Eratkan Silaturrahmi dan Kolaborasi Pendidikan, PGRI Tanah Datar Gelar Kunjungan Balasan ke PGRI Kuantan Singingi
KUANTAN SINGINGI – Hubungan kemitraan dan persaudaraan lintas provinsi antara Pengurus Daerah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dan PGRI Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kian mengakar kuat.
Pada Sabtu pagi, 22 Agustus 2026, PGRI Tanah Datar melakukan kunjungan balasan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.
Pertemuan strategis ini diselenggarakan mulai pukul 08.30 WIB bertempat di Lantai 2 Ruang Perpustakaan Datuak Simambang, SMAN PINTAR Provinsi Riau.
Rombongan yang berjumlah 30 orang pengurus dari Tanah Datar tersebut telah tiba sejak sehari sebelumnya dan menginap di kediaman warga (homestay/HS) di daerah Kari, menunjukkan kearifan lokal serta kehangatan penyambutan tuan rumah.
Saling Berbagi Praktik Baik dan Rencana Kolaborasi
Acara silaturrahmi dihadiri langsung oleh jajaran kepengurusan inti kedua belah pihak. Rombongan PGRI Tanah Datar dipimpin oleh Ketua PGRI Kabupaten Tanah Datar periode 2025–2030, Drs. Edial Yuspita, MM.
Sementara itu, tuan rumah dipimpin oleh Ketua PGRI Kabupaten Kuansing periode 2025–2030 yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kuansing, H. Herizon, S.Pd.SD, M.M., didampingi oleh Sekretaris PGRI Kuansing, Lismadi, S.Pd., MM.
Dalam sambutannya, kedua belah pihak menegaskan pentingnya wadah ini untuk saling bertukar pikiran dan berbagi praktik baik (best practices) guna memajukan dunia pendidikan di wilayah masing-masing.
"Kunjungan balasan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen penting untuk mempererat tali persaudaraan serta mendiskusikan langkah konkret kolaborasi pendidikan ke depan. Salah satu inti pembahasan kita adalah merancang kegiatan bersama berupa lomba edukatif dan profesionalisme guru di masa mendatang," ungkap Lismadi, S.Pd., MM, Sekretaris PGRI Kuansing.
Melalui pertemuan ini, diharapkan sinergi antara guru-guru di Sumatera Barat dan Riau semakin mantap, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, tata kelola organisasi profesi, serta kesejahteraan dan kompetensi para tenaga pendidik.
Menikmati Budaya Local: Meriahkan Festival Pacu Jalur 2026
Tak hanya membahas agenda kerja organisasi, agenda kunjungan ini juga dibalut dengan nuansa kebudayaan yang kental. Usai merampungkan sesi diskusi formal dan ramah tamah di SMAN PINTAR, rombongan pengurus PGRI Tanah Datar diajak langsung menyaksikan kemeriahan Festival Pacu Jalur Tradisional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan.
Perpaduan antara agenda organisasi dan kegiatan wisata budaya ini memberikan kesan tersendiri bagi para pengurus PGRI Tanah Datar, sekaligus memperkokoh rasa kebersamaan di antara pendidik dari kedua daerah tetangga tersebut.
Dengan suksesnya kunjungan balasan ini, PGRI Kabupaten Tanah Datar dan PGRI Kabupaten Kuantan Singingi berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi yang harmonis serta mewujudkan program-program kerja sama nyata demi kemajuan pendidikan Indonesia. (Ronaldo Rozalino)
MUI Kuansing Kecam Aksi Pamer Tuak di Pacu Jalur Kuansing: Jiwa Adat Digugat, Permohonan Maaf Dihaturkan
TELUK KUANTAN — Gemuruh sorak-sorai di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, yang sejatinya menyuarakan kebanggaan akan tradisi agung Festival Pacu Jalur, mendadak redup oleh riak kekecewaan. Sebuah potongan video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang pria berdiri di atas perahu jalur sembari mengacungkan botol berisi minuman keras jenis tuak.
Pemandangan tersebut tak hanya mencederai keindahan tradisi, tetapi juga menggores nurani masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing) yang memegang teguh adat dan syariat Islam.
Aksi tersebut memantik keprihatinan mendalam dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuansing. Ketua MUI Kuansing, Dr. Bakhtiar Saleh, menyampaikan kecaman keras atas tindakan yang dinilai merusak kesucian kearifan lokal tersebut.
"Jika benar berita yang viral ini, kami sangat menyayangkan sekaligus mengecam keras. Perilaku ini bertentangan dengan agama dan menabrak nilai-nilai adat budaya kita," ujar Dr. Bakhtiar. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur agar tak dinodai oleh kehilafan oknum, serta meminta panitia memberikan sanksi tegas jika kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Landasan Syariat dan Tatanan Adat
Masyarakat Malayu Kuansing berpegang pada filosofi "Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendikan Kitabullah". Perbuatan mengonsumsi dan memamerkan minuman keras merupakan tindakan mungkar yang dilarang keras dalam ajaran Islam.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung."
— (QS. Al-Ma'idah: 90)
Keharaman khamar juga ditegaskan kembali oleh Rasulullah SAW dalam hadis shahih:
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
"Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan adalah haram."
— (HR. Muslim)
Kesadaran, Permohonan Maaf, dan Nilai Penyejuk
Tak lama setelah gelombang kritik memenuhi ruang publik, pria dalam video tersebut, didampingi Ketua Persatuan Batak Kuansing (PBK) Hardianto Manik, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Sebagai pengunjung yang baru pertama kali melangkahkan kaki di tanah Kuansing, ia mengaku kekhilafan tersebut lahir dari ketidaktahuannya akan tata krama dan kearifan lokal setempat.
"Saya dari Medan, Sumatera Utara, baru pertama kali datang ke Kuansing. Saya tidak tahu bahwa membawa minuman keras di atas perahu jalur itu dilarang. Dari lubuk hati yang dalam, saya memohon maaf sebesar-besarnya," ungkapnya tulus.
Hardianto Manik juga menyampaikan permohonan maaf atas nama keluarga besar masyarakat Batak di Kuansing kepada para pemangku adat (ninik mamak), tokoh masyarakat, serta seluruh warga Kuansing. Mengusung pepatah "di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung", ia berjanji akan memperketat pengawasan agar penghormatan terhadap adat setempat senantiasa terjaga.
Peristiwa ini menjadi pengingat berharga bahwa kemeriahan budaya harus selalu beriringan dengan adab dan rasa saling menghormati. Dalam kekhilafan ada pelajaran, dan dalam permohonan maaf yang tulus, terdapat kebesaran hati untuk saling memaafkan demi menjaga keharmonian di bumi Kuansing. (RR)
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
