Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Menenun Asa di Atas Titian Waktu: Ketika Konsistensi Mengalahkan Nyala Motivasi
Bismillh. Di panggung kehidupan yang fana ini, motivasi sering kali hadir menyerupai percikan api unggun yang membakar semangat dengan megah pada detik-detik awal.
Ia berkobar terang, memicu gelora jiwa, dan melahirkan mimpi-mimpi besar.
Namun, seperti halnya bara yang diterpa angin malam, motivasi mudah meredup manakala lelah mendera dan rintangan menjelma dinding tebal.
Banyak di antara kita yang tersandung bukan karena jatuh dalam kegagalan yang mutlak, melainkan karena kehabisan napas di tengah jalan akibat kehilangan keteguhan.
Di sinilah sebuah kebenaran agung terbentang: Konsistensi jauh lebih mahal daripada sekadar motivasi.
Pelita Keteguhan dari Sang Maestro dan Tuntunan Ilahi
Warren Buffett, seorang maestro investasi dunia, pernah merangkum rahasia agung sebuah pencapaian dalam sebuah kalimat yang sarat makna:
"Apabila kamu sudah memutuskan untuk menekuni suatu bidang, jadilah orang yang konsisten. Itu adalah kunci keberhasilan yang sebenarnya."
Kata-kata bijak ini menemukan resonansi yang sempurna di dalam teras spiritual Islam.
Dalam samudra ajaran Al-Qur'an dan Sunnah, konsistensi dikenal dengan istilah istiqamah sebuah jalan lurus yang ditempuh dengan kesungguhan hati tanpa berpaling, betapa pun berat gelombang yang menerjang.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Fushshilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka istiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fushshilat: 30)
Ayat yang mulia ini menyapa kalbu kita dengan kehangatan luar biasa.
Bahwa keteguhan langkah dalam kebaikan dan ketekunan menjalani proses bukanlah perkara sia-sia; ia adalah jembatan menuju ketenangan jiwa dan kemuliaan abadi.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menegaskan betapa Allah sangat mencintai amal yang konsisten, meski kuantitasnya terlihat sederhana.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Aisyah radhiyallahu 'anha bertutur:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang rutin (konsisten) dilakukan meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan kita sebuah filosofi agung: kesuksesan sejati bukanlah milik mereka yang berlari kencang namun lekas berhenti, melainkan milik mereka yang berjalan terus secara istiqamah, setapak demi setapak, hingga sampai ke garis akhir.
Seni Bertahan di Atas Titian Waktu
Hidup bukanlah perlombaan lari cepat (sprint) yang ditentukan oleh siapa yang pertama kali melesat, melainkan sebuah maraton panjang yang menguji ketahanan batin.
Seringkali, tetesan air yang jatuh secara konsisten di atas batu karang yang keras pada akhirnya mampu melubanginya, jauh mengungguli hantaman palu besar yang hanya mendarat sekali lalu berhenti.
Ketika lelah merayap dan keraguan membisik untuk menyerah, ingatlah kembali niat awal mengapa kita melangkah.
Sadarilah bahwa setiap ikhtiar kecil yang dilakukan secara istiqamah akan bernilai berat di sisi-Nya, sekaligus mendekatkan kita pada mahkota keberhasilan.
Mari merenung sejenak: Di bidang manakah jiwa dan raga kita sedang berjuang untuk tetap konsisten hari ini?
Mari saling menguatkan, merawat asa, dan menenun kesabaran, karena pada akhirnya, kemenangan abadi hanya tercurah kepada mereka yang paling tabah bertahan dalam kebaikan.
Ronaldo Rozalino - Coach RR
READ MORE - Menenun Asa di Atas Titian Waktu: Ketika Konsistensi Mengalahkan Nyala Motivasi
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Dari Masjid ke Masjid: Menjemput Berkah Langit dalam Safar Ruhani
Bismillah...
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali terasa berjalan tanpa kompas, manakala hari libur tiba, langkah kaki seorang musafir terpanggil untuk menepi.
Menepi bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk kembali pulang menemukan ketenangan jiwa di rumah-rumah Sang Pencipta.
Sebab, di atas pundak setiap lelaki yang telah baligh, terpikul sebuah kewajiban mulia untuk memakmurkan masjid, meramaikan barisan sujud, dan mengikatkan hati pada keagungan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah: 18)
Jejak Safar: Menyapa Baitullah di Bumi Kuantan
Hari libur ini menjadi saksi sebuah perjalanan spiritual (safar). Perjalanan yang dirajut bukan demi mengejar megahnya dunia, melainkan demi menjemput titisan berkah dari langit.
