Welcome My Blog

Coach RR

Menjadi Padi yang Menyejukkan atau Minimal Tidak Menjadi Ilalang yang Merugikan

Sejak kecil, kita sering kali mendengarkan sebuah filosofi hidup yang sangat indah:

"Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin merunduk."

Filosofi ini mengajarkan kita tentang arti kerendahan hati. Semakin banyak ilmu, semakin tinggi kedudukan, atau semakin luas rezeki yang kita miliki, seharusnya kita semakin rendah hati, bijaksana, dan banyak memberikan manfaat bagi sesama makhluk hidup.

Namun, mari kita berdamai dengan kenyataan. Sebagai manusia biasa, kita tidak selalu berada di puncak energi atau kondisi terbaik kita.

Ada kalanya kita merasa lelah, tertimpa masalah, jatuh, atau bahkan sedang tidak mampu untuk membantu orang lain secara fisik maupun materi.

Dan tahukah Anda? Itu adalah hal yang sangat wajar.

Ketika Belum Bisa Menjadi Padi, Jangan Jadi Ilalang

Melalui pesan inspiratif penulis sebuah pengingat bijak yang sangat menyentuh hati:

"Jika tidak bisa menjadi padi, maka jangan menjadi ilalang. Bila kita merasa tidak mampu memberi manfaat kepada orang lain, maka cukup bagi kita untuk tidak merugikan orang lain."

Padi melambangkan kebaikan, ketulusan, dan sumber kehidupan yang mengenyangkan banyak orang.

Sebaliknya, ilalang sering kali dianggap sebagai gulma yang merusak pemandangan, menyerap nutrisi tanaman lain, dan merugikan lingkungan sekitar.

Dalam Islam, prinsip tidak merugikan dan selalu menyebarkan kebaikan adalah inti dari ajaran kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

"La dharara wa la dhirar" (Tidak boleh melakukan mudarat [merugikan diri sendiri] dan tidak boleh pula memudaratkan [merugikan orang lain]).
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bahwa batasan minimal dalam berinteraksi sosial adalah tidak menjadi sumber masalah atau kerugian bagi orang lain.

Panduan Sederhana: Langkah Mulia Hari Ini
Jika hari ini kita belum sanggup menjadi sosok padi yang luar biasa produktif dan dermawan, jangan berkecil hati.

Kita tetap bisa meraih kemuliaan dengan melakukan hal-hal kecil yang berdampak besar bagi kedamaian sekitar:

Kalau belum bisa memuji, jangan menghina. Menjaga lisan adalah bentuk ketakwaan tertinggi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 11: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka..."

Kalau belum bisa membantu, jangan mempersulit.
Mempermudah urusan orang lain adalah pintu datangnya pertolongan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang mempermudah urusan seseorang di dunia, maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan di akhirat."
(HR. Muslim).

Kalau belum bisa membahagiakan, jangan menyakiti.
Menahan diri dari menyakiti orang lain melalui perbuatan maupun perkataan dinilai sebagai bentuk sedekah.

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang amal yang paling utama, lalu beliau bersabda:

"Hendaklah engkau diam (tidak berbicara) kecuali kebaikan, karena sesungguhnya hal itu adalah sedekah yang engkau berikan untuk dirimu." (HR. Ibnu Hibban).

Mari Memilih Hari Ini
Menjaga energi positif memang melelahkan, tetapi menahan diri agar tidak menjadi sumber kesusahan bagi orang lain adalah pilihan bijak yang bisa kita lakukan kapan saja.

Hari ini, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri:
Apakah kita mau menjadi padi yang menebar manfaat, atau minimal memilih untuk tidak menjadi ilalang yang merugikan?

Yuk, tulis di kolom komentar: "AKU MAU JADI PADI YANG MERUNDUK", dan mari kita saling mendoakan agar senantiasa dimudahkan dalam berbuat kebaikan dan dijauhkan dari sifat yang merugikan sesama.

Penulis : Ronaldo Rozalino - Coach RR

READ MORE - Menjadi Padi yang Menyejukkan atau Minimal Tidak Menjadi Ilalang yang Merugikan
Coach RR

Menghapus Luka di Balik Kata: Menolak Normalisasi Bullying dalam Lorong-Lorong Sekolah

Pagi yang cerah di bawah naungan langit Muaro Sentajo, Senin, 2 November 2026, merangkul barisan rapi para siswa-siswi SMAN 1 Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Di tengah khidmatnya pelataran lapangan upacara, sebuah pesan penting dan mendalam bergema, menyentuh relung kesadaran tentang moralitas yang mulai bergeser di era modern ini.


Melalui amanah pembina upacara yang disampaikan oleh Nuraziza Saida, S.Pd (Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Sentajo Raya), alarm pengingat ditabuh dengan tegas:
Jangan menormalisasi bullying dengan gaya bercanda.

Bullying: Ketika Agresi Berkedok Lelucon
Bullying atau perundungan bukanlah sekadar selingan usil antarteman. Secara psikologis dan sosial, ia adalah bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara terus-menerus dengan tujuan meremehkan, merendahkan, dan mencoreng harga diri orang lain.


Namun, yang lebih mengkhawatirkan hari ini adalah fenomena normalisasi. Di lingkungan sekolah, anak-anak kerap saling mengejek dengan menyebut nama orang tua sebuah tindakan yang dianggap sepele, dilabeli sekadar "candaan", atau "salam akrab".

Tanpa disadari, luka batin telah ditanam secara perlahan, sementara pelakunya merasa benar dan aman di balik tawa renyah yang semu.

Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat paling suci untuk saling support (mendukung), berbagi ilmu, dan memotivasi, justru perlahan terkikis oleh racun perundungan harian yang dianggap lumrah.


