Menyemai Benih di Hari Pertama: Hindari 8 Kekhilafan Guru Saat Gerbang Sekolah Mulai Terbuka
Bismillah. Minggu pertama sekolah selalu menyimpan aroma yang khas: wangi buku baru, gemerisik seragam yang masih kaku, dan gemuruh riuh di koridor-koridor kelas.
Bagi seorang guru, momen ini adalah fajar dari sebuah perjalanan panjang selama satu tahun ke depan. Di sinilah batu penjuru diletakkan.
Namun, acapkali dalam antusiasme yang membubung atau kecemasan yang menyelinap, beberapa kekhilafan klasik kerap dilakukan—baik oleh jemari guru pemula maupun mereka yang rambutnya telah memutih di dunia pendidikan.
Ketika fondasi di minggu pertama retak, maka sepanjang tahun ajaran, ruang kelas bisa menjelma menjadi labirin yang melelahkan.
Berikut adalah delapan kesalahan yang kerap kasatmata, bersanding dengan lentera solusi untuk merawat ruang kelas agar tumbuh menjadi taman belajar yang dirindukan.
1. Merajut Jaring Tirani: Terlalu Banyak Aturan Sekaligus
Ketika lonceng pertama berdentang, tidak sedikit guru yang langsung menjelma menjadi "diktator" legalistik. Mereka membacakan puluhan baris tata tertib seolah sedang membacakan maklumat perang.
Alih-alih tertib, jiwa-jiwa muda di hadapan mereka justru merasa terhimpit dan dilingkupi rasa takut sebelum sempat melangkah.
Lentera Solusi: Cukup tawarkan tiga hingga lima pilar aturan besar yang bernafaskan saling menghormati, tanggung jawab, dan keselamatan. Biarkan prosedur teknis lainnya dialirkan bagai air, dikenalkan satu demi satu secara bertahap dalam tiga hari pertama.
2. Tergesa Mengetuk Pintu Akal, Melupakan Pintu Hati
Ada sekat tebal yang terbangun ketika seorang pendidik langsung membuka Bab 1 buku teks di hari pertama, tanpa sudi menyapa pemilik wajah-wajah baru di hadapannya.
Pembelajaran yang dipaksakan melaju tanpa ikatan emosional hanya akan melahirkan kejenuhan yang prematur. Siswa akan merasa diri mereka sekadar angka, bukan manusia.
Lentera Solusi: Sisihkan separuh waktu di minggu pertama untuk merajut kedekatan. Hadirkan permainan pemecah kebekuan (ice breaking), selami minat mereka, dan lakukan asesmen diagnosis yang dikemas dengan riang. Biarkan mereka jatuh cinta terlebih dahulu pada atmosfer kelasmu.
3. Menghapus Identitas dalam Anonimitas
"Kamu yang di pojok belakang," atau "Si baju biru." Kalimat-kalimat ini adalah belati kecil yang melukai harga diri siswa. Gagal mengingat nama mereka di awal pertemuan adalah bentuk pengabaian tak kasat mata yang membuat siswa merasa keberadaannya tidak berharga.
Lentera Solusi: Nama adalah seuntai doa dan identitas tertinggi seseorang. Gunakan kartu nama di meja, buatlah jurnal foto, atau mainkan gim lempar bola pengingat nama. Pancangkan tekad untuk menghafal minimal separuh dari jumlah jiwa di kelasmu pada hari pertama.
4. Menitah Tanpa Mencontohkan Prosedur
Mengatakan "Jika ingin ke belakang, angkat tanganmu" tidak akan pernah cukup. Ketika guru hanya memberi tahu tanpa pernah melatihnya, maka di minggu kedua, kekacauan akan mengetuk pintu kelas saat ritme pelajaran mulai meninggi.
Lentera Solusi: Didiklah tubuh mereka untuk mengingat, bukan hanya telinga. Lakukan simulasi bersama. Praktikkan bagaimana cara mengetuk pintu, bagaimana mengangkat tangan untuk bertanya, hingga bagaimana berpindah barisan dengan anggun.
5. Menjadi Bunglon yang Berganti Rupa di Hari Kedua
Kehangatan yang luar biasa di hari Senin, yang tiba-tiba berubah menjadi kebekuan yang menusuk di hari Selasa tanpa alasan yang jelas, akan membingungkan siswa. Inkonsistensi sikap adalah celah terbesar runtuhnya otoritas moral seorang guru di mata murid-muridnya.
