MENOLONG AGAMA ALLAH, BUKAN HANYA TUGAS ULAMA, MELAINKAN TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA
Bismillah. Meneguhkan iman, melawan hawa nafsu, dan menebarkan kebaikan dalam kehidupan.
Khutbah Jumat, 23 Oktober 2026
Khatib: DR H. Jisman, MA
Tempat: Masjid Syuhada Beringin Taluk, Teluk Kuantan, Kuantan Singingi, Riau
Sehat Jasmani, Seberapa Kuat Kita Membela Agama?
Tubuh yang sehat adalah nikmat yang patut disyukuri. Kita dapat berjalan, bekerja, mencari nafkah, berkumpul bersama keluarga, dan menjalankan berbagai aktivitas kehidupan.
Namun, di balik kesehatan yang kita nikmati, ada pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: Sudah sejauh mana kita menggunakan nikmat kehidupan untuk menolong agama Allah?
Pertanyaan ini bukan sekadar renungan di atas sajadah. Ia adalah panggilan iman yang seharusnya mengetuk pintu hati setiap Muslim.
Kita mungkin rajin bekerja, tekun membangun usaha, giat mengejar pendidikan, dan bersemangat meraih keberhasilan dunia.
Namun, pernahkah kita bertanya, seberapa besar waktu, tenaga, pikiran, ilmu, dan harta yang telah kita persembahkan untuk kebaikan agama dan umat?
Sebab, keberhasilan hidup tidak semata-mata diukur dari apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan.
Hari ini, Islam tidak hanya membutuhkan banyaknya jumlah pemeluk. Islam membutuhkan umat yang berkualitas; umat yang kuat imannya, luhur akhlaknya, luas ilmunya, jujur perilakunya, dan nyata kontribusinya bagi kehidupan.
Islam membutuhkan pribadi-pribadi yang tidak sekadar bangga menyandang identitas Muslim, tetapi juga bersedia menjalankan tanggung jawab sebagai seorang Muslim.
Janji Allah bagi Mereka yang Menolong Agama-Nya
Allah SWT berfirman dalam Surah Muhammad ayat 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(QS. Muhammad: 7)
Ayat ini menyimpan janji yang agung. Allah Yang Mahaperkasa, pemilik seluruh kekuatan di langit dan di bumi, menjanjikan pertolongan kepada orang-orang beriman yang menolong agama-Nya.
Tentu saja, Allah tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya. Kitalah yang membutuhkan rahmat, petunjuk, dan pertolongan-Nya.
Menolong agama Allah berarti berusaha menegakkan ajaran-Nya, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Dalam penjelasan para mufasir, termasuk Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut, pertolongan kepada agama Allah berkaitan dengan komitmen terhadap agama-Nya dan pembelaan terhadap kaum beriman.
Pertolongan itu bukan sekadar seruan lisan, melainkan kesungguhan dalam menjalankan ketaatan dan memperjuangkan kebenaran.
Karena itu, pertolongan Allah tidak layak dipahami sebagai jaminan bahwa setiap urusan dunia akan selalu berjalan sesuai keinginan kita.
Pertolongan-Nya dapat hadir dalam bentuk keteguhan hati, kekuatan menghadapi ujian, kemampuan mempertahankan kebenaran, dan jalan keluar yang Allah kehendaki.
Di sinilah iman menemukan maknanya: tetap taat ketika keadaan sulit, tetap jujur ketika kebohongan terasa menguntungkan, dan tetap berbuat baik ketika keburukan seolah lebih mudah dilakukan.
Estafet Perjuangan Bukan Hanya di Tangan Ulama
Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau disambut oleh kaum Ansar, orang-orang yang memberikan perlindungan, dukungan, dan pertolongan kepada kaum Muhajirin.
Mereka tidak hanya menyambut dengan kata-kata. Mereka menghadirkan persaudaraan melalui tindakan, pengorbanan, dan kepedulian.