Pandangan Islam: Larangan Menghina dan Merendahkan
Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin sangat menjaga kemuliaan dan kehormatan setiap manusia. Al-Qur'an dengan tegas melarang perbuatan saling mencela, mengejek, atau memanggil dengan sebutan yang buruk, karena boleh jadi, yang diejek jauh lebih mulia di sisi Allah SWT.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)...”

Ayat ini menjadi pengingat mutlak bahwa merendahkan orang lain dengan dalih apa pun, termasuk candaan merupakan kezaliman.

Lebih lanjut, Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sebuah hadis riwayat Muslim mengenai esensi seorang Muslim sejati:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya, ia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh merendahkannya, dan tidak boleh menghinakannya...” (HR. Muslim).

Hadis ini menutup celah bagi siapa pun yang menjadikan kehormatan sesama manusia sebagai bahan tertawaan. Lidah yang ringan melontarkan ejekan kepada orang tua atau fisik teman hari ini, adalah bara api yang kelak membakar persaudaraan.



Mari Berubah: Merawat Sekolah Menjadi Taman Kasih Sayang
Pagi di SMAN 1 Sentajo Raya hari ini mengingatkan kita semua baik guru, orang tua, maupun para siswa bahwa perubahan besar bermula dari keberanian untuk menghentikan kebiasaan kecil yang salah.

Sudah saatnya kita membersihkan ruang-ruang kelas dan halaman sekolah dari racun perundungan.

Jadikan setiap lisan penyejuk hati, setiap tegur sapa sebagai bentuk motivasi, dan setiap sudut sekolah sebagai tempat yang aman untuk merajut mimpi bersama. (Coach RR)

“Mari berubah. Semoga dapat dipahami dan dimengerti.”

READ MORE - Menghapus Luka di Balik Kata: Menolak Normalisasi Bullying dalam Lorong-Lorong Sekolah
Coach RR

Investasi Spiritual Anak: Urgensi dan Manfaat Membaca Al-Qur'an Sejak Usia Dini

Membentuk Generasi Qur'ani: Tinjauan Manfaat Membaca Al-Qur'an Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis"
Bismillah. Membaca Al-Qur'an setiap hari sejak usia dini memberikan dampak yang luar biasa, baik secara spiritual, psikologis, maupun kognitif.

Kebiasaan ini tidak hanya membentuk karakter anak menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga membekali mereka dengan kecerdasan emosional dan intelektual.


Berikut adalah berbagai manfaat membaca Al-Qur'an sejak usia dini beserta landasannya dari Al-Qur'an dan Hadis:

1. Menumbuhkan Ketenangan Jiwa dan Ketenteraman Hati
Anak-anak yang terbiasa mendengarkan dan membaca Al-Qur'an sejak dini akan memiliki hati yang lebih tenang. Al-Qur'an adalah sumber ketenangan bagi siapa saja yang mendekatinya.

"...(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

2. Mendapatkan Pahala yang Berlimpah dan Keberkahan
Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur'an bernilai pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT. Membiasakan anak membaca Al-Qur'an sejak dini berarti membiasakan mereka menabung amal kebaikan setiap hari.

"Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur'an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal. Aku tidak mengatakan 'Alif Laam Miim' itu satu huruf, melainkan Alif adalah satu huruf, Laam adalah satu huruf, dan Miim adalah satu huruf." (HR. Tirmidzi)


3. Meningkatkan Kecerdasan Kognitif dan Daya Ingat
Proses menghafal, membaca, dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an melatih otak anak untuk fokus, memperkuat daya ingat, serta mempertajam kemampuan berpikir logis dan linguistik.

"Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Al-Qur'an bagaikan rumah runtuh." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengisyaratkan pentingnya mengisi hati dan pikiran anak dengan Al-Qur'an agar jiwa mereka tidak "kosong" atau rapuh.

4. Membentuk Akhlak Mulia dan Karakter Positif
Al-Qur'an berisi tuntunan hidup yang luhur. Anak yang akrab dengan Al-Qur'an akan menyerap nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan penghormatan kepada orang tua.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, beliau menjawab: "Akhlak Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim) — Dengan membaca dan mempelajari Al-Qur'an sejak dini, anak-anak meneladani sumber akhlak terbaik.

5. Menjadi Mahkota Kemuliaan bagi Orang Tua di Akhirat
Pendidikan agama yang diberikan kepada anak sejak dini adalah investasi terbaik bagi orang tua. Membaca dan menghafal Al-Qur'an sejak kecil akan mengantarkan anak untuk memakaikan mahkota kehormatan kepada kedua orang tuanya di hari kiamat kelak.

"Barang siapa membaca Al-Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya yang sinarnya bagaikan cahaya matahari..." (HR. Hakim)


Tips Membiasakan Anak Membaca Al-Qur'an Sejak Dini:


Mulai dari hal kecil: Tetapkan waktu rutin singkat setiap hari (misalnya setelah shalat Maghrib atau Subuh).

Keteladanan orang tua: Anak adalah peniru ulung; mereka akan lebih mudah membaca Al-Qur'an jika melihat orang tuanya juga rajin membaca.

Ciptakan suasana yang menyenangkan: Gunakan metode pembelajaran yang interaktif, penuh pujian, dan hindari paksaan yang berlebihan agar anak mencintai Al-Qur'an dengan kesadaran sendiri.

Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.M.Pd
(Coach RR) 

READ MORE - Investasi Spiritual Anak: Urgensi dan Manfaat Membaca Al-Qur'an Sejak Usia Dini
Coach RR


Menghias Langit dengan Senyum Ayah: Perjalanan Cinta Menuju Baitullah

Bismillah. Di bawah naungan langit suci Mekkah, di mana butiran doa bergemuruh menyentuh Arsy, tersimpan sebuah lukisan keindahan yang tak ternilai harganya.