Lentera Solusi: Kenakan "jubah kepribadian" yang jujur dan ajek (autentik) sejak fajar pertama. Jika sebuah pelanggaran membuahkan konsekuensi A di hari Senin, pastikan hukum yang sama tegak di hari Selasa. Ketegasan yang konsisten justru melahirkan rasa aman bagi siswa.
6. Membawa Bayang-Bayang Masa Lalu
"Kalian ini jauh lebih sulit diatur ketimbang kakak kelas kalian dulu!" Kalimat ini adalah racun yang mematikan motivasi. Membandingkan mereka dengan angkatan lain hanya akan menanam benih kebencian dan merubuhkan jembatan kepercayaan.
Lentera Solusi: Bentangkan selembar kertas putih bersih (blank slate). Hapuskan semua stigma masa lalu. Katakan pada mereka dengan tatapan mata yang teduh:
"Saya tidak peduli bagaimana kalian di masa lalu. Mulai hari ini, saya hanya ingin melihat usaha terbaikmu."
Kalimat ini adalah jangkar harapan, terutama bagi jiwa-jiwa yang terbiasa dicap bermasalah.
7. Memenjarakan Suara Siswa dalam Keheningan
Minggu pertama yang didominasi oleh khotbah panjang sang guru (teacher-centered) hanya akan melatih siswa menjadi penonton yang pasif. Ruang kelas yang sunyi dari suara siswa di awal tahun adalah pertanda awal dari kelas yang mati.
Lentera Solusi: Rancanglah panggung di mana siswa menjadi tokoh utamanya. Biarkan mereka menggambar peta pikiran tentang liburannya, saling mewawancarai teman sebangku, atau ikut merumuskan "kontrak belajar" bersama. Suara merdeka mereka harus menggema sejak minggu pertama.
8. Membakar Habis Lilin Energi Terlalu Dini
Banyak guru yang menyalakan api semangat terlalu besar di hari-hari awal, menyusun agenda yang teramat padat hingga lupa mengukur napas sendiri. Akibatnya, saat akhir pekan tiba, tubuh tumbang dan energi terkuras habis.
Lentera Solusi: Mengajar adalah sebuah maraton, bukan lari cepat belaka. Aturlah ritme langkahmu. Di minggu pertama, izinkan dirimu melangkah pulang tepat waktu.
Sisipkan jeda sepuluh menit di antara jam mengajar untuk sekadar meneguk air jernih dan merenggangkan penatnya jemari serta badan.
Minggu pertama sekolah bukanlah tentang seberapa banyak materi yang berhasil dijejalkan ke dalam benak siswa, melainkan tentang seberapa hangat kita menyalakan api rindu di hati mereka untuk terus datang dan belajar
Ronaldo Rozalino
Fajar Baru di SMAN 1 Sentajo Raya: Menenun Kedisiplinan, Merajut Masa Depan
Sentajo Raya – Di bawah naungan langit pagi yang bersih dan hangatnya mentari yang perlahan meninggi, halaman SMAN 1 Sentajo Raya menjadi saksi bisu dimulainya sebuah babak baru. Upacara bendera hari Senin pagi ini bukan sekadar rutinitas formalitas belaka, melainkan sebuah gerbang awal bagi para siswa untuk kembali menapaki jalan panjang pendidikan setelah melampaui masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang sarat makna.
Dengan langkah tegap dan harmoni pertanda disiplin yang mulai tertanam, para petugas bendera mengiringi berkibarnya Sang Merah Putih menuju puncak tertinggi. Di hadapan ratusan pasang mata siswa, khususnya para tunas muda kelas 10 serta kakak kelas mereka di tingkat 11 dan 12, upacara ini menjadi penanda bahwa genderang pembelajaran tahun ajaran baru resmi ditabuh.
Menjaga Harmoni dan Kenyamanan Belajar
Bertindak sebagai Pembina Upacara Drs Afrizal Kepala SMAN 1 Sentajo Raya, menyampaikan amanat yang sarat akan pesan filosofis dan ketegasan moral. Kehadiran dan kenyamanan di lingkungan sekolah digarisbawahi sebagai fondasi utama dari keberhasilan transfer ilmu.
"Jaga keharmonisan antar sesama. Jaga pula kebersihan lingkungan kita, karena lingkungan yang asri dan bersih akan melahirkan kenyamanan. Kenyamanan itulah yang memicu fokus, baik saat berada di dalam kelas maupun di luar sekolah," ungkapnya dengan nada penuh wibawa namun merangkul.
