Simfoni Keikhlasan di Ujung Syawal: Merajut Asa dan Ukhuwah Muhammadiyah Kuantan Singingi
KUANTAN SINGINGI – Di bawah naungan langit At-Taqwa Muhammadiyah Lari yang teduh, sebuah harmoni persaudaraan terukir indah. Ahad, 10 Syawal 1447 Hijriah, bertepatan dengan 29 Maret 2026, bukan sekadar tanggal di kalender. Ia menjadi saksi bisu ketika derap langkah para pejuang persyarikatan menyatu dalam satu napas:
Halal Bi Halal dan Konsolidasi Daerah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kuantan Singingi.
Mimpi Besar di Atas Fondasi Perjuangan
Acara dibuka dengan untaian kata dari nakhoda PDM Kuansing, Ir. H. Maisir. Dengan nada yang bergetar penuh harap, ia memaparkan "sajadah panjang" perjuangan yang sedang dihamparkan. Muhammadiyah Kuansing tidak sedang sekadar membangun gedung, melainkan sedang membangun peradaban.
Ada mimpi besar yang butuh bahu-membahu untuk memikulnya:
Masjid Muhammadiyah yang megah, menanti 54 tiang pondasi untuk berdiri kokoh dengan estimasi perjuangan senilai 7 Miliar Rupiah.
SMA Taruna Muhammadiyah Riau, sebuah kawah candradimuka bagi generasi masa depan yang kini telah menghabiskan 1 Miliar Rupiah dari kedermawanan hamba-hamba Allah. Tahun ajaran baru ini, 30 siswa perdana siap menjadi pionir di sana.
Pembebasan lahan Pondok KH. Ahmad Dahlan, di mana dari 1,5 Miliar Rupiah yang dibutuhkan, masih tersisa ikhtiar sebesar 900 Juta Rupiah yang harus diselesaikan bersama.
Panti Asuhan dua lantai yang kini terhenti sejenak, menanti uluran tangan untuk kembali berdenyut.
"Sengaja kami undang orang-orang tua kami, para sesepuh yang mungkin selama ini 'terlelap' sejenak dari hiruk pikuk organisasi. Mari kita saling memaafkan, mari kita kembali memajukan Muhammadiyah dengan energi baru," ujar Ir. H. Maisir menyentuh relung hati para hadirin.
Tangan di Atas: Saat Zakat Menjadi Jembatan Kasih
Suasana kian syahdu saat Lazismu Kuansing, di bawah komando Yeri Helfizon, S.Pd, menunjukkan wajah Islam yang welas asih. Lazismu berjanji akan menjemput zakat hingga ke pelosok negeri, ke ujung Kuansing yang tak terjamah, demi memastikan beasiswa tetap mengalir bagi mereka yang pantas dan modal usaha tegak bagi mereka yang mandiri.
Siang itu, wajah-wajah tulus seperti Siti Rahmah, Salam, Nani, hingga Saripudin dan belasan lainnya, menerima santunan sebagai bentuk nyata bahwa Muhammadiyah adalah rumah bagi kaum dhuafa. Total 8 juta rupiah disalurkan sebagai simbol bahwa harta hanyalah titipan yang harus mengalir kepada yang berhak.
Tausiyah Ayahanda: Tiga Pilar Kekuatan Matahari
Puncak acara diisi oleh petuah bijak dari Dr. H. Sutarmo, MA, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau. Dengan gaya bahasa yang menyejukkan, beliau mengingatkan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah gerakan ruhani.
"Muhammadiyah dibangun di atas batu karang keikhlasan. Tanpa ikhlas, ia akan layu. Namun dengan ikhlas, rumah sakit dan sekolah akan tumbuh subur dari tangan-tangan yang tak mengharap puja-puji dunia," tutur Ayahanda Sutarmo.
Beliau menekankan tiga kekuatan utama Muhammadiyah:
Keikhlasan dan Amanah: Menjadi pemimpin adalah memanggul beban personal dan organisasional tanpa ketamakan. "Jangan sampai ada orang Muhammadiyah yang memakai 'rompi' setelah lebaran karena tergoda jabatan," pesannya mengingatkan tentang integritas.
Kesyukuran: Mensyukuri jabatan dengan cara mengabdi, bukan mencari posisi.
Kemanfaatan: Melanjutkan warisan KH. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan, kesehatan (TKO), dan sosial.
Bahkan, sebuah cita-cita besar dilemparkan ke tengah forum: Pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah di Kuansing. Sebuah rujukan kesehatan yang lahir dari rahim persyarikatan untuk melayani umat.
Menutup Hari dengan Semangat Pembaharu
Dr. Sutarmo mengingatkan bahwa meski raga kian senja dan rambut kian memutih, semangat pembaharuan tidak boleh kendor. Sebagai gerakan modernis, Muhammadiyah harus terus berpikir sehat dan progresif.
"Orang Muhammadiyah itu tangannya selalu di atas. Pikirannya bukan tentang 'apa yang saya terima', tapi 'apa yang bisa saya beri'. Karena saat kita memberi yang terbaik, Allah akan mencukupkan kita dengan cara yang tak terduga," pungkasnya menutup tausiyah yang menggetarkan jiwa.
Acara Halal Bi Halal ini berakhir, namun api semangatnya baru saja tersulut. Kuantan Singingi hari ini bukan hanya merayakan kemenangan Idul Fitri, tapi merayakan kembalinya marwah perjuangan untuk umat dan bangsa.
Reportase: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. (Ketua Lembaga Seni Budaya PDM Kuansing)
DokumentasiKegiatan:



