Menggandeng tangan ayahanda tercinta melangkah di tanah haram, menatap Ka'bah yang megah berdampingan dengan sosok yang dulu menuntun langkah kita sewaktu kecil, adalah sebuah haru biru yang menjelma menjadi nyata.

Bagaimana mungkin kita mampu membalas tetesan peluh, letih lesu, dan pengorbanan beliau dalam membesarkan kita bahkan dengan taruhan nyawa?

Sebagaimana isyarat kasih sayang abadi yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil’.”
(QS. Al-Isra': 24)


Bahkan, dalam sebuah riwayat hadis, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang baktinya kepada sang ibu, dan Nabi pun menegaskan betapa besarnya pengorbanan orang tua.

Menggendong atau menuntun mereka beribadah takkan pernah sanggup melunasi sekelumit pun jasa pengasuhan mereka.

Namun, menghadirkan senyum di wajah senja mereka adalah pintu surga yang terbuka lebar.


Memeluk Mimpi, Menjemput Ridha Ilahi
Tiada balasan yang paling indah bagi seorang ayah selain melihat anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk hati, yang kelak membimbingnya bertamu ke Rumah Allah.

Ketika mata sayu beliau berbinar menatap indahnya Masjidil Haram, dan doa-doa tulus bergetar lembut dari bibirnya yang renta, di sanalah letak kebahagiaan sejati yang takkan bisa dibeli dengan kekayaan dunia manapun.


Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang berhaji dan berumrah adalah delegasi Allah. Jika mereka berdoa kepada-Allah, maka Allah akan mengabulkan doa mereka. Dan jika mereka memohon ampunan kepada-Nya, maka Dia akan mengampuni mereka.”
(HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Mari wujudkan impian mulia ini. Berikan hadiah terindah di sisa usia ayah dan bunda tercinta. Rasakan kehangatan ibadah yang khusyuk, pelayanan prima, serta fasilitas terbaik
bersama:

BERKAH TRAVEL Perwakilan Kota Teluk Kuantan Kab. Kuansing, Riau


Lihatlah senyum kebahagiaan mereka, dan biarkan doa-doa mustajab mengalir deras untuk keselamatan serta keberkahan hidup kita dari lisan suci mereka.


Informasi & Pendaftaran:
Asal Travel: BERKAH TRAVEL Perwakilan Kota Teluk Kuantan
Owner / Pimpinan: Ronaldo Rozalino - Coach RR
WhatsApp: 0853-6355-4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Situs Resmi: s.id/RonaldoRozalino

Salam Baitullah, Allahu Akbar!

READ MORE - Menghias Langit dengan Senyum Ayah: Perjalanan Cinta Menuju Baitullah
Coach RR

Merangkai Senyum di Ujung Usia: Ketulusan Bakti dan Berkah Kesehatan Bersama British Propolis

Merawat Mahkota Usia Senja dengan Cinta, Kesehatan, dan Berkah Illahi
Usia senja bukanlah sebuah senja kala yang membawa kesuraman, melainkan sebuah fajar keemasan tempat berseminya buah kesabaran, doa, dan bakti.

Di masa-masa ketika langkah kaki mulai melambat dan tenaga perlahan menyusut, bakti seorang anak kepada orang tua menjelma menjadi ladang amal yang tiada tara.

Setiap keriput di wajah mereka adalah peta perjuangan, dan senyuman mereka adalah mercusuar kebahagiaan bagi kita yang membersamainya.

Kemuliaan Berbakti dan Menjaga Kesehatan Orang Tua
Islam menempatkan kedudukan orang tua pada posisi yang sangat agung. Berbakti kepada mereka (birrul walidain) adalah salah satu amalan paling dicintai oleh Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...” (QS. Al-Isra': 23)

Merawat kesehatan fisik mereka di sisa usia senjanya adalah bagian dari manifestasi kasih sayang tersebut.

Ketika fisik mereka mulai renta, memberikan asupan dan suplemen terbaik yang menyehatkan seperti British Propolis (BP) untuk menjaga imunitas dan stamina merupakan ikhtiar mulia agar mereka dapat terus beribadah dengan tenang.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga kesehatan sebagai anugerah yang besar, melalui sabdanya:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: ... masa sehatmu sebelum masa sakitmu...” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Dengan menjaga vitalitas tubuh orang tua melalui ikhtiar yang halal, thayyib, serta tersertifikasi (BPOM, MUI, dan Standar Internasional), kita tidak hanya merawat raga mereka, tetapi juga merengkuh keberkahan hidup.


Membangun Usaha yang Memberi Arti Bersama Coach RR
Tidak hanya menghadirkan kebaikan bagi kesehatan keluarga tercinta, perjalanan hidup yang penuh berkah ini juga dapat diperluas melalui langkah berwirausaha.

Membangun kemitraan bisnis yang produktif tidak hanya menambah income, tetapi juga membuka pintu kemandirian ekonomi.

Di bawah bimbingan langsung dari Ronaldo Rozalino (Coach RR) seorang Teacherpreneur, Motivator, Writer, dan Business Owner Leader serta didukung oleh para ulama dan ustadz nan saleh, perjalanan bisnis ini dirajut di atas nilai-nilai kejujuran, kebersamaan, dan orientasi ukhuwah

(Sehat Bersama, Sukses Bersama).

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruqutni)

Mari jadikan setiap langkah ikhtiar kita sebagai jembatan kebaikan, mendulang kesehatan bagi orang tersayang, serta merintis kesuksesan dunia dan akhirat.

Informasi, Pemesanan, dan Kemitraan:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Situs Resmi: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Merangkai Senyum di Ujung Usia: Ketulusan Bakti dan Berkah Kesehatan Bersama British Propolis
Coach RR

Menyalakan Semangat Kepanduan: Kontingen Hizbul Wathan Mu'allimin Teluk Kuantan Ukir Prestasi Gemilang di Kemah Akbar Riau

Pekanbaru dipenuhi semangat membara tatkala ratusan pelajar kader Muhammadiyah berkumpul dalam ajang Kemah Akbar Hizbul Wathan (HW) Tingkat Provinsi Riau.

