya
sebelumnya, kegiatan Lokakarya 7 diawali dengan acara pembukaan dengan
penampilan Tari Somba Cerano dari CGP 10 Kuansing, menyanyikan lagu Indonesia
Raya sebagai dirigen Ronaldo Rozalino, S.Sn.MPd CGP 10 Kuansing, pembacaan doa
dari Riffi Maulidri, M.Pd CGP 10,Sambutan
dari BGP Rizki Ikhwan, S.Hum Fasilitator BGP Riau, Sambutan dari Plt. Kepala
Dinas Pendidikan dan Olah Raga Hervion, S.Pd.SD, dan Sambutan dari Pjs. Bupati
Kuantan Singingi drg. Sro Sardono Mulyanto, S.Han.
Lokakarya 7 dikabupaten Kuantan
Singingi dibuka secara resmi langsung Pjs.
Bupati Kuantan Singingi drs. Sro Sardono Mulyanto, S.Han oleh tepat pukul 10.00
WIB. Dalam sambutannya beliau menyampaikan harapannya bahwa yang paling pokok
dari kegiatan PPGP ini adalah bagaimana para CGP mengaktualisasikan dan
mempraktikannya dalam keseharian, bagaimana pembelajaran berpihak pada siswa,
apa yang sudah didapatkan selama PPGP berjalan benar-benar tercermin dan ada
aksi nyatanya.
Kegiatan Lokakarya 7 di hari kedua
sebelum ditutup di tampilkan kelas berbagi Calon Guru Penggerak yang
menampilkan perwakilan CGP masing-masing jenjang TK,SD,SMP,SMA/SMK dan SLB.
Masing-masing CGP menampilkan hasil praktik baiknya/program pada aksinyata yang sudah dilakukan oleh para
CGP.
Kesimpulan dan Refleksi Pembelajaran
Peranan
guru sebagai pendidik tidak hanya sekedar membahas kurikulum melainkan
melahirkan masa depan serta membangun peradaban
Guru yang berkualitas akan membuat anak didiknya
berkualitas. Siswa berkualitas akan menjadikan generasi yang berkualitas.
Kabupaten Kuantan Singingi ini mau jadi apa ke depan tergantung pada ibu bapak sekalian
para guru.
Kunci rahasia dunia itu
ilmu, kunci akhirat itu juga ilmu. Jika ingin mendapatkan keduanya yaitu dengan
Ilmu atau pendidikan. Insya Allah pelaksanaan sekolah penggerak ini menjadi
langkah maju kita bersama dalam meningkatkan mutu dan kualitas SDM, khususnya
bagi para guru agar memberikan layanan pendidikan yang lebih baik.
Salam Guru
Penggerak! Tergerak Bergerak dan menggerakkan.
Salam dan
Bahagia.
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd, Kelas 10.43 BGP Riau, CGP 10 Kab. Kuantan Singingi, SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau.
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...14 tahun yang lalu
-









.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
