Seni Menjaga Kehormatan Diri Saat Direndahkan
Bismillah. Ada momen dalam hidup ketika ujian tidak datang berupa kemalangan harta atau fisik, melainkan dalam bentuk kata-kata tajam dan tatapan remeh dari sesama manusia.
Di titik ini, banyak jiwa yang terbakar emosi, membalas teriakan dengan teriakan yang lebih keras. Namun, jiwa yang matang justru menempuh jalan yang berbeda: ia memilih menjadi sosok yang tenang, anggun, dan tegas.
Ketenangan dalam Keteguhan Jiwa
Saat direndahkan, tanda pertama dari kedewasaan jiwa bukan terletak pada seberapa nyaring suara balasan, melainkan ketika suara mendadak pelan dan suasana hati berubah sangat tenang.
Tatapan mata lurus menatap ke depan, bukan untuk menantang, melainkan sebagai simbol keteguhan hati yang tidak mudah digoyahkan oleh cemoohan luar.
Islam meletakkan ketenangan (sakinah) dan kontrol diri di tempat yang sangat mulia.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari kemenangan dalam pertarungan fisik, melainkan dari kemampuan menguasai diri saat amarah membakar:
“Orang perkasa bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang perkasa adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tindakan Nyata Tanpa Retorika
Di balik kedamaian wajah dan senyuman yang menyembunyikan emosi, ada ketegasan sikap. Tanpa perlu mengancam atau menebar pamer daya, tindakan nyata langsung diambil.
Memotong akses komunikasi dan menutup rapat pintu interaksi bernilai toksik adalah bentuk perlindungan atas kehormatan diri ('izzah).
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menggambarkan ciri hamba-hamba-Nya yang mulia (Ibadurrahman) ketika berhadapan dengan celaan dan sapaan orang-orang jahil:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
Sikap ini bukanlah pertanda kelemahan atau rasa takut. Justru sebaliknya, ini adalah langkah bijak untuk menjaga energi dan fokus pada pengembangan diri (self-growth).
Mengabaikan gangguan dan menyerahkan segala keadilan kepada Pencipta adalah cara terbaik agar hati tidak terhalang menuju kesuksesan sejati.
Hikmah di Balik Ujian Rendahan
Ketika mereka menyadari bahwa semua ancaman dan rendahan tidak mampu merobohkan benteng ketenanganmu, di situlah mereka baru mengerti bahwa kamu memiliki pemahaman hidup yang jauh lebih mendalam.
Bagi seorang mukmin, direndahkan oleh manusia adalah pengingat untuk semakin merendahkan diri (tawadhu') di hadapan Allah SWT, sekaligus meninggikan standar kualitas mental dan karya diri di hadapan alam semesta.
Diintuisikan dari pemikiran Coach RR
(Ronaldo Rozalino) — Teacherpreneur, Motivator Literasi & Edukasi.
Menjaga Marwah di Luar Ksatrian: Merajut Silaturahmi dan Kedisiplinan Taruna SMA Taruna Muhammadiyah Riau lewat Tradisi "Wajib Lapor Pesiar"
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
(QS. An-Nisa': 1)
Di dalam kehidupan ksatrian SMA Taruna Muhammadiyah Riau, kedisiplinan bukanlah sekadar atribut yang melekat saat mengenakan seragam di lingkungan sekolah.
Kedisiplinan adalah watak, jiwa, dan kehormatan yang terus bersemayam dalam dada setiap taruna dan taruni, ke mana pun kaki mereka melangkah termasuk ketika masa pesiar tiba.
Pesiar bukan semata waktu untuk melepas lelah dari rutinitas ketat ksatrian, melainkan panggung nyata untuk menguji sejauh mana nilai-nilai karakter, kesantunan, dan kepemimpinan itu tertanam.
Guna memelihara marwah almamater dan merajut ukhuwah di tengah masyarakat, SMA Taruna Muhammadiyah Riau menerapkan tradisi luhur:
Wajib Lapor Pesiar Mandiri kepada Pemerintah Desa.
Langkah Penuh Khidmat: Dari Salam hingga Bimbingan Tokoh Masyarakat
Sejak awal melangkahkan kaki keluar dari gerbang sekolah untuk memulai masa pesiar, hingga tiba waktunya kembali ke ksatrian, para taruna dan taruni diwajibkan menyambangi Kantor Kepala Desa maupun Kediaman Kepala Desa tempat mereka tinggal.
