Welcome My Blog

Tampilkan postingan dengan label S.Sn.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S.Sn.. Tampilkan semua postingan
Coach RR

MATERI PEMBELAJARAN: RAGAM INSTRUMEN MUSIK KELAS XII
SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau
Oleh : Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd.

Materi Pembelajaran Ragam Instrumen Musik, Keterkaitan dengan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), Ilustrasi Gambar (Deskripsi Visual), serta 5 Soal Asesmen yang disusun berdasarkan Modul Ajar Seni Musik Kelas XII (Fase F).


1. Klasifikasi Instrumen Musik (Sistem Sachs-Hornbostel)
Klasifikasi instrumen musik didasarkan pada sumber bunyi (alat/bahan yang bergetar untuk menghasilkan suara):

Idiofon: Sumber bunyi berasal dari bahan dasar alat musik itu sendiri yang bergetar saat dipukul, digoyangkan, atau dipetik. Contoh Modern/Tradisional: Angklung, Gong, Triangle, Xylophone.

Membranofon: Sumber bunyi berasal dari getaran selaput/membran tipis yang direntangkan. Contoh: Drum set, Djembe, Kendang, Tamborin.

Aerofon: Sumber bunyi berasal dari getaran kolom udara di dalam instrumen. Contoh: Saxophone, Seruling bambu, Trompet, Didgeridoo.

Kordofon: Sumber bunyi berasal dari getaran dawai/senar yang dipetik, digesek, atau dipukul. Contoh: Gitar, Biola, Sitar, Sasando, Kecapi.

Elektrofon: Sumber bunyi dihasilkan atau diperkuat melalui sirkuit elektronik/listrik. Contoh: Keyboard elektronik, Synthesizer, Gitar Listrik.

2. Eksplorasi & Perbandingan Instrumen Tradisional vs. Modern
A. Instrumen Tradisional Indonesia & Mancanegara
Angklung (Indonesia - Idiofon): Terbuat dari bambu, dimainkan dengan digoyang. Menghasilkan bunyi resonansi bambu yang khas dan saling melengkapi dalam bentuk nada tunggal (tiap angklung mewakili satu nada).

Sasando (Indonesia - Kordofon): Berasal dari Rote, NTT. Menggunakan tabung bambu dan wadah resonansi dari daun lontar dengan senar melingkar.

Sitar (India - Kordofon): Memiliki dawai simpatetik yang bergetar secara otomatis, menghasilkan warna suara (timbre) khas musik klasik India.

B. Instrumen Modern dalam Ansambel / Band
Gitar Listrik (Kordofon/Elektrofon): Berperan sebagai pembawa melodi (lead) atau pengiring ritmis (rhythm).

Bass Gitar (Kordofon): Mengisi frekuensi rendah (low end), menjadi jembatan antara ritme (drum) dan harmonisasi (gitar/piano).

Drum Set (Membranofon & Idiofon): Penjaga tempo (groove/timekeeper) dan penentu dinamika lagu.

3. Ilustrasi / Contoh Gambar Visual
Untuk membantu visualisasi materi di kelas, berikut struktur visualisasi instrumen berdasarkan klasifikasi dan fungsinya:


========================================================================================
BAGAN KLASIFIKASI SACHS-HORNBOSTEL
========================================================================================

[ AEROFON ] [ IDIOFON ] [ MEMBRANOFON ] [ KORDOFON ]
(Udara Bergetar) (Bodi Bergetar) (Membran Bergetar) (Dawai Bergetar)
│ │ │ │
┌─────┴─────┐ ┌─────┴─────┐ ┌─────┴─────┐ ┌─────┴─────┐
▼ ▼ ▼ ▼ ▼ ▼ ▼ ▼
Seruling Saxophone Angklung Gong Kendang Drum Set Sasando Biola
(Trad) (Modern) (Trad) (Trad) (Trad) (Modern) (Trad) (Modern)

========================================================================================
VISUALISASI INSTRUMEN LOKAL & INTERNASIONAL
========================================================================================

[ Angklung (Indonesia) ] [ Sasando (NTT) ] [ Sitar (India) ]
╭───╮ ╭───╮ /│││\ ╭───────╮
│ │ │ │ / │││ \ │ OOOOO │
│ │ │ │ / │││ \ │ │ │
└───┘ └───┘ ( ███ ) │ │ │
Bambu (Idiofon) Resonansi Lontar Resonansi Labu
(Kordofon) (Kordofon)


4. Keterkaitan dengan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Materi ini dirancang menggunakan prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yang tidak hanya menekankan hafalan nama instrumen (pengetahuan permukaan/surface learning), melainkan berfokus pada 3 pilar utama:

Mindful Learning (Pembelajaran Bermakna & Kesadaran Otentik): Peserta didik secara kritis mendengarkan warna suara (timbre) dan merasakan bagaimana getaran fisika (dawai, membran, udara) menghasilkan emosi dan estetika bunyi.

Mengaitkan musik dengan identitas budaya, sejarah lokal (misal: keberadaan Sasando di Rote), dan geografi.

Meaningful Learning (Keterkaitan Antardisiplin Ilmu): Fisika: Memahami resonansi dan panjang gelombang dalam tabung angklung atau badan biola.

Sejarah & Antropologi: Menganalisis bagaimana alat musik mencerminkan peradaban dan interaksi sosial masyarakat pembuatnya.

Seni Rupa & Desain: Mengapresiasi keindahan bentuk visual instrumen tradisional (seperti ukiran pada Gamelan/Gong).

Joyful Learning (Pengalaman Belajar Menyenangkan & Kolaboratif): Peserta didik diajak merancang aransemen gabungan (kolaborasi instrumen tradisional + modern) dan melakukan eksplorasi/improvisasi musik secara langsung dalam kelompok.



5 SOAL ASESMEN
Soal 1 (Penalaran Kritis & Klasifikasi - C4)
Soal 2
Jelaskan perbedaan mendasar antara klasifikasi instrumen Idiofon dan Membranofon berdasarkan sumber bunyinya! Berikan masing-masing 1 contoh alat musik tradisional Indonesia dan 1 contoh alat musik modern dari kedua kategori tersebut.

Soal 2
Bandingkan instrumen Sasando (Indonesia) dan Sitar (India) dari segi klasifikasi Sachs-Hornbostel, bahan pembuatannya (kaitkan dengan ilmu geografi/fisika), serta fungsinya dalam kebudayaan masing-masing!

Soal 3 (Analisis Peran & Sintesis Ansambel - C5)
Soal:
Dalam sebuah band rock/pop, instrumen bass gitar, drum set, dan gitar listrik memiliki peran yang saling melengkapi. Analisis apa yang terjadi pada kualitas dan tekstur musik secara keseluruhan jika posisi bass gitar dihilangkan dari kelompok musik tersebut!

Soal 4 (Kreativitas Aransemen & Pembelajaran Mendalam - C6)
Soal:
Anda diminta merancang aransemen lagu nasional "Indonesia Pusaka" dengan menggabungkan instrumen modern (Gitar Akustik & Keyboard) dan instrumen tradisional (Angklung & Suling Bambu). Tentukan peran masing-masing instrumen tersebut agar menghasilkan harmonisasi yang indah!

Soal 5 (Refleksi & Kewargaan/Apresiasi - C5)
Soal:
Bagaimana pemahaman yang mendalam tentang klasifikasi dan fungsi kebudayaan dari berbagai instrumen musik dapat menumbuhkan sikap toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman budaya dalam kehidupan sehari-hari? Berikan contoh nyata!


Guru Mata Pelajaran
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
NIP. 19830730 2011021002

READ MORE - MATERI PEMBELAJARAN: RAGAM INSTRUMEN MUSIK KELAS XII_SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau_Oleh : Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd.
Coach RR

MATERI PEMBELAJARAN: KREASI DAN PENGOLAHAN MUSIK
(Seni Musik Class XI / Fase F / Semester Ganjil)
SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd

1. Pengertian dan Pentingnya Kreasi Musik
Kreasi musik adalah proses mengolah ide, gagasan, dan ekspresi jiwa menjadi bentuk audio atau karya musik yang nyata. Proses kreasi berawal dari penemuan inspirasi yang kemudian diolah menjadi motif dasar melodi/ritme.