Allah SWT berfirman tentang kaum Ansar:
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka...”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Kisah kaum Ansar mengajarkan bahwa perjuangan agama tidak hanya membutuhkan orang yang berbicara, tetapi juga orang yang bersedia bekerja.
Tidak hanya membutuhkan mereka yang berdiri di mimbar, tetapi juga mereka yang diam-diam menguatkan perjuangan melalui pengorbanan.
Ulama memiliki amanah besar untuk membimbing umat, menjelaskan ajaran Islam, dan menjaga ilmu agama.
Namun, tanggung jawab mengamalkan serta menyebarkan nilai-nilai kebaikan tidak berhenti di pundak ulama.
Tongkat estafet itu berada di tangan kita semua.
Guru bertanggung jawab mendidik dengan ilmu dan keteladanan. Orang tua bertanggung jawab menanamkan iman dan akhlak kepada anak-anaknya.
Pemimpin bertanggung jawab menegakkan keadilan. Pedagang bertanggung jawab menjaga kejujuran.
Pemuda bertanggung jawab menggunakan energi dan kreativitasnya untuk hal yang bermanfaat.
Setiap orang memiliki ladang perjuangan masing-masing.
Maka, pertanyaan yang perlu kita jawab bukan sekadar, “Siapa yang sedang berjuang untuk agama?”
Melainkan, “Di barisan mana aku berdiri, dan apa yang telah aku lakukan?”
Masjid yang Megah Harus Dihidupkan oleh Jiwa yang Taat
Bangunan masjid boleh menjulang tinggi. Kubahnya boleh indah, lantainya boleh bersih, karpetnya boleh lembut, dan pengeras suaranya boleh terdengar hingga ke kejauhan.
Namun, keindahan bangunan akan kehilangan sebagian maknanya apabila tidak dihidupkan oleh ibadah, ilmu, persaudaraan, dan amal nyata.
Masjid bukan sekadar tempat mendirikan salat. Masjid juga menjadi ruang pembinaan akhlak, penguatan ukhuwah, pendidikan generasi, pelayanan sosial, dan penyemaian kepedulian terhadap sesama.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian...”
(QS. At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid bukan hanya persoalan bangunan yang berdiri megah, melainkan juga kehidupan ibadah dan kebaikan yang tumbuh di dalamnya.
Ketika azan berkumandang, kita dipanggil untuk menghadap Allah. Ketika waktu salat tiba, kita diingatkan bahwa pekerjaan, urusan dunia, dan kesibukan sehari-hari tidak boleh membuat kita melupakan Sang Pemberi kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Salat adalah tiang agama. Menjaga salat merupakan salah satu bentuk nyata ketaatan seorang Muslim.
Karena itu, bagaimana mungkin kita bersungguh-sungguh menyatakan cinta kepada Islam, sementara panggilan salat sering kita abaikan tanpa alasan yang dibenarkan?
Tentu, menolong agama Allah tidak hanya dilakukan dengan datang ke masjid. Namun, masjid dan salat adalah fondasi penting yang membentuk pribadi beriman, disiplin, dan bertanggung jawab.
Dari masjid, semestinya lahir manusia-manusia yang lebih jujur di tempat kerja, lebih santun di rumah, lebih amanah dalam jabatan, dan lebih peduli terhadap penderitaan orang lain.
Dakwah Tidak Selalu dari Mimbar
Dakwah sering kali kita bayangkan sebagai ceramah di hadapan banyak orang, lengkap dengan mikrofon, mimbar, dan lantunan ayat suci. Padahal, jalan dakwah jauh lebih luas daripada itu.
Dakwah dapat hadir melalui tutur kata yang menenangkan, perilaku yang jujur, karya yang bermanfaat, dan keputusan yang adil.
Seorang ayah berdakwah ketika ia membimbing keluarganya untuk menjaga salat, menyayangi sesama, dan mencari rezeki yang halal.