Dr. H. Ahdanan Shaleh selaku pembina dan pimpinan rombongan, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Bumi Perkemahan MIM 1 Rumbai, Pekanbaru, acara ini menjadi wadah strategis untuk menempa kedisiplinan, kemandirian, serta jiwa kepemimpinan generasi muda.

Selanjutnya Ahdanan Shaleh mengatakan tidak ketinggalan, Kepanduan Hizbul Wathan Perguruan Mu'allimin Muhammadiyah Teluk Kuantan turut ambil bagian dengan mengirimkan delegasi terbaiknya dari MI Muhammadiyah dan SMP Muhammadiyah 1 Teluk Kuantan kata.

Buah Manis dari Ketekunan dan Kerja Sama
Keikutsertaan kontingen Teluk Kuantan bukan sekadar memeriahkan suasana, melainkan membawa pulang hasil yang sangat membanggakan.

Berkat kerja keras, kekompakan, dan latihan intensif, siswa-siswi MI dan SMP Muhammadiyah 1 Teluk Kuantan sukses memborong berbagai gelar juara dalam rangkaian perlombaan yang diselenggarakan.


Capaian luar biasa ini terlihat jelas dari senyum sumringah para peserta bersama deretan piala kemenangan yang berjejer rapi pada dokumentasi kegiatan.

Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan karakter dan keterampilan kepanduan di lingkungan Perguruan Mu'allimin Muhammadiyah Teluk Kuantan berjalan dengan sangat baik dan efektif kata Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag.,M.Pd Pimpinan Rombongan yang juga sebagai Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau.

Nilai Islam dalam Jiwa Kepanduan
Semangat juang dan kerja keras yang ditunjukkan oleh para kader Hizbul Wathan sejalan dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an agar umat Islam senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan:

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (ke hadirat-Nya). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Al-Baqarah: 148)

Selain itu, Rasulullah SAW juga selalu menekankan pentingnya memiliki kekuatan, keterampilan, dan semangat pantang menyerah dalam diri seorang Muslim, sebagaimana sabda beliau:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan..."
(HR. Muslim)

Ahdanan Shaleh mengatakan melalui kegiatan kepanduan Hizbul Wathan, para pelajar tidak hanya dilatih secara fisik dan mental, tetapi juga dibentuk agar memiliki ketangguhan ruhani, berakhlak mulia, serta siap menjadi kader yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Menyongsong Masa Depan yang Berkemajuan
M. Rizki Lazuardi, M.Pd Pimpinan Perguruan Mu'allimin Muhammadiyah Teluk Kuantan menyampaikan apresiasi mendalam serta rasa bangga yang luar biasa kepada seluruh peserta didik, pembina, dan pendamping yang telah berjuang mengharumkan nama sekolah.

Diharapkan, prestasi gemilang ini tidak membuat cepat berpuas diri, melainkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh peserta didik untuk terus mengasah potensi diri, aktif berorganisasi, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Hizbul Wathan dalam keseharian. (Coach RR)

Perguruan Mu'allimin Muhammadiyah Teluk Kuantan
Berprestasi, Berkarakter, dan Berkemajuan!

READ MORE - Menyalakan Semangat Kepanduan: Kontingen Hizbul Wathan Mu'allimin Teluk Kuantan Ukir Prestasi Gemilang di Kemah Akbar Riau
Coach RR

Menyelami "Dampak Positif Menjadi Guru Malas": Seni Menjaga Ketenangan Hati dalam Perspektif Islam

Bismillah. Makin dewasa seseorang, biasanya kesadaran batin pun kian meningkat. Kita mulai menyadari bahwa tidak semua hal di dunia ini harus ditanggapi.

Tidak semua omongan perlu dibalas, tidak setiap perdebatan wajib dimenangkan, dan tidak semua urusan orang lain harus kita campuri.

Pilihan untuk diam sering kali disalahartikan sebagai tanda kekalahan, dan sikap menjauh dianggap sebagai wujud ketakutan.

Padahal, itu semua adalah bentuk ikhtiar sadar seseorang untuk menjaga ketenangan jiwanya sendiri.

Fenomena ini selaras dengan pesan bijak :

"Jadilah salah satu orang malas, malas ribut, malas debat, malas gampang percaya sama orang, dan malas ikut campur urusan orang lain, relax, that's a choice."

Sisi Lain "Guru Malas": Ketika Karya Dinilai Negatif
Dalam dunia kerja, dinamika sosial tentu sangat beragam. Ironisnya, ketika seseorang telah berusaha berbuat, berkarya, bergerak, dan berkolaborasi demi kemajuan.

Justru ada kalanya muncul label atau perkataan miring dari rekan sejawat seperti sebutan "guru malas".

Pertanyaannya, pantaskah perkataan yang menjatuhkan seperti itu dilontarkan di depan publik, misalnya di dalam grup WhatsApp, tanpa memikirkan atau memperhitungkan perasaan orang lain?

Tentu hal ini menjadi bahan refleksi mendalam. Lisan pada hakikatnya adalah cermin hati; apa yang keluar dari lisan seseorang, itulah gambaran isi hatinya.

Rasulullah SAW bahkan pernah mengingatkan umatnya melalui sebuah hadis yang mulia:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau sebaiknya diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas mengajarkan kita bahwa "kemalasan" untuk berdebat kusir dan melontarkan kata-kata buruk adalah sebuah bentuk kehati-hatian yang bernilai ibadah.