Sifat Kreasi Musik: Membutuhkan keberanian mengekspresikan diri, keterbukaan pikiran, serta keseimbangan antara kreativitas dan logika (penalaran kritis).
Sumber Inspirasi: Peristiwa alam, perasaan pribadi, cerita kehidupan, bunyi-bunyian lingkungan sekitar, hingga karya musik lain.

2. Elemen Dasar Pengolahan Musik
Motif Musik: Unit melodi atau ritme terkecil yang memiliki bentuk dan makna musik.

Frase Musik: Gabungan dari beberapa motif yang membentuk satu kesatuan kalimat musik utuh (seperti klausa/kalimat pada bahasa).

Teknik Pengolahan Musik: Variasi Ritme: Mengubah panjang-pendek nada tanpa mengganggu melodi dasar.

Transposisi: Memindahkan rangkaian nada ke tangga nada (pitch) yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Dinamika: Pengaturan keras-lembutnya nada untuk menciptakan kontroversi atau pembangunan emosi.

Timbre: Pemilihan dan variasi warna suara dari alat musik atau instrumen vocal yang berbeda.

3. Proses Kolaborasi dan Penyajian Karya
Penyajian karya kreasi musik dapat disampaikan melalui penampilan langsung, pemutaran rekaman, maupun notasi musik. Kolaborasi dalam kelompok menekankan komunikasi yang terbuka, pembagian peran yang seimbang, dan rasa saling menghargai untuk mencapai hasil yang harmonis.

DESKRIPSI & BENTUK VISUALISASI GAMBAR
Gambar 1: Alur Pengolahan Ide Musik (Motif ke Frase)

[ Sumber Inspirasi ] ──> [ Motif Melodi ] ──> [ Pengolahan Teknik ] ──> [ Frase Musik Utuh ]
(Suara Tetesan Air) (C - E - G) (Variasi Ritme/Dinamika) (Kalimat Melodi Lengkap)

Keterangan: Gambar di atas menunjukkan alur berpikir logis dalam mengubah gagasan abstrak menjadi karya nyata.

Gambar 2: Ilustrasi Pembagian Peran Kolaborasi Kelompok

┌──────────────────────────────┐
│ PENAMPILAN KREASI MUSIK │
└──────────────┬───────────────┘
│
┌───────────────────────┼───────────────────────┐
▼ ▼ ▼
[ Pemain Melodi ] [ Pengatur Harmoni ] [ Pengatur Ritme ]
(Vokal / Gitar) (Keyboard / Bass) (Percussion / Cajon)


Keterangan: Setiap anggota memiliki peran penting yang saling melengkapi untuk membangun harmoni musik.

KETERKAITAN DENGAN PEMBELAJARAN MENDALAM (DEEP LEARNING)
Pembelajaran mendalam (Deep Learning) pada materi ini terwujud dalam 3 aspek utama sesuai dengan modul ajar:

Mindful (Kesadaran Penuh & Reflektif): Peserta didik diajak untuk fokus pada proses penciptaan karya, menikmati latihan, berani berekspresi, serta melakukan jurnal reflektif individu untuk mengevaluasi tantangan dan pelajaran yang didapat.

Meaningful (Bermakna): Materi tidak sebatas menghafal teori musik, tetapi menghubungkan emosi/pengalaman hidup dengan karya musik secara langsung.

Penggunaan variasi teknik seperti dinamika dan timbre memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana perubahan kecil nada mempengaruhi emosi pendengar.

Joyful (Menggembirakan & Kolaboratif): Proses pembelajaran dirancang melalui latihan energik, presentasi karya mandiri/kelompok, serta pemberian diferensiasi proses sehingga setiap murid dapat berkreasi sesuai minat dan keahliannya.


5 SOAL
(Berdasarkan Asesmen Pemahaman pada Modul Ajar)
Soal 1
Jelaskan mengapa menemukan "inspirasi" merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses kreasi musik! Berikan minimal dua contoh sumber inspirasi yang berbeda dan bagaimana sumber tersebut dapat dikembangkan menjadi motif melodi!

Soal 2
Bagaimana perbedaan antara motif dan frase dalam musik? Berikan contoh satu motif dasar dan bagaimanakah cara mengembangkannya menjadi satu frase musik yang lengkap!

Soal 3
Pilih salah satu teknik pengolahan musik (misalnya variasi ritme, transposisi, atau perubahan dinamika). Jelaskan teknik tersebut dan bagaimana kamu memanfaatkannya pada melodi sederhana untuk memberikan efek/suasana yang berbeda!

Soal 4
Dalam kerja kelompok untuk membuat aransemen musik, peran penting apa saja yang harus dimiliki setiap anggota agar hasil karya optimal? Jelaskan mengapa kolaborasi sangat penting dalam proses ini!

Soal 5
Setelah menyelesaikan proyek kreasi musik ini, jelaskan bagaimana kamu melihat hubungan antara kreativitas dan penalaran kritis dalam menciptakan sebuah karya musik! Berikan contoh dari pengalaman atau proses pembuatan aransemen!


Guru Mata Pelajaran
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
NIP. 19830730 2011021002

READ MORE - MATERI PEMBELAJARAN: KREASI DAN PENGOLAHAN MUSIK_(Seni Musik Class XI / Fase F / Semester Ganjil)_SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau_Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Coach RR

Menyulam Harmoni di Tanah Pacu Jalur: Refleksi Ilahiah 27 Tahun Kabupaten Kuantan Singingi
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Coach RR)

Uncuran Doa di Tepi Sungai Kuantan
Bismillah. Bagaikan riak air Sungai Kuantan yang tenang namun menyimpan kedalaman makna, perjalanan sebuah negeri senantiasa diiringi oleh jejak langkah sejarah, perjuangan, dan cita-cita luhur. Hari ini, 12 Oktober 2026, Kabupaten Kuantan Singingi genap menapaki usianya yang ke-27 tahun (12 Oktober 1999 – 12 Oktober 2026).

Dua puluh tujuh tahun bukanlah sekadar deretan angka dalam rentang sang kala. Ia adalah simfoni pengabdian, rajutan rasa syukur, serta ikhtiar kolektif untuk melangkah menuju negeri yang maju, bermartabat, dan bersatu dalam naungan keredaan Ilahi.

Tema yang diusung, "Harmoni Untuk Kuansing Hebat", bukan sekadar slogan yang menghiasi bilah-bilah spanduk, melainkan sebuah ikrar spiritual dan sosial yang mendalam.

Makna Harmoni: Menyatu dalam Kedamaian dan Keberkahan
Dalam pandangan sastra dan ajaran Islam, harmoni adalah keselarasan qalbu, tindakan, dan persatuan di antara sesama manusia.

Harmoni adalah pilar utama terciptanya kedamaian di bumi Riau tercinta.

Allah SWT mengingatkan kita pentingnya merawat persatuan dan keharmonisan di dalam Al-Qur'an:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...”
(QS. Ali 'Imran [3]: 103)

Ketika masyarakat Kuansing saling bergandengan tangan, melangkah dengan hati yang lapang, dan mengikis perpecahan, maka di situlah letak kekuatan sejati untuk mewujudkan Kuansing Hebat.

Kebersamaan yang terjalin manis laksana kayuhan serempak para anak pacu di atas perahu jalur seirama, sehaluan, menuju satu tujuan yang mulia.

Rasulullah SAW juga menegaskan betapa berharganya persatuan dan kebersamaan melalui sabdanya:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Muslim)

Meneladani Semangat Berkarya dan Bertanggung Jawab
Untuk menggapai derajat "Hebat", sebuah daerah membutuhkan kontribusi nyata dari setiap elemen masyarakatnya.

Baik sebagai pendidik, sastrawan, pengusaha, kreator, maupun pemimpin, setiap insan memiliki peran penting untuk menabur benih kebaikan.