Seorang ibu berdakwah ketika ia menanamkan kasih sayang, kesabaran, dan kejujuran dalam pendidikan anak-anaknya.
Seorang guru berdakwah ketika ia mengajar dengan tulus, tidak mempermalukan murid, dan membangun karakter melalui keteladanan.
Seorang pemimpin berdakwah ketika ia menolak korupsi, tidak menyalahgunakan kekuasaan, dan mendahulukan kepentingan orang banyak.
Seorang pedagang berdakwah ketika ia tidak mengurangi timbangan, tidak menipu pembeli, dan menjaga amanah.
Bahkan, seorang pengguna media sosial pun dapat berdakwah ketika ia membagikan ilmu yang benar, menyampaikan nasihat dengan santun, dan menahan jarinya dari menyebarkan fitnah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini mendorong kita menyampaikan kebaikan sesuai pengetahuan yang benar dan kemampuan masing-masing.
Namun, menyampaikan agama juga menuntut tanggung jawab. Jangan berbicara tentang agama tanpa ilmu, jangan menyebarkan hadis yang belum jelas kebenarannya, dan jangan menjadikan dakwah sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Dakwah yang baik bukan sekadar membuat orang mendengar suara kita, melainkan membantu mereka melihat keindahan ajaran Islam melalui sikap kita.
Sebab, terkadang satu teladan yang tulus lebih membekas daripada seribu nasihat yang tidak pernah diamalkan.
Perjuangan Terberat Adalah Menaklukkan Hawa Nafsu
Ada perjuangan yang terlihat oleh manusia, tetapi ada pula perjuangan yang berlangsung sunyi di dalam dada.
Perjuangan yang terlihat mungkin berupa pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan harta. Sementara itu, perjuangan batin berlangsung ketika seseorang berusaha menahan amarah, mengendalikan keserakahan, menjaga pandangan, melawan kesombongan, serta menolak godaan untuk berbuat curang.
Allah SWT berfirman:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi'at: 40–41)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kemenangan sejati tidak selalu berarti berhasil mengalahkan orang lain. Ada kemenangan yang jauh lebih mulia, yaitu ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya sendiri demi menaati Allah.
Kita mungkin mampu mengangkat beban yang berat, tetapi belum tentu mampu menahan amarah.
Kita mungkin mampu berbicara lantang di depan banyak orang, tetapi belum tentu mampu mengakui kesalahan.
Kita mungkin mampu memberi nasihat kepada orang lain, tetapi belum tentu sanggup menjalankan nasihat itu untuk diri sendiri.
Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki dunia di sekitar kita, sementara hati sendiri dibiarkan dipenuhi iri, dengki, kebencian, dan kesombongan.
Perjuangan memperbaiki diri adalah pekerjaan seumur hidup. Setiap hari kita belajar menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah.
Perlu dipahami pula bahwa ungkapan yang sering beredar mengenai “jihad melawan hawa nafsu” tidak boleh sembarangan dinisbatkan sebagai hadis sahih.
Meski demikian, kewajiban mengendalikan hawa nafsu memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur'an dan berbagai hadis sahih tentang kesabaran, pengendalian amarah, dan keteguhan dalam ketaatan.
Harta Bukan Hanya untuk Memenuhi Keinginan
Harta adalah amanah. Di dalamnya ada hak keluarga, kewajiban sosial, dan kesempatan untuk menanam amal yang manfaatnya melampaui usia kita.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat.”
(QS. Al-Baqarah: 254)
Islam tidak melarang umatnya bekerja keras, membangun usaha, menikmati rezeki yang halal, atau meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Akan tetapi, harta tidak seharusnya berhenti menjadi alat pemuas keinginan pribadi.
Sebagian rezeki dapat menjadi jalan untuk memakmurkan masjid, membantu pendidikan anak-anak yang membutuhkan, mendukung kegiatan dakwah, menolong fakir miskin, dan menguatkan masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Tidak semua orang mampu menyumbangkan jumlah yang besar. Namun, Allah tidak menilai manusia semata-mata dari angka yang terlihat.