Perspektif Al-Qur'an dan Al-Hadits tentang Menjaga Lisan dan Ketenangan Diri
Islam sangat memuliakan umatnya yang mampu mengelola emosi, menjaga lisan, serta menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat.

Berikut adalah beberapa panduan dari Al-Qur'an dan Al-Hadits:

1. Menghindari Perdebatan Sia-sia
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an mengenai ciri-ciri hamba-hamba Allah yang penyayang (Ibadurrahman):

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”
(QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini menginspirasi kita untuk bersikap "malas" meladeni provokasi atau perdebatan kosong dari orang-orang yang tidak memahami esensi kedamaian.

2. Keutamaan Meninggalkan Debat Meski Benar
Bahkan, Rasulullah SAW menjamin sebuah rumah di surga bagi seseorang yang menghindari perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar:

“Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar...”
(HR. Abu Dawud)

3. Menjauhkan Diri dari Urusan yang Tidak Bermanfaat
Sifat "malas" ikut campur urusan orang lain juga sejalan dengan sabda Nabi SAW:

“Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak baginya (tidak bermanfaat).”
(HR. Tirmidzi)

Menjaga Mental Tetap Sehat Demi Ridha Allah
Menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga diri adalah kunci utama untuk mempertahankan mental yang tetap sehat di tengah dinamika sosial yang melelahkan.

Mari niatkan setiap langkah dan karya kita untuk mencari ridha Allah semata, bukan ridha manusia. Manusia tempatnya salah dan penilaian mereka kerap berubah-ubah, namun ridha Allah adalah ketenangan yang abadi.

Barakallahu fiikum.
Penulis : Coach RR - Ronaldo Rozalino

READ MORE - Menyelami "Dampak Positif Menjadi Guru Malas": Seni Menjaga Ketenangan Hati dalam Perspektif Islam
Coach RR


Gemilang di Bumi Perkemahan: Ponpes Muhammadiyah Kuantan Singingi Kembali Pertahankan Gelar Juara Umum Kemah Akbar Hizbul Wathan Se-Riau

PEKANBARU – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Pondok Pesantren Muhammadiyah Kuantan Singingi.

Dalam ajang bergengsi Perkemahan Akbar Kepanduan Hizbul Wathan tingkat SMP/MTs se-Provinsi Riau, mereka sukses mempertahankan gelar JUARA UMUM!

Kegiatan akbar ini diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Kepanduan Hizbul Wathan Riau pada tanggal 30 Oktober sampai dengan 1 November 2026, bertempat di Bumi Perkemahan MIM 1 Pekanbaru.

Keberhasilan membawa pulang piala Juara Umum serta sejumlah trofi penghargaan ini menjadi bukti nyata atas kesungguhan, kedisiplinan, kerja keras, dan kekompakan para santri.

Buah dari Proses dan Kerja Sama Tim
Prestasi luar biasa ini tentu tidak diraih secara instan. Diperlukan proses latihan yang panjang, pembinaan yang intensif, kerja sama tim yang solid, serta dukungan penuh dari para pembina dan seluruh keluarga besar Ponpes Muhammadiyah Kuantan Singingi.

Kepanduan Hizbul Wathan sendiri merupakan wadah pendidikan karakter yang sangat penting dalam lingkungan Muhammadiyah. Organisasi ini berperan aktif dalam membentuk generasi muda yang:

Beriman dan berakhlak mulia
Disiplin, mandiri, dan terampil
Memiliki jiwa kepemimpinan serta cinta tanah air


Semangat Berprestasi dalam Pandangan Islam
Islam senantiasa mendorong umatnya untuk selalu bersemangat dalam melakukan kebaikan, berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat), serta menggapai prestasi dengan cara yang sungguh-sungguh.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Muthaffirin ayat 26:

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba."

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya memiliki kekuatan, ketrampilan, dan kesungguhan dalam setiap urusan, sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah..." (HR. Muslim)

Keberhasilan para santri Ponpes Muhammadiyah Kuantan Singingi dalam mempertahankan gelar juara ini merupakan cerminan dari semangat fastabiqul khairat dan ketekunan seorang mukmin yang ingin memberikan kemampuan terbaiknya.


Menyongsong Masa Depan yang Berkemajuan
Dengan kembali meraih gelar Juara Umum, Ponpes Muhammadiyah Kuantan Singingi kian menunjukkan komitmen nyatanya dalam melahirkan generasi muda yang unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, serta siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa.

Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh santri untuk terus meningkatkan prestasi, menjaga semangat berkompetisi secara sehat, dan mengamalkan nilai-nilai luhur kepanduan dalam kehidupan sehari-hari. (Coach RR)

Selamat dan sukses untuk seluruh kontingen, pembina, dan keluarga besar Ponpes Muhammadiyah Kuantan Singingi!

Berprestasi, Berkarakter, Berkemajuan!

READ MORE - Gemilang di Bumi Perkemahan: Ponpes Muhammadiyah Kuantan Singingi Kembali Pertahankan Gelar Juara Umum Kemah Akbar Hizbul Wathan Se-Riau
Coach RR
BELAJAR BISNIS WITH COACH RR: Membangun Mindset, Menjemput Peluang, dan Meraih Kesuksesan dengan Nilai-Nilai Islam

Bismillah. Bisnis bukan sekadar tentang bagaimana memperoleh keuntungan, melainkan tentang bagaimana menciptakan kebermanfaatan, membangun kepercayaan, menebarkan kebaikan, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, dunia bisnis terus bergerak dinamis. Peluang hadir silih berganti, teknologi membuka pintu-pintu baru, dan persaingan semakin menuntut kreativitas serta kecerdasan dalam mengambil keputusan. 

Mereka yang ingin bertumbuh tidak cukup hanya mengandalkan keberanian memulai, tetapi juga membutuhkan ilmu, strategi, mentalitas yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar.