Beliau juga menekankan pentingnya sinergi dan rasa hormat yang tulus antara siswa, para guru, hingga seluruh staf tata usaha. "Saling menghargai adalah kunci. Jika ego dikedepankan dan rasa tidak nyaman terhadap guru atau pegawai muncul, maka proses belajar mengajar akan terganggu. Setiap gesekan emosional pasti berdampak langsung pada hasil pembelajaranmu," tambahnya mengingatkan.
Alarm Waktu Bagi Kelas 12: Tiada Waktu untuk Bersantai
Pesan mendalam dan penuh urgensi secara khusus ditiupkan telinga para siswa kelas 12. Berada di pengujung masa seragam putih-abu-abu, mereka diingatkan bahwa waktu mengalir begitu cepat, bagai air yang tak akan pernah berbalik arah ke hulu.
"Untuk anak-anak kami kelas 12, jika dihitung kembali, waktu kalian di sekolah ini tidak sampai 12 bulan penuh lagi. Ujian demi ujian telah menanti di depan mata. Oleh karena itu, sejak hari ini, detik ini, dan hari-hari berikutnya, kencangkan ikat pinggang kalian. Kehadiran, kedisiplinan, dan tanggung jawab atas tugas-tugas dari guru adalah mutlak," tegas Pembina Upacara.
Pihak sekolah menggarisbawahi bahwa tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Datang dan pulang tepat waktu, serta menyelesaikan tugas bukan sekadar penggugur kewajiban, melainkan cerminan dari kematangan tanggung jawab individu sebelum mereka terjun ke masyarakat luas.
Bijak Bermedia Sosial dan Mengukir Karakter
Di era digital yang serba cepat ini, sekolah juga memberikan pesan protektif terkait etika berkomunikasi. Para siswa diimbau untuk menyaring setiap informasi dan menjaga nama baik almamater. Hal-hal yang kurang baik atau kurang pantas yang mungkin dilakukan oleh oknum di lingkungan sekolah, ditegaskan untuk tidak disebarluaskan di media sosial demi menjaga marwah bersama.
"Pintar saja tidak pernah cukup. Memiliki hati yang baik pun akan pincang jika tidak dibarengi dengan kedisiplinan yang kokoh. Mulai hari ini, mari kita kuatkan tekad untuk belajar dan bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Semua aturan ini ditegakkan bukan untuk mengekang, melainkan demi masa depan kalian semua," pungkasnya sebelum menutup amanat dengan ucapan salam hangat.
Upacara pun usai dengan khidmat, menyisakan gemuruh semangat di dada setiap siswa. SMAN 1 Sentajo Raya kini siap bergerak bersama, mengukir prestasi, dan mengantarkan putra-putri daerah menuju puncak mimpi mereka.
Reportase: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Guru Konten Kreator Riau, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis, Blogger, Guru SMAN 1 Sentajo Raya, Ketua Komunitas Belajar KAYUAH SMAN 1 Sentajo Raya, Guru Penggerak, Fasda CBP Rupiah Bank Indonesia Riau dan BGTK Riau, Motivator Literasi & Edukasi, Composer & Arranger, Coach)
Menjemput Berkah di Kota Jalur: Vicella Drink & Food (VDF) Resmi Hadir di Kota Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi
TELUK KUANTAN — Ketika lantunan syahdu ayat-ayat suci Al-Qur'an mulai bergema, menggetarkan langit Kota Teluk Kuantan dalam keagungan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-44 Tingkat Provinsi Riau, sebuah kisah tentang kehangatan rasa dan ruang temu baru resmi dimulai.
Tepat pada hari Sabtu, 27 Juni 2026, sebuah destinasi kuliner yang bersahaja namun memikat, VICELLA DRINK & FOOD (VDF), resmi membuka pintunya bagi para pencinta rasa di Kabupaten Kuantan Singingi.
Berdiri di Jalan Tuanku Tambusai, Beringin Taluk, kehadiran VDF bukan sekadar tentang perayaan melepas lapar dan dahaga. Di tengah riuh rendahnya ribuan kafilah, tamu undangan, dan masyarakat yang memadati jantung Kota Jalur, tempat ini hadir laksana oase sebuah persinggahan teduh yang siap merajut kebersamaan sekaligus memanjakan lidah yang merindukan kehangatan rumah.
