Cahaya dalam Keheningan: Seni Menjaga Kehormatan dan Berkelasa Tanpa Suara
Di panggung dunia yang megah, sering kali kita merasa hanya menjadi penonton di barisan paling belakang sebuah nama tanpa gelar, raga tanpa mahkota, merasa bukan siapa-siapa.
Namun, keagungan sejati seorang manusia tidak pernah diukur dari seberapa tinggi mimbar tempatnya berdiri, melainkan dari kedalaman jiwa dan keanggunan budinya.
Wibawa yang membekas di hati sesama bukanlah hasil bentakan atau pamer harta, melainkan pancaran karakter yang tenang namun menghujam jiwa.
Allah SWT mengingatkan kita bahwa kemuliaan di mata-Nya dan selaras di mata manusiahanya milik mereka yang bertakwa dan berakhlak mulia:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujurat: 13)
Jika hari ini kamu merasa bukan siapa-siapa, berikut adalah lima jalan sunyi nan elegan untuk menenun penghormatan dari dunia, tanpa perlu kehilangan kerendahan hatimu:
1. Menguasai Seni Berbicara dan Keindahan Diam
Kata-kata adalah cerminan jiwa. Orang yang disegani tidak pernah mengobral kata tanpa makna atau merendahkan diri dalam riuhnya gosip.
Merekalah yang memahami indahnya kesunyian dan mewarnainya hanya dengan tuturan berbobot. Nada suaranya tenang, runtut, dan teduh, menandakan jiwa yang selesai dengan gejolak emosinya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)
2. Menjaga Janji sebagai Mahkota Integritas
Di dunia yang penuh dengan obral janji, menjadi pribadi yang teguh pada kata-kata adalah sebuah kemewahan. Saat kamu menepati janji dan menghargai waktu orang lain, kamu sedang menegaskan bahwa dirimu dapat diandalkan. Kepercayaan adalah pondasi utama dari rasa hormat.
Allah SWT berfirman:
"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 34)
3. Memiliki Batasan Diri yang Tegas
Menjadi santun bukan berarti menjadi lemah. Memiliki strong boundaries adalah bentuk penghormatan tertinggi pada dirimu sendiri.
Keberanian untuk berkata "tidak" pada hal-hal yang merusak prinsip adalah cermin keberanian jiwa. Orang lain tidak akan pernah menghargaimu jika kamu tidak memulai dengan menghargai dirimu sendiri.
4. Bahasa Tubuh yang Memancarkan Ketenangan Jiwa
Sebelum lidah menuturkan kata, keteguhan jiwamu telah terpancar dari caramu berdiri dan menatap dunia.
Postur yang tegak dan tatapan mata yang jujur serta santun menunjukkan bahwa dirimu damai dengan keberadaanmu. Ia bukan tanda kesombongan, melainkan cermin keberanian dan keikhlasan hati.
5. Rendah Hati yang Berwawasan Luas
Keanggunan sejati tampak dari caramu memperlakukan mereka yang secara strata sosial berada "di bawahmu". Ucapkan terima kasih, minta maaf, dan minta tolong dengan ketulusan yang dalam.
Teruslah belajar mengisi dada dengan ilmu, namun simpanlah ia bagai padi yang kian berisi kian merunduk.
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah seseorang bertawadhu (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya." (HR. Muslim)
Penghormatan sejati tidak pernah diraih dengan mengemis atau menuntut. Ia hadir bagai harum bunga yang merbak dengan sendirinya ketika kamu selesai menempa dirimu. Ketika kamu menghargai keindahan jiwa yang Allah titipkan padamu, dunia akan menunduk hormat dengan sendirinya.
Ditulis : Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Coach RR
Menjemput Bahagia Hakiki di Ambang Subuh: Pesan Mendalam dari Masjid Raya Pasar Teluk Kuantan_Ustadz H. Bahrul Aswandi, S.Ag
Di bawah naungan kedamaian fajar Jumat (21/8/2026), Masjid Raya Pasar Teluk Kuantan menjadi saksi bisu berkumpulnya para hamba yang merindukan kesejukan jiwa.
Gemercik keberkahan Subuh terasa kian kental saat Ustadz H. Bahrul Aswandi, S.Ag naik ke mimbar menyampaikan tausiyah bertema "Menjemput Kebahagiaan Dunia dan Akhirat".
Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak harta yang digenggam, melainkan seberapa lapang dada menerima ketentuan-Nya. Kebahagiaan sejati memancar dari jiwa yang tenang dan bermuara hingga kehidupan kelak di akhirat.