Suasana hangat penuh kekeluargaan senantiasa mewarnai setiap pertemuan. Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh tatakrama:
Salam dan Penghormatan: Diawali dengan sikap sempurna, penuh rasa hormat dan kesantunan kepada Kepala Desa beserta perangkat desa setempat.
Penyampaian Maksud dan Tujuan: Menjelaskan iktikad baik kedatangan untuk bersilaturahmi sekaligus melaporkan keberadaan diri selama masa libur (pesiar) mandiri.
Penyerahan Surat Izin Pesiar: Mengunjukkan dokumen resmi izin pesiar yang diterbitkan oleh pihak sekolah sebagai wujud transparansi dan kepatuhan prosedur.
Bimbingan dan Arahan: Mengadopsi kearifan lokal melalui nasihat serta pengarahan dari pemangku adat dan pemerintah desa setempat.
Pengisian Formulir Lapor Diri: Mendata administrasi keberadaan siswa secara tertulis demi terjaminnya akuntabilitas keberadaan mereka di lingkungan warga.
Menjalin Silaturahmi, Memetik Keberkahan
Tradisi ini merujuk pada keagungan ajaran Islam dalam menjaga hubungan antarsesama (hablum minannas).
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Melalui langkah bersahaja para taruna yang mengetuk pintu rumah-rumah pemimpin desa, tali silaturahmi antara lembaga pendidikan Muhammadiyah dan pemerintah masyarakat di akar rumput terikat semakin kuat.
Kehadiran taruna di tengah pemukiman bukan lagi sebagai 'orang luar', melainkan bagian integral dari warga desa yang siap menjaga ketertiban dan harmoni.
(Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau)
Pesan Moral dan Harapan Luhur
Di bawah pengarahan Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd selaku Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau kegiatan ini menyemai tiga harapan utama:
Menjaga Kedisiplinan dan Jiwa Ksatria: Agar jiwa tanggung jawab seorang taruna/taruni tidak pudar meskipun berada di luar pengawasan langsung para pamong sekolah.
Terjaminnya Ketertiban dan Harmoni: Menjadi teladan di tengah masyarakat dengan menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, adat istiadat, dan nilai kemasyarakatan.
Menjaga Nama Baik Almamater: Menjadi cermin hidup dari panji SMA Taruna Muhammadiyah Riau yang membawa sejuk dan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Sebagaimana firman Allah SWT mengenai pentingnya menampilkan akhlak mulia dan kedisiplinan dalam setiap perbuatan:
“Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”
(QS. Al-Hajj: 77)
Seragam hijau ksatrian yang mereka kenakan bukan sekadar kain penyalut tubuh, melainkan janji moral untuk senantiasa menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berkarakter, dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.
Merawat Jiwa, Menjaga Ridha: Mutiara Bijak dalam Menghargai Pasangan
*Ronaldo Rozalino*
Seni Menyirami Taman Sendiri: Menemukan Kedamaian dalam Syukur
Bismillah. Ada sebuah frasa bijak yang kerap kali mengetuk pintu kesadaran kita:
"Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau."
Namun, pernahkah kita secara jujur merenungkan, mengapa rumput di pekarangan sendiri tampak gersang?
Jawabannya sederhana: karena kita sibuk mengagumi keindahan milik orang lain, hingga lupa menyirami tanah yang sedang kita pijak.
Dalam arsitektur kehidupan, membanding-bandingkan adalah benih dari ketidakbahagiaan.
Ketika seorang istri mulai menimbang-nimbang kebaikan atau kehebatan suami orang lain lalu membandingkannya dengan suami sendiri, tanpa disadari ada luka mendalam yang sedang ditorehkan.
Bagi seorang pria, apresiasi adalah bentuk penghormatan tertinggi. Membandingkannya dengan lelaki lain bukan sekadar bentuk kekecewaan, melainkan gempuran tajam yang meruntuhkan wibawa dan harga dirinya sebagai seorang pemimpin rumah tangga.
Cermin dalam Pesan Ilahi
Setiap manusia dirajut dengan kelebihan dan kekurangan yang unik. Tidak ada jiwa yang sempurna, dan ketidaksempurnaan itulah yang menjadi medan bagi kita untuk saling melengkapi, bukan saling menuntut.
