Festival Pacu Jalur Tradisional KEN 2026, Kakan Kemenag Kuansing Serukan Harmoni Agama dan Budaya
TELUK KUANTAN — Deru riak Batang Kuantan kembali memanggil anak nagori. Suasana kemeriahan dan semangat kebersamaan siap menyelimuti Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Di perhelatan akbar Festival Budaya Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026 yang berlangsung pada 19–23 Agustus 2026, seruan kebaikan dan persatuan bergema hangat mengudara.
Dengan mengusung semangat "Budaya Lestari, Ekonomi Berseri", perhelatan budaya bergengsi ini tak sekadar menjadi ajang adu ketangkasan mengayuh jalur panjang di atas beningnya aliran sungai, melainkan juga wadah pementasan marwah dan peradaban luhur masyarakat Melayu.
Harmoni Budaya, Agama, dan Adat Melayu
Menanggapi geliat pesta rakyat yang amat dinantikan ini, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Kuantan Singingi, H. Suhelmon, MA, C.QEM, menyampaikan pesan mendalam dan ajakan hangat kepada seluruh lapisan masyarakat.
Dengan mengenakan pakaian adat Melayu berwarna biru megah lengkap dengan tanjak di kepala, beliau menegaskan pentingnya menyelaraskan semarak perayaan dengan nilai-nilai luhur keagamaan dan budi pekerti.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi mengajak kita bersama, mari kita sambut dan sukseskan Festival Budaya Pacu Jalur Tradisional Event Nasional Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau Tahun 2026 dengan penuh kegembiraan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Jadikan momentum ini sebagai ajang mempererat kerukunan, persaudaraan, dan persatuan, dengan tetap menjaga ketertiban serta saling menghormati antar sesama.
Mari kita junjung tinggi nilai-nilai luhur agama dan adat Melayu, karena budaya yang baik akan semakin indah apabila berjalan seiring dengan akhlak dan nilai-nilai keagamaan.
Berpacu di jalur, bersatu dalam kerukunan, menjunjung adat, teguh dalam agama. Mari kita lestarikan budaya, kita merawat kerukunan, dan kita jaga marwah negeri.
Selamat dan sukseskan Festival Pacu Jalur Tradisional Event Nasional Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau Tahun 2026.
Salam Kayuah! Kayuah! Kayuah! Kayuah! Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Berpacu di Jalur, Teguh dalam Agama
Ungkapan dan pesan H. Suhelmon mempertegas bahwa tradisi Pacu Jalur bukan semata-mata olahraga air atau hiburan visual, tetapi sebuah ikhtiar kebudayaan untuk memelihara marwah (harkat dan martabat) negeri. Sorak-sorai "Kayuah! Kayuah!" yang membelah udara Tepian Narosa adalah simbol kerja keras, kekompakan anak pacu, dan keteguhan jiwa masyarakat Kuantan Singingi.
Sebagaimana falsafah "Basatu Nogori Maju", perhelatan Pacu Jalur 2026 diharapkan dapat menjadi muara perjumpaan hati seluruh anak bangsa sebuah ajang di mana semangat berkompetisi di atas gelombang sungai senantiasa beriringan dengan kehangatan silaturahmi di daratan.
Mari bersama kita sambut dan sukseskan perhelatan agung ini dengan sukacita, ketertiban, serta rasa syukur yang mendalam.
Kayuah! Kayuah! Kayuah!
Diberitakan : Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026 (RR)
Abi Haddad Alwi Menggetarkan Bumi Kuansing, Membuka Pintu Langit Lewat Doa dan Shalawat
KUANTAN SINGINGI (Kuansing), Rabu, 19 Agustus 2026 — Malam itu, Lapangan Limuno/Astaqa Kuansing tidak sekadar menjadi tempat berhimpunnya ribuan manusia. Di bawah naungan langit Kuantan Singingi yang syahdu, ribuan kilatan cahaya ponsel bergoyang perlahan bagai lautan bintang jatuh yang bersujud ke bumi. Malam itu, bumi Kuansing bergetar bukan karena guncangan alam, melainkan oleh getaran cinta, doa, dan gema shalawat yang membubung tinggi mengetuk pintu-pintu langit.