Islam mengajarkan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan niat yang tulus akan bernilai ibadah dan mendatangkan keberkahan. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu...’”
(QS. At-Taubah [9]: 105)

Kehebatan Kuansing tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur yang berdiri di tepi batang kuantan, melainkan dari kedalaman literasi, keluhuran budi pekerti, serta kekuatan keimanan generasi mudanya.

Menjadi tugas kita bersama untuk membina dan melahirkan generasi yang bertakwa, berilmu, dan berkarya untuk negeri.

Untaian Harapan untuk Kuansing Hebat
Selamat Hari Jadi ke-27 Kabupaten Kuantan Singingi. Mari kita jadikan momentum ulang tahun ini sebagai ajang muhasabah (evaluasi diri) dan penguatan niat untuk terus menebar manfaat.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, ketenteraman, dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Kuantan Singingi.

Teruslah mengayuh, wahai Negeri Nagori Singingi! Dalam harmoni kita menyatu, dalam ikhtiar kita menggapai Kuansing yang Hebat, Bermartabat, dan Diberkahi.

Profil Penulis:
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Coach RR) (Penggiat Literasi & Media Sosial Digital, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Guru Konten Kreator Riau, Komposer & Arranger, Bisnis Owner, Motivator, Coach)

Media Sosial & Kontak:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Situs Web: s.id/RonaldoRozalino 

READ MORE - Menyulam Harmoni di Tanah Pacu Jalur: Refleksi Ilahiah 27 Tahun Kabupaten Kuantan Singingi_Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
Coach RR

Nakhoda Pendidikan Tradisi Kemajuan: Meneladani Kepemimpinan Luas, Luwes, dan Adaptif
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. (Coach RR)
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau)

Bismillah. Pendidikan adalah samudra luas yang terus bergelombang disapu angin zaman. Di atas gelombang itu, institusi sekolah terkhusus sekolah dan madrasah Muhammadiyah adalah bahtera yang membutuhkan seorang nakhoda sejati, bukan sekadar pemegang takhta kepemimpinan formal.

Dalam gelaran Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026 di Masjid Al Hijri Depok, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah) mengingatkan pesan mendalam almarhum Prof. Dr. Malik Fadjar:

“Kepemimpinan sekolah tidak cukup bertumpu pada jabatan, tetapi butuh wawasan luas, sikap luwes, adaptasi cepat, dan kemauan terus belajar.”

Pesan ini sejatinya memancar dari hakikat kepemimpinan Islam. Jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


1. Luas dan Luwes: Jiwa Pembelajar yang Terbuka
Menjadi pemimpin dengan wawasan yang "luas" berarti memiliki cakrawala berpikir yang melampaui sekat-sekat kebiasaan lama.

Sedangkan sikap "luwes" menggambarkan kelenturan jiwa dalam menerima pengalaman baru dan melangkah cepat menghadapi perubahan zaman.

Seorang kepala sekolah tidak boleh seperti telaga tenang yang mati airnya, melainkan harus seperti mata air yang terus mengalirkan kebaikan dan hikmah. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az-Zumar [39]: 9)

Membangun jejaring, mengambil pelajaran dari kesuksesan maupun kegagalan, serta merajut visi menjadi aksi nyata yang terukur adalah fondasi utama untuk merawat keberlanjutan pendidikan.

2. Tajdid dan Filantropi: Akar Tradisi dalam Pelukan Inovasi
Sekolah dan madrasah Muhammadiyah dilahirkan dari rahim tajdid (pembaruan). Respons terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern adalah keniscayaan yang harus dipeluk erat. Namun, kemajuan sains dan teknologi tidak boleh mencabut sekolah dari akar spiritualnya.

Tradisi kedermawanan, infak, filantropi, serta penguatan pendidikan karakter adalah ruh yang menjaga modernitas agar tidak menjadi dingin dan hampa jiwa. Allah SWT mengingatkan betapa pentingnya keseimbangan antara amal dan kebaikan sosial:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
(QS. Ali 'Imran [3]: 92)

3. Menggerakkan Manusia, Menjaga Jati Diri
Pemimpin sejati bukan sekadar pengelola administrasi sekolah. Ia adalah peniup ruh kehidupan yang menumbuhkan budaya belajar, menggerakkan potensi manusia di sekitarnya, serta memastikan pendidikan terus melaju mengikuti zaman tanpa kehilangan kompas keimanan dan nilai jati diri.

Mari kita jadikan setiap sekolah dan madrasah bukan sekadar gedung tempat mentransfer ilmu, tetapi taman-taman peradaban tempat tumbuh dan mekarnya generasi pencerah umat dan bangsa.


Informasi & Jejaring Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Situs Web: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Nakhoda Pendidikan Tradisi Kemajuan: Meneladani Kepemimpinan Luas, Luwes, dan Adaptif_Ronaldo Rozalino
Coach RR

Menguntai Nada Kematian, Menjelang Senja Keabadian: Refleksi Kegiatan Keagamaan Jum’at Berkah SMAN 1 Sentajo Raya
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.

Fajar Jum'at dan Gema Ayat Suci
Bismillah. Pagi itu, Jum'at, 2 Oktober 2026, halaman upacara SMAN 1 Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, dibalut keheningan yang syahdu. Angin pagi berembus lembut, membawa ketenangan yang meresap ke dalam jiwa setiap insan yang hadir.


Kegiatan keagamaan rutinitas hari Jum'at kembali digelar, diawali dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an Surat Yasin yang mengalun indah. Suara bacaan bersahut-sahutan, menggetarkan sudut-sudut kalbu dan menghidupkan suasana spiritual di lingkungan sekolah.



Setelah pembacaan Yasin, dilanjutkan dengan Syahril Qur'an yang menyampaikan pesan-pesan Ilahi secara lugas, puitis, dan penuh makna. Namun, yang menjadi puncak keharuan pagi itu adalah penampilan Teater Religi / Drama Musikal bertema "Kematian" yang digarap dan dibawakan secara memukau oleh siswa-siswi Kelas XII.1.

Pementasan yang Mengguncang Jiwa: Pengingat akan Hakikat Kematian
Melalui perpaduan seni peran, ekspresi, dan alunan nada yang indah, para siswa Kelas XII.1 berhasil menyajikan teater religi yang begitu mengena di hati.

Pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan estetis, melainkan sebuah pertunjukan kontemplatif yang mengajak seluruh keluarga besar SMAN 1 Sentajo Raya untuk bermuhasabah merenungi hakikat kehidupan dan kepastian sebuah perpisahan.

Kematian adalah kepastian yang tak seorang pun mampu menghindarinya. Allah SWT menegaskan hal ini dalam Al-Qur'an:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat lah disempurnakan pahalamu..."
(QS. Ali 'Imran: 185)

Lantunan lakon di atas panggung seolah menjadi cermin yang memantulkan bayangan diri kita masing-masing:

Sudah siapkah kita ketika panggilan itu tiba? Bekal apa yang telah kita kumpulkan untuk perjalanan yang tiada bertepi?

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita dalam sebuah hadits shahih tentang pentingnya mengingat pemutus kenikmatan ini:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ: الْمَوْتَ
"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian."
(HR. Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Pengingat ini menjadi bahan perenungan yang sangat mendalam. Kehidupan dunia hanyalah tempat bersinggah sementara, sedang akhirat adalah muara yang abadi. Maka, setiap amalan kebaikan dan ibadah yang kita lakukan hendaknya semata-mata mengharap ridha-Nya.

Seni Budaya Islam: Wadah Potensi dan Karakter Generasi Muda
Sebagai guru di bidang Seni Budaya, rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya patut disematkan kepada para siswa Kelas XII.1.

Mereka membuktikan bahwa seni tidak hanya sekadar estetika, tetapi bisa menjadi media dakwah dan sarana penyampai pesan-pesan kebaikan.



Setiap anak terlahir dengan potensi unik, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Melalui karya Teater Religi ini, mereka memperlihatkan kreativitas yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai keislaman.

