Menuju Pentas Nasional: Siswa SMPN 3 Teluk Kuantan Bidik Prestasi di Ajang OSN-K Tahun 2026
TELUK KUANTAN — Semangat kompetisi di bidang sains kembali membakar motivasi para pelajar di seluruh pelosok negeri. Pada Kamis (11/6/2026), ajang bergengsi Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kabupaten/Kota (OSN-K) Tahun 2026 resmi digelar secara serentak di seluruh Indonesia.
Di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, SMP Negeri 3 Teluk Kuantan menjadi salah satu saksi perjuangan talenta muda yang siap bertarung memperebutkan tiket menuju tingkat provinsi.
Berbeda dengan pelaksanaan konvensional, seleksi OSN-K 2026 ini memanfaatkan kemajuan teknologi melalui sistem daring (online) penuh. Bertempat di laboratorium sekolah, para peserta fokus menyelesaikan untaian soal-soal tingkat tinggi yang menguji logika serta pemahaman sains yang mendalam.
Seluruh rangkaian pengerjaan pun dipantau ketat secara nasional melalui sistem live streaming guna memastikan transparansi dan integritas kompetisi.
Pada edisi tahun ini, kebanggaan besar tertuju kepada Ghina Rizqullah, siswi tangguh perwakilan SMP Negeri 3 Teluk Kuantan yang bertarung di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Dengan persiapan matang yang menguras energi dan konsentrasi selama berbulan-bulan, Ghina mantap melangkah menyongsong kompetisi intelektual bergengsi ini.
Sinergi Pembimbingan dan Dukungan Penuh Sekolah
Keberhasilan melaju ke tahap OSN-K ini tidak terlepas dari tangan dingin tim guru pembimbing yang solid. Di balik performa akademis Ghina yang mumpuni, terdapat jajaran pendidik andal yang setia mengawal proses belajar, yaitu Ibu Susri Indrawati, S.Pd., Ibu Wika Oktaviani, S.Pd., dan Ibu Jannatul Hasanah, S.Pd. Sinergi ketiganya dalam menyusun program pengayaan materi dan latihan soal menjadi pondasi kokoh bagi kesiapan sang siswi.
Pelaksanaan ujian daring ini juga dipantau langsung oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Teluk Kuantan, Ibu Elli Rosmidar Harahap, S.Pd., MM., bersama pengawas ruang. Kehadiran pimpinan sekolah secara langsung memberikan suntikan motivasi tersendiri bagi Ghina untuk mencurahkan seluruh kemampuan terbaiknya.
"Teruslah berprestasi, jangan pernah berhenti belajar dan berusaha. Jadikan setiap tantangan sebagai langkah menuju masa depan yang gemilang. Kami bangga atas prestasimu! Semoga keberhasilan ini menjadi awal dari pencapaian-pencapaian besar berikutnya. Teruslah membawa nama baik sekolah, keluarga, dan daerah kita tercinta. Berprestasi hari ini, pemimpin masa depan!" — Elli Rosmidar Harahap, S.Pd., MM. (Kepala SMPN 3 Teluk Kuantan)
Harapan Besar Bagi Masa Depan Daerah
Ajang OSN-K 2026 ini bukan sekadar tentang memperebutkan medali atau predikat juara. Lebih dari itu, pihak sekolah berharap keikutsertaan dalam kompetisi tingkat nasional ini mampu menjadi sarana strategis dalam memperluas cakrawala pengalaman siswa, mempertajam kompetensi di bidang sains, serta menumbuhkan karakter tangguh yang siap bersaing di era global.
Seluruh keluarga besar SMP Negeri 3 Teluk Kuantan dan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi kini menaruh harapan besar dan doa terbaik. Prestasi gemilang dari Ghina Rizqullah diharapkan mampu menjadi pemantik prestasi-prestasi baru lainnya, serta mengharumkan nama Kabupaten Kuantan Singingi di level Provinsi Riau hingga menembus kancah nasional. (RR)
Reportase: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Konten Kreator Riau, Guru Penulis, Bisnis Owner, Coach)
Menjemput Cahaya Sains di Ujung Jemari: Ghina Rizqullah Meniti Langkah Menuju Pentas Nasional
TELUK KUANTAN — Ruang digital dan atmosfer akademik berpadu dalam keheningan yang sarat akan ambisi mulia pada Kamis pagi, 11 Juni 2026. Di salah satu sudut SMP Negeri 3 Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, desau angin seolah menahan napas menyaksikan seberkas asa yang tengah dirajut.