Bapak Drs. Afrizal Kepala SMAN 1 Sentajo Raya sedang ngobrol asyik dengan owner VDF
Sebait Doa di Awal Langkah
Setiap perjalanan yang indah selalu dimulai dengan ketulusan. Menandai langkah pertamanya, segenap manajemen VDF yang dinakhodai oleh Ronaldo Rozalino selaku pemilik (owner), memanjatkan untaian doa ke hadirat Sang Pencipta.
"Bismillahirrahmanirrahim. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar usaha yang dirintis ini dapat berjalan lancar dan senantiasa mengalirkan manfaat bagi sesama. Semoga kehadiran kami memberikan kebaikan, rahmat, dan keberkahan dalam menjemput rezeki di bumi Allah tercinta," ucapnya penuh takzim.
Simfoni Rasa yang Memikat Lidah
Menengok ke daftar menunya, VDF menyajikan harmoni kuliner nusantara yang dekat di hati. Bagi mereka yang mendamba kehangatan makanan utama, kepiawaian dapur VDF siap menyajikan nasi goreng kaya rempah, mi goreng, mi rebus yang menggugah selera, ayam kremes yang renyah, ayam bakar dengan bumbu meresap, hingga kelezatan pecel lele yang legendaris.
Tak hanya makanan berat, obrolan sore Anda bersama kerabat akan kian hidup ditemani aneka camilan ringan, mulai dari renyahnya kentang goreng, nugget, sosis, hingga manisnya roti bakar yang dipanggang dengan penuh kelembutan.
Guna membasuh dahaga di sela-sela semaraknya aktivitas perhelatan MTQ, barisan minuman segar siap menanti. Mulai dari kesegaran alami jus jeruk, jus apel, jus buah naga, dan jus mangga, hingga pilihan modern seperti lemon tea, es boba-pola jelly, es teh, Milo ice, dan kelembutan matcha latte.
Bagi para pencinta ketenangan yang menghargai cita rasa pekat, kehangatan teh telur yang autentik, wedang jahe madu yang memulihkan stamina, serta racikan kopi mulai dari coffee gula aren, coffee latte, Americano, coffee milk, hingga cappuccino, siap menjadi teman setia dalam bertukar cerita.
Ruang Silaturahmi yang Hangat dan Terkoneksi
Lebih dari sekadar tempat bersantap, VICELLA DRINK & FOOD didesain sebagai ruang interaksi sosial yang inklusif. Di dalam ruangannya yang nyaman, tampak obrolan-obrolan hangat mengalir santai.
Tempat ini sangat serasi untuk bernaung bersama keluarga tercinta, merayakan kebersamaan dengan sahabat, ataupun mematangkan gagasan bersama rekan kerja. Guna mendukung produktivitas di era digital, fasilitas Free WiFi pun disediakan demi kenyamanan belajar, bekerja, atau sekadar berkumpul.
0813-7190-6670 dan 0853-6355-4777.
Merawat Geliat Ekonomi Negeri
Kehadiran VDF di tengah momentum akbar MTQ tingkat provinsi ini membawa harapan besar yang melampaui sekat-sekat dinding kulinernya. Kehadirannya diharapkan tidak hanya menambah khazanah kuliner bagi masyarakat, tetapi juga ikut ambil bagian dalam mendorong urat nadi perekonomian daerah melalui sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi.Bu Erlina Yati Kak Sieng (Bendahara DKC Kuantan Tengah) dan Anandanya serta Bapak Drs Afrizal sedang asyik ngobrol di VDF
*Vicella Drink & Food (VDF)*
*Senin s.d Jumat*
Buka Pukul 16.00 WIB
Tutup Pukul 23.00 WIB
*Sabtu - Ahad*
Buka 08.00 WIB
Tutup 22.00 WIB
Seni Menari di Atas Garis Takdir: Merawat Jiwa dengan Ilmu Tau Diri dan Tau Batas
Bismillah.Di panggung sandiwara kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam riuh rendahnya tepuk tangan atau sunyinya pengabaian. Kita kerap berlari mengejar validasi, melompat melampaui pagar yang bukan milik kita, hingga akhirnya lelah dan kehilangan arah. Padahal, ada sebuah kompas sunyi yang jika dipahami akan membawa jiwa pada kedamaian yang hakiki. Kompas itu bernama Ilmu Tau Diri dan Tau Batas.
Ini bukanlah sekadar konsep kecerdasan emosional atau etika sosial yang kaku. Ini adalah sebuah falsafah hidup, sebuah seni menari di atas garis takdir dengan anggun dan bermakna.