Keikhlasan, kemampuan, dan kesungguhan juga menjadi bagian penting dari amal.
Ada orang yang membantu dengan hartanya.
Ada yang membantu dengan ilmunya. Ada yang menyumbangkan tenaga. Ada pula yang memberikan waktu, keterampilan, perhatian, dan doa.
Jangan menunggu kaya untuk mulai berbuat baik. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk menjadi amanah.
Jangan menunggu dikenal banyak orang untuk memberi manfaat.
Mulailah dari apa yang kita punya, dari tempat kita berada, dan dari kesempatan yang tersedia.
Membela Kehormatan Islam di Era Digital
Pada masa kini, perjuangan menjaga kehormatan Islam juga berlangsung di ruang digital.
Jari-jari kita dapat menjadi jalan penyebaran ilmu, tetapi dapat pula menjadi pintu masuk fitnah.
Satu unggahan yang bermanfaat dapat menguatkan hati seseorang. Sebaliknya, satu kabar bohong dapat memecah persaudaraan, mencemarkan nama baik, dan melukai kehormatan orang lain.
Allah SWT mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini sangat relevan dalam kehidupan digital. Sebelum membagikan berita, periksalah sumbernya.
Sebelum menuduh, carilah kebenarannya. Sebelum menulis komentar, pertimbangkan dampaknya.
Tidak setiap provokasi harus dibalas dengan kemarahan. Tidak setiap penghinaan harus dijawab dengan penghinaan. Tidak setiap perbedaan harus diakhiri dengan permusuhan.
Allah SWT berfirman:
“Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat: 34)
Membela Islam bukan berarti membenarkan kebencian atas nama agama. Membela Islam berarti menjaga kehormatan ajarannya melalui ilmu, akhlak, ketegasan yang adil, dan tindakan yang bertanggung jawab.
Ketika Islam dilecehkan, kita dapat menyampaikan keberatan dengan cara yang bermartabat, meluruskan informasi yang keliru, melaporkan konten yang melanggar aturan, serta menunjukkan keindahan Islam melalui perilaku yang mulia.
Jangan sampai niat membela agama justru membuat kita melanggar nilai-nilai agama itu sendiri.
Di tengah derasnya arus informasi, jadilah Muslim yang mampu menjaga lisan sekaligus jari; tegas dalam prinsip, tetapi tetap santun dalam penyampaian.
Menegakkan Amar Makruf dan Nahi Munkar dengan Bijaksana
Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan, pengetahuan, serta ketentuan syariat.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali 'Imran: 104)
Amar makruf nahi munkar bukanlah izin untuk menghina, mempermalukan, atau bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain.
Ia harus dijalankan dengan ilmu, niat yang lurus, kebijaksanaan, dan pertimbangan terhadap kemaslahatan.
Menegur seseorang hendaknya bertujuan memperbaiki, bukan melampiaskan kemarahan.
Mengingatkan hendaknya membuka jalan pulang, bukan membuat orang kehilangan harapan.
Ada saatnya nasihat disampaikan dengan tegas. Ada saatnya kelembutan lebih dibutuhkan.
Ada pula keadaan ketika seseorang perlu dibimbing secara pribadi agar tidak kehilangan kehormatan di hadapan orang banyak.
Dakwah bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling benar. Dakwah adalah ikhtiar mengajak manusia mendekat kepada kebenaran dengan cara yang diridai Allah.
Karena itu, orang yang menyeru kepada kebaikan harus terlebih dahulu berusaha memperbaiki dirinya.
Bukan berarti ia harus sempurna, melainkan ia harus bersedia belajar, mengakui kekurangan, dan berjuang mengamalkan apa yang disampaikannya.
Siapakah Kita dalam Barisan Penolong Agama Allah?
Setelah semua renungan itu, marilah kita kembali bertanya kepada diri sendiri.