Karya ini mengajar kita bahwa untuk melahirkan sebuah karya yang apik dan bernilai tinggi, diperlukan:

Kolaborasi yang erat antaranggota tim.
Komunikasi yang efektif dan terbuka.
Rasa Tanggung Jawab pada tugas masing-masing.
Kedisiplinan serta dukungan dari semua pihak.

Proses ini menjadi pengalaman berharga bagi mereka, sekaligus menjadi inspirasi dan motivasi bagi adik-adik kelas di Kelas X dan XI untuk terus berkarya, mengeksplorasi potensi diri, dan melahirkan inovasi yang positif.

Menatap Masa Depan dengan Karya dan Ibadah
Mari kita jadikan setiap momen kehidupan sebagai ladang menanam kebaikan. Teruslah mengasah bakat dan minat yang telah dianugerahkan Allah SWT.

Jadikan karya seni dan kreativitas sebagai wadah untuk menebar kebaikan, memperkuat keimanan, dan menginspirasi sesama.

Teruslah berkarya, wahai Ananda hebat semuanya! Ukir prestasi dengan niat yang ikhlas, karena karya yang lahir dari hati akan sampai ke hati, dan amalan yang didasari keikhlasan akan menjadi bekal abadi di akhirat kelak.

Masyaa Allah Tabarakallah, luar biasa!

Salam Kreatifitas
Salam Budaya
Salam Kayuah Kayuah Kayuah!

Profil Penulis:
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. 

(Merupakan Guru ASN Seni Budaya SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Guru Konten Kreator Riau, Coach, Motivator Literasi & Edukasi) 


READ MORE - Menguntai Nada Kematian, Menjelang Senja Keabadian: Refleksi Kegiatan Keagamaan Jum’at Berkah SMAN 1 Sentajo Raya_Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Coach RR

Muliakan Guru, Muliakan Tamu: Mengurai Keberkahan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuansing
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. (Coach RR)

Bismillah. Di dalam relung kehidupan, setiap tapak langkah membawa takdirnya sendiri. Ada tamu yang hadir mengetuk pintu rumah untuk bertamu, bersilaturahmi, berbagi kebaikan, dan saling menukar nasihat.

Ada pula ilmu yang berembus bagai angin sejuk, membelai jiwa-jiwa yang haus akan pencerahan. Lantas, bagaimana jika yang bertandang itu adalah gabungan dari keduanya: seorang Guru Tamu?


Menerima tamu bukan sekadar membukakan daun pintu, melainkan melapangkan dada dan melayani dengan penuh kesantunan. Dalam ajaran Islam, tamu adalah sosok yang perlu dimuliakan karena ada nilai keberkahan di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, bayangkan betapa melimpahnya keberkahan ketika yang bertamu itu memiliki gelar ganda sebagai Guru dan Tamu.

Seorang guru memiliki perbendaharaan ilmu yang telah dijalani selama belasan bahkan puluhan tahun.

Keilmuan tersebut hadir sebagai pengajar, pembimbing, dan pendidik untuk menumbuhkan nilai kecerdasan karakter, moral, intelektual, hingga spiritual.

Meniupkan Roh Kolaborasi di Sekolah Rakyat
Hadirnya Guru Tamu di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuantan Singingi (Kuansing) menjadi angin segar yang membawa harapan baru.

Ini adalah ruang kolaborasi untuk memberikan yang terbaik bagi para siswa. Kebajikan dalam berkolaborasi ini sejalan dengan firman Allah SWT:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma'idah: 2)

Kolaborasi yang optimal hanya dapat berjalan melalui komunikasi yang efektif, tempat di mana setiap orang saling memberikan saran, masukan, dan kritik membangun demi kemajuan sekolah.

Program dari Kementerian Sosial ini sungguh patut menjadi perhatian bersama karena menyimpan pendar masa depan yang cerah bagi para siswa.

Namun, disebalik ikhtiar mulia ini, tidak semua hal berjalan dalam kemudahan. Ada rintangan dari berbagai lini: bagaimana membangun kesadaran siswa untuk belajar, memupuk kemandirian, menjaga kebersihan.

Menanamkan kejujuran, serta menghidupkan rasa menghargai dan menghormati siswa terhadap Gurunya.

Semua rintangan ini mustahil teratasi tanpa adanya kolaborasi yang erat dengan Tenaga Kependidikan (Tendik), Wali Asuh, dan Kepala Sekolah.

Sebab, tidak ada hal besar yang dapat dicapai tanpa tim yang solid, kompak, penuh kebersamaan, dan berkomitmen memberikan yang terbaik.

Sebulan Menyemai Jiwa, Merajut Asa
Sebulan sudah amanah sebagai Guru Tamu dijalani di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuansing.

Banyak hal yang makin disadari: tidak mudah menjadi seorang Guru di sini. Kadang harus berperan sebagai guru yang mengajarkan ilmu, kadang menjadi orang tua yang mengayomi.

Kadang menjadi motivator yang membakar semangat, dan kadang menjadi pendengar yang setia menerima bisikan suara hati anak-anak yang merindukan orang tua serta keluarganya.

Mereka adalah anak-anak hebat yang sudah berani berpisah dari orang-orang yang disayangi demi menuntut ilmu.

Di sini, semuanya serba gratis; mereka hanya perlu fokus belajar dan terus belajar. Wujud syukur terbaik atas nikmat pendidikan yang diterima hari ini dan di masa depan adalah dengan belajar sungguh-sungguh.

Amanah sebagai Guru Tamu adalah tentang memberikan yang terbaik dalam pembelajaran dan pengembangan diri bukan sekadar datang, melakukan absen, lalu pulang dan melepaskan semua tanggung jawab.

Menundukkan Hati, Meraih Keberkahan
Memuliakan guru adalah bentuk rasa kemuliaan untuk merasakan bagaimana dihargai dan dihormati oleh orang lain sebagai hal yang pantas diterima.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah menyampaikan ungkapan penuh takzim:

“Aku adalah hamba sahaya dari orang yang mengajarkanku walau hanya satu huruf.”

Semoga Allah SWT melembutkan hati kita semua agar senantiasa siap menerima ilmu yang datang dari mana saja. Jangan pernah melihat siapa yang berbicara, namun dengarkanlah apa yang dibicarakannya.

Salam Sehat dan Bahagia,
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. (Coach RR)
(Guru Tamu Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuantan Singingi, Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau)

Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Situs Resmi: s.id/RonaldoRozalino 

READ MORE - Muliakan Guru, Muliakan Tamu: Mengurai Keberkahan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuansing_Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Coach RR
Tari Rentak Bulian: Ketika Gerak Menjadi Jejak Warisan Talang Mamak
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.

Ada warisan budaya yang tidak sekadar dilihat oleh mata, tetapi juga perlu dirasakan dengan hati. Ia hidup dalam gerak, bunyi, simbol, pakaian, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Salah satunya adalah Tari Rentak Bulian, sebuah kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, dan memiliki akar yang kuat dalam tradisi masyarakat Suku Talang Mamak.

Di balik hentakan kaki dan gerak tubuh para penarinya, tersimpan kisah panjang tentang hubungan manusia dengan tradisi, alam, kehidupan sosial, serta keyakinan masyarakat pendukungnya.

Dari Tradisi Bulean Menuju Seni Pertunjukan
Tari Rentak Bulian memiliki hubungan erat dengan upacara Bulean, yaitu ritual pengobatan tradisional yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Talang Mamak.

Dalam konteks tradisinya, Bulean bukan sekadar sebuah kegiatan pengobatan. Ia merupakan bagian dari pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

Nama Rentak Bulian sendiri mengandung makna yang menarik.
Kata rentak berkaitan dengan gerakan melangkah atau menghentakkan kaki. 

Sementara itu, bulian dalam sejumlah sumber dikaitkan dengan istilah lokal mengenai tempat persinggahan makhluk bunian atau makhluk halus.

Karena memiliki latar belakang tersebut, bentuk awal tradisi yang melandasinya memiliki suasana ritual yang kuat.

