RANTING ADALAH NADI KEHIDUPAN MUHAMMADIYAH
Ada sebuah hipotesis yang perlu direnungkan oleh seluruh keluarga besar Muhammadiyah: Jika ranting dilalaikan dan cabang diabaikan, maka pergerakan Muhammadiyah perlahan akan melemah, mengering, dan pada akhirnya kehilangan daya hidupnya. Sebab, kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya bukan hanya terletak pada megahnya gedung, besarnya aset, banyaknya sekolah, atau luasnya jaringan amal usaha. Kekuatan yang paling mendasar justru berada pada jamaah yang hidup, bergerak, dan tumbuh di tingkat ranting.
Muhammadiyah bukan organisasi yang lahir dari atas lalu meneteskan kekuatan ke bawah. Sejarah dan watak gerakannya menunjukkan bahwa Muhammadiyah tumbuh dari bawah ke atas. Dari jamaah kecil, dari pengajian sederhana, dari mushala dan masjid, dari orang-orang yang dengan ikhlas menyisihkan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk menghidupkan Persyarikatan. Ranting dan cabang bukan sekadar struktur organisasi yang tercantum dalam surat keputusan. Keduanya adalah tempat denyut kehidupan Muhammadiyah berlangsung setiap hari.
Lihatlah bagaimana ranting dan cabang bertahan selama ini. Banyak kegiatan berjalan dengan urunan anggota, patungan jamaah, dan sumbangan sukarela. Kas ranting tidak selalu menunggu kiriman dari daerah, wilayah, apalagi pusat. Ada yang mengumpulkan uang receh setelah pengajian, ada yang menyumbangkan sebagian rezekinya, ada yang meminjamkan tempat, ada pula yang mengabdikan tenaga tanpa meminta imbalan. Semangat ta’awun, saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, menjadi bahan bakar utama gerakan di tingkat akar rumput.
Karena itu, sudah saatnya para pimpinan Muhammadiyah di tingkat daerah, wilayah, bahkan pusat sesekali menengok ranting di lingkungan tempat tinggalnya. Jangan hanya melihat laporan, angka, struktur, dan pencapaian amal usaha. Lihatlah keadaan jamaah secara nyata. Apakah jamaahnya masih ada? Apakah mushalanya masih berdiri dan terawat? Apakah azan masih berkumandang lima waktu? Apakah salat berjamaah masih hidup? Apakah imam rawatib dan khatib masih tersedia? Apakah takmir masjid masih aktif menjalankan amanah? Apakah jamaah masih istiqamah membaca Al-Qur’an dan mengikuti pengajian?
Perhatikan pula kehidupan organisasinya. Apakah rapat ranting masih berlangsung? Apakah pengajian ranting dan cabang masih berjalan? Apakah jamaahnya bertambah atau justru semakin berkurang? Apakah ada kader muda yang mulai tumbuh dan diberi ruang untuk berkiprah? Apakah masih ada semangat membangun masjid, memperbaiki mushala, membeli karpet baru, mengecat dinding yang kusam, atau sekadar kerja bakti membersihkan kamar mandi dan tempat wudu?
Bahkan, jangan meremehkan hal-hal sederhana. Apakah jamaah masih memiliki kebiasaan duduk bersama setelah pengajian, berbincang sambil menikmati secangkir kopi sederhana? Apakah masih ada keakraban, persaudaraan, dan rasa saling memiliki? Sebab, sebuah ranting tidak hanya hidup karena papan nama dan surat keputusan. Ranting hidup karena ada orang-orang yang datang, berkumpul, beribadah, belajar, bekerja sama, dan merasa menjadi bagian dari Persyarikatan.
Ada ironi yang perlu kita hindari. Jangan sampai seseorang merasa telah menjadi pimpinan Muhammadiyah karena menduduki jabatan di tingkat daerah, wilayah, atau pusat, tetapi justru kehilangan hubungan dengan ranting dan cabang di sekitarnya. Jangan sampai kesibukan mengurus amal usaha membuat kita lupa bahwa ada jamaah di akar rumput yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan organisasi dengan segala keterbatasannya.
Amal usaha memang penting. Sekolah, rumah sakit, klinik, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga Muhammadiyah adalah bukti nyata kontribusi Persyarikatan bagi umat dan bangsa. Namun, kita perlu memahami satu hal mendasar: amal usaha yang besar membutuhkan jamaah yang hidup sebagai fondasi sosial, moral, dan kaderisasinya. Jika jamaah terus menyusut, siapa yang akan menjadi guru, tenaga profesional, penggerak, pengelola, donatur, dan penerus perjuangannya pada masa depan?