Ketika azan berkumandang, apakah kita berusaha memenuhi panggilan Allah?
Ketika keluarga membutuhkan bimbingan, apakah kita hadir sebagai teladan?
Ketika melihat ketidakjujuran, apakah kita berani memilih amanah?
Ketika memiliki rezeki lebih, apakah kita mengingat mereka yang sedang kesulitan?
Ketika ruang digital dipenuhi fitnah, apakah kita ikut menyebarkannya atau memilih menghentikan rantai keburukan?
Ketika diberi ilmu, apakah kita menggunakannya untuk mencerdaskan dan membantu sesama?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi orang lain. Pertanyaan ini adalah cermin untuk menilai perjalanan diri sendiri.
Menolong agama Allah tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ia dapat dimulai dari rumah yang sederhana, ruang kelas, tempat kerja, pasar, masjid, lingkungan masyarakat, bahkan dari layar telepon yang sedang kita genggam.
Kita tidak harus menunggu menjadi ulama untuk berlaku jujur. Kita tidak harus menjadi pemimpin untuk menolong sesama.
Kita tidak harus kaya untuk bersedekah. Kita tidak harus terkenal untuk menyebarkan kebaikan.
Yang kita perlukan adalah iman yang hidup, ilmu yang benar, niat yang ikhlas, dan keberanian untuk memulai.
Islam berdiri dan berkembang melalui perjuangan panjang Rasulullah SAW, para sahabat, ulama, serta generasi Muslim yang mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan sebagian dari kenyamanan hidup mereka. Amanah kebaikan itu kini berada di hadapan kita.
Mungkin kita tidak hidup pada masa Rasulullah SAW. Namun, kita tetap memiliki kesempatan untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan beliau: menegakkan tauhid, menjaga salat, membangun persaudaraan, menyebarkan ilmu, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan rahmat bagi sesama.
Jadilah Bagian dari Perjuangan, Bukan Sekadar Penonton
Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah.
Jangan biarkan usia berlalu hanya untuk menghitung apa yang telah kita miliki. Hitung pula kebaikan apa yang telah kita berikan.
Jangan hanya bangga melihat masjid berdiri megah. Jadilah bagian dari orang-orang yang menghidupkannya dengan ibadah dan amal saleh.
Jangan hanya mengagumi ulama yang berdakwah. Jadilah umat yang mengamalkan ajarannya dengan ilmu dan akhlak yang benar.
Jangan hanya lantang menyebut nama Islam. Hadirkanlah keindahan Islam dalam kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, kepedulian, dan kasih sayang.
Sebab, agama tidak hanya membutuhkan suara yang menggema, tetapi juga hati yang ikhlas dan tangan yang bekerja.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang teguh dalam iman, istiqamah dalam ketaatan, mampu mengendalikan hawa nafsu, ringan berbagi, santun dalam berdakwah, serta bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat.
Semoga setiap langkah menuju masjid, setiap ilmu yang kita ajarkan, setiap harta yang kita infakkan, setiap keburukan yang kita cegah dengan bijaksana, dan setiap kebaikan yang kita sebarkan menjadi bagian dari ikhtiar menolong agama Allah.
Allahu Akbar!
Bukan dengan kesombongan kita membela Islam, melainkan dengan ketundukan kepada Allah.
Bukan dengan kebencian kita menjaga kehormatannya, melainkan dengan ilmu dan akhlak.
Bukan hanya dengan kata-kata kita menunjukkan kecintaan kepada agama, melainkan dengan amal nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang menolong agama-Mu, menegakkan kebenaran, memakmurkan masjid, menjaga persaudaraan, dan menebarkan rahmat di muka bumi.
Teguhkanlah langkah kami dalam ketaatan dan jangan biarkan kami menjadi penonton ketika kesempatan berbuat baik terbuka di hadapan kami. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Ditulis oleh:
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi, MUI Kabupaten Kuantan Singingi, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN)