Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Dari Sekolah Rakyat hingga SMAN 1 Sentajo Raya: Menyemai Cita, Memetik Ridho-Nya
Menjaring Mutiara Bangsa: Jejak Pengabdian dalam Renjana Edukasi
Bismillah. Lelah yang membalut raga seketika memudar tatkala niat diluruskan. Mengubah lelah menjadi lillah adalah jalan sunyi yang menuntun setiap langkah pengabdian agar bernilai ibadah di hadapan sang Pencipta.
Seperti pesan luhur dalam Al-Qur'an:
"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
— QS. Al-An'am: 162
Dua Sekolah, Satu Misi Pengabdian
Pada Senin, 07 September 2026, jejak pengabdian membentang di dua panggung pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Pagi Hari: Mengawali langkah di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kuantan Singingi (Koto Kari, Kuantan Tengah). Dua kelas (Kelas X.1 dan X.5 Sekolah Rakyat Menengah Atas) menjadi saksi tatap muka yang penuh kehangatan.
Siang Hari (13:00 WIB): Perjalanan berlanjut ke SMA Negeri 1 Sentajo Raya (Muaro Sentajo). Dua kelas lainnya (Kelas XII.3 dan XI.1) menyambut dengan energi yang tak kalah membuncah.
Langkah ini menyatukan dua ruang belajar yang berbeda, namun membawa satu asa yang sama: membangun generasi yang kuat, tangguh, dan berkarakter.
Mutiara yang Menanti Waktu Berkilau
Bersua dengan siswa-siswi yang membawa keragaman karakter, tutur kata, kepribadian, hingga cara berpikir adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
Di balik binar mata mereka, tertangkap jalinan harapan dan cita-cita yang tengah dilangitkan ke haribaan-Nya.
Setiap anak adalah mutiara. Di mana pun mereka mengenyam pendidikan, potensi besar bersemayam di dalam diri masing-masing. Tugas pendidik hanyalah merawat dan menemani prosesnya menunggu saat yang tepat hingga kilau mereka mengejutkan dunia.
Proses pendidikan ini sejalan dengan teladan Rasulullah 📖 yang bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya."
— HR. Bukhari & Muslim
Menuntun mereka melewati proses panjang adalah bagian dari ikhtiar menjaga amanah pimpinan atas masa depan generasi bangsa.
Sinergi dan Apresiasi
Gerakan edukasi yang kokoh tidak berjalan sendirian. Ungkapan terima kasih mendalam teruji kepada:
Kementerian Sosial RI: Atas ruang dan kesempatan berharga yang diberikan kepada anak-anak dan guru guru Tamu di Sekolah Rakyat.
Dinas Pendidikan Provinsi Riau: Atas apresiasi dan dukungannya bagi para pendidik yang tak pernah lelah belajar dan melayani.
Salam Guru Pembelajar
Pendidikan adalah perjalanan tanpa titik henti. Pengabdian ini adalah wujud nyata dari spirit.
Guru Pembelajar:
"Terus belajar, sampai Tuhan mengatakan saatnya untuk pulang." Ronaldo Rozalino
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, semangat, rahmat, serta mengabulkan doa-doa yang tengah dilangitkan oleh para siswa hebat di Kuantan Singingi.
Bismillah, Allahu Akbar.
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
*Guru Tamu Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kuantan Singingi
*Guru ASN SMAN 1 Sentajo Rakyat Provinsi Riau
Dokumentasi :
READ MORE - Dari Sekolah Rakyat hingga SMAN 1 Sentajo Raya: Menyemai Cita, Memetik Ridho-Nya
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Memenuhi Panggilan Suci: Kerinduan Jiwa Menuju Tanah Haram Bersama Berkah Travel
Bismillah. Ada kerinduan yang tidak pernah sanggup dijelaskan oleh kata-kata: rindu bertekuk lutut di hadapan Ka'bah, menghirup udara Kota Madinah, dan menumpahkan segala ratap serta doa di tanah tempat para nabi pernah melangkah.
Bagi seorang muslim, kerinduan ini bukan sekadar niat untuk berwisata, melainkan panggilan jiwa untuk pulang ke rumah spritualnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan berseru-serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 27)
Panggilan itu telah dilantunkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS, memanggil setiap hati yang merindukan ampunan dan ketenangan sejati.
Menyucikan Diri, Menghapus Dosa
Ibadah umroh dan haji bukan sekadar perjalanan fisik melintasi benua, melainkan perjalanan membersihkan jelaga dosa yang menempel pada hati. Setiap langkah tawaf dan sa'i adalah bentuk penyerahan diri secara utuh kepada Sang Pencipta.
Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan perjalanan suci ini:
“Antara umroh yang satu dengan umroh berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya melainkan surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika kaki melangkah di tanah suci, batas-batas duniawi seketika runtuh. Tidak ada lagi perbedaan pangkat, harta, maupun rupa—semua melebur dalam balutan kain ihram yang putih dan sederhana.
Menapaki Jalur Kepastian Bersama yang Terpercaya
Menunaikan ibadah ke Tanah Haram membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Agar perjalanan ibadah terasa khusyuk tanpa dibayangi rasa cemas, pendampingan dari travel yang terpercaya dan memahami tuntunan syariat menjadi kunci utama.
Bersama Berkah Travel, niat suci Anda untuk melangkah ke Baitullah akan dibimbing secara maksimal, menghadirkan kenyamanan dan kehangatan dalam setiap prosesi ibadah.
Informasi & Pendaftaran Umroh / Haji
Niatkan langkah Anda hari ini, dan biarkan Allah yang mencukupkan jalannya. Untuk informasi pendaftaran dan konsultasi program ibadah:
Konsultan: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. (Owner Berkah Travel – Perwakilan Kota Teluk Kuantan)
Kontak/WA: 0812-6769-812
READ MORE - Memenuhi Panggilan Suci: Kerinduan Jiwa Menuju Tanah Haram Bersama Berkah Travel
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Huda Purnawadi, Pemuda Asal Pati Raih Juara 1 Kaligrafi Tingkat Dunia Di Qatar
Huda Purnawadi, seorang kaligrafer asal Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, membuktikan bahwa karya besar dapat lahir dari tempat yang sederhana. Dengan kecintaan mendalam terhadap seni kaligrafi Islam, ia terus mengasah kemampuan dan menekuni setiap goresan huruf dengan kesabaran. Perjalanan seorang seniman tentu tidak selalu mudah, karena di balik sebuah karya indah terdapat waktu, latihan, ketelitian, serta perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.
Perjuangannya kemudian membawanya ke panggung internasional melalui kompetisi kaligrafi Al-Akhlaq Award di Qatar. Lebih dari 300 kaligrafer dari 50 negara mengikuti ajang bergengsi tersebut, tetapi hanya 15 peserta terbaik yang berhasil melaju ke babak final. Di hadapan para peserta dan seniman terbaik dunia, Huda harus menunjukkan kemampuan terbaiknya dengan menulis ayat Al-Qur'an secara langsung menggunakan gaya Khat Tsuluts Jali, tanpa bantuan perangkat elektronik.
Persaingan yang begitu ketat tidak membuat Huda kehilangan keyakinan. Setiap goresan tinta menjadi bukti dari latihan dan perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Keindahan komposisi, kekuatan teknik, serta makna spiritual yang terkandung dalam karyanya akhirnya berhasil memikat perhatian dewan juri, nama Huda Purnawadi diumumkan sebagai Juara Pertama Al-Akhlaq Award, sebuah momen yang membawa kebanggaan besar bagi dirinya, keluarga, masyarakat Pati, dan Indonesia.
Kisah Huda Purnawadi mengajarkan bahwa bakat tanpa ketekunan mungkin akan berhenti sebagai mimpi, tetapi kerja keras dan kesabaran dapat membawa seseorang melampaui batas yang sebelumnya terasa mustahil. Dari sebuah desa di Pati hingga berdiri sebagai juara di panggung internasional Qatar, Huda telah membuktikan bahwa siapa pun dapat mengharumkan nama bangsa apabila berani berjuang dan terus mengasah kemampuan. Kemenangannya bukan sekadar sebuah piala, melainkan bukti bahwa setiap pengorbanan dalam mengejar impian akan memiliki arti ketika dilakukan dengan sepenuh hati. Source: Aryana Chanel
READ MORE - Huda Purnawadi, Pemuda Asal Pati Raih Juara 1 Kaligrafi Tingkat Dunia Di Qatar
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Ketundukan Hati kepada Sang Maha Pemilik_Ronaldo Rozalino
Bismillah. Pernahkah kita merenungkan sebuah ironi sederhana dalam kehidupan sehari-hari? Di dunia profesional maupun organisasi, ada sebuah ungkapan populer:
“Siapa yang memberi dana, dialah yang berhak mengatur.”
Uniknya, manusia sering kali begitu patuh, tunduk, bahkan rela mengorbankan waktu dan tenaganya demi menuruti setiap keinginan sang donatur atau pemberi fasilitas.
Namun, mari sejenak kita menepi dan bertanya kepada hati nurani yang paling dalam:
jika manusia tunduk pada pemberi dana yang sejatinya fana, mengapa kita begitu sering membangkang kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan?
Hakikat Sang Maha Pemberi Rezeki
Bila diukur dari nikmat, Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Sang Pemberi Terbesar yang tak pernah menuntut kembalian.
Setiap hembusan napas, detak jantung, penglihatan, hingga rezeki yang mengalir setiap hari adalah fasilitas gratis dari-Nya.
Allah menegaskan kedudukan-Nya sebagai pemilik dan pengatur tunggal alam semesta dalam Al-Qur'an:
"Ingatlah, menciptakan dan mengatur adalah hak prerogatif Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. Al-A'raf: 54)
Allah tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya. Segala bentuk aturan, perintah, dan larangan yang Dia turunkan bukan untuk kepentingan-Nya, melainkan demi kebaikan dan keselamatan manusia itu sendiri.
Menundukkan Jiwa yang Enggan Diatur
Sifat dasar manusia sering kali dipenuhi keangkuhan. Kita merasa bebas menentukan jalan sendiri, padahal seluruh pijakan bumi yang kita tempuh adalah milik-Nya.
Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:
"Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka memohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi petunjuk kepadamu..."
(HR. Muslim no. 2577)
Hadis ini mengingatkan betapa lemahnya manusia tanpa bimbingan Ilahi. Mengaku beriman tetapi enggan diatur oleh syariat-Nya adalah sebuah kesombongan yang samar.
Ketika hati merasa berat menjalankan perintah-Nya, di situlah letak ujian keikhlasan kita.
Kepemimpinan Utama: Memimpin Diri Menuju Ketundukan
Menjadi pribadi yang taat bukanlah bentuk kekangan, melainkan bentuk kemerdekaan tertinggi yakni merdeka dari perbudakan hawa nafsu dan atribut duniawi.
Jika kepada manusia yang memberi sedikit materi kita bisa begitu patuh, sudah sepatutnya jiwa ini bersimpul pasrah di hadapan Sang Maha Kuasa.
Mari rapihkan kembali niat dan langkah. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan sejati dimulai saat kita mampu memimpin diri sendiri untuk tunduk penuh pada aturan Sang Creator; Allah SWT.
Jazakumullah Khairan Khatsiran
Barakallah Fiik
READ MORE - Ketundukan Hati kepada Sang Maha Pemilik_Ronaldo Rozalino
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Topeng Kesopanan: Ketika Adab Hanya Menjadi Pujian Semata
Bismillah. Di panggung kehidupan, kita sering menyaksikan adegan yang berulang: senyum manis yang mengembang lebar saat berhadapan dengan orang berharta, serta bungkuk tubuh yang merendah di hadapan pemilik takhta.
Namun, betapa cepat senyum itu menguap dan sapa hangat itu berubah menjadi dingin saat mata memandang mereka yang tak berpunya.
Jika santunmu hanya mekar di hadapan kilau dunia dan layu di hadapan mereka yang bersahaja, tanyakan pada hatimu:
apakah itu benar-benar adab, atau sekadar seni menjilat?
Mutiara Wahyu: Mengukur Manusia dari Ketakwaan
Islam tidak pernah mengukur kehormatan seseorang dari sutra yang ia kenakan atau pangkat yang melekat pada namanya.
Di hadapan Sang Pencipta, seluruh manusia berdiri sejajar.
Allah SWT memperingatkan kita dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Menghormati seseorang semata-mata karena harta atau jabatannya adalah bentuk kepalsuan yang mengikis keikhlasan jiwa.
Adab sejati tidak memilih tempat berlabuh; ia mengalir bening kepada siapa saja, tanpa memandang derajat sosial.
Cermin Keteladanan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW adalah cermin sempurnanya akhlak. Beliau tidak pernah membedakan sapaan antara seorang raja dan seorang hamba sahaya.
Tangan beliau yang mulia senantiasa terbuka hangat untuk merangkul kaum miskin dan tertindas.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.”
(HR. At-Tirmidzi)
Ketulusan adab diuji bukan saat kita berhadapan dengan atasan atau sosok yang kita butuhkan bantuannya, melainkan saat kita berinteraksi dengan mereka yang tidak mampu memberikan balasan materi apa pun kepada kita.
Penjilat vs Pemilik Adab Sejati
Ada perbedaan mendasar antara ketulusan dan kepalsuan:
Sifat Penjilat: Bersikap ramah karena ada batas kepentingan. Kesopanannya adalah investasi untuk mendapatkan keuntungan duniawi.
Pemilik Adab Sejati: Bersikap santun karena dorongan iman. Ia menghormati sesama manusia sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta.
“Adab yang lahir dari rasa takut atau keinginan menguasai harta orang lain adalah ketundukan yang semu. Sedangkan adab yang lahir dari ketakwaan adalah ketenangan jiwa yang abadi.”
Menyucikan Niat, Menjaga Jiwa
Mari kita cermin kembali wajah jiwa kita. Jangan biarkan sikap santun kita menjadi topeng yang sarat akan kalkulasi duniawi.
Lepaskan kacamata strata sosial saat memandang sesama.
Sebab pada akhirnya, ketika lembar-lembar usia ditutup, bukan harta atau pangkat yang akan membela kita, melainkan ketulusan hati dan ketakwaan yang terwujud dalam adab yang murni. (Coach RR)
*Ronaldo Rozalino*
READ MORE - Topeng Kesopanan: Ketika Adab Hanya Menjadi Pujian Semata