1. Ilmu Tau Diri: Menemukan Rumah di Dalam Jiwa
Tau diri bukanlah tentang merendahkan martabat atau merasa kerdil di hadapan dunia. Sebaliknya, ia adalah cermin jernih yang memantulkan akurasi penilaian terhadap diri sendiri. Ia adalah keberanian untuk menatap ke dalam batin dan mengakui siapa kita sebenarnya.
Memahami Kapasitas Jiwa: Seperti bejana yang mengerti volume air yang mampu ditampungnya, mereka yang tau diri paham betul apa yang mereka kuasai dan apa yang berada di luar jangkauan. Mereka terbebas dari jerat overclaiming penyakit merasa paling ahli di segala bidang.
Kesadaran Membaca Posisi: Di mana pun kaki berpijak, jiwa yang tau diri selalu tahu perannya. Ketika menjadi murid, ia menyerap ilmu; ketika menjadi pemimpin, ia mengayomi; ketika menjadi tamu, ia menghormati. Ia tidak akan pernah salah menempatkan duduk dan berdirinya.
Menjinakkan Ego: Ego adalah ombak yang riuh, namun tau diri adalah jangkar yang tenang. Ia tahu kapan harus melontarkan kata, dan kapan harus hening mendengarkan. Ia tidak lagi mengemis validasi dari dunia, karena ia telah selesai dengan dirinya sendiri.
2. Ilmu Tau Batas: Menenun Harmoni dengan Semesta
Jika tau diri adalah perjalanan menyelami samudra internal, maka tau batas adalah cara kita mendayung perahu di tengah samudra sosial. Ini adalah seni menghormati garis demarkasi eksternal, sebuah jembatan etika yang menghubungkan kita dengan orang lain tanpa saling melukai.
Sajadah Privasi yang Suci: Ada wilayah di dalam diri orang lain yang menjadi hak eksklusif mereka. Mengetahui batas berarti menarik diri dari urusan yang bukan urusan kita, membiarkan orang lain bernapas tanpa intervensi yang tidak perlu.
Kewenangan yang Terukur: Ia tidak akan melangkah melampaui pagar haknya. Ia tidak mengambil keputusan yang bukan porsinya, karena ia tahu bahwa memaksakan kehendak pada wilayah orang lain adalah benih dari kekacauan.
Lelucon yang Memiliki Rambu: Kebebasan kita berakhir saat kenyamanan orang lain terusik. Komedi terbaik adalah yang menertawakan kehidupan, bukan yang menguliti harga diri sesama.
Menjaga Lentera Energi: Tubuh dan jiwa memiliki batas lelah. Mengetahui batas berarti tahu kapan harus menarik diri dari riuh dunia, kapan harus berhenti bekerja, dan kapan harus menyendiri sebelum api di dalam diri padam menjadi abu kekecewaan (burnout).
Memancarkan Karisma dalam Keheningan
Menguasai Self-Awareness (kesadaran diri) dan Social Boundaries (batasan sosial) adalah kunci melahirkan manusia yang karismatik. Orang-orang ini memancarkan ketenangan yang magis. Mereka tidak merasa terancam oleh kilau keberhasilan orang lain, dan tidak pula merasa perlu menginjak pundak orang lain demi terlihat tinggi.
Tau diri membuat kita tidak congkak saat berada di puncak gunung kesuksesan, dan tau batas membuat kita tetap tegak terhormat di lembah mana pun kita berada.
Pada akhirnya, hidup yang indah adalah hidup yang presisi. Tidak berlebihan dalam menilai diri, dan tidak melampaui batas dalam memperlakukan dunia.
Ronaldo Rozalino_Coach RR
Panitia Umumkan Pemenang Sayembara Logo Nasional Festival Pacu Jalur 2026
TELUK KUANTAN — Desau angin di tepian Sungai Kuantan seakan membawa gemuruh asa yang tak kunjung padam. Di balik riak air yang menyimpan sejuta cerita perjuangan, Festival Pacu Jalur Tradisional Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2026 bersiap kembali menorehkan sejarah.
Sebagai bentuk pengejawantahan semangat kolektif, Panitia Pelaksana secara resmi mengumumkan hasil akhir Sayembara Desain Logo yang akan menjadi identitas visual dari perhelatan akbar kebanggaan masyarakat Rantau Kuantan ini ungkap Andi Cahyadi Ketua Panitia Jalur Nasional 2026
Herika Putra, S.Sos Sekretaris Panitia mengungkapkan Seni bukan sekadar goresan warna di atas kanvas digital, melainkan sebuah manifestasi dari nilai adat, gotong royong, dan harga diri yang mengalir dalam nadi anak negeri. Melalui proses kurasi yang begitu ketat oleh Dewan Juri profesional, sayembara ini berhasil menyaring karya-karya terbaik dari para desainer berbakat.