Zuhur yang Menyejukkan: Langkah awal dimulai di Masjid Makkah Simpang Tiga Kelurahan, Kuantan Tengah. Di bawah naungan kubah dan pilar-pilar yang kokoh, hati bersimpuh meredakan kepenatan.
Ashar yang Menenangkan: Perjalanan berlanjut ke Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan, Jalan Imam Bonjol. Menjelang sore, di antara barisan jamaah yang khusyuk, jiwa kembali diingatkan akan arti kebersamaan dalam ketaatan.
Menyongsong Magrib dan Isya: Insya Allah, langkah kaki ini akan terus mengalir, menyapa masjid-masjid di sekitar Kota Teluk Kuantan hingga malam menyapa.
Impian ini bukanlah hal baru. Sejak puluhan tahun silam, sekembalinya dari Tanah Suci usai menunaikan ibadah Haji dan Umrah, tersimpan sebuah mimpi suci di dalam dada:
mengunjungi 1,000 masjid, baik di bumi
Nusantara maupun penjuru dunia.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memudahkan, melancarkan, dan meridhai langkah kecil ini. Aamiin Allahumma Aamiin.
Masjid: Pusat Peradaban dan Ketenangan Jiwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan teladan agung. Masjid bukan sekadar tempat menegakkan shalat, melainkan pusat peradaban tempat bersemainya komunikasi yang tulus, eratnya silaturahmi, denyut nadi ekonomi umat, hingga pusat penyelesaian urusan kehidupan.
Ketika dunia penuh dengan persoalan pelik yang akal manusia seakan buntu menyelesaikannya, masjid adalah dermaga pelabuhan.
Tempat di mana dahi diletakkan lebih rendah dari hati, berserah diri seutuhnya kepada Zat yang Maha Mengatur semesta.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tentang keutamaan orang yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid:
"Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-arsko-Nya (pada hari kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... (salah satunya) seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid." (HR. Bukhari dan Muslim)
Mari Makmurkan Rumah Allah
Masjid adalah oase suci, tempat di mana debu-debu dosa dibasuh oleh air wudhu dan linangan air mata taubat.
Ketika lisan, mata, hati, dan raga pernah salah melangkah dan khilaf pada sesama, di sanalah tempat terbaik untuk kembali merendahkan diri di hadapan Sang Maha Pengampun.
"Ayo makmurkan masjid! Ayo menjaga agama Allah!"
Semoga setiap langkah kita menuju masjid bernilai pahala yang agung, menghapuskan dosa, dan mengangkat derajat kita di sisi-Nya.
Allah Maha Besar.
Barakallahu fiik.
Salam ukhuwah penuh cinta dari hamba yang dhaif,
Pemakmur Masjid (Rumah Allah)
H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
READ MORE - Dari Masjid ke Masjid: Menjemput Berkah Langit dalam Safar Ruhani
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Bayangan di Balik Senyum: Mengenali Gelagat Hati yang Terluka oleh Iri
Bismillah. Hidup berjalan seperti riak air yang mengalir ke muara; ada masa di mana bunga-bunga mekar dengan indahnya, dan ada pula musim di mana angin ujian berhembus kencang.
Dalam perjalanan meniti asa, cahaya kesuksesan dan perkembangan diri kita tidak selalu disambut dengan dekap hangat. Terkadang, di balik senyum yang tersungging dan sapaan yang manis, bersemayam sebuah rahasia gelap yang perlahan menggerogoti jiwa: rasa iri.
Iri bukanlah sekadar emosi sesaat; ia adalah bara sekam yang membakar kedamaian batin si pemiliknya sendiri, sebelum akhirnya menjelma menjadi duri tajam yang melukai orang lain.
Al-Qur'an dan Al-Hadits telah lama mengingatkan kita akan bahaya penyakit hati ini. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 54:
"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad dan keluarganya) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepada mereka?"
(QS. An-Nisa: 54)
Rasulullah SAW juga bersabda memperingatkan umatnya tentang bahaya yang serupa:
"Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Dawud)
Lantas, bagaimana kita mengenali bayangan samar dari rasa iri yang bersembunyi di sekitar kita? Berikut adalah delapan gelagat yang perlu disikapi dengan kebijaksanaan hati, merujuk pada realitas kehidupan yang senantiasa diwarnai dinamika insani.
1. Suka Meniru: Ketika Bayangan Ingin Menjadi Rupa
Mereka yang dihinggapi rasa iri sering kali kehilangan jati diri mereka sendiri. Mereka diam-diam mengamati setiap jengkal langkahmu mulai dari gaya berpakaian, kebiasaan sehari-hari, hingga cara bertutur kata.