Dalam Rangkaian Festival Pacu Jalur Tradisional (FPJT) KEN 2026, hadirnya maestro musik religi tanah air, Abi Haddad Alwi, berhasil menyulap suasana festival menjadi lautan keheningan yang penuh rasa haru dan khidmat. Ribuan warga tumpah ruah, mengapresiasi dengan penuh ketertiban, ketenangan, dan kesucian rasa.
Lautan Air Mata: "Engkaulah Ibuku..."
Momen puncak yang menguras air mata terjadi ketika Abi Haddad Alwi menyanyikan tembang legendaris "Ibu". Berdiri di tepi panggung, Abi melantunkan bait demi bait bait lagu dengan kedalaman jiwa yang tiada tara.
Lantunan itu seketika merobek kesunyian malam dan meremas hati siapapun yang mendengarnya.
Di barisan depan hingga barikade belakang, penonton dari pelbagai usia tak kuasa menahan genangan air mata. Ibu-ibu terisak, para pemuda menundukkan kepala, dan tangis haru tak terbendung. Lagu tersebut menjadi cermin jernih yang memantulkan kembali wajah sosok yang paling berjasa dalam hidup:
Ibu.
"Selagi Ibu masih ada di sisimu... Muliakanlah Ibumu. Karena dialah surga duniamu. Namun, ketika Ibu tak ada lagi di hadapanmu, saat itulah salah satu kunci surgamu di dunia telah tertutup rapat..."
Doa pun terpanjat tulus dari ribuan bibir yang bergetar:
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami. Ampunilah mereka sebagaimana mereka mengasihi dan merawat kami sejak kecil..."
Landasan Syariat: Kemuliaan Sosok Ibu
Momen haru malam itu selaras dengan pesan suci Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW yang menempatkan orang tua, khususnya Ibu, pada derajat yang amat mulia.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra' [17]: 23-24:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan katakanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah merawatku sewaktu kecil.'”
Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan luar biasa seorang ibu dalam sebuah hadist riwayat Bukhari dan Muslim:
Dari Abu Hurairah RA, seorang pria datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?" Rasulullah menjawab, "Ibumu." Pria itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab, "Ibumu." Pria itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab, "Ibumu." Pria itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Kemudian ayahmu." (HR. Bukhari no. 5971 & Muslim no. 2548).
Begitu pula pesan bahwa rida dan surga berada di bawah naungan kasih sayang ibu:
“Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. An-Nasa'i).
Apresiasi dan Penyelamat di Akhirat
Abi Haddad Alwi bukan sekadar seorang musisi religi; beliau adalah sosok legendaris yang telah memberi warna dan nuansa budaya spiritual di Nusantara.
Karya-karyanya yang melintasi zaman dan mendunia berpadu indah dengan kekayaan tradisi lokal Kuansing seperti Pacu Jalur.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat dan tokoh daerah, di antaranya:
PLT. Sekretaris Daerah Kab. Kuansing, Bapak Drs. Muradi, M.Si
Kadis Kebudayaan & Pariwisata Kab. Kuansing, Bapak Ir. Emmerson
Ketua Panitia Pelaksana FPJT KEN 2026, Andi Cahyadi (Abi Aheng)
Sekretaris Panitia, Herika Putra, S.Sos (Abi Herika)
Ketua Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026, H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Abi Naldo)
Ketua Panitia Pelaksana, Andi Cahyadi (Abi Aheng), menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh masyarakat Kuantan Singingi yang hadir dengan penuh kedamaian dan kebaikan.
"Terima kasih kepada seluruh masyarakat Kuantan Singingi yang telah mengapresiasi malam ini dengan tenang, tertib, dan penuh kebaikan. Semoga cantiknya kebersamaan dan hadirnya Abi Haddad Alwi menjadi pengingat diri kita untuk senantiasa membasahi lidah dengan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai ikhtiar memohon syafaat dan penyelamat kita di akhirat kelak," tutur Abi Aheng.
Lelah di Dunia, Lillah di Akhirat
Malam di Lapangan Astaqa pun berlalu, namun getaran doanya masih bergema di dada setiap insan yang hadir. Ucapan terima kasih terpatri untuk seluruh Ibu di Kuansing dan Nusantara yang tak pernah lelah memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Semoga setiap tetes keringat dan lelahmu di dunia, dicatat oleh Allah SWT sebagai pengorbanan yang Lillah, yang akan membuahkan manisnya surga di akhirat kelak. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Barakallahu Fiikum.
