Perpustakaan: Di Antara Awan Ilmu dan Kerendahan Hati_Ronaldo Rozalino
Ada aroma khas yang menyambut setiap kali kita melangkah melintasi ambang pintu sebuah perpustakaan. Bukan sekadar wewangian kertas tua atau debu halus yang menari di bawah pendar cahaya, melainkan sebuah getaran sunyi yang membisikkan satu muara kesadaran: kita sesungguhnya belum tahu apa-apa.
Di dalam lorong-lorongnya yang hening, rak-rak berbaris bak raksasa yang membawa bobot peradaban. Ribuan lembar pemikiran dari berbagai era, sudut pandang, dan pengalaman hidup bersemayam di sana. Setiap judul buku yang terpajang bagaikan jendela kecil yang menatap ke arah samudera pengetahuan yang tak bertepi.
Semakin jauh mata menelusuri barisan aksara, semakin kencang dada ini berbisik bahwa apa yang tersimpan di dalam kepala kita barulah setitik embun di tengah luasnya lautan.
Memaknai Ruang Sunyi: Tempat Hati Belajar Menunduk
Perpustakaan bukan sekadar gubuk penyimpanan kertas, melainkan sebuah madrasah kerendahan hati (tawadhu’). Di situlah tempat terbaik untuk menundukkan kepatuhan intelektual.
Setiap kali kita membaca dan memahami satu bab baru, di saat yang sama terkuaklah puluhan bab lain yang belum tersentuh.
Kesadaran ini bukanlah untuk membuat jiwa menjadi kecil atau patah arang. Sebaliknya, ia hadir sebagai lentera yang menjaga nyala rasa ingin tahu agar tetap hidup. Kerendahan hati di hadapan ilmu adalah pintu gerbang menuju kejernihan berpikir.
Dalam ajaran Islam, kesadaran akan terbatasnya ilmu manusia adalah puncak dari pemahaman itu sendiri. Allah SWT telah menegaskan betapa kerdilnya pengetahuan yang kita miliki dibanding keagungan ilmu-Nya:
{Wamal uwtiturn minal 'ilmi illa qalila}
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja."
— QS. Al-Isra' [17]: 85
Bahkan, lautan luas pun takkan pernah cukup jika dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah. Maka, atas dasar apa seorang manusia berani menepuk dada dengan ilmu yang dipangkunya?
Jejak Nabi Khidir dan Pentingnya Menjadi Pembelajar Abadi
Pelajaran berharga tentang indahnya tawadhu’ dalam menuntut ilmu pernah terukir indah dalam kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS.
Ketika seekor burung pipit hinggap di tepi perahu lalu mematuk air laut, Nabi Khidir AS mengingatkan Nabi Musa AS dengan sebuah perumpamaan yang sangat menyentuh hati:
"Demi Allah, tidaklah ilmuku dan ilmumu berkurang dari ilmu Allah, melainkan seperti berkurangnya air laut ini karena patukan burung pipit ini."
— HR. Bukhari (No. 4725) & Muslim (No. 2380)
Perpustakaan mengajarkan kita untuk menjadi burung pipit tersebut.yang dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati mengakui betapa kecilnya tegukan ilmu yang berhasil kita reguk.
Belajar yang Tak Pernah Usai
Mungkin inilah salah satu pelajaran terindah dari sebuah perpustakaan. Ia mengajarkan bahwa proses belajar tidak pernah benar-benar selesai. Garis akhir dari sebuah pencarian ilmu adalah ketika nafas tak lagi berhembus.
Selalu ada ruang untuk memperbaiki pemahaman, selalu ada sudut pandang baru untuk melatih kepekaan empati, dan selalu ada hikmah yang menanti untuk dipetik.
Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai keberkahan jalan menuntut ilmu:
"Barangsiapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."
— HR. Muslim (No. 2699)
Mari melangkah ke perpustakaan bukan untuk menumpuk kesombongan, melainkan untuk melatih jiwa agar senantiasa menunduk seperti padi yang kian berisi.
Sebab pada akhirnya, ilmu yang sejati tidak akan membuat pemiliknya mendongak menantang langit, melainkan membawanya bersujud pasrah di atas bumi.
Oleh: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd, C.PS, C.ME, C.QEM, C.TP, C.TCC, C.CCW, C.HTeach
Menundukkan Jiwa di Bawah Langit Kebesaran-Nya
“Jangan sombong, jangan merasa paling hebat, paling kaya, atau paling benar. Ingat, kita semua cuma tanah yang diberi nyawa sebentar, lalu kembali jadi tanah lagi. Yang akan tinggal hanya amal baik, adab, dan jejak kebaikan yang kita tinggalkan untuk orang lain.”