Namun, perjalanan kebudayaan selalu mengalami perubahan.
Seiring perkembangan zaman, unsur-unsur dari tradisi Bulean kemudian ditransformasikan menjadi seni pertunjukan. 

Nilai dan simbol budaya yang terkandung di dalamnya tetap menjadi bagian penting, sementara bentuk penyajiannya dapat hadir di ruang-ruang pertunjukan, festival budaya, kegiatan pendidikan, maupun berbagai acara masyarakat.

Di sinilah kebudayaan menunjukkan daya hidupnya.
Tradisi tidak selalu harus tinggal dalam bentuk masa lalu. Ia dapat tumbuh, beradaptasi, dan menemukan ruang baru tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Rentak yang Menyimpan Cerita
Ketika para penari melangkahkan kaki, menggerakkan tangan, dan membentuk pola gerak secara bersama-sama, yang tampak bukan hanya sebuah koreografi.

Ada cerita yang sedang disampaikan.
Ada identitas yang sedang diperkenalkan.
Ada warisan leluhur yang sedang dihidupkan kembali.

Hentakan kaki menjadi semacam denyut yang mengingatkan kita bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar mati selama masih ada manusia yang mau mempelajari, menjaga, dan mewariskannya.

Dalam konteks masyarakat Talang Mamak, keberadaan tradisi menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah komunitas dalam mempertahankan identitas dan pengetahuan budayanya.

Maka, memandang Tari Rentak Bulian hanya sebagai tontonan tentu belum cukup.
Kita perlu melihatnya sebagai jendela untuk memahami kebudayaan masyarakat Indragiri Hulu dan Riau.

Dari Ritual Menjadi Identitas Budaya
Perubahan dari konteks ritual menuju seni pertunjukan merupakan salah satu bentuk dinamika kebudayaan.

Di atas panggung, Tari Rentak Bulian dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas. Anak-anak sekolah dapat mempelajarinya. 

Sanggar-sanggar seni dapat mengembangkannya. Seniman dapat mengolah penyajiannya. Sementara masyarakat dapat mengenalnya sebagai salah satu kekayaan budaya Riau.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan:
di balik sebuah pertunjukan selalu ada sejarah.
Karena itu, pengembangan seni tradisional hendaknya tidak hanya mengejar keindahan bentuk, tetapi juga memahami nilai, latar belakang, simbol, dan masyarakat yang melahirkannya.

Seni tradisi bukan sekadar gerakan yang dihafalkan.
Ia adalah ingatan yang digerakkan oleh tubuh.
Menjaga Warisan di Tengah Perubahan Zaman
Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang sangat cepat. Musik berganti dengan cepat. 

Tren berubah dalam hitungan hari. Budaya populer datang dari berbagai penjuru dunia melalui layar telepon genggam.

Di tengah derasnya arus tersebut, kesenian tradisional membutuhkan ruang untuk tetap hidup.

Bukan untuk melawan zaman.
Tetapi untuk berjalan bersama zaman.
Tari Rentak Bulian dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal lebih jauh kebudayaan Riau. 

Dari sebuah tarian, mereka dapat belajar tentang sejarah, masyarakat, identitas, kreativitas, sekaligus pentingnya menghargai warisan leluhur.

Sebab, bangsa yang mengenal budayanya akan lebih memahami dari mana ia berasal.
Dan seseorang yang mengetahui akar budayanya akan lebih mudah memahami ke mana ia hendak melangkah.

Warisan yang Harus Terus Bergerak
Tari Rentak Bulian mengajarkan sebuah makna sederhana namun mendalam:
warisan budaya akan tetap hidup apabila terus digerakkan.

Ia bergerak melalui para penari.
Ia bergerak melalui guru yang mengajarkannya.
Ia bergerak melalui sanggar yang melestarikannya.

Ia bergerak melalui anak-anak muda yang mau mempelajarinya.
Dan ia bergerak melalui masyarakat yang menghargainya.

Karena itu, setiap pementasan Tari Rentak Bulian bukan sekadar sebuah pertunjukan.
Ia adalah perjumpaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Masa lalu memberikan akar.
Masa kini memberikan ruang.
Dan masa depan memberikan harapan agar warisan itu tidak terputus.

Rentak boleh berubah. Zaman boleh berganti. Tetapi akar budaya jangan sampai kehilangan tanah tempat ia tumbuh.

Tari Rentak Bulian adalah salah satu pengingat bahwa Riau memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya indah untuk dipandang, tetapi juga penting untuk dipahami, dihargai, dan diwariskan.

Sebab pada akhirnya, melestarikan budaya bukan hanya menjaga sebuah tarian—melainkan menjaga cerita tentang siapa kita.

Profil Penulis
H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Ketua Komunitas Budaya Sanggar Seni Kuantan Mekar • Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kuansing • Guru ASN Seni Budaya SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau • Guru Seni Budaya SMA Taruna Muhammadiyah Riau • Guru Tamu Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kuansing • Composer & Arranger • Guru Penulis 5 Negara ASEAN (Peruas)

#TariRentakBulian #TalangMamak #IndragiriHulu #BudayaRiau #SeniTradisional #WarisanBudaya #BudayaMelayu #Riau #SeniBudaya #PelestarianBudaya
READ MORE - Tari Rentak Bulian: Ketika Gerak Menjadi Jejak Warisan Talang Mamak, Oleh: Ronaldo Rozalino
Coach RR


Menjaga Marwah Rupiah di Tanah Kuantan Singingi: Sebuah Dedikasi Cinta, Bangga, dan Paham

Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Fasilitator Daerah CBP Rupiah Kab. Kuansing – Kolaborasi Bank Indonesia Perwakilan Riau & BGTK Provinsi Riau)

Bismillah. Uang bukan sekadar helai kertas bermotif indah atau kepingan logam yang berdenting saat bertumbukan. Di balik setiap lembar Rupiah yang berpindah tangan dari pasar-pasar rakyat hingga ke sudut-sudut pedalaman Kuantan Singingi

Tersimpan napas kedaulatan, jejak sejarah, dan kehormatan sebuah bangsa yang merdeka. Rupiah adalah pengikat kebhinekaan, rajutan identitas yang mempersatukan nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Di bawah naungan semangat "Riau Bertuah", kolaborasi mulia antara Bank Indonesia Perwakilan Riau dan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau hadir memperkuat barisan edukasi melalui gerakan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.

Sebuah ikhtiar kebudayaan dan pendidikan untuk menanamkan rasa hormat terhadap mata uang kita sendiri.

Filosofi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah
Menjaga Rupiah memerlukan kepekaan hati dan kecerdasan budi. Tiga pilar utama menjadi kompas dalam memperlakukan uang bangsa:

Cinta Rupiah: Diwujudkan dengan merawat dan memperlakukan setiap lembar uang dengan penuh penghargaan, menjaga kebersihannya, serta menjaganya dari kerusakan fisik.

Bangga Rupiah: Diwujudkan dengan rasa bangga menggunakan Rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menjadikannya benteng kedaulatan ekonomi nasional.

Paham Rupiah: Diwujudkan dengan bertransaksi secara bijak, berhemat, berinvestasi, serta memahami peran strategis Rupiah dalam menjaga stabilitas perekonomian bangsa.

⛔ Pedoman "5 JANGAN" dalam Merawat Uang Rupiah
Agar keutuhan dan keindahan identitas bangsa tetap terjaga, hindari lima perilaku yang dapat merusak lembaran Rupiah:

🚫 JANGAN DILIPAT: Sampaikan rasa hormat dengan membiarkannya tetap lurus dan rapi.

🚫 JANGAN DISTAPLER: Hindari melubangi serat kertas yang dapat merusak ketahanan fisik uang.

🚫 JANGAN DICORET: Jagalah kebersihan wajah pahlawan dan keindahan seni cetak Rupiah.

🚫 JANGAN DIBASAHI: Lindungi dari air agar kertas tidak melunak dan warna tidak pudar.