Namun, peniruan ini bukan lahir dari ketulusan untuk terinspirasi, melainkan dari ambisi senyap untuk menyamai bahkan meredupkan cahayamu.
2. Galak Tanpa Sebab: Benteng Pertahanan Jiwa yang Rapuh
Pernahkah engkau mendapati seseorang yang tiba-tiba bersikap dingin, ketus, atau ketus tanpa alasan yang masuk akal?
Perubahan cuaca emosional yang mendadak ini sering kali bukan tentang dirimu, melainkan ketakutan mereka sendiri.
Mereka merasa terancam oleh kemajuan hidupmu, dan galak adalah topeng untuk menutupi rasa rendah diri yang menggerogoti.
3. Tatapan Mengintai: Pengawas Misterius di Ujung Sudut
Ada mata yang memandang dengan ketulusan, dan ada pula tatapan yang mengintai dengan penuh kalkulasi.
Mereka kerap mengawasimu dalam diam, bahkan ketika tiada percakapan di antara kalian.
Gestur mata tersebut bukan sekadar melihat, melainkan menimbang dan membandingkan diri mereka yang merasa tertinggal dengan pencapaianmu.
4. Hening Saat Kamu Menang: Sunyi yang Menyimpan Duri
Kebahagiaan sejati biasanya dirayakan dengan riang ganda. Namun, ketika engkau mencapai sebuah kemenangan atau titik terang dalam hidup, mereka justru memilih bungkam.
Bibir mereka kelu untuk sekadar mengucapkan selamat atau memberikan dukungan, seolah ada beban berat yang menahan lidah mereka untuk mengakui kebahagiaanmu.
5. Meremehkan Pencapaian: Menutup Mata atas Keringatmu
Apatah artinya kerja keras di mata seorang pendengki? Selalu saja kecil, biasa saja, atau bahkan dianggap kebetulan semata.
Meremehkan hasil keringatmu adalah cara mereka melindungi ego agar tidak merasa kian tertinggal di belakang, sekaligus upaya menepis kilau perjuangan yang telah engkau lewati.
6. Mendadak Ambis: Perlombaan yang Lahir dari Keresahan
Sifat iri kerap melahirkan kompetisi yang tidak sehat. Mereka tiba-tiba menunjukkan gairah yang menyala-nyala untuk unggul di bidang yang sebelumnya sama sekali tidak pernah mereka pedulikan.
Semangat itu muncul bukan karena panggilan jiwa, melainkan semata-mata karena tidak rela melihatmu berdiri sendirian di puncak keberhasilan bidang tersebut.
7. Pencuri Ide: Mengambil Jejak Langkah demi Pengakuan
Bentuk iri yang paling nyata dan melelahkan adalah ketika ide, gagasan, rangkaian kata, atau karya indah yang lahir dari perasan keringatmu diambil begitu saja.
Mereka mengenakannya sebagai jubah mereka sendiri dan mengakuinya di hadapan dunia. Sebuah ironi di mana kreativitas orang lain dipinjam demi menutupi kekeringan jiwa sendiri.
8. Pujian Beracun: Manis di Bibir, Menusuk di Hati
Mereka mungkin melontarkan kalimat yang sekilas terdengar seperti sanjungan.
Namun, jika didengar dengan kepekaan batin, kalimat tersebut menyisakan rasa perih karena diselipi sindiran halus yang merendahkan.
Itulah racun berbalut madu pujian yang sejatinya bertujuan untuk menjatuhkan mental.
Catatan Bijak: Menjaga Taman Hati Tetap Damai
Menghadapi gelagat-gelagat di atas menuntut kita untuk tidak tergesa-gesa menebar prasangka buruk.
Al-Qur'an senantiasa mengajarkan kita untuk mengedepankan ketenangan dan husnuzhan, seraya tetap waspada:
Lihat Polanya: Jangan pernah menghakimi seseorang hanya karena satu kejadian yang kebetulan. Perhatikan apakah sikap tersebut terpola secara konsisten dari waktu ke waktu.
Pasang Batas: Jika kehadiran seseorang senantiasa menghadirkan gelombang ketidaknyamanan setiap kali engkau bertumbuh, merendahlah untuk membatasi interaksi secara bijak dan elegan.
Fokus pada Diri Sendiri: Engkau tidak memiliki kewajiban untuk membalas apalagi membuktikan apa pun kepada mereka yang enggan melihatmu bahagia.
Biarlah karya dan pencapaianmu yang berbicara, dan simpanlah setiap jengkal proses perjuangan suci itu hanya untuk dirimu dan Sang Pencipta.