Jangan sampai kita terlalu bangga menghitung jumlah gedung, tetapi lupa menghitung jumlah jamaah yang masih setia. Jangan sampai kita sibuk membicarakan pengembangan amal usaha, tetapi tidak menyadari bahwa pengajian di ranting semakin sepi. Jangan sampai sekolah dan perguruan tinggi terus dibangun, sementara sumber daya manusia yang menjadi akar gerakan justru semakin melemah.
Ranting dan cabang ibarat sepasang kaki bagi tubuh besar Muhammadiyah. Kaki itulah yang menopang dan memungkinkan tubuh bergerak ke mana-mana. Daerah, wilayah, dan pusat dapat berdiri tegak karena ada struktur di bawahnya yang bekerja. Tetapi, bagaimana mungkin tubuh terus berlari jika kedua kakinya keropos? Bagaimana mungkin organisasi terus melangkah jauh jika jamaah di tingkat paling bawah mulai kehilangan semangat, kehilangan kader, bahkan kehilangan tempat berkumpul?
Mungkin keruntuhan itu tidak terjadi hari ini. Mungkin amal usaha masih berjalan, gedung masih berdiri megah, dan kegiatan di tingkat atas masih tampak ramai. Namun, tanda-tanda pelemahan bisa saja mulai terlihat dari ranting-ranting yang semakin sepi, pengajian yang berhenti, masjid yang kehilangan jamaah, dan kaderisasi yang tidak berjalan. Jika gejala-gejala ini dibiarkan, suatu saat kita mungkin baru menyadari besarnya masalah ketika sudah terlambat.
Ada ungkapan yang dinisbatkan kepada Pak AR Fakhruddin: "Ranting itu the real Muhammadiyah." Ungkapan ini mengandung pesan mendalam. Ranting adalah tempat nilai-nilai Muhammadiyah benar-benar diuji dan dipraktikkan. Di sanalah dakwah berlangsung secara dekat dengan masyarakat. Di sanalah kader belajar mengurus umat, anggota belajar berorganisasi, dan semangat persyarikatan diwujudkan melalui tindakan sederhana yang sering kali luput dari perhatian.
Kita juga harus jujur melihat kenyataan bahwa setiap ranting, cabang, dan amal usaha pada dasarnya memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupi dirinya sendiri. Bantuan dari struktur di atas memang diperlukan, tetapi tidak selalu besar dan tidak mungkin menjadi satu-satunya sumber kehidupan organisasi. Karena itu, kemandirian, gotong royong, kepedulian anggota, dan kesediaan berkorban harus terus dirawat.
Maka, para pimpinan Muhammadiyah, mari sesekali menundukkan kepala dan melihat ke bawah. Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memastikan bahwa akar gerakan masih kuat. Datanglah ke ranting, duduklah bersama jamaah, ikuti pengajiannya, dengarkan keluhannya, lihat kondisi masjidnya, dan rasakan denyut kehidupan organisasinya. Jangan hanya hadir ketika ada acara besar, musyawarah, atau peresmian gedung. Hadirlah juga ketika jamaah sedang berjuang dalam kesederhanaan.
Sebab, menjadi pimpinan Muhammadiyah bukan sekadar memiliki jabatan dan kewenangan. Menjadi pimpinan berarti memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh bagian Persyarikatan tetap hidup, mulai dari ranting paling kecil hingga pimpinan pusat.
Jangan hanya sibuk mendaki ke atas sampai lupa pada akar yang menopang. Jangan hanya membangun gedung, tetapi lupa membangun jamaah. Jangan hanya membesarkan amal usaha, tetapi membiarkan ranting kehilangan kehidupan.
Pada akhirnya, Muhammadiyah tidak akan menjadi besar hanya karena gedungnya tinggi, asetnya banyak, atau struktur pimpinannya lengkap. Muhammadiyah akan tetap besar selama jamaahnya hidup, rantingnya bergerak, cabangnya berdaya, kadernya tumbuh, dan dakwahnya terus menyentuh masyarakat.
Ingatlah satu hal: Muhammadiyah tumbuh dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah. Ranting bukan pinggiran gerakan. Ranting adalah akarnya. Dan organisasi yang melupakan akar, cepat atau lambat, akan kehilangan kekuatannya sendiri.
#Muhammadiyah #Dakwah #Islam #Indonesia