RasuluLlah ﷺ mengingatkan kita untuk selalu menjaga pandangan hati agar tidak mudah mengkufuri nikmat yang ada di depan mata:
"Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah."
(HR. Muslim No. 2963)
Ketika kita membiasakan diri memandang ke atas dengan rasa iri, lisan akan dengan mudah melontarkan pembandingan yang membosankan dan menyakitkan.
Padahal, Allah SWT telah memperingatkan agar kita senantiasa menjaga lisan dari perkataan yang dapat merusak hubungan sesama:
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).' Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka."
(QS. Al-Isra': 53)
Merawat Rumah Tangga dengan Penghargaan
Alih-alih terus menatap ke luar jendela untuk melihat keindahan taman orang lain, alangkah indahnya jika kita mulai mengambil gayung dan menyirami tanaman di rumah sendiri.
Perbanyaklah melakukan introspeksi diri daripada sibuk meratapi kekurangan pasangan.
Menjaga lisan adalah cerminan dari hati yang bersih. Ketika lisan dijaga dari kata-kata yang membandingkan, dan hati dijauhkan dari sifat iri, maka keberkahan Allah SWT akan perlahan menyelimuti rumah tangga kita.
Mari belajar menghargai setiap usaha sekecil apa pun dari pasangan, karena di situlah ketenangan (sakinah) dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah) akan tumbuh mekar dengan indah.
Narasi Literasi:
Ronaldo Rozalino (Coach RR)
(Teacherpreneur • Content Creator • Motivator Literation & Education • Business Leader • Writer • Composer & Arranger • Coach)
Kanal Informasi & Media Sosial:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Website: s.id/RonaldoRozalino
Menyulam Ukhuwah, Menegakkan Agama melalui Potensi Diri
Bismillah. Setiap insan dilahirkan dengan ragam keahlian dan keunikan potensi. Di balik hangatnya secangkir kopi dan canda tawa bersama para sahabat, ada ruang perjuangan yang tak boleh padam.
Membendung dinamika zaman dengan dedikasi serta kompetensi yang dianugerahkan oleh Allah SWT.
Seperti perjumpaan berharga bersama Sahabat LPJ 2011, sebuah momen sederhana mampu bertransformasi menjadi majlis ilmu dan ladang pendorong kebaikan.
Merajut Silaturahmi dalam Kehangatan Kebersamaan
Di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari, meluangkan waktu untuk merawat tali persaudaraan adalah penawar dahaga jiwa.
Suasana santai dan hangatnya diskusi tatap muka menciptakan ikatan batin yang kian kokoh.
Silaturahmi bukan sekadar momen bertegur sapa, melainkan pintalan pendoa kebaikan yang melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari & Muslim)
Mengoptimalkan Potensi Diri untuk Agama Allah
Kompetensi yang ada dalam diri baik sebagai pendidik dan ASN merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Menegakkan nilai-nilai kebaikan dan agama Allah tidak selalu berwujud mimbar oratoris, melainkan dapat diwujudkan melalui karya nyata, dedikasi profesi, serta teladan akhlak.
Allah SWT berfirman:
"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
Langkah kecil yang diiringi ketulusan hati akan memberikan dampak besar bagi sesama. Mari terus bergerak, mengasah kompetensi, dan saling menguatkan dalam ikatan ukhuwah.
Barakallah Fiik untuk seluruh persahabatan yang senantiasa menuntun kita menuju ridha-Nya.
Ditulis oleh:
Ronaldo Rozalino (Coach RR)
(Teacherpreneur • Content Creator • Motivator Literation & Education • Business Leader • Writer • Composer & Arranger • Coach )
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Website: s.id/RonaldoRozalino
Menjemput Cahaya Hidayah yang Tertutup Bayang Dunia
Ustadz Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd. (Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau)
Suasana Khidmat di Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan
Bismillah. Di bawah naungan langit Jumat yang teduh pada tanggal 9 Oktober 2026, ribuan langkah kaki jamaah berbondong-bondong menuju Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan, Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Gema panggilan suci muazin Ustadz Wardika membumbung tinggi, memanggil jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian untuk bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta.