Sepenggal Tanah yang Diberi Nyawa
Di bawah naungan tirai kehidupan yang fana, kerap kali manusia terjebak dalam sangkar ilusi. Ketika harta melimpah, gelar berderet, dan pujian mengalir bak air bah, hati yang rapuh sering kali berbisik enggan menunduk. Kita mendongak ke langit, seolah lupa bahwa bumi yang kita pijak adalah tempat asal sekaligus muara akhir perjalanan kita.
Sesungguhnya, tidak ada yang pantas kita sombongkan di atas muka bumi ini. Kita hanyalah segenggam tanah yang dihembuskan napas kehidupan oleh Sang Maha Pencipta, berkelana sejenak dalam waktu yang amat singkat, untuk kemudian kembali memeluk debu.
Allah SWT mengingatkan kita akan hakikat penciptaan ini dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
(QS. Al-Mu’minun: 12)
Bahaya Bisikan Kesombongan
Kesombongan (kibr) adalah racun halus yang menggerogoti ketulusan jiwa. Ia datang menyamar dalam pelbagai bentuk: merasa paling hebat dalam karya, paling kaya dalam kepemilikan, hingga merasa paling benar dalam beragama dan berpendapat. Padahal, kebenaran mutlak dan kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.
Rasulullah SAW memberikan batasan yang amat tegas mengenai hakikat sombong dalam sabdanya:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim No. 91)
Bahkan, sekecil apa pun benih kesombongan yang tersimpan rapi dalam lipatan hati, ia sanggup menutupi jalan menuju kenikmatan surga. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim No. 91)
Warisan Abadi: Amal, Adab, dan Jejak Kebaikan
Suatu hari nanti, tatkala napas terakhir telah dihembuskan dan jasad kembali berkalang tanah, seluruh atribut duniawi akan tanggal. Pangkat tidak lagi melekat, harta tinggal ingatan, dan puji-pujian bertukar menjadi senyap. Lantas, apa yang tersisa dari perjalanan panjang kita di dunia?
Yang tersisa hanyalah amal baik, indahnya adab, serta jejak kebaikan yang bermanfaat bagi sesama. Sebagaimana pesan indah dalam hadits yang amat masyhur:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)
Menunduk seperti Padi, Mengharumkan Bumi
Mari jadikan setiap helai napas kita sebagai ladang untuk menanam ketundukan dan kerendahan hati (tawadhu). Jangan biarkan gemerlap dunia membuat kita menepuk dada, sebab di atas langit masih ada langit, dan di balik semua karunia, ada Sang Maha Pemberi yang sewaktu-waktu dapat mengambilnya kembali.
Tinggalkanlah jejak yang harum. Jadilah pribadi yang jika hadir menenangkan, jika ada memberi manfaat, dan jika pergi meninggalkan rasa rindu akan kebaikan serta keanggunan adabnya.
Ditulis oleh:
Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd, C.PS, C.ME, C.QEM, C.TP, C.TCC, C.CCW, C.HTeach
Menambat Hati Pada Yang Maha Abadi: Ketika Harapan Tak Lagi Menyisa Kecewa
"Jangan salahkan orang lain ketika dirimu kecewa, tapi salahkan dirimu sendiri karena terlalu berharap kepada manusia."
Betapa sering jemari jiwa kita mengetuk pintu-pintu tempat bersandar yang rapuh. Kita menabuh harapan pada senyum manis sesama manusia, menggantungkan bahagia pada janji-janji insan, dan menyerahkan muara kedamaian kita kepada makhluk yang jangankan menjaga takdir orang lain, menjaga hembusan nafasnya sendiri pun tak berdaya.
Ketika harapan itu patah, yang menyisa hanyalah serpihan perih berupa rasa kecewa, kusamnya prasangka, dan duka yang merajam kalbu.
Namun, di manakah sejatinya letak kekeliruan itu? Akankah kita terus meratap dan menunjuk muka orang lain atas retaknya hati kita? Ataukah sudah saatnya kita bercermin, memandangi relung jiwa yang keliru memilih tempat bergantung?
Bayang-Bayang Semu Tempat Bersandar
Manusia diciptakan dengan segala keterbatasan dan dinamika rasa. Hati manusia berbolak-balik, niatnya bisa bergeser, dan kekuatannya terbatas oleh ruang dan waktu.
Ketika kita menaruh ekspektasi setinggi langit kepada sesama insan, sejatinya kita sedang membangun istana di atas tepian pasir yang ringkih. Sekali ombak ujian menerpa, runtuhlah bangunan harapan tersebut, menyisakan lara yang mendalam.