Keputusan mutlak tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Ketua Umum Panitia Pelaksana Nomor: 01/PANPEL-FFJT/KS/VII/2026, sebuah legasi legalitas yang menandai lahirnya simbol baru bagi perayaan tradisi tahun ini.
Para Pengukir Prasasti Visual
Dari puluhan karya yang masuk membawa filosofi mendalam, tiga nama terpilih sebagai representasi puncak keindahan visual Pacu Jalur 2026:
Peringkat 1: Melchias Ari Setiadji (Surabaya)
Peringkat 2: Abhitah Gavarila (Kabupaten Kuantan Singingi)
Peringkat 3: Hamidum Majid (Pulau Panjang Hulu Inuman)
Melchias Ari Setiadji, seorang desainer logo kawakan, berhasil menduduki takhta tertinggi dengan konsep yang dinilai paling paripurna dalam memadukan modernitas estetika tanpa menanggalkan pakem-pakem sakral tradisi Pacu Jalur. Garis-garis tegas berbalut keanggunan melambangkan haluan jalur yang membelah ombak, membawa pesan universal tentang ketangguhan.
Juara 1 Sayembara Logo Pacu Jalur Nasional 2026
Suara dari Jantung Tradisi
Menariknya, peringkat kedua diraih oleh Abhitah Gavarila, seorang putra daerah asli Kuantan Singingi. Karyanya lahir dari kedalaman rasa cinta terhadap tanah kelahiran, merefleksikan spiritualitas lokal yang kental.
"Bagi saya, Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan, melainkan warisan budaya yang mengajarkan persatuan, gotong royong, semangat juang, serta penghormatan kepada adat dan leluhur," tutur Abhitah dalam untaian filosofi karyanya.
"Setiap elemen dalam logo ini dirancang dengan makna yang mendalam, sebagai representasi identitas masyarakat Kuantan Singingi serta harapan agar Festival Pacu Jalur 2026 semakin dikenal hingga ke tingkat dunia."
Juara 2 Sayembara Logo Pacu Jalur Nasional 2026
Sementara itu, di Peringkat Ketiga, Hamidum Majid yang berasal dari Pulau Panjang Hulu Inuman turut mengukuhkan posisi bahwa kreativitas pemuda pesisir Kuantan tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia mengirimkan konsep narasi filosofis yang secara apik menceritakan harmoni kehidupan sosial di sepanjang tepian sungai.
Juara 3 Sayembara Logo Pacu Jalur Nasional 2026
Tangan Dingin di Balik Layar
Keberhasilan sayembara ini tidak lepas dari objektivitas tim penilai yang dipimpin oleh Drs. Azhar, MM selaku Ketua Dewan Juri, didampingi para kurator andal seperti Darwis DT, Ronaldo Rozalino, S.Sn, M. Pd, Buyong Timadija, dan Surya Kurniawan, S.H.
Mereka menguliti setiap detail, menyelaraskan warna, dan menakar kedalaman filosofi agar logo yang terpilih benar-benar menjadi representasi jiwa "Kayuh Bersama" masyarakat Riau.
Di bawah nakhoda Panitia Pelaksana Festival Pacu Jalur Tradisional 2026, perhelatan ini dikawal ketat demi marwah kebudayaan yang luhur.
Struktur kepanitiaan inti yang bertanggung jawab penuh atas kesuksesan agenda ini antara lain:
Ketua Panitia: Andi Cahyadi
Sekretaris: Herika Putra, S.Sos
Bendahara: Indra Sukri, ST., M.Pd
Kini, tanda gambar telah ditetapkan, genderang festival segera ditabuh. Sehelai logo ini bukan lagi milik para pemenang, melainkan telah menjelma menjadi panji kebanggaan bersama yang siap menyambut ribuan pasang mata dunia di hamparan Tepian Narosa, Teluk Kuantan. Sebuah perayaan di mana kayu, keringat, dan kehormatan melebur jadi satu dalam harmoni tak bertepi. (RR)
Salam Kayuah
Kayuah, Kayuah, Kayuah
Kayuah Bersama Menjaga Tradisi dan Budaya Bangsa.
Reportase : Panitia Pelaksana Bidang Humas Pacu Jalur Nasional 2026
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