Pelaksanaan ibadah Shalat Jumat kali ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Ustadz Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd. (Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau) hadir berdiri di atas mimbar sebagai Khotib, sementara Ustadz Rinaldi, S.Pd. memimpin jamaah sebagai Imam.
Dalam mimbar yang anggun dan sarat keheningan tersebut, Ustadz Ahdanan Shaleh menyampaikan pesan-pesan langit yang menggetarkan qalbu dengan tema:
"Penyebab Susah Seorang Hamba Mendapat Hidayah Allah."
Renungan Khutbah: Mengapa Hidayah Terasa Jauh?
Hidayah adalah gumpalan cahaya Illahi yang menerangi kegelapan jiwa. Namun, seringkali nur itu terhalang masuk ke dalam dada.
Mengapa hati terasa beku dan enggan beranjak menuju jalan pertobatan? Khotib merangkum beberapa sebab utama serta penawarnya:
1. Belenggu Cinta Dunia (Hubbud Dunya)
Betapa sering Al-Qur'an sebaik-baik bacaan dan petunjuk tergeletak tanpa tersentuh, diabaikan, dan ditunda-tunda pembacaannya dengan alasan busyuk esok hari.
Hawa nafsu mengarahkan pandangan hanya pada kemewahan dan kesenangan sementara. Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 16-17)
Mari kita bangun, berjuang, dan berbuat kebaikan sebelum kesempatan itu direnggut oleh waktu.
2. Menumpuknya Dosa dan Minimnya Muhasabah
Setiap kali seorang hamba berbuat dosa tanpa rasa bersalah, setitik noda hitam menempel di dalam hatinya. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu dosa, maka dititikkan dalam hatinya sebuah bintik hitam...”
(HR. Tirmidzi no. 3334)
Hal yang paling berbahaya adalah ketika keburukan dan kemaksiatan dianggap sebagai hal yang biasa, bahkan dinormalisasi hanya karena viral dan menjadi tren di tengah masyarakat.
Padahal, standar kebenaran bukanlah ketenaran, melainkan ridha Allah.
Ketika kemungkaran terjadi, setidaknya usaplah dada dan bentengi diri bahwa hal tersebut salah.
Selagi napas masih dikandung badan, pintu istighfar dan taubat selalu terbuka lebar.
3. Menjaga Shalat di Awal Waktu
Shalat adalah tiang agama dan pembeda antara keimanan dan kelalaian.
Setan akan senantiasa membisikkan rasa malas agar kita menunda shalat hingga berada di penghujung waktu.
Jagalah shalat di awal waktu, sebab shalat adalah benteng utama terjaganya hidayah dalam jiwa.
4. Mendekatkan Diri dengan Al-Qur'an
Sinar hidayah tidak akan pernah padam jika kita senantiasa membasahi bibir dan menyejukkan hati dengan bait-bait Al-Qur'an, baik di kala fajar menyingsing maupun diheningnya malam.
5. Memilih Lingkungan dan Sahabat yang Sholeh
Agama seseorang sangat dipengaruhi oleh dengan siapa ia berteman.
Rasulullah SAW mengingatkan agar kita berteman dengan orang-orang baik yang saling mengajak pada ketaatan, serta menjauhi pergaulan yang melalaikan shalat dan menjauhkan diri dari Allah.
Muhasabah Diri: Sebelum Pintu Usai
Hari ini adalah momen untuk bersimpuh dan bertanya pada diri sendiri:
Dosa apa yang telah aku perbuat hari ini?
Apakah dosa-dosaku yang lalu telah diampuni oleh-Nya?
Jangan sekali-kali mendustakan agama dan jangan pernah menunggu ajal menjemput baru berkeinginan untuk bertaubat. Allah SWT berfirman:
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?'”
(QS. Al-Munafiqun: 10)
Bila taubat baru diucapkan saat sakaratul maut tiba, maka kita termasuk golongan orang-orang yang paling merugi.
Untaian Doa
Ya Allah, Tuhan yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Bersihkanlah hati kami dari noda-noda dosa, tunjukilah kami jalan hidayah-Mu, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu bersama orang-orang yang sholeh.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Dinarasikan Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Sekretaris Komisi Informasi & Komunikasi MUI Kabupaten Kuantan Singingi)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...14 tahun yang lalu
-