Ingatlah selalu firman Allah SWT dalam Surah Ali 'Imran ayat 120:
"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali 'Imran: 120)
Biarkan mereka dengan riak dan gelombang hatinya yang keruh. Engkau, tetaplah melangkah dengan anggun di atas jalan cahaya, membawa kebaikan dan ketulusan tanpa menoleh pada bayangan yang mencoba meredupkan sinarmu.
(Ronaldo Rozalino - Coach RR)
READ MORE - Bayangan di Balik Senyum: Mengenali Gelagat Hati yang Terluka oleh Iri
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Cermin Retak Sang Penakluk: Ketika Kecerdasan Buatan Menguji Derajat Kemanusiaan
Bismillah. Di era ketika cakrawala pengetahuan terbentang tanpa batas, tangan-tangan manusia menenun keajaiban baru bernama Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Ia lahir dari rahim nalar, tumbuh dari keringat sains, dan berdiri megah sebagai monumen kejayaan akal budi.
Namun, di balik kilau kemajuan digital yang menyilaukan mata, terselip sebuah ironi yang merisaukan: manusia, sang pencipta algoritma, perlahan mulai kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.
Pesan mendalam ini disuarakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, pada Kamis (22/10) dalam rangkaian Milad ke-5 dan Wisuda ke-2 Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) di Kampus Sedayu, Kabupaten Bantul.
Beliau mengingatkan sebuah garis batas yang tegas antara kemahakuasaan Sang Pencipta dan kerapuhan makhluk ciptaan-Nya:
"Dia (manusia) bisa menciptakan makhluk yang namanya AI, tetapi dia kehilangan kendali untuk menguasainya. Berbeda dengan Tuhan."
Kemahakuasaan Ilahi: Sang Pemelihara yang Tak Pernah Lengah
Dalam khazanah teologi Islam, Allah Swt. digambarkan sebagai Zat Yang Maha Digdaya, Maha Mengatur, dan tidak ada satu pun ciptaan di alam semesta ini yang lepas dari genggaman kekuasaan-Nya.
Ketika Sang Khaliq menciptakan alam raya beserta seluruh isinya, Ia tidak lantas kehilangan kendali atas takdir dan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-An'am ayat 59:
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)..."
Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan Tuhan bersifat mutlak dan meliputi segala detail terkecil.
Berbeda dengan manusia yang ciptaannya seperti AI kerap berkembang di luar prediksi, melahirkan dilema etika, hingga berbalik mendikte cara berpikir serta arah peradaban manusia itu sendiri.
Tuhan menciptakan semesta dengan kesempurnaan mutlak, di mana segala sesuatu berjalan dalam keteraturan (sunnatullah) yang harmonis tanpa pernah kehilangan kendali sedetik pun.
Keterbatasan Insani: Kerapuhan di Tengah Megahnya Teknologi
Manusia dianugerahi akal oleh Tuhan untuk memakmurkan bumi (khalifatullah fil ardh).
Namun, keterbatasan fitrah manusia membuat setiap karya yang ia ciptakan tidak pernah luput dari celah ketidaksempurnaan.
Ketika manusia menciptakan sistem otonom yang cerdas, sering kali kecerdasan tersebut menjelma menjadi "tuan" baru yang mengatur ritme hidup, menyetir opini publik, bahkan mengaburkan nalar kritis manusia itu sendiri.
Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang hakikat ilmu dan keterbatasan manusia melalui sabdanya:
"Wahai manusia, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar, dan pemahaman itu hanya dengan paham. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Ia akan memahamkan-Nya tentang agama."
(HR. Tabrani).
Hadis ini menyiratkan bahwa seluas apapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia, sumber segala kebijaksanaan tetaplah berasal dari Sang Pencipta.
Ketika manusia sombong dan merasa mampu menandingi atau mengontrol segalanya tanpa sandaran moral ketuhanan, di situlah kepincangan peradaban bermula.
AI menjadi cermin retak yang memantulkan kelemahan manusia: pandai merakit sistem, tetapi sering kali gagal menjinakkan dampak sosial dan spiritual yang ditimbulkannya.
Menemukan Kembali Arah: Menundukkan Teknologi dengan Akhlak
Refleksi dari Haedar Nashir di Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) ini sejatinya menjadi alarm moral bagi umat Islam dan dunia secara keseluruhan.
Kemajuan teknologi siber dan kecerdasan buatan harus disambut bukan dengan rasa takut yang melumpuhkan, atau keangkuhan yang memuja, melainkan dengan kesadaran tauhid.