Di sinilah pentingnya semangat Belajar Bisnis With Coach RR – Ronaldo Rozalino.

Sebuah ajakan untuk membuka cakrawala berpikir, menumbuhkan jiwa kewirausahaan, mengembangkan potensi diri, serta membangun bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai moral, etika, dan spiritualitas.

Bisnis Dimulai dari Mindset dan Keberanian untuk Belajar
Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Begitu pula dalam membangun bisnis. 

Tidak semua orang dilahirkan dengan kemampuan berwirausaha, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan memperbaiki kualitas dirinya.
Mindset seorang pebisnis tidak dibangun dalam semalam. 

Ia tumbuh melalui pengalaman, ketekunan, keberanian menghadapi kegagalan, serta kemampuan membaca peluang.

Orang yang memiliki mentalitas bertumbuh tidak menjadikan kegagalan sebagai akhir perjalanan. Sebaliknya, kegagalan dipandang sebagai ruang pembelajaran untuk menemukan cara yang lebih baik.

Allah SWT berfirman:
"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39).

Ayat ini mengajarkan bahwa usaha merupakan bagian penting dari perjalanan manusia. Impian tidak cukup hanya disimpan dalam angan-angan. Ia membutuhkan ikhtiar, kesungguhan, doa, dan tawakal.

Karena itu, belajar bisnis berarti belajar mengenali potensi diri, mengasah kemampuan, serta mengubah kesempatan menjadi karya yang bernilai.

Strategi Bisnis: Mengubah Peluang Menjadi Kebermanfaatan
Peluang bisnis sesungguhnya berada di sekitar kehidupan kita. Ada kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi, ada persoalan yang membutuhkan solusi, dan ada kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha.

Namun, peluang tanpa strategi ibarat perahu yang berlayar tanpa kompas. Bergerak, tetapi tidak mengetahui arah tujuan.

Seorang pebisnis perlu memahami beberapa hal mendasar, antara lain:
Mengenali kebutuhan pasar. Memahami persoalan dan kebutuhan masyarakat sebelum menawarkan produk atau jasa.

Membangun kualitas produk. Menghadirkan sesuatu yang memiliki nilai, mutu, dan manfaat.
Mengembangkan pemasaran digital. 

Memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk memperluas jangkauan usaha.

Mengelola keuangan. Memisahkan keuangan pribadi dan bisnis serta membangun kebiasaan pengelolaan yang disiplin.

Menjaga hubungan pelanggan. Menjadikan kepercayaan sebagai fondasi keberlanjutan usaha.

Dalam perspektif Islam, aktivitas bisnis merupakan bagian dari ikhtiar mencari rezeki yang halal.

Allah SWT berfirman:
"Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung."
(QS. Al-Jumu'ah: 10).

Pesan ayat tersebut memberikan keseimbangan yang indah: bekerja keras mencari karunia Allah, tetapi tidak melupakan-Nya. 

Kesibukan dunia tidak boleh membuat manusia kehilangan arah akhirat.
Integritas dan Kejujuran: Modal Termahal Seorang Pebisnis
Dalam dunia bisnis, keuntungan memang penting. 

Akan tetapi, kepercayaan jauh lebih berharga.
Seseorang mungkin mampu memperoleh keuntungan melalui promosi yang berlebihan, janji yang tidak ditepati, atau kualitas produk yang tidak sesuai kenyataan. 

Namun, keuntungan semacam itu tidak akan melahirkan hubungan jangka panjang.
Islam mengajarkan bahwa perdagangan harus dilandasi kerelaan, kejujuran, dan keadilan.

Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu."
(QS. An-Nisa: 29).

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Penjual dan pembeli memiliki hak memilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan keadaan barang, maka diberkahi jual beli mereka. 

Namun, jika keduanya berdusta dan menyembunyikan sesuatu, dihapuslah keberkahan jual beli mereka."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari besarnya omzet, tetapi juga dari keberkahan yang menyertainya.

Kejujuran adalah investasi yang tidak pernah kehilangan nilainya. Sekali kepercayaan rusak, tidak mudah untuk membangunnya kembali.

Networking dan Kolaborasi: Bertumbuh Bersama, Bukan Berjalan Sendiri
Tidak ada manusia yang mampu berkembang secara maksimal dengan mengandalkan dirinya sendiri. 

Dalam perjalanan bisnis, kita membutuhkan sahabat, mentor, mitra, komunitas, dan lingkungan yang saling mendukung.

Networking bukan sekadar mengumpulkan nomor telepon atau memperbanyak kenalan. Networking adalah seni membangun hubungan, saling menghargai, bertukar pengetahuan, membuka peluang, dan menciptakan kolaborasi yang memberikan manfaat.

Al-Qur'an memberikan landasan penting mengenai semangat saling membantu:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."
(QS. Al-Ma'idah: 2).

Dalam konteks bisnis, ayat ini mengajarkan bahwa kolaborasi hendaknya dibangun di atas nilai kebaikan, kejujuran, dan kemanfaatan bersama.

Jangan takut melihat orang lain berhasil. Keberhasilan orang lain bukan ancaman bagi perjalanan kita. 

Justru, dari keberhasilan mereka, kita dapat belajar, mengambil inspirasi, dan menemukan jalan untuk berkembang.

Sebab, kesuksesan yang bermakna bukan hanya ketika kita mampu berdiri lebih tinggi, tetapi juga ketika kita mampu membantu orang lain untuk ikut bertumbuh.

Belajar Sepanjang Hayat: Investasi yang Tidak Pernah Merugi
Dunia terus berubah. Strategi yang berhasil hari ini belum tentu relevan esok hari. Teknologi berkembang, perilaku konsumen berubah, dan tantangan bisnis semakin kompleks.

Karena itu, seorang pebisnis harus memiliki semangat pembelajar sepanjang hayat.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."