Di sanalah, sebuah helatan bergengsi bertajuk Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kabupaten/Kota (OSN-K) Tahun 2026 berlangsung secara daring sebuah panggung tempat nalar, logika, dan ketekunan diuji secara serentak di seantero nusantara.
Sains bukan sekadar tumpukan rumus kaku yang mati di atas kertas, melainkan sebuah lentera untuk membaca semesta. Semangat inilah yang terpancar nyata dari raut wajah Ghina Rizqullah, siswi tangguh utusan terbaik SMP Negeri 3 Teluk Kuantan yang bertarung di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Menatap layar monitor yang memantulkan untaian soal-soal penuh teka-teki alam, Ghina tidak sendirian. Di balik layar virtual yang terpantau ketat melalui penyiaran langsung (live streaming), detak jantung perjuangannya dikawal penuh oleh doa dan dedikasi seisi sekolah.
Langkah kaki Ghina menembus rimba ilmu pengetahuan ini dibimbing oleh tangan-tangan dingin para srikandi pendidikan. Adalah Ibu Susri Indrawati, S.Pd., Ibu Wika Oktaviani, S.Pd., dan Ibu Jannatul Hasanah, S.Pd., triad guru pembimbing yang tanpa lelah mentransfer energi, keyakinan, dan ilmu pengetahuan kepada sang siswi.
Melalui pendampingan yang konsisten, mereka bukan hanya sekadar mengajar, melainkan menanamkan filosofi bahwa setiap helai jawaban adalah ikhtiar untuk menyingkap rahasia kebesaran penciptaan alam semesta.
Kepala SMP Negeri 3 Teluk Kuantan, Ibu Elli Rosmidar Harahap, S.Pd., MM., menyampaikan pesan mendalam yang membakar semangat:
"Teruslah berprestasi, jangan pernah berhenti belajar dan berusaha. Jadikan setiap tantangan sebagai langkah menuju masa depan yang gemilang. Kami bangga atas prestasimu! Semoga keberhasilan ini menjadi awal dari pencapaian-pencapaian besar berikutnya. Teruslah membawa nama baik sekolah, keluarga, dan daerah kita tercinta."
Pelaksanaan OSN-K tahun ini memang menyuguhkan lanskap yang berbeda. Kendati ruang fisik memisahkan para peserta di seluruh penjuru Indonesia, namun jaringan digital menyatukan frekuensi kompetisi dalam satu garis waktu yang sakral.
Di bawah pengawasan ketat dari pihak sekolah dan tim pengawas ruang yang siaga, integritas dan kejujuran dijunjung tinggi sebagai mahkota tertinggi dari sebuah prestasi.
Kehadiran Kepala Sekolah bersama para guru pembimbing dan pengawas di ruang ujian menegaskan dukungan moral yang kokoh. Keberadaan mereka laksana sauh yang menenangkan di tengah badai ujian intelektual yang sedang dihadapi Ghina.
Harapan besar digantungkan tinggi di langit Kuantan Singingi: agar momentum ini tidak hanya melahirkan deretan angka di papan skor, melainkan sebuah lompatan kompetensi, kematangan karakter, serta pengalaman berharga yang akan menempa kepribadian sang peserta.
Ketika mentari mulai bergeser ke barat dan ujian daring resmi berakhir, sejuta doa dirapalkan bersama ke langit-langit beranda sekolah.
Keberhasilan menembus seleksi tingkat kabupaten ini diharapkan menjadi jembatan emas bagi Ghina Rizqullah untuk melaju gagah ke tingkat provinsi, membawa harum nama SMP Negeri 3 Teluk Kuantan, dan memahat prestasi gemilang bagi Kabupaten Kuantan Singingi di panggung nasional.
Sebagaimana bait semboyan yang hari ini bergaung dengan indah: Berprestasi Hari Ini, Pemimpin Masa Depan!
Reportase oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Konten Kreator Riau, Guru Penulis, Business Owner, & Coach)
Langkah Gagah di Bawah Langit Kuansing: Dua Srikandi dan Ksatria SMANSA Sentra Terpilih sebagai Paskibraka 2026
Kuantan Singingi — Gemerlap prestasi kembali menyelimuti ufuk SMA Negeri 1 Sentajo Raya (SMANSA Sentra). Di balik fajar yang menyingsing dan deru semangat kepemudaan yang tak pernah padam, dua tunas bangsa terbaik sekolah ini berhasil mengukir prestasi emas.
