Welcome My Blog

Tampilkan postingan dengan label Belajar Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Coach RR
๐Œ๐€๐‹๐ˆ๐‚๐ˆ๐Ž๐”๐’ ๐ƒ๐„๐‚๐„๐๐“๐ˆ๐Ž๐
***

Musim haji tahun 196 Hijriyah baru saja usai...

Kaum muslimin bersiap-siap pulang ke kampung halaman masing-masing. Namun para penuntut ilmu banyak yang bertahan di tanah suci itu. Mereka tahu, seorang ulama besar dari Kufah menunaikan haji di tahun tersebut. Ia adalah al-Imam al-Hafizh Waki’ bin Jarrah, guru dari Imam al-Syafi’i, ๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž๐‘–๐‘š๐‘Žโ„Ž๐‘ข๐‘š๐‘Ž๐‘™๐‘™๐‘Ž̂โ„Ž. 

Di pelataran Masjidil Haram, mereka mengerumuni sang Imam, menyauk limpahan ilmu dari lisan beliau, mendengar riwayat hadits-hadits Rasulullah Saw dan mendaras fiqih ahlul Iraq. 

Berhari-hari lamanya, majelis penuh berkah itu digelar. Hingga suatu ketika, Imam Waki’ menyampaikan sebuah riwayat dari Ismail bin Abi Khalid:

ุนู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„ ุจู† ุฃุจูŠ ุฎุงู„ุฏ ุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุจู‡ูŠِّ ุนู† ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ุงู„ุตุฏูŠู‚، ุฃู†ู‡ ุฌุงุก ุฅู„ู‰ ุงู„ู†َّุจูŠِّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุจุนุฏ ูˆูุงุชู‡، ูุฃูƒุจَّ ุนู„ูŠู‡، ูู‚ุจَّู„ู‡، ูˆู‚ุงู„: "ุจุฃุจูŠ ุฃู†ุช ูˆุฃู…ِّูŠ، ู…ุง ุฃุทูŠุจَ ุญูŠุงุชูƒ ูˆู…ูŠุชุชูƒ" ุซู… ู‚ุงู„ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุจู‡ูŠّ: "ูˆูƒุงู† ุชُุฑِูƒ ูŠูˆู…ًุง ูˆู„ูŠู„ุฉً ุญุชู‰ ุฑุจุง ุจุทู†ู‡، ูˆุงู†ุซู†ุช ุฎู†ุตุฑุงู‡"

“๐ท๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐ผ๐‘ ๐‘š๐‘Ž๐‘–๐‘™ ๐‘๐‘–๐‘› ๐ด๐‘๐‘– ๐พโ„Ž๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘‘, ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐ด๐‘๐‘‘๐‘ข๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘Ž๐‘™-๐ต๐‘Žโ„Ž๐‘–๐‘ฆ, ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐ด๐‘๐‘ข ๐ต๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘Ž๐‘™-๐‘†โ„Ž๐‘–๐‘‘๐‘‘๐‘–๐‘ž: ๐‘ ๐‘’๐‘ ๐‘ข๐‘›๐‘”๐‘”๐‘ขโ„Ž๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘–๐‘Ž (๐ด๐‘๐‘ข ๐ต๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ) ๐‘‘๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘’๐‘˜๐‘Ž๐‘ก ๐‘—๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘ง๐‘Žโ„Ž ๐‘…๐‘Ž๐‘ ๐‘ข๐‘™๐‘ข๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘†๐‘Ž๐‘ค. ๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐ต๐‘’๐‘™๐‘–๐‘Ž๐‘ข ๐‘ค๐‘Ž๐‘“๐‘Ž๐‘ก, ๐‘™๐‘Ž๐‘™๐‘ข ๐‘–๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘›๐‘‘๐‘ข๐‘˜๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘ข๐‘๐‘ขโ„Ž๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘๐‘–๐‘ข๐‘š๐‘– ๐‘—๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘ง๐‘Žโ„Ž ๐ต๐‘’๐‘™๐‘–๐‘Ž๐‘ข, ๐‘ ๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘–๐‘™ ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž: “๐ท๐‘’๐‘š๐‘– ๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘๐‘ข๐‘˜๐‘ข, ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘Žโ„Ž ๐‘ค๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘–๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘’๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘Ž๐‘ข (๐‘Š๐‘Žโ„Ž๐‘Ž๐‘– ๐‘…๐‘Ž๐‘ ๐‘ข๐‘™) ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘˜๐‘’๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘Ž๐‘› โ„Ž๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘ ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘š๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘š๐‘ข”. ๐พ๐‘’๐‘š๐‘ข๐‘‘๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐ด๐‘๐‘‘๐‘ข๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘Ž๐‘™-๐ต๐‘Žโ„Ž๐‘–๐‘ฆ (๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ค๐‘–) ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž: “๐ฝ๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘ง๐‘Žโ„Ž ๐‘…๐‘Ž๐‘ ๐‘ข๐‘™๐‘ข๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘–๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’โ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š, ๐‘ ๐‘’โ„Ž๐‘–๐‘›๐‘”๐‘”๐‘Ž ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ก ๐‘๐‘’๐‘™๐‘–๐‘Ž๐‘ข ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘’๐‘‘๐‘ข๐‘Ž ๐‘˜๐‘’๐‘™๐‘–๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘๐‘’๐‘™๐‘–๐‘Ž๐‘ข ๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘๐‘ข๐‘ก๐‘ข๐‘ ”. 