Pujangga bijak dan para ulama pernah berujar bahwa duka terdalam kerap lahir bukan karena jahatnya orang lain, melainkan karena tingginya takaran harapan yang kita titipkan pada mereka. Kita menuntut kesempurnaan dari sosok yang sejatinya sama-sama sarat akan cela, lupa, dan kelemahan.
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah menegaskan pahitnya pengalaman ini:
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."
Petunjuk Ilahi: Kepada Siapa Hati Harus Berpulang
Islam tidak melarang kita berinteraksi, mencintai, atau bekerja sama dengan sesama manusia. Namun, Islam melarang keras menjadikan makhluk sebagai tumpuan utama penentu kebahagiaan dan tempat menggantungkan takdir.
Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang begitu indah, tegas, dan menenangkan dalam sabdanya:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
"Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah."
(HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini adalah obat penawar bagi jiwa yang lelah. Sebuah pesan abadi agar kita mengembalikan seluruh muara hajat dan cita-cita hanya kepada Sang Pemilik Jiwa. Ketika pintu manusia tertutup atau mengecewakan, pintu-pintu langit milik Allah senantiasa terbuka lebar tanpa pernah ada jeda.
Sejalan dengan petunjuk Rasulullah ﷺ, Allah SWT secara langsung menegaskan dalam Kalam-Nya yang mulia agar puncak harapan diletakkan hanya kepada-Nya:
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."
(QS. Al-Inshirah: 8)
Ayat yang singkat namun sarat makna ini adalah sauh bagi kapal jiwa yang terombang-ambing di lautan kehidupan. Allah mengimbau kita untuk menyucikan niat dan sandaran. Hanya bila harapan diserahkan kepada Sang Maha Abadi, hati tidak akan pernah mengenal istilah kepahitan yang merusak kedamaian.
Merajut Kembali Damai di Dada
Manakala rasa kecewa itu hadir menyapa, panggillah kesadaran diri. Jangan terburu-buru menyalahkan kawan, pasangan, atau kerabat yang dianggap meretakkan harapan.
Jadikan kekecewaan itu sebagai teguran lembut dari Allah bahwa Dia sedang cemburu karena hatimu terlalu condong kepada selain-Nya. Allah ingin menuntun hatimu kembali pulang ke haribaan-Nya.
Mari kita ubah arah kemudi jiwa kita:
Berbuat baiklah kepada manusia tanpa mengharapkan balasan atau sanjungan dari mereka.
Mencintailah karena Allah, bekerja dan berkhidmatlah dengan tulus.
Pindahkan muara harapan penuh kita utuh kepada Allah SWT.
Dengan demikian, bila manusia mengapresiasi, kita bersyukur; dan bila manusia berpaling atau mengecewakan, hati kita tetap kokoh berdiri karena tempat kita bersandar adalah Dia Yang Maha Kokoh, Maha Pengasih, dan Tak Pernah Mengecewakan hamba-Nya.
Barakallahu feekum,
Ditulis oleh:
Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd, C.PS, C.ME, C.QEM, C.TCC, C.TP, C.CCW, C.HTeach
Meretas Batas Penilaian, Menemukan Jiwa Pembelajaran: Catatan dari Webinar Serantau BGTK Riau Episode 10
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Peserta Webinar Serantau BGTK Riau)
Menyibak Tirai Penilaian: Saat Angka Tak Lagi Menjadi Penghakim Utama
Lama sudah ruang-ruang kelas kita terbelenggu oleh sebentuk mitos yang mengakar dingin: bahwa di akhir sebuah perjalan belajar, keberhasilan seorang murid hanyalah selembar kertas ujian, sebaris angka, dan tumpukan soal pilihan ganda.
Asesmen sumatif kerap membayangi langkah anak-anak bangsa sebagai sosok “penghakim” yang menakutkan di ujung semester—menentukan lulus atau gagal, pandai atau tertinggal, tanpa sempat mendengarkan ritme tumbuh kembang jiwa mereka.
Namun, pada Selasa sore yang hangat, 11 Agustus 2026, sebuah denyut pemikiran baru digelorakan dari Bumi Lancang Kuning. Melalui ruang virtual Zoom yang dihadiri ratusan pendidik dari berbagai penjuru, Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau menggelar Webinar Serantau Episode 10 bertajuk:
“Rekonstruksi Pemahaman Asesmen Sumatif untuk Pembelajaran Bermakna”
Webinar ini tidak sekadar menjadi ajang penyampaian materi teknis, melainkan sebuah ikhtiar kebudayaan dan pedagogis untuk memerdekakan ruang kelas dari belenggu ujian mekanis menuju pembelajaran yang humanis, reflektif, dan berpihak utuh pada peserta didik.