Adalah Zaki dan Myiesha, yang dengan keteguhan hati serta disiplin baja, resmi terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2026.
Kabar bahagia ini disambut dengan rasa syukur mendalam dan sujud syukur oleh seluruh keluarga besar sekolah. Perjuangan panjang melewati seleksi yang ketat, memeras keringat di bawah terik matahari, menguji ketahanan fisik, mental, serta wawasan kebangsaan, akhirnya berbuah manis.
Keduanya dinilai layak memikul amanah mulia: mengibarkan Sang Saka Merah Putih di hari bersejarah kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kabupaten Kuansing.
Kepala SMAN 1 Sentajo Raya, Drs. Afrizal, tak mampu menyembunyikan rasa bangga dan harunya atas pencapaian gemilang anak didiknya tersebut. Baginya, kelulusan Zaki dan Myiesha bukan sekadar prestasi individu, melainkan simbol bahwa komitmen sekolah dalam membentuk karakter kepemimpinan, disiplin, dan nasionalisme telah berjalan di jalur yang benar.
"Alhamdulillahirabbil'alamin. Tiada kata yang paling indah selain rasa syukur kita kepada Allah SWT. Selamat kepada ananda Zaki dan Myiesha yang telah mengharumkan nama sekolah di tingkat kabupaten. Ini adalah buah dari kerja keras, doa orang tua, serta bimbingan yang tulus dari para majelis guru. Jagalah nama baik sekolah, jadilah teladan, dan kibarkanlah Sang Merah Putih dengan penuh dedikasi serta kehormatan."
— Drs. Afrizal, Kepala SMAN 1 Sentajo Raya
Menjadi seorang Paskibraka bukan sekadar tentang baris-berbaris atau keselarasan langkah kaki di lapangan upacara. Lebih dari itu, ia adalah sebuah pengabdian suci, sebuah representasi dari semangat cinta tanah air yang kokoh terpatri di dalam dada.
Zaki dan Myiesha kini memikul asa ribuan siswa SMANSA Sentra untuk melangkah tegap, menatap masa depan, dan membuktikan bahwa pemuda daerah mampu berdiri di barisan terdepan dalam menjaga kehormatan bangsa.
Selamat bertugas, Zaki dan Myiesha! Kibarkan sayap prestasimu setinggi langit, kepakkan sayap pengabdianmu sedalam samudera, dan biarkan Sang Merah Putih berkibar megah di bawah asuhan langkah gagahmu di Bumi Pacu Jalur Kuantan Singingi.
Reportase & Esai Oleh:
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Purna Paskibraka Indonesia [PPI] Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis, Guru Konten Kreator Riau, Guru SMAN 1 Sentajo Raya, Business Owner, Coach)
Goresan Pena Emas Rahma Maulidia: Dari Sentajo Raya, Menuju Panggung Jurnalistik Riau
Bismillah. Di balik riuh rendahnya dunia yang kerap bising oleh suara, ada sunyi yang melahirkan makna. Sunyi itu kini menjelma menjadi bait-bait berita dan opini yang tajam, lahir dari jemari lentik seorang dara muda bernama Rahma Maulidia.
Siswa berbakat dari SMAN 1 Sentajo Raya ini baru saja menorehkan tinta emas. Ia berhasil menobatkan dirinya sebagai Juara 1 Jurnalistik FLS3N Tingkat SMA se-Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Tahun 2026.
Sebuah pencapaian yang tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga menjadi bukti bahwa dari sudut bumi pacu jalur, lahir para jurnalis masa depan yang kritis dan berhati hangat.
Merajut Aksara, Menembus Batas
Bagi Rahma, menulis bukan sekadar merangkai kata di atas kertas kosong. Menulis adalah cara ia berbicara kepada dunia, merekam realitas, dan menyuarakan kebenaran yang kerap terabaikan. Melalui ketajaman pena dan kedalaman analisisnya, ia mampu memikat hati para dewan juri FLS3N tahun ini.
Keberhasilan ini tentu tidak tumbuh di ruang hampa. Di balik ketukan jemari Rahma pada keyboard, ada bimbingan hangat yang penuh kesabaran dari sang mentor, Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. Di bawah asuhan tangan dinginnya, bakat mentah Rahma diasah bak permata, hingga kilaunya mampu memikat panggung kabupaten.