🚫 JANGAN DIREMAS: Perlakukan lembaran Rupiah dengan lembut, bukan meremasnya hingga kusut.

🔍 Kecermatan Mengenali Keaslian: Metode 3D
Sebagai wujud perlindungan diri dan masyarakat dari ancaman uang palsu, penting bagi setiap warga untuk menguasai metode sederhana namun sangat ampuh dalam memastikan keaslian Rupiah melalui prinsip 3D:

👁️ DILIHAT: Perhatikan warna uang yang terang dan jelas, periksa benang pengaman yang melintas, serta amati gambar saling isi (rectoverso).

✋ DIRABA: Rasakan tekstur kasar khas pada bagian-bagian utama seperti lambang negara, angka nominal, dan cetakan dalam (intaglio).

💡 DITERAWANG: Arahkan uang ke sumber cahaya untuk melihat tanda air (watermark) serta ornamen gambar pahlawan yang tersembunyi dengan presisi.

"Menjaga Rupiah adalah menjaga kehormatan bangsa. Setiap lembar yang terawat rapi adalah simbol kemandirian dan rasa cinta kita kepada Tanah Air."

🏛️ Mengalirkan Literasi di Kuansing Bertuah
Sebagai Fasilitator Daerah CBP Rupiah di Kabupaten Kuantan Singingi, langkah edukasi ini tidak sekadar mentransfer pengetahuan teknis keuangan, tetapi juga menyulut api kebanggaan nasionalisme di kalangan pendidik, siswa, dan masyarakat luas.

Di tanah Riau yang bertuah, marwah Rupiah adalah bagian tak terpisahkan dari martabat masyarakatnya.

Mari bersama-sama kita gaungkan gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

Jaga lembarannya, pahami nilainya, dan banggalah menggunakannya di setiap jengkal negeri!

#cbprupiahriau
#bgtkriau
#biriau
#fasdacbprupiah
#rupiahbedelau

READ MORE - Menjaga Marwah Rupiah di Tanah Kuantan Singingi: Sebuah Dedikasi Cinta, Bangga, dan Paham_Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
Coach RR

Menjadi Embun yang Luruh Diam-Diam
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd (Coach RR)

Bismillah. Di tengah dunia yang bergerak begitu bising, kita sering kali dipaksa untuk terus bersuara. Panggung-panggung kehidupan dipenuhi oleh sorak-sorai, tempat orang-orang berlomba menepuk dada, memamerkan pencapaian, dan menuntut pengakuan.

Kita seolah diwajibkan untuk terlihat hebat di mata sesama. Namun, di balik riuhnya tepuk tangan yang semu itu, pernahkah kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam:

Apalagi yang tersisa dari hidup ini jika seluruhnya habis hanya untuk mengejar pujian?

Hidup, pada hakikatnya, bukan tentang seberapa megah kita berdiri di atas panggung, melainkan seberapa luas teduh yang bisa kita berikan kepada jiwa-jiwa yang sedang kepanasan di bawah terik ujian.

Jika takdir menuntunmu pada sebuah kesempatan untuk mengulurkan tangan, maka bantulah. Ringankan beban yang menggelayuti pundak sesamamu. Dunia ini sudah cukup berat bagi banyak orang; jangan biarkan mereka merangkak sendirian dalam gelap jika kita memiliki secercah cahaya untuk dibagikan.

Ketulusan dalam Sekecil-kecilnya Rupa
Namun, adakalanya jemari kita terlalu pendek untuk merengkuh semua nestapa. Adakalanya kantung kita terlalu tipis untuk menyelesaikan semua perkara materi. Jika hari itu tiba, jangan berkecil hati. Kebaikan tidak pernah mematok harga. Ia adalah mata uang semesta yang bisa dibayarkan lewat apa saja yang bersumber dari ketulusan hati.

“Kalau bisa menguatkan hati orang, lakukanlah. Walau hanya lewat senyum, lewat doa, atau sekadar menyediakan telinga untuk mendengarkan mereka yang sedang dirundung sedih.”

Sebuah senyuman yang tulus bisa menjadi jembatan bagi jiwa yang hampir putus asa. Sebuah doa yang dibisikkan lirih di sepertiga malam bisa menjadi tameng gaib bagi sahabat yang sedang berjuang di ujung badai. Dan sebuah kesediaan untuk duduk diam, mendengarkan isak tangis tanpa menghakimi, terkadang jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan nasihat medis. Kebaikan-kebaikan kecil inilah yang sering kali menyelamatkan hidup seseorang tanpa pernah kita sadari.

Sunyinya Jalan Keikhlasan
Ada sebuah sunyi yang indah dalam jalan keikhlasan. Ia bagaikan akar pohon yang tertanam jauh di dalam gelapnya tanah. Ia tidak pernah pamer kepada dunia betapa cantiknya bunga yang mekar di ranting, atau betapa manisnya buah yang bergelantungan di dahan.

Namun, tanpa keikhlasan sang akar yang terus bekerja dalam senyap, pohon itu akan tumbang dihantam angin.
Maka, tidak apa-apa kalau hari ini tidak ada satu pun manusia yang menyebut kita hebat.

Tidak apa-apa jika peluh dan air mata yang kita teteskan untuk orang lain luput dari pandangan mata dunia. Orang-orang yang ikhlas memang sering kali berjalan seperti angin—tidak terlihat rupa dan wujudnya, namun kesejukannya bisa dirasakan oleh siapa saja yang dilewatinya.

Pujian manusia hanyalah fatamorgana yang datang dan pergi secepat embusan angin. Ia bisa melambungkanmu ke langit dalam sedetik, namun bisa juga menghempaskanmu ke bumi pada detik berikutnya. Menggantungkan kebahagiaan pada pengakuan orang lain adalah cara paling fana untuk merayakan kehidupan.

Jangan Biarkan Hidup Berlalu Tanpa Makna
Waktu adalah anak panah yang melesat cepat dari busurnya. Ia tidak akan pernah berbalik arah. Setiap detak jantung kita adalah hitung mundur menuju sebuah titik henti yang pasti.

Yang paling menakutkan dari akhir sebuah perjalanan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan sebuah penyesalan yang terlambat:

ketika menyadari bahwa hidup kita telah lewat begitu saja seperti bayang-bayang yang menyapu bumi, lalu hilang tanpa pernah memberi manfaat apa pun bagi orang lain.

Mari merenung sejenak, menatap ke dalam diri. Jangan biarkan kita menjadi manusia yang egois, yang hanya sibuk mengumpulkan dunia untuk kepuasan diri sendiri.

Jadilah seperti lilin yang rela menghabiskan dirinya demi memberi terang pada kegelapan di sekelilingnya. Atau jadilah seperti mata air di tengah gurun, yang tak pernah meminta imbalan dari setiap musafir yang mereguk kesegarannya.

Sebab pada akhirnya, saat seluruh tirai panggung dunia ini ditutup, dan nama kita hanya akan terukir di atas batu nisan yang membisu, hanya ada satu pertanyaan yang benar-benar bermakna:

Sudahkah kehadiran kita menjadi berkah bagi semesta?

READ MORE - Menjadi Embun yang Luruh Diam-Diam_Ronaldo Rozalino
Coach RR

Menyuarakan Jiwa, Memperkaya Kehidupan: Menyelami Pembelajaran Musik Vokal yang Mendalam

Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Guru Musik (Seni Budaya) SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Guru Konten Kreator Riau, Composer & Arranger, Coach)

Bernyanyi bukan sekadar mengeluarkan suara dan menyelaraskan nada. Lebih dari itu, bernyanyi adalah sebuah seni mengekspresikan rasa, menyuarakan jiwa, dan media untuk memperkaya kualitas kehidupan kita.

Di dalam kelas Seni Budaya, khususnya pembelajaran Musik Vokal, kita tidak hanya melatih pita suara agar terdengar merdu, melainkan mengajak siswa untuk mengalami sebuah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang bermakna, berkesadaran, dan menggemirakan.