(HR. Muslim, No. 2699).
Hadis ini memberikan motivasi bahwa mencari ilmu merupakan perjalanan yang mulia. Belajar bisnis bukan hanya tentang memahami cara mendapatkan uang, melainkan juga tentang membangun karakter, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan untuk memberikan manfaat.

Jangan pernah merasa terlalu hebat untuk belajar. Jangan merasa terlalu tua untuk memulai. Dan jangan merasa terlalu kecil untuk memiliki impian besar.

Selama masih ada kemauan untuk memperbaiki diri, selalu ada kesempatan untuk bertumbuh.

Coach RR: Belajar, Bertumbuh, dan Berbagi Inspirasi
Melalui semangat Belajar Bisnis With Coach RR, Ronaldo Rozalino mengajak masyarakat untuk membangun pola pikir produktif, menumbuhkan keberanian berwirausaha, memperluas wawasan, serta mengembangkan potensi diri.

Belajar bisnis bukan berarti semua orang harus menjadi pengusaha besar. Lebih dari itu, setiap orang perlu memiliki kemampuan melihat peluang, menciptakan nilai tambah, mengelola sumber daya, dan membangun kemandirian.

Ada empat semangat yang menjadi fondasi perjalanan ini:
Strategi Bisnis yang Terarah: belajar merancang dan mengembangkan usaha dengan perencanaan yang matang.

Mindset Pebisnis yang Tangguh: membangun keberanian, disiplin, konsistensi, dan daya juang.

Tips Praktis untuk Berkembang: mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata.
Networking dan Kolaborasi: memperluas relasi serta menciptakan peluang melalui kebersamaan.

Pada akhirnya, bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan, tetapi bisnis yang memberikan solusi, membuka kesempatan, memberdayakan sesama, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan.

Jangan Hanya Bermimpi, Mulailah Bertumbuh!
Hidup adalah perjalanan pembelajaran yang tidak pernah selesai. 

Setiap hari memberikan kesempatan untuk memperbaiki langkah, memperluas wawasan, dan menciptakan sesuatu yang lebih bermakna.

Jangan menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Jangan menunggu memiliki modal besar untuk belajar. 

Sebab, modal terbesar seorang pembelajar adalah kemauan, kejujuran, keberanian, dan kesungguhan untuk terus berproses.

Ingatlah, bisnis yang hebat tidak selalu lahir dari modal yang besar. Ia dapat tumbuh dari gagasan sederhana, dikerjakan dengan konsisten, dikelola dengan ilmu, dibangun melalui kepercayaan, dan disertai doa kepada Allah SWT.

Upgrade Skill, Bangun Bisnis, Raih Kesuksesan!
Mari belajar bersama, bertumbuh bersama, dan membangun masa depan dengan semangat kewirausahaan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Karena sejatinya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu kita tinggalkan.

Jadilah pribadi yang terus belajar, pebisnis yang menjunjung kejujuran, dan manusia yang kehadirannya membawa keberkahan.

H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.M.Pd 
Coach RR
(Teacherpreneur • Writer • Motivator Literation & Education • Content Creator • Business Owner Leader • Composer & Arranger • Coach) 

Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site: s.id/RonaldoRozalino

Coach RR – Belajar, Bertumbuh, Berbagi, dan Menginspirasi.

Profil Bisnis & Kompetensi
*Owner Toko Jembatan Merah Sejak 1983
*Owner Berkah Travel Umroh & Haji
Perwakilan Kota Teluk Kuantan
*Owner Leader Madu Hutan Murni Madu Vicella Berlabel Halal Nasional
*Owner VDF - Vicella Drink & Food
*Leader Entrepreneur British Propolis
*Penulis Puluhan Buku ISBN
*Owner Leader Komunitas Budaya Sanggar Seni Kuantan Mekar
*Pemegang 21 Certified Non AkaMekar
Dll


READ MORE - BELAJAR BISNIS WITH COACH RR: Membangun Mindset, Menjemput Peluang, dan Meraih Kesuksesan dengan Nilai-Nilai Islam
Coach RR
MEMOTRET CARA ULAMA DALAM MEMBACA
(Pelecut Semangat Bagi Kita Kader Peryarikatan) 
Dr. Khairul Fiitrah, MSc, Ak CA, CPA


Ada rahasia menarik yang menjelaskan mengapa ulama-ulama Islam terdahulu begitu produktif dalam kepenulisan.

Salah satunya adalah mereka memanfaatkan waktunya untuk membaca buku.

Hal itu dilakukan bukan saja saat luang, namun ketika dalam menghadiri undangan, saat sedang berjalan bahkan sakit pun disempatkan untuk membaca buku.

Kisah-kisah inspiratif itu bisa dibaca dalam buku Abdul Fattah Abu Ghaddah yang berjudul “Qīmah al-Zamān ‘Inda al-Ulamā” (1988). Sosok kenamaan seperti Tsa’lab, Imam Nawawi, Syeikh Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Malik, Adz-Dzahabi dan lain sebagainya, disebutkan sebagai ulama yang ‘gila baca’ buku.

Di antara mereka ada yang tidak pernah lepas dari buku. Ahmad bin Yahya asy-Syaibani yang lebih dikenal dengan Tsa’lab (200-291 H) tidak pernah terpisah dari buku ajarnya. Ulama yang dikenal ahli dalam bahasa Arab ini ketika diundang untuk menghadiri acara, beliau memberi syarat agar di depan tempat duduknya disediakan semacam meja untuk membaca buku. Beliau tidak mau waktunya terbuang sia-sia.

Kabarnya, yang cukup mengharukan, sebab wafatnya beliau adalah saat membaca buku di jalan. Waktu itu, pendengarannya agak terganggu. Ketika ada kendaraan kuda lewat, ia sama sekali tak mendengarnya hingga tertabrak dan terpental jatuh ke suatu lubang. 

