Menyelami Keteguhan di Balik Hening: Memahami Tirai Sunyi Seorang Ayah
Bismillah. Di bawah naungan langit kehidupan yang gemuruh, sosok ayah sering kali menjelma menjadi dermaga yang tenang namun kokoh. .
Ia adalah tiang penyangga rumah tangga yang berdiri tegak dalam badai, menutupi lelahnya dengan ketabahan yang tak tersentuh kalimat indah.
Namun, sering kali kacamata manusia keliru mengeja bahasa kasihnya. Kita terlalu cepat menilai riak di permukaan tanpa pernah menyelami samudera pengorbanan di dalamnya.
Sering kali timbul kesalahpahaman tentang perjuangan seorang ayah yang perlu diluruskan sebelum waktu menyisakan penyesalan.
Bukan Tak Peduli, Melainkan Menahan Beban: Ketika ayah memilih diam, itu bukan tanda ketidakpedulian.
Di balik heningnya, ia sedang menopang beban berat yang menghimpit, menyembunyikan badai agar bahtera keluarga tetap tenang.
Bukan Benci, Melainkan Kekhawatiran yang Mendalam: Teguran keras atau nada bicaranya yang meninggi bukanlah wujud kebencian, melainkan rasa khawatir yang teramat sangat atas keselamatan anaknya.
Hanya saja, cara menyampaikannya kadang tak sempurna.
Bukan Semata Uang, Melainkan Menjaga Kehidupan: Keringat yang menetes saat ia bekerja bukan sekadar perburuan materi.
Setiap langkahnya adalah ikhtiar untuk menjaga martabat keluarga agar hidup anak-istrinya menjadi lebih baik.
Bukan Tak Rapuh, Melainkan Memilih Bertahan: Tampak luar seorang ayah boleh jadi sekeras batu karang, namun ia tetaplah manusia yang bisa lelah. Ia memilih bertahan dan menepis rasa rapuhnya demi senyum orang-orang yang dicintainya.
Bukan Tak Mencintai, Melainkan Melangitkan Baktinya: Ayah mungkin jarang mengucap kata sayang. Namun, cukuplah melihat telapak tangannya yang kasar dan perjuangannya setiap hari sebagai bukti cinta paling nyata tanpa perlu obral kata.
Perjuangan besar seorang ayah dalam menafkahi dan melindungi keluarga memiliki kedudukan mulia di dalam ajaran Islam. Allah SWT menegaskan peran penting pemimpinan dan perlindungan ini dalam Al-Qur'an:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
"Laki-laki (suami/ayah) adalah pelindung bagi wanita (keluarga), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka..." (QS. An-Nisa: 34)
Setiap letih yang disembunyikan ayah demi memberi makan anak-istrinya bernilai ibadah dan pengampunan dosa di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ
"Barangsiapa yang di sore hari merasa lelah karena bekerja dengan kedua tangannya (mencari nafkah halal), maka di sore hari itu ia diampuni dosanya." (HR. Thabrani)
Jangan tunggu penyesalan mengetuk pintu dan kehilangan menyapa untuk menyadari betapa besarnya arti hadirnya. Peluklah jiwanya dalam doa, pahami bahasa kasihnya yang tersirat, dan muliakanlah ia selagi hayat masih dikandung badan.
Penulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Writer & Blogger, Motivator, Bisnis Owner Leader, Teacherpreneur, Composer & Arranger, Coach)
Eka Putra; Meneladani Cahaya Agung, Memetik Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW
Setiap kali bulan Rabiul Awal menyapa, jagat raya seolah kembali berbisik merdu, mengenang detik-detik terbitnya sang fajar peradaban.
Lahirnya Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa sejarah dalam perputaran waktu, melainkan momentum ditumpahkannya rahmat paling agung ke muka bumi.
Beliau hadir menuntun manusia keluar dari gelapnya era jahiliyah menuju terangnya iman dan akhlak yang mulia. Kata Eka Putra, S.Sos.,M.Si Camat Kuantan Tengah.
Allah SWT menegaskan keutamaan utusan-Nya ini melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 107:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Sebagai Rahmatan lil 'Alamin, kehadiran Rasulullah SAW membawa kesejukan bagi jiwa yang dahaga dan penunjuk jalan bagi langkah yang tersesat. Keindahan tutur kata, kelembutan sikap, serta keteguhan iman beliau adalah cermin keteladanan tertinggi yang tidak pernah pudar oleh zaman.
Dalam Surat Al-Ahzab ayat 21, Allah SWT juga mengingatkan kita:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Eka Putra menuturkan momen Maulid Nabi hendaknya bukan sekadar perayaan seremonial semata, melainkan majelis perenungan untuk memperbarui janji kita dalam meneladani sunnah beliau.
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)
Mencintai Rasulullah SAW berarti membumikan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari: memperbanyak shalawat, menebarkan kebaikan, mempererat silaturahmi, serta menjaga keutamaan akhlak di mana pun kita berada.
Melalui momentum yang penuh keberkahan ini, mari kita bersama-sama mempererat tali persaudaraan, menguatkan ibadah, dan menjadikan nilai-nilai keupayaan Rasulullah SAW sebagai kompas utama dalam membangun masyarakat yang beradab, harmonis, dan bermartabat Kata Eka Putra.
(RR)
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