Bagaimana sebetulnya konsep pembelajaran musik vokal yang mendalam ini diterapkan? Mari kita bedah bersama melalui tiga pilar utama: Pengalaman, Prinsip, dan Siklus Performa Vokal.

1. Pengalaman Pembelajaran Mendalam Vokal
Untuk mencapai esensi dari musik vokal, siswa harus dibawa melampaui rutinitas latihan biasa melalui tiga tahapan pengalaman:

Memahami Teknik & Anatomi: Langkah awal dimulai dengan logika dan pengetahuan. Siswa diajak untuk mengenal mekanisme produksi suara di dalam tubuh mereka sendiri, mulai dari fungsi diafragma, cara kerja pita suara (fonasi), hingga membaca dan memahami notasi musik dengan benar.

Mengaplikasikan Latihan Vokal: Pengetahuan tanpa praktik akan sia-sia. Pada tahap ini, siswa mulai mengaplikasikan teori ke dalam tindakan nyata. Mereka melatih pernapasan yang stabil, mengasah ketepatan intonasi, memperjelas artikulasi kata demi kata, serta mengenali registrasi suara mereka (apakah chest voice, head voice, atau mix voice).

Merefleksi Ekspresi & Makna: Inilah puncak dari pengalaman bernyanyi. Siswa diajak menyelami lirik lagu, merasakan emosi yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu, menjiwainya, hingga mampu melakukan evaluasi mandiri terhadap penampilan mereka sendiri.

2. Prinsip Pembelajaran Mendalam Vokal
Agar proses belajar berjalan secara organik dan membekas dalam sanubari siswa, ada tiga prinsip utama yang wajib dijaga:
Kesadaran Tubuh & Suara: Seorang penyanyi yang baik harus memiliki kesadaran penuh (mindfulness) terhadap fisiknya.

Siswa diajarkan untuk sadar akan postur tubuh yang tegak namun relaks, mampu mendeteksi ketegangan otot yang bisa mengganggu suara, serta memaksimalkan resonansi di area rongga tubuh.

Kebermaknaan Musik: Pembelajaran vokal tidak boleh berdiri sendiri sebagai materi hafalan. Musik harus terhubung dengan konteks kehidupan nyata siswa dan menyentuh emosi pribadi mereka, sehingga setiap lagu yang dinyanyikan terasa hidup.

Kebahagiaan Berekspresi: Kelas musik harus menjadi tempat yang aman dan nyaman. Suasana belajar yang suportif, kreatif, dan menyenangkan akan menumbuhkan rasa percaya diri siswa untuk berekspresi tanpa takut dihakimi.

3. Memahami Siklus Performa Vokal: “The Voice”
Secara teknis dan biologis, memproduksi suara vokal yang indah menyerupai sebuah siklus yang berputar harmonis di dalam tubuh, mirip dengan siklus alam yang seimbang:
Sumber Udara: Segala sesuatu dimulai dari paru-paru. Udara yang dihirup dengan teknik pernapasan yang benar menjadi “bahan bakar” utama.

Fonasi (Pita Suara): Udara yang diembuskan kemudian menggetarkan pita suara, menghasilkan bunyi dasar.
Resonansi: Bunyi dasar tersebut diperkuat dan diperindah di dalam rongga-rongga resonansi tubuh (dada, mulut, hidung, hingga kepala).

Artikulasi & Proyeksi: Suara dibentuk menjadi kata-kata yang jelas melalui alat ucap (lidah, bibir, gigi) lalu diproyeksikan keluar agar terdengar jernih oleh pendengar.

Ekspresi & Dinamika: Sentuhan akhir yang memberikan “ruh” pada lagu melalui permainan volume (keras-lembut) dan penjiwaan emosi yang mendalam.

Transformasi di Ruang Kelas: Diskusi hingga Presentasi
Di SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, konsep ini diwujudkan secara nyata melalui aktivitas belajar kelompok yang interaktif. Siswa tidak belajar sendiri-sendiri secara kaku, melainkan melalui tiga fase transformatif:

Diskusi & Eksplorasi: Siswa berkumpul untuk membedah lagu, bertukar pikiran, dan mengeksplorasi referensi musik bersama-sama dengan bantuan media pembelajaran yang menarik.

Eksperimen & Aplikasi: Di fase ini, siswa langsung mencoba mempraktikkan teknik vokal, mencoba alat bantu latihan, atau berlatih menggunakan keyboard untuk menyelaraskan nada.

Refleksi & Presentasi: Kelompok siswa tampil menunjukkan hasil latihan mereka di depan kelas, menerima umpan balik yang membangun, serta memanfaatkan teknologi (seperti tablet/aplikasi musik) untuk merekam dan mengevaluasi penampilan.


Pembelajaran musik vokal yang mendalam bukan sekadar mencetak penyanyi yang mahir secara teknis, melainkan membentuk manusia yang peka rasa, kreatif, dan menghargai keindahan. Mari kita terus bergerak, membimbing generasi muda untuk bernyanyi mendalam, menyuarakan jiwa, dan memperkaya kehidupan.

Bagaimana pengalaman Anda dalam melatih vokal atau mengajar musik di sekolah? Mari berbagi cerita di kolom komentar!

READ MORE - Menyuarakan Jiwa, Memperkaya Kehidupan: Menyelami Pembelajaran Musik Vokal yang Mendalam_Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
Coach RR

Menjadi Guru Tetap Waras dan Bermartabat: Memaknai Kembali 9 Kode Etik Guru
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.

Dunia pendidikan hari ini dinamis sekaligus penuh tantangan. Di tengah derasnya perubahan kurikulum, tuntutan administrasi, dan karakter generasi digital, menjadi seorang pendidik bukanlah perkara mudah. Sering kali muncul pertanyaan di benak kita:

Bagaimana bisa tetap memberikan yang terbaik untuk siswa, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental dan martabat diri sebagai profesional?

Jawabannya terletak pada bagaimana kita memaknai profesi ini. Menjadi guru bukan sekadar tentang datang ke kelas, menjelaskan materi, lalu pulang. Lebih dari itu, ada komitmen moral yang mengikat kita, yang biasa kita sebut sebagai Kode Etik Guru.

Agar tugas mulia ini tidak terasa sebagai beban yang memberatkan, mari kita bedah kembali 9 prinsip utama Kode Etik Guru dengan sudut pandang yang lebih segar—sebuah versi untuk

“Guru Tetap Waras dan Bermartabat”.

1. Membimbing Peserta Didik dengan Sepenuh Hati
Pondasi utama dari pendidikan adalah rasa kasih sayang. Ketika kita mengajar dengan hati, setiap materi yang disampaikan akan lebih mudah diterima. Ingat prinsip sederhana ini:

Anak-anak bahagia, guru pun ikut bahagia!

Hubungan emosional yang positif antara guru dan murid adalah kunci utama terciptanya kelas yang hidup.

2. Jujur dan Profesional dalam Menjalankan Kurikulum
Kurikulum boleh berganti, namun integritas seorang guru harus tetap teguh. Menjadi profesional berarti kita mau terus belajar menguasai metode-metode baru, jujur dalam memberikan penilaian, dan objektif dalam melihat perkembangan setiap anak didik.

3. Mengenal Peserta Didik untuk Membimbing Lebih Baik
Setiap anak adalah individu yang unik dengan latar belakang, potensi, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Tugas kita bukanlah menyamaratakan mereka, melainkan mengenali keunikan tersebut. Dengan mengenal mereka lebih dekat, kita bisa memberikan arahan dan bimbingan yang tepat sasaran.

4. Menciptakan Suasana Sekolah yang Nyaman dan Mendukung Belajar
Sekolah harus menjadi “rumah kedua” yang aman bagi siswa. Sebagai guru, kita berperan penting dalam membangun atmosfer kelas yang suportif, minim tekanan (stres), namun tetap menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi. Suasana yang nyaman akan membuat proses belajar menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan, bukan sebuah kewajiban yang menjemukan.