Dukungan penuh juga mengalir deras dari pucuk pimpinan SMAN 1 Sentajo Raya. Kepala Sekolah, Drs. Afrizal, menyampaikan rasa bangga yang tak terhingga atas dedikasi dan prestasi yang diraih anak didiknya tersebut. Bagi beliau, prestasi ini adalah lentera pemantik semangat bagi siswa-siswi lainnya untuk terus berkarya.
Menatap Riau, Mengetuk Pintu Langit
"Satu langkah besar telah terlampaui, namun bentangan samudera perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai."
Kini, Rahma Maulidia tengah bersiap untuk melangkah lebih jauh. Ia akan membawa nama harum Kuansing ke gelanggang yang lebih luas: Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Provinsi Riau.
Perjalanan ini tentu tidak mudah. Jalan di depan akan dipenuhi oleh para perajut aksara terbaik dari berbagai sudut Bumi Lancang Kuning. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, Rahma beserta keluarga besar SMAN 1 Sentajo Raya mengetuk pintu hati masyarakat Kuansing.
"Mohon doa dan restu dari seluruh masyarakat Kuantan Singingi. Semoga langkah Rahma dimudahkan, mampu memberikan yang terbaik di tingkat provinsi, dan membawa pulang tiket menuju tingkat Nasional. Aamiin ya Rabbal 'Alamin."
Mari kita kawal bersama langkah sang pembawa kabar dari Sentajo Raya ini. Semoga penanya terus tajam, pikirannya terus jernih, dan langkahnya selalu dinaungi keberkahan.
#juara1jurnalistik #sman1sentajoraya #fls3n #rahmamaulidia #gurupembimbing
@GKK RIAU @bgtkprovinsiriau @Forumliterasi Kuansing @sman1 sentajoraya
Menyemai Benih di Hari Pertama: Hindari 8 Kekhilafan Guru Saat Gerbang Sekolah Mulai Terbuka
Bismillah. Minggu pertama sekolah selalu menyimpan aroma yang khas: wangi buku baru, gemerisik seragam yang masih kaku, dan gemuruh riuh di koridor-koridor kelas.
Bagi seorang guru, momen ini adalah fajar dari sebuah perjalanan panjang selama satu tahun ke depan. Di sinilah batu penjuru diletakkan.
Namun, acapkali dalam antusiasme yang membubung atau kecemasan yang menyelinap, beberapa kekhilafan klasik kerap dilakukan—baik oleh jemari guru pemula maupun mereka yang rambutnya telah memutih di dunia pendidikan.
Ketika fondasi di minggu pertama retak, maka sepanjang tahun ajaran, ruang kelas bisa menjelma menjadi labirin yang melelahkan.
Berikut adalah delapan kesalahan yang kerap kasatmata, bersanding dengan lentera solusi untuk merawat ruang kelas agar tumbuh menjadi taman belajar yang dirindukan.
1. Merajut Jaring Tirani: Terlalu Banyak Aturan Sekaligus
Ketika lonceng pertama berdentang, tidak sedikit guru yang langsung menjelma menjadi "diktator" legalistik. Mereka membacakan puluhan baris tata tertib seolah sedang membacakan maklumat perang.
Alih-alih tertib, jiwa-jiwa muda di hadapan mereka justru merasa terhimpit dan dilingkupi rasa takut sebelum sempat melangkah.
Lentera Solusi: Cukup tawarkan tiga hingga lima pilar aturan besar yang bernafaskan saling menghormati, tanggung jawab, dan keselamatan. Biarkan prosedur teknis lainnya dialirkan bagai air, dikenalkan satu demi satu secara bertahap dalam tiga hari pertama.
2. Tergesa Mengetuk Pintu Akal, Melupakan Pintu Hati
Ada sekat tebal yang terbangun ketika seorang pendidik langsung membuka Bab 1 buku teks di hari pertama, tanpa sudi menyapa pemilik wajah-wajah baru di hadapannya.
Pembelajaran yang dipaksakan melaju tanpa ikatan emosional hanya akan melahirkan kejenuhan yang prematur. Siswa akan merasa diri mereka sekadar angka, bukan manusia.
Lentera Solusi: Sisihkan separuh waktu di minggu pertama untuk merajut kedekatan. Hadirkan permainan pemecah kebekuan (ice breaking), selami minat mereka, dan lakukan asesmen diagnosis yang dikemas dengan riang. Biarkan mereka jatuh cinta terlebih dahulu pada atmosfer kelasmu.