Sinergi untuk Mutu Pendidikan Bumi Lancang Kuning
Acara diawali dengan ketukan semangat yang hangat dari Reisky Bestary, S.Pd., M.Pd., Kepala BGTK Provinsi Riau, yang bertindak sebagai Keynote Speaker. Beliau menegaskan pentingnya kolaborasi dan keberanian para pendidik untuk mendekonstruksi paradigma lama.
Pendidikan di Riau, menurutnya, harus berlayar menuju muara kualitas sejati, di mana setiap anak dirayakan potensi keunikannya.
Dipandu dengan anggun dan taktis oleh moderator Sri Melia, S.Sos., M.Si. (Penelaah Teknis Kebijakan), webinar mengalir jernih menghadirkan narasumber utama, Sesi Suswanti, M.Pd., Widyaiswara BGTK Provinsi Riau.
Dengan lugas namun penuh kedalaman makna, Sesi Suswanti membedah tuntas Panduan Pembelajaran dan Asesmen terbaru, membimbing para guru menatap kembali esensi sejati dari penilaian.
Gagasan Kunci: Merayakan Bukti Belajar, Bukan Sekadar Mengejar Angka
Dalam paparan materi yang komprehensif dan intuitif, ada beberapa pokok pergeseran paradigma (rekonstruksi) yang disampaikan:
1. Dari "Mencari Nilai" Menjadi "Memperoleh Bukti Capaian"
Asesmen sumatif bukan lagi ritual pengumpulan nilai angka semata. Inti terpenting dari sumatif adalah memperoleh bukti autentik sejauh mana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh murid. Nilai akhir hanyalah salah satu bentuk pengolahan, sedangkan esensinya terletak pada bukti belajar.
2. Dekonstruksi Ujian Akhir Semester: Tidak Wajib dan Lebih Fleksibel
Sebuah kejernihan baru dihadirkan: Sumatif tidak sama dengan Ujian Akhir Semester. Jika sepanjang proses pembelajaran data capaian murid sudah memadai dan komprehensif, pendidik tidak harus melakukan tes khusus di akhir semester. Fokus utama adalah kecukupan bukti, bukan formalitas waktu di kalender akademik.
3. Ragam Bentuk yang Autentik dan Holistik
Ruang kelas diajak meninggalkan belenggu soal pilihan ganda atau isian singkat sebagai satu-satunya tolok ukur. Asesmen sumatif kini mekar dalam pelbagai wujud yang hidup:
Projek Tematik: Murid merancang solusi nyata atas tantangan di kehidupan sekitar.
Portofolio: Kumpulan jejak karya terbaik yang merekam grafik tumbuh kembang anak.
Studi Kasus & Presentasi Interdisipliner: Menguji kedalaman nalar, kemampuan berargumentasi, serta kolaborasi.
4. Kriteria Ketercapaian sebagai Kompas Utama
Asesmen yang bermakna tidak dimulai dari membuat soal, melainkan dari memahami kompetensi yang ingin dituju dan menetapkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
KKTP inilah yang menjadi kompas penunjuk jalan, memastikan bahwa instrumen penilaian dirancang tepat sasaran dan adil bagi peserta didik.
5. Memisahkan Formatif dan Sumatif dengan Bijak
Sering kali terjadi kekeliruan di mana nilai formatif (yang berfungsi memberi umpan balik saat proses) dicampuradukkan begitu saja dengan nilai sumatif. Webinar ini menegaskan bahwa keduanya memiliki takdir dan peran berbeda: formatif untuk membenahi jalan proses belajar, sedangkan sumatif untuk memotret hasil capaian.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Antusiasme peserta yang melimpah dalam kolom chat Zoom hingga akhir sesi menandakan betapa haus dan rindunya para guru di Riau akan pemahaman yang memerdekakan ini. Pertanyaan demi pertanyaan bergulir, dijawab dengan penuh empati dan ketepatan regulasi oleh narasumber.
Melalui Episode 10 ini, Webinar Serantau BGTK Riau telah berhasil menancapkan tonggak penting. Bahwa menilai murid bukan tentang menghitung berapa banyak kesalahan yang mereka perbuat di atas lembar kertas, melainkan tentang menemukan kilau kompetensi dan menyalakan pelita harapan di dalam diri setiap anak.
Semoga reka ulang pemahaman ini tak berhenti di layar kaca Zoom, melainkan meresap hingga ke pelosok sekolah, mengetuk pintu-pintu kelas di seluruh penjuru Riau, membawa pendidikan kita menjadi lebih bermakna, ramah, dan berpihak seutuhnya pada manusia.
#BGTKRiau #SiapMenujuZIWBK #DitjenGTK #KemendikdasmenRAMAH #PendidikanBermutuUntukSemua
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