5. Menjalin Hubungan Baik dengan Orang Tua dan Masyarakat
Pendidikan anak tidak bisa dibebankan kepada sekolah sendirian. Kolaborasi dan komunikasi yang harmonis antara guru dan orang tua adalah jembatan keberhasilan siswa. Ketika visi sekolah dan rumah selaras, tumbuh kembang anak akan lebih optimal.

6. Mengembangkan Mutu dan Martabat Profesi Guru
Zaman terus berubah, begitu pula dengan ilmu pengetahuan. Seorang guru yang bermartabat adalah mereka yang tidak pernah berhenti menjadi “murid”. Terus meng-upgrade diri, mengikuti pelatihan, membaca, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi adalah cara kita menjaga kehormatan profesi ini.

7. Menjaga Semangat Kekeluargaan dan Solidaritas Sesama Guru
Menghadapi tantangan di sekolah akan terasa lebih ringan jika dilakukan bersama-sama. Ruang guru harus menjadi tempat saling mendukung, berbagi praktik baik, dan saling menguatkan, bukan tempat untuk saling berkompetisi secara tidak sehat. Solidaritas inilah yang menjaga kita tetap “waras”.

8. Memperkuat Organisasi Profesi sebagai Ruang Perjuangan dan Pengabdian
Organisasi profesi bukan sekadar wadah formalitas atau urusan administratif. Ini adalah wadah kolektif bagi kita untuk menyuarakan aspirasi, melindungi hak-hak guru, sekaligus meningkatkan kompetensi bersama demi kemajuan pendidikan nasional.

9. Melaksanakan Kebijakan Pendidikan dengan Penuh Tanggung Jawab
Setiap regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tentu memiliki tujuan baik untuk memajukan pendidikan. Sebagai bagian dari sistem, kita dituntut untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab, adaptif, dan tetap kritis demi kebaikan anak didik.

Ngopi Boleh, Etik Tetap Jalan
Menjadi guru yang ideal bukan berarti kita harus menjadi manusia super yang tidak boleh merasa lelah. Kita tetaplah manusia biasa. Mengambil jeda sejenak untuk minum kopi, bercengkrama dengan rekan sejawat, atau menikmati hobi adalah hal yang sangat manusiawi agar pikiran tetap segar.
Namun di atas semua itu, esensi utama yang tidak boleh hilang adalah:

Bukan cuma mengajar, tapi juga membimbing!

Dengan memegang teguh sembilan kode etik di atas, kita tidak hanya berhasil mengantarkan anak-anak didik menuju masa depan mereka, tetapi juga berhasil menjaga diri kita sebagai pendidik yang tetap bahagia, waras, dan penuh martabat.

Selamat mengabdi, guru-guru hebat Indonesia!



Profil singkat penulis:
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Guru SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Aktif diberbagai organisasi: Organisasi pendidikan (IGI Kuansing, Kombel Kayuah SMAN 1 Sentajo Raya, Guru Konten Kreator Riau,) Ormas (PD Muhammadiyah Kuansing, MUI Kab. Kuansing, DMI Kab. Kuansing, Yayasan Mesjid Raya Teluk Kuantan, Forum Literasi Kuansing, DKC Kuantan Tengah, PCM Teluk Kuantan, PERRUAS Riau). Guru penulis Edukasi, Seni Budaya, Guru Penggerak Angkatan 10 Kab. Kuansing, Fasilitator Daerah CBP Rupiah Bank Indonesia dan BGTK Riau, Guru Musik, Motivator Literasi & Edukasi, Narasumber Literasi Nasional, Composer & Arranger, Bisnis Owner Leader, Instruktur Musik, Blogger, Coach, Saat ini memiliki 25 Sertifikat Non Akademik dengan berbagai keilmuan)

READ MORE - Menjadi Guru Tetap Waras dan Bermartabat: Memaknai Kembali 9 Kode Etik Guru_Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
Coach RR


Tantangan Zaman di Era Globalisasi
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Sasaran: Santri Akhir (Kelas XII) Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan Teluk Kuantan


Materi yang disusun secara sistematis untuk disampaikan kepada para santri kelas XII MA Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan.

Materi ini dirancang agar relevan dengan tema besar: "Baitul Arqam Sebagai Pilar Pembinaan Kader Muda Berjiwa Islami dan Berorientasi Global."

Materi: Tantangan Zaman di Era Globalisasi
Pemateri: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Sasaran: Santri Akhir (Kelas XII) Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan

1. Pendahuluan: Memahami Wajah Globalisasi
Globalisasi bukan sekadar perdagangan bebas, melainkan hilangnya batas-batas negara melalui teknologi. Bagi santri, globalisasi adalah pedang bermata dua:

* Peluang: Dakwah tanpa batas, akses ilmu pengetahuan dunia, dan kolaborasi internasional.

* Ancaman: Sekularisme, konsumerisme, dan hilangnya identitas akhlak.

"Menjadi global bukan berarti menjadi Barat. Menjadi global berarti memiliki wawasan seluas dunia dengan kaki yang tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren."

2. Tantangan Utama Santri di Era Digital
Sebagai lulusan pesantren di tahun 2026, santri akan menghadapi tantangan berikut:

* Disrupsi Informasi: Banjir informasi (hoaks vs fakta) yang menguji daya kritis (tabayyun).

* Krisis Karakter: Budaya instan yang melemahkan daya juang dan kesabaran (sifat shabr).

* Kompetisi Global: Persaingan dunia kerja yang menuntut keahlian teknis (hard skills) sekaligus integritas (moral).

3. Strategi Menjadi Kader Berorientasi Global
Untuk menjawab tantangan di atas, santri KH. Ahmad Dahlan harus memiliki tiga pilar kekuatan:

A. Literasi dan Teknologi (Intellectual Strength)
Santri tidak boleh "gaptek". Menguasai bahasa asing (Arab & Inggris) serta teknologi digital adalah fardu kifayah untuk memenangkan persaingan global.

B. Karakter Berkemajuan (Strong Character)
Mengadopsi nilai-nilai Muhammadiyah yang inklusif, toleran, namun tetap teguh pada prinsip tauhid. Santri harus menjadi Problem Solver di masyarakat, bukan sekadar penonton.

C. Mentalitas Kemandirian (Self-Reliance)
Globalisasi menuntut kemandirian ekonomi dan pemikiran. Santri harus memiliki jiwa kewirausahaan dan kreativitas agar tidak mudah didikte oleh arus zaman.

4. Peran Santri sebagai Kader Muhammadiyah
Sesuai tujuan Baitul Arqam, santri setelah lulus harus menjadi:

* Pilar Dakwah: Membawa wajah Islam yang sejuk di media sosial dan lingkungan kampus.

* Agen Perubahan: Berani mengkritisi budaya global yang bertentangan dengan norma agama.

* Duta Pesantren: Menunjukkan bahwa lulusan pesantren mampu bersaing di universitas terbaik maupun di kancah internasional.

5. Pesan untuk Santri Akhir
Dunia di luar gerbang pondok sangatlah luas dan keras. Namun, dengan bekal ilmu yang didapat di Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan, kalian adalah "mutiara" yang siap menyinari kegelapan zaman.

"Jangan takut pada globalisasi, tapi takutlah jika kalian kehilangan jati diri sebagai santri di tengah arus globalisasi."






READ MORE - Tantangan Zaman di Era Globalisasi_Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd_Sasaran: Santri Akhir (Kelas XII) Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan Teluk Kuantan
Coach RR




Laporan Lokakarya 7 “ Panen Hasil Belajar” Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 10

Kabupaten Kuantan Singingi, Riau

 

Oleh:

Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd

(PP: Betri Murni, S.Si, Fasilitator: Rizki Ikhwan, S,Hum)

 

 



Teluk Kuantan, 27 Oktober 2024. Bismillah. Guru merupakan garda terdepan Pendidikan oleh sebab itu Kemendikbudristek mencanangkan Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) untuk membentuk seorang tenaga pendidik menjadi pemimpin pembelajaran Abad 21. Seorang Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh siswa secara holistic, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Untuk menjadi seorang Guru