Teknologi harus diletakkan sebagai alat bantu (wasilah), bukan sebagai kiblat peradaban yang mereduksi nilai-nilai kemanusiaan.
Manusia harus kembali pada posisinya yang mulia yakni hamba yang tunduk kepada Tuhan Yang Maha Digdaya, sekaligus pemimpin bijak yang mampu mengendalikan teknologi agar senantiasa berporos pada kemaslahatan umat, bukan kehancuran peradaban.
Sebab pada akhirnya, sehebat apa pun kecerdasan buatan merajai masa depan, ia hanyalah bayangan dari akal manusia yang fana.
Dan hanya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, segala keperkasaan akal bertekuk lutut dalam kepasrahan yang sejati.
Ditulis : H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kab.Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretaris Info & Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Motivator Literasi & Edukasi, Konten Kreator, Bisnis Owner, Coach)
READ MORE - Cermin Retak Sang Penakluk: Ketika Kecerdasan Buatan Menguji Derajat Kemanusiaan
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Semangat Kemanusiaan dari SMAN 1 Teluk Kuantan: Violino Ridho Putra Siap Mengabdi di AKSARA 2026
Pekanbaru, Riau — Gelora kepedulian dan jiwa kemanusiaan generasi muda kembali bergema di Bumi Lancang Kuning. Violino Ridho Putra, seorang siswa berprestasi dari SMAN 1 Teluk Kuantan, menyatakan kesiapannya untuk melangkah dengan penuh semangat menuju ajang AKSARA (Ajang Kreativitas dan Solidaritas Remaja Gembira) 2026.
Kegiatan bergengsi yang diselenggarakan oleh KSR PMI Unit Universitas Islam Riau (UIR) ini merupakan wadah berkumpulnya anggota Palang Merah Remaja (PMR) Wira dari seluruh penjuru Provinsi Riau.
Acara ini berlangsung pada Jum'at–Minggu, 23–25 Oktober 2026 di Lingkungan Gor Panahan Universitas Islam Riau, Marpoyan, Pekanbaru.
Meneladani Budaya, Mengabdi Sepenuh Hati
Bagi Violino, partisipasinya dalam AKSARA 2026 bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wujud kepedulian sosial yang mendalam.
Nilai-nilai kebersamaan dan tradisi dari tanah kelahirannya, Kuantan Singingi, turut menjadi inspirasi dalam langkah kemanusiaannya.
Hal tersebut ia tuangkan secara indah melalui bait-bait pantun ciptaannya:
Pacu jalur membelah riak air,
Di tanah Kuantan budaya abadi.
Bersahabat tulus tak ada yang dibedakan,
Seperti randai melingkar penuh kasih.
Palang Merah Remaja siap sedia,
AKSARA hadir membawa harapan.
Bukan sekadar ikut-ikutan,
Tapi menolong adalah jalan kehidupan.
Melalui pantun ini, Violino menegaskan bahwa keterlibatannya di Palang Merah Remaja (PMR) adalah panggilan hati untuk saling membantu sesama tanpa membeda-bedakan.
(Rohandi, S.Pd., MM Kepala SMAN 1 Teluk Kuantan yang juga Ketua MKKS SMA Kab. Kuansing)
Dukungan Penuh dari Sekolah dan Orang Tua
Semangat juang Violino tidak lepas dari dorongan lingkungan di sekitarnya. Pihak sekolah, di bawah kepemimpinan Rohandi, S.Pd., MM selaku Kepala SMAN 1 Teluk Kuantan, menyambut positif keterlibatan anggotanya dalam kegiatan pembinaan karakter dan jiwa sosial ini.
Dukungan moral dan resmi juga mengalir dari pihak keluarga. Orang tua Violino, Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd., memberikan izin dan restu penuh agar putranya dapat menimba pengalaman berharga, mengasah keterampilan kepalangmerahan, serta mempererat tali silaturahmi antaranggota PMR se-Riau.
Menuju AKSARA 2026
Dengan persiapannya yang matang dan dorongan dari berbagai pihak, Violino Ridho Putra siap membawa nama harum SMAN 1 Teluk Kuantan di ajang AKSARA 2026.
Mari kita dukung bersama semangat anak muda yang mendedikasikan jiwanya untuk nilai-nilai kemanusiaan! (Coach RR)
Salam Kemanusiaan! ❤️
#AKSARA2026 #PMRWira #KSRPMIUIR #UniversitasIslamRiau #SMAN1TelukKuantan
READ MORE - Semangat Kemanusiaan dari SMAN 1 Teluk Kuantan: Violino Ridho Putra Siap Mengabdi di AKSARA 2026