Imam Waki’ lalu menjelaskan bahwa hadits tersebut ๐‘‘โ„Ž๐‘Ž'๐‘–๐‘“ lagi ๐‘š๐‘ข๐‘›๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ, sanadnya ๐‘š๐‘ข๐‘›๐‘ž๐‘Ž๐‘กโ„Ž๐‘–'’ sebab Abdullah al-Bahiy tidak pernah bertemu dengan Abu Bakar al-Shiddiq. 

Syahdan, setelah menyampaikan hadits tersebut, tersiarlah kabar bahwa Imam Waki’ telah menista Rasulullah Saw. sebab mengatakan perut beliau membesar dan jari kelingkingnya terputus! Entah sengaja atau tidak, atau karena dengki akan nama besar sang Imam, para penyebar hoax merilis informasi yang tidak utuh, sepotong-sepotong: penjelasan akhir sang Imam terkait ๐‘‘โ„Ž๐‘Ž'๐‘–๐‘“-nya hadis tersebut sengaja dihilangkan. 

Orang-orang Quraisy di Mekkah pun termakan berita palsu tersebut, mereka tersulut emosi. Bagi mereka, ini penghinaan terhadap Rasulullah! Mereka lalu melapor kepada Gubernur Mekkah. Sang Gubernur murka, ia menjatuhkan hukuman bahwa Imam Waki’ harus dihukum mati dengan cara disalib. Berita heboh itu juga sampai ke telinga Khalifah Harun al-Rasyid yang turut haji pada tahun tersebut. Harun lantas bertanya kepada Ibnu Abi Ruwรขd, ulama besar mufti Mekkah, dan sang mufti juga menegaskan bahwa orang yang menista Rasul harus dihukum mati. 

Untunglah di masa itu masih hidup Imam Sufyan bin ‘Uyaynah (juga guru Imam al-Syafi’i). Mereka meminta pendapat beliau. Ibnu ‘Uyaynah berkata: “Menurutku beliau tidak pantas dihukum, beliau hanya menyampaikan hadits, dan beliau sudah jelaskan duduk persoalannya”. 

Akhirnya Imam Waki’ dilepaskan dari kurungan. Beliau segera berangkat meninggalkan Mekkah menuju Madinah. Namun murka Gubernur Mekkah belum reda. Ia berkirim surat kepada penduduk Madinah: “Kalau Waki’ sampai di Madinah, jangan segan-segan untuk merajamnya sampai mati!”. 

Tapi mandat Gubernur Mekkah itu bocor. Ulama Madinah, Sa’id bin Manshur segera mengirim surat rahasia kepada Imam Waki’ agar tidak datang ke Madinah karena bisa membahayakan nyawanya. Akhirnya Imam Waki’ berbalik arah menju Rabdzah dan pulang ke Kufah. Setelah peristiwa itu, sang Imam sakit. Lalu tahun berikutnya beliau datang berhaji diam-diam. Namun dalam perjalanan pulang, beliau wafat dan dimakamkan di daerah Faid (sekarang masuk wilayah Arab Saudi). 

***
Informasi yang tidak utuh itu sangat berbahaya! Tragedi Imam Waki’ mengajarkan kita untuk selalu menyaring setiap informasi yang datang, sebab seringkali berita itu dibuat sebagai ๐‘š๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘๐‘–๐‘œ๐‘ข๐‘  ๐‘‘๐‘’๐‘๐‘’๐‘๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›: kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Terlebih di era postmodernisme, di mana orang memang cenderung percaya pada apa yang disukainya saja, tak peduli benar atau tidak. 

Kata J. Bonkowski Jr.: “๐‘ก๐‘ค๐‘œ โ„Ž๐‘Ž๐‘™๐‘“ ๐‘ก๐‘Ÿ๐‘ข๐‘กโ„Ž๐‘  ๐‘‘๐‘œ๐‘›'๐‘ก ๐‘š๐‘Ž๐‘˜๐‘’ ๐‘œ๐‘›๐‘’ ๐‘ก๐‘Ÿ๐‘ข๐‘กโ„Ž!” (seperempat kebenaran bukanlah satu kebenaran). Sekeping ๐‘–๐‘š๐‘Ž๐‘”๐‘’ hasil ๐‘๐‘Ÿ๐‘œ๐‘ tak mampu memberikan potret utuh (๐‘ก๐‘Ž๐‘ โ„Ž๐‘Ž๐‘ค๐‘ค๐‘ข๐‘Ÿ) dari sebuah gambar, yang ada justru menimbulkan salah persepsi! Padahal ๐‘ก๐‘Ž๐‘ โ„Ž๐‘Ž๐‘ค๐‘ค๐‘ข๐‘Ÿ yang utuh adalah fondasi untuk mengambil kesimpulan (๐‘ก๐‘Ž๐‘ โ„Ž๐‘‘๐‘–̂๐‘ž) yang benar.

Pun begitu pengetahuan yang sepotong-sepotong, bisa mencelakakan. Orangtua kita dulu menyebutnya “kepalang ajar”, punya ilmu serba menanggung, tahu dua tiga hadis lalu jumawa merasa alim, nekat berfatwa layaknya mufti, celaka diri tak disadari.
***

Sumber bacaan:
- Al-Dzahabi, ๐‘†๐‘–๐‘ฆ๐‘Ž๐‘Ÿ ๐ด’๐‘™๐‘Ž̂๐‘š ๐‘Ž๐‘™-๐‘๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž̂` (VII/570)
- Ibn ‘Asรขkir, ๐‘‡๐‘Ž̂๐‘Ÿ๐‘–๐‘˜โ„Ž ๐ท๐‘–๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘ฆ๐‘ž (LXIII/101)
READ MORE - ๐Œ๐€๐‹๐ˆ๐‚๐ˆ๐Ž๐”๐’ ๐ƒ๐„๐‚๐„๐๐“๐ˆ๐Ž๐

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777