Diberitakan oleh: Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026 (RR)
Ketika Gemuruh Dayung Menyapa Kuantan: Pacu Jalur 2026 Resmi Dibuka dengan Simfoni Pelestarian
TELUK KUANTAN — Gemuruh riak air Sungai Kuantan kembali bertaut dengan semangat ribuan jiwa. Di bawah naungan langit Kuantan Singingi (Kuansing) yang teduh pada Rabu (19/8/2026), Festival Pacu Jalur Tradisional 2026 resmi ditabuh di kawasan sakral Tepian Narosa.
Sebuah helat budaya bernilai luhur yang tak hanya sekadar ajang adu ketangkasan dayung, tetapi juga pesta jiwa rakyat yang mengusung asa bertajuk "Budaya Lestari, Ekonomi Berseri".
Suara gema pemukulan gong oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menjadi pertanda dimulainya perhelatan akbar tahunan ini hingga 23 Agustus mendatang.
Dalam balutan busana adat Melayu yang anggun, dentang gong tersebut berpadu dengan keelokan tarian massal yang memukau mata ribuan pasang penonton di sepanjang tepi sungai.
Namun, di balik layar kemegahan dan sorak-sorai penonton yang bergema hingga ke penjuru dunia, terkandung sebuah pesan mendalam. SF Hariyanto mengingatkan bahwa panggung megah Pacu Jalur bukanlah sekadar perayaan puncak kepopuleran semata.
"Tentu kita bangga, tetapi popularitas bukanlah garis akhir dari pelestarian tradisi ini. Penyelenggaraan harus semakin baik agar kelestarian lingkungan sungai tetap terjaga dan manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh warga," ujar SF Hariyanto penuh ketegasan di atas mimbar.
Bagi sang Plt Gubernur, denyut nadi Pacu Jalur sejatinya ada pada bagaimana tradisi ini mampu menghidupi dan memakmurkan rakyatnya dari kedai kuliner yang mengepulkan aroma khas, penginapan yang sarat ramah tamah, hingga senyum para pelaku UMKM lokal yang produknya ludes terjual.
Sungai Kuantan: Urat Nadi, Identitas, dan Warisan Budi
Pesan mengenai pelestarian alam menjadi benang merah utama dalam festival tahun ini. Sungai Kuantan tidak sekadar dipandang sebagai perlintasan kayu-kayu jalur yang melaju kencang, melainkan sebagai rahim kehidupan, cermin identitas, dan sumber penghidupan warga Kuansing.
Langkah tegas sinergi antara Pemprov Riau, Pemkab Kuansing, dan aparat penegak hukum termasuk dukungan jajaran Polda Riau di bawah kehadiran Wakapolda Brigjen Hengki Haryadi dalam menertibkan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) menjadi cermin nyata dari komitmen ini.
"Jangan sampai Pacu Jalurnya kita banggakan, tetapi sungai yang menjadi tempat berlangsungnya tradisi dan sumber kehidupan masyarakat justru kita biarkan rusak," imbau Hariyanto, menegaskan betapa pentingnya menjaga kesucian sungai dari kerusakan tangan manusia.
Sentuhan Modernitas dan Gotong Royong Semesta
Pacu Jalur 2026 juga menghadirkan terobosan anyar yang menjembatani warisan leluhur dengan cakrawala dunia. Kehadiran reporter dwibahasa (bilingual) di sepanjang arena lomba menjadi jembatan edukasi bagi wisatawan mancanegara, baik yang hadir menapakkan kaki di Tepian Narosa maupun yang menyaksikan keterpesonaan tradisi ini dari layar-layar kaca lintas benua.
Aksesibilitas pun kian dimantapkan melalui perbaikan jaringan jalan nasional menuju Kuansing demi mempermudah jejaring ekonomi dan mobilitas wisatawan.
Kerja besar memelihara tradisi ini kian kokoh berkat rajutan sinergi dengan sektor swasta. PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bagian dari APRIL Group, kembali memperlihatkan komitmennya melalui kontribusi bernilai Rp350 juta.
Secara simbolis, General Manager Stakeholder Relations (GM SHR) RAPP Wan Moh Jakh Anza menyerahkan dukungan tersebut kepada Pj Sekda Kuansing Drs Muradi MSi, disaksikan oleh Ketua Panitia Andi Cahyadi serta jajaran pejabat daerah.