3. Menghapus Identitas dalam Anonimitas
"Kamu yang di pojok belakang," atau "Si baju biru." Kalimat-kalimat ini adalah belati kecil yang melukai harga diri siswa. Gagal mengingat nama mereka di awal pertemuan adalah bentuk pengabaian tak kasat mata yang membuat siswa merasa keberadaannya tidak berharga.
Lentera Solusi: Nama adalah seuntai doa dan identitas tertinggi seseorang. Gunakan kartu nama di meja, buatlah jurnal foto, atau mainkan gim lempar bola pengingat nama. Pancangkan tekad untuk menghafal minimal separuh dari jumlah jiwa di kelasmu pada hari pertama.
4. Menitah Tanpa Mencontohkan Prosedur
Mengatakan "Jika ingin ke belakang, angkat tanganmu" tidak akan pernah cukup. Ketika guru hanya memberi tahu tanpa pernah melatihnya, maka di minggu kedua, kekacauan akan mengetuk pintu kelas saat ritme pelajaran mulai meninggi.
Lentera Solusi: Didiklah tubuh mereka untuk mengingat, bukan hanya telinga. Lakukan simulasi bersama. Praktikkan bagaimana cara mengetuk pintu, bagaimana mengangkat tangan untuk bertanya, hingga bagaimana berpindah barisan dengan anggun.
5. Menjadi Bunglon yang Berganti Rupa di Hari Kedua
Kehangatan yang luar biasa di hari Senin, yang tiba-tiba berubah menjadi kebekuan yang menusuk di hari Selasa tanpa alasan yang jelas, akan membingungkan siswa. Inkonsistensi sikap adalah celah terbesar runtuhnya otoritas moral seorang guru di mata murid-muridnya.
Lentera Solusi: Kenakan "jubah kepribadian" yang jujur dan ajek (autentik) sejak fajar pertama. Jika sebuah pelanggaran membuahkan konsekuensi A di hari Senin, pastikan hukum yang sama tegak di hari Selasa. Ketegasan yang konsisten justru melahirkan rasa aman bagi siswa.
6. Membawa Bayang-Bayang Masa Lalu
"Kalian ini jauh lebih sulit diatur ketimbang kakak kelas kalian dulu!" Kalimat ini adalah racun yang mematikan motivasi. Membandingkan mereka dengan angkatan lain hanya akan menanam benih kebencian dan merubuhkan jembatan kepercayaan.
Lentera Solusi: Bentangkan selembar kertas putih bersih (blank slate). Hapuskan semua stigma masa lalu. Katakan pada mereka dengan tatapan mata yang teduh:
"Saya tidak peduli bagaimana kalian di masa lalu. Mulai hari ini, saya hanya ingin melihat usaha terbaikmu."
Kalimat ini adalah jangkar harapan, terutama bagi jiwa-jiwa yang terbiasa dicap bermasalah.
7. Memenjarakan Suara Siswa dalam Keheningan
Minggu pertama yang didominasi oleh khotbah panjang sang guru (teacher-centered) hanya akan melatih siswa menjadi penonton yang pasif. Ruang kelas yang sunyi dari suara siswa di awal tahun adalah pertanda awal dari kelas yang mati.
Lentera Solusi: Rancanglah panggung di mana siswa menjadi tokoh utamanya. Biarkan mereka menggambar peta pikiran tentang liburannya, saling mewawancarai teman sebangku, atau ikut merumuskan "kontrak belajar" bersama. Suara merdeka mereka harus menggema sejak minggu pertama.
8. Membakar Habis Lilin Energi Terlalu Dini
Banyak guru yang menyalakan api semangat terlalu besar di hari-hari awal, menyusun agenda yang teramat padat hingga lupa mengukur napas sendiri. Akibatnya, saat akhir pekan tiba, tubuh tumbang dan energi terkuras habis.
Lentera Solusi: Mengajar adalah sebuah maraton, bukan lari cepat belaka. Aturlah ritme langkahmu. Di minggu pertama, izinkan dirimu melangkah pulang tepat waktu.
Sisipkan jeda sepuluh menit di antara jam mengajar untuk sekadar meneguk air jernih dan merenggangkan penatnya jemari serta badan.
Minggu pertama sekolah bukanlah tentang seberapa banyak materi yang berhasil dijejalkan ke dalam benak siswa, melainkan tentang seberapa hangat kita menyalakan api rindu di hati mereka untuk terus datang dan belajar
Ronaldo Rozalino
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