Ketika diangkat kondisinya tak sadar. Beliau sempat mengeluhkan sakit kepala. Kemudian, hari kedua pasca kecelakaan beliau meninggal dunia.

Imam al-Khathīb al-Baghdady pun demikian. Saat sedang berjalan dia tak lupa memanfaatkan waktunya untuk membaca buku. Ulama pakar Nahwu seperti Abu Yusuf Ya’qub bin Kharzad al-Nujayrimy juga melakukan hal yang sama. 

Dikisahkan bahwa beliau saat berjalan menuju Qarafah, ia memegang buku. Perjalanannya diisi dengan membaca buku.

Ketika para ulama tak mampu atau berkesempatan membaca secara langsung, maka mereka meminta untuk dibacakan buku. 

Imam Adz-Dzahabi dalam buku “Tadzkirah al-Huffādz” menceritakan kisah menarik terkait Hafidz Abu Nu’aim al-Ashfahāny. Ulama pakar hadits dan sejarah itu sangat hobi membaca buku. Setiap hari ada orang yang membacakannya buku hingga menjelang zuhur. Saat pulang ke rumah pasca zuhur pun beliau juga dibacakan buku. 

Menariknya, beliau sama sekali tidak bosan mendengarnya.

Lebih menarik dari itu, kakek Ibnu Taimiyah, Majduddin Abu al-Barakat ketika memasuki toilet (WC), dia meminta pada anaknya (ayah Ibnu Taimiyah), “Bacakanlah untukku pada halaman ini dan keraskan suaramu supaya aku bisa mendengar.” 

Luar biasa, bahkan di tempat pembuangan hajat pun beliau tidak mau ketinggalan menyerap ilmu dari buku dengan cara dibacakan oleh anaknya.

Sementara itu, ulama lain seperti Ibnu Malik (Ulama Pakar Nahwu) membagi kegiatannya jika tidak shalat, membaca, menulis, maka selebihnya untuk membaca buku. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat disiplin dalam menjaga waktunya. Kabarnya, di saat-saat menjalang ajal pun beliau gunakan untuk menerima ilmu. Suatu hari, beliau bersama sahabat-sahabatnya sedang melakukan safar/perjalanan. Ketika sudah sampai di tempat tujuan, segera ia menyingkir dari mereka tanpa disadari oleh mereka. Setelah dicari ke sana kemari, rupanya beliau sedang asyik bercengkrama dengan buku.

Pembaca mungkin juga tidak asing dengan sosok ulama kenamaan Ibnu Al-Jauzy. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam menulis buku. Seleranya untuk membaca buku sedemikian tinggi. Ia tidak pernah merasa kenyang dalam menelaah buku. Ketika beliau menjumpai buku yang belum pernah dilihat, maka seolah-olah sedang menemukan harta karun.

Imam besar lain seperti An-Nawawi juga sangat antusias dalam membaca buku. Abu Hasan al-Aththar (salah seorang muridnya) memberi kesaksian bahwa Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya baik beriring penjelasan maupun koreksi.

Bahkan dari figur Syeikh Ibnu Taimiyah pun, pembaca bisa menemukan semangat yang sama dalam membaca buku. 

Beliau ini dikenal sebagai ulama yang produktif menulis dan cepat. Dikisahkan bahwa untuk menulis bantahan pada orang-orang pakar manthiq (logika) Yunani, beliau selesaikan dari ba''da zuhur hingga ashar. Tidak mengherankan karena beliau adalah orang yang suka baca buku.

Ketika ditanya mengenai produktifitasnya dalam menulis buku, adalah karena beliau tidak pernah terpisah dari menelaah, membaca dan membicarakan ilmu baik ketika sakit maupun bepergian. 

Ibnu Qayyim dalam buku “Raudhah al-Muhibbin” bercerita bahwa suatu hari Ibnu Taimiyah sakit. Oleh dokter disarankan agar mengurangi kegiatannya dalam bidang keilmuan dan membaca buku karena itu bisa memperparah sakit.

Apa jawaban Ibnu Taimiyah? Katanya, “Aku tak kuat menahan diri dari itu. Sekarang aku tanya berdasarkan keilmuanmu: bukankah kalau jiwa gembira maka berpengaruh positif pada kekuatan tabiat (kesehatannya)?” “Betul,” dokter. “Demikian juga aku. Aku sangat senang dan gembira dengan ilmu, aku merasa kuat dan rileks dengannya,” ujar Ibnu Taimiyah. Kata dokter, “Berarti ini di luar pengobahtan kami.”

Itulah beberapa contoh yang menunjukkan bahwa ulama sangat antusias dalam membaca buku. Dan itu juga sebagai salah satu jawaban atas produktifitas mereka dalam bidang kepenulisan.
Demikianlah para ulama. Mereka bisa produktif menulis dan berbagi ilmu kepada umat karena mereka punya bahannya, yang salah satunya diperoleh dengan rajin membaca buku. Sebab, kalau sekiranya mereka tak punya bahan, bagaimana bisa menulis dan berbagi ilmu. Seperti ungkapan Arab “Fāqidu asy-Syai` lā yu’thīhi” (orang yang tidak punya sesuatu, maka tak mungkin bisa memberi orang lain sesuatu).

Bagaimana dg kita hari ini ? berapa banyak buku dirumah kita? Sudahkah kita berupaya untuk mengumpulkan buku dan membacanya?? Semoga kita semua bagian dari org2 yg cinta dengan ilmu pengetahuan, Amiin. 
Wassalam !!!
READ MORE - MEMOTRET CARA ULAMA DALAM MEMBACA (Pelecut Semangat Bagi Kita Kader Peryarikatan) Dr. Khairul Fiitrah, MSc, Ak CA, CPA

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777