Bantuan ini tak hanya menyokong pembiayaan helat dan tiga jalur unggulan (Jalur Limbago Sati Rantau Kuantan, Jalur Sari Jadi Gementar Alam, dan Jalur Alam Cahayo Tuah Nagoghi), tetapi juga menyertakan 100 unit sarana kebersihan dari Community Development RAPP untuk memastikan gelanggang sungai tetap asri dan hijau.
Apresiasi tinggi dilayangkan oleh Pj Sekda Muradi atas kepedulian berkelanjutan tersebut, seraya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kebersihan gelanggang.
Kini, kayuh telah diangkat, air telah terbelah, dan lagu-lagu kebanggaan telah dikumandangkan. Hingga 23 Agustus 2026 mendatang, Tepian Narosa bukan sekadar arena pacu, melainkan saksi bisu tentang bagaimana tradisi, keasrian alam, dan kehangatan ekonomi masyarakat sanggup berpadu dalam harmoni yang indah.
*Tim Kreatif & Promosi Budaya Festival Pacu Jalur Tradisional KEN 2026 / Ronaldo Rozalino
Bersama Yul OYEE Vlogger Kuansing yang juga sebagai Panpel Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026
Menyingkap Roh Pacu Jalur: Ketika "Skala Nasional" Tak Harus Berarti "Atlet Profesional"
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.M.Pd
(Panitia Pelaksana Ketua Bidang Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026)
KUANTAN SINGINGI — Ayun dayung yang membelah riak Sungai Kuantan bukan sekadar unjuk kekuatan fisik atau perebutan gelar juara semata. Di balik percikan air dan teriakan membakar semangat dari para Anak Pacu, terdapat denyut tradisi yang telah mengakar dalam sanubari masyarakat Riau selama berabad-abad.
Namun, belakangan ini kerap terdengar wacana di ruang publik: “Namanya event nasional, wajar kalau diikuti oleh atlet profesional tingkat nasional.”
Sekilas, anggapan tersebut tampak wajar. Namun, jika ditarik ke dalam riak sejarah dan hakikat kebudayaan, premis tersebut sesungguhnya menyederhanakan makna yang amat mendalam. Ada kekeliruan mendasar saat kita menyamakan arena kebudayaan tradisional dengan ajang kompetisi olahraga prestasi modern.
Menakar Makna "Nasional" dalam Karisma Event Nusantara
Untuk memahami kedudukan Pacu Jalur, kita perlu membaca kembali lembaran resminya. Dalam Kalender Pariwisata Indonesia, ajang ini tercantum jelas dengan tajuk “Festival Pacu Jalur Tradisional” di bawah naungan Kharisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Status "Event Nasional" yang disandang Pacu Jalur bukanlah sertifikasi bahwa pesertanya harus diimpor dari kalangan atlet dayung nasional atau kontingen luar provinsi. Predikat tersebut disematkan atas dasar pencapaian, daya pikat, serta dampak kebudayaan yang luar biasa luas:
Pengakuan Resmi Negara: Masuk secara bergengsi dalam jajaran kalender event nasional Kharisma Event Nusantara (KEN).
Magnet Wisata Lintas Batas: Mampu menyedot perhatian puluhan ribu wisatawan domestik hingga mancanegara untuk menyaksikan keajaiban budaya ini secara langsung.
Pesona Kebudayaan Berkelas Dunia: Memiliki keunikan tradisi dan nilai spiritual yang memikat mata dunia, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Nusantara.
Syiar Media yang Luas: Mendapatkan sorotan media massa nasional baik TV, cetak, maupun digital—sehingga gema kemeriahannya melampaui batas-batas daerah.
Denyut Penggerak Ekonomi Rakyat: Menghidupkan ekosistem ekonomi yang luas, mulai dari UMKM, kuliner khas, penginapan, hingga moda transportasi daerah.
“Nasional itu adalah skalanya, daya jangkau promosi dan dampaknya bukan otomatis mengubah atau menuntut status pesertanya.”
Menjaga Roh Tradisi di Tengah Arus Zaman
Daya pikat utama Pacu Jalur justru terletak pada kearifan lokal, jiwa kegotongroyongan, dan karakter kedaerahan yang dipelihara murni oleh masyarakat pedesaan di sepanjang tepian Kuantan. Dari ritual penerobosan hutan mencari kayu, proses melayur jalur, hingga dentum meriam karbit yang menandai mulainya perlombaan semuanya adalah nafas kehidupan masyarakat lokal.
Menuntut agar Pacu Jalur diisi oleh atlet-atlet profesional luar daerah sama saja dengan mengikis akar sejarah yang membentuknya. Pacu Jalur diciptakan bukan sekadar untuk mencari pemenang berorientasi medali, melainkan untuk melestarikan warisan nenek moyang, mempererat tali silaturahmi, dan merawat kebersamaan.
Penyamaan antara festival budaya lokal dan kompetisi olahraga profesional adalah sebuah kesimpulan yang terlalu sederhana. Yang perlu dipertahankan dan diperjuangkan hari ini adalah bagaimana Pacu Jalur tetap kokoh sebagai tradisi masyarakat dan budaya lokal, namun memiliki daya tawar pariwisata yang bergema hingga ke panggung internasional.
Biarkan jemari anak-anak negeri Kuantan yang memegang kayu kayuh, sementara dunia datang untuk mengagumi keindahannya.
Lestarikan Tradisi, Majukan Pariwisata, Banggakan Indonesia!
Menjemput Keberkahan di Fajar Teluk Kuantan: Ketika Salat Menjadi Cermin Keimanan dan Pembuka Pintu Langit; Ustadz Cand. Dr. Hendio Anjasmara, M.Pd
Di kala fajar masih menyisakan dingin dan kedamaian merengkuh bumi Kuansing, kehangatan iman memancar dari Masjid Raya Pasar Teluk Kuantan, Riau. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, puluhan jamaah bersimpuh khusyuk dalam Majlis Ilmu Ba'da Subuh.
Suasana syahdu menyelimuti setiap sudut ruangan berkarpet hijau saat lantunan doa dan nasihat kebaikan mulai mengalir.
Hadir sebagai penceramah, Ustadz Cand. Dr. Hendio Anjasmara, M.Pd, Wakil Pimpinan Bidang Kurikulum Perguruan Mu'allimin Muhammadiyah Teluk Kuantan.
Dengan tutur kata yang ramah namun berbobot, beliau mengajak jamaah untuk kembali merefleksikan hakikat keimanan, keistiqamahan ibadah, serta pentingnya menjaga kualitas salat di tengah riuk-pikuk kehidupan dunia.
Menautkan Hati pada Janji Allah
Dalam tausiyahnya, Ustadz Hendio mengingatkan bahwasanya kedamaian suatu negeri dan limpahan rezeki tak lepas dari kualitas iman serta ketakwaan penduduknya.
Beliau menyitir firman Allah SWT dalam Surah Al-A'raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”
Keberkahan tersebut bermula dari hal paling mendasar: bagaimana seorang hamba memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta melalui salat.
Beliau mengingatkan agar jamaah tak membiarkan godaan dunia merusak kekhusyukan salat seperti teringat urusan pekerjaan, kompor, atau proyek saat sedang menghadap Pencipta.
Salat sebagai Pilar dan Penentu Perilaku
Salat bukan sekadar rutinitas gerakan, melainkan amalan utama yang akan menentukan baik-buruknya seluruh perbuatan manusia. Perbaikan diri sejati dimulai dari pembenahan salat.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Sesungguhnya amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan sukses. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan merugi.” (HR. Tirmidzi & An-Nasa'i)
Majlis ilmu pagi itu ditutup dengan doa bersama. Tangan-tangan terangkat, memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, serta amalan yang diterima di sisi Allah SWT. Cahaya pagi yang mulai menyusup lewat jendela masjid seolah menjadi saksi tekad para jamaah untuk melangkah keluar membawa semangat keimanan yang baru.
Ditulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd C.PS, C.ME, C.QEM, C. C.TM, C.CCW, C.TLE, C.TP,. C.TCC, C.HTeach Etc
(Sekretaris Komisi Informasi & Komunikasi DP MUI Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Ketua Lembaga SB PD Muhammadiyah Kab.Kuansing, Guru Konten Kreator Riau, Motivator Literasi & Edukasi, Bisnis Owner Leader, Coach)
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