Empat Pilar Kunci Kebahagiaan Sejati
Dalam tausiyahnya, Ustadz H. Bahrul Aswandi memaparkan empat muara utama tempat mengalirnya kebahagiaan hakiki:
Hati yang Qana'ah dan Bersyukur Merasa cukup atas segala ketetapan-Nya adalah inti kebahagiaan. Sifat qana'ah melapangkan dada dan membebaskan jiwa dari jerat ketakutan akan kekurangan.
Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...’” (QS. Ibrahim: 7)
Rumah Tangga yang Sakinah Kebahagiaan mekar di tengah keluarga yang saling menghormati, mengasihi, dan menghargai. Rumah bukan sekadar tempat berteduh dari hujan, melainkan telaga ketenangan jiwa.
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya...” (QS. Ar-Rum: 21)
Rasa Aman dalam Kehidupan Jiwa yang tidak dibayangi rasa takut dan cemas adalah kenikmatan tiada tara. Kedamaian lingkungan memberi ruang bagi hati untuk beribadah dengan khusyuk.
Kesehatan Jasmani untuk Beraktivitas Tubuh yang sehat dan kaki yang sanggup melangkah ringan menuju kebaikan merupakan modal utama menyempurnakan amal ibadah dan menjemput rezeki.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa di antara kalian memasuki waktu pagi dalam keadaan aman di tengah keluarganya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)
Cahaya fajar pagi itu menyiratkan pesan mendalam: siapa yang memiliki qana'ah, kedamaian keluarga, rasa aman, dan kesehatan, dialah sejatinya raja kehidupan yang menggenggam kebahagiaan dunia hingga akhirat.
Penulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretatis Informasi & Komunikasi DP MUI Kuansing, Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Motivator Literasi & Edukasi, Guru Penulis & Blogger, Guru Konten Konten Kreator Riau, Bisnis Owner Leader, Coach)
Menjaga Kesucian Hati di Tengah Duri Pengkhianatan
*Ronaldo Rozalino*
Luka akibat dikhianati atau dikecewakan adalah salah satu ujian paling memar dalam perjalanan hidup manusia. Ketika kepercayaan yang dirajut sekian lama runtuh dalam sekejap, wajar jika rasa pedih menyergap dada.
Namun, menampung rasa sakit itu hingga menjelma kebencian hanya akan memenjarakan jiwa kita sendiri dalam kegelapan yang tak berkeseudahan.
Rasulullah SAW adalah teladan agung yang melintasi samudera ujian tersebut. Beliau dilempari batu di Thaif, dicaci, dan dihianati, namun tak pernah membiarkan ceceran luka itu mengubah hatinya menjadi legam oleh dendam.
Akhlak beliau tetap mekar anggun, menjadi bukti bahwa kemuliaan sejati bukan diukur dari bagaimana orang lain memperlakukan kita, melainkan bagaimana kita menjaga kesucian hati di tengah badai kekecewaan.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur'an untuk senantiasa menolak keburukan dengan cara yang jauh lebih indah:
QS. Fussilat [41]: 34
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia."
Membalas pengkhianatan dengan keburukan yang serupa hanya akan menyamakan kelas kita dengan mereka yang menyakiti. Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadits:
HR. Tirmidzi
"Janganlah kalian menjadi orang yang 'imma'ah' (ikut-ikutan), yang berkata: 'Jika orang-orang berbuat baik kepada kami, kami pun berbuat baik; dan jika mereka berbuat zhalim, kami pun berbuat zhalim.' Tetapi kondisikanlah diri kalian: jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah; dan jika mereka berbuat jahat, janganlah kalian membalas kejahatan itu."
Penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara memaafkan dan membiarkan diri terus disakiti. Memaafkan adalah keputusan melepaskan beban di dada agar jiwa kembali lapang, bukan berarti pasrah tanpa perlindungan.
Kita berhak memaafkan sambil menegakkan batas yang sehat (healthy boundaries) mengambil pelajaran, menjaga jarak yang aman, tanpa harus menyiram benih dendam dalam pikiran.
Ketika bayang-bayang amarah datang mengusik, tundukkan hati dengan melantunkan istighfar, meresapi dzikir, dan mengalirkan shalawat kepada Sang Nabi. Biarkan bait-bait doa itu menjadi penawar yang membasuh jelaga kebencian, hingga hati kita kembali teduh dan dipenuhi kedamaian yang sejati.
Ditulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretatis Informasi & Komunikasi DP MUI Kuansing, Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Motivator Literasi & Edukasi, Guru Penulis & Blogger, Guru Konten Konten Kreator Riau, Bisnis Owner Leader, Coach)
Menjejak Gemuruh Kayuh di Tepian Narosa: Jejak Sang Juara dan Menanti Takdir Pacu Jalur 2026
TELUK KUANTAN — Sungai Kuantan tidak pernah sekadar mengalirkan air; ia mengalirkan marwah, riak sejarah, serta degup jantung ribuan anak nagari. Di atas gelombangnya yang cokelat keemasan, tradisi Pacu Jalur telah memahat kisah-kisah kebanggaan, deru keringat, serta persatuan yang tak pernah padam dimakan zaman.
Memandangi rekaman sejarah Daftar Juara Pacu Jalur Teluk Kuantan sejak tahun 1990 hingga era modern ini, kita seperti diajak melintasi lorong waktu. Sebuah lembaran emas yang mencatat legendarisnya kayu-kayu pilihan yang melaju bak anak panah di Tepian Narosa.
Era Keemasan dan Legenda Sepanjang Masa
Sejarah mencatat nama-nama agung yang pernah merajai Tepian Narosa. Di dekade 90-an, siapa yang tak kenal dengan kejayaan Pandan Baiduri dari Kampung Pulau Rengat?
Jalur legendaris ini mendominasi dan mengukir namanya sebagai sang penguasa gelanggang (1992–1995, 1997, dan 2000). Sorak-sorai penonton seolah kembali bergema ketika mengingat kegagahan Pandan Baiduri membelah arus.
Tak kalah berwibawa, rentetan nama legendaris lainnya turut menorehkan tinta emas: Pangilimo Sati dari Toar (1998–1999), Garuda Putih dari Sungai Guntung Inhu (1996, 2003), hingga Puti Mandi Mayang Taurai dari Rantau Sialang yang berjaya secara beruntun pada 2009–2010.
Lalu hadir era dominasi tak tertandingi dari Siposan Rimbo RAPP asal Pauh Angit Pangean. Dengan kayuhan yang serempak, padu, dan bertenaga magis, Siposan Rimbo merajai puncak kehormatan selama bertahun-tahun (2014, 2016, 2017, 2018), menegaskan Pangean sebagai salah satu lumbung pendekar jalur terkuat di tanah Kuantan Singingi.
Diterjang Pandemi hingga Bangkit Kembali
Sejarah tak selalu berjalan mulus. Pada tahun 2020 dan 2021, untuk pertama kalinya dalam catatan modern, Tepian Narosa mendadak hening. Pandemi COVID-19 memaksa gemuruh kayu mendayung terhenti sejenak. Namun, kebudayaan dan kebanggaan anak nagari tak pernah benar-benar padam.
Pascapandemi, riak semangat itu kembali membara dengan garang. Jalur-jalur hebat dari berbagai penjuru kembali berdatangan menuntut tahta:
2022: Tuah Keramat Sialang Soko (Setako Raya Peranap Inhu)
2023: Tuah Keramat Bukit Embun (Gumanti Peranap Inhu)
2024: Putri Anggun Sibiran Tualang (Banjar Padang Lubuk Jambi)
2025: Bintang Emas Cahaya Intah (Tanjung Hulu Kuantan)
Menanti Sang Penguasa Gelanggang 2026
Kini, kalender kebudayaan kembali bergulir. Festival Pacu Jalur Tradisional yang terangkum dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 telah berada di ambang pintu.
Sebuah pertanyaan besar kini menggantung indah di atas langit Tepian Narosa: Siapakah yang akan mengukir namanya di kolom juara tahun 2026?
Apakah tahta akan bertahan di Hulu Kuantan? Mampukah Pangean, Inhu, Baserah, Kuantan Tengah, atau gelanggang lainnya merebut kembali piala bergengsi tersebut?
Pacu Jalur bukan sekadar memburu kemenangan, melainkan tentang Kayuh Bersetungkus Lumus, Tangan Serempak Marwah Dijaga. Di dalam satu perahu jalur, tidak ada perbedaan; yang ada hanyalah irama, tekad, dan deru nafas yang menyatu demi kejayaan kampung halaman.
Mari kita sambut Kharisma Event Nusantara Festival Pacu Jalur Tradisional 2026 dengan sukacita, keramahan, dan semangat literasi budaya yang mendalam. Biarkan riak Sungai Kuantan kembali menjadi saksi lahirnya sang pahlawan gelanggang berikutnya!
Salam Literasi, Salam Budaya!
"Kayuh Padu, Marwah Melayu!"
Ditulis oleh: H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Konten Kreator Riau, Motivator Literasi & Edukasi, Blogger, Bisnis Owner Leader, Composser & Arranger, Coach, Ketua Tim Kreatif & Promosi Budaya Festival Pacu Jalur Tradisional Kharisma Event Nusantara FJPT KEN 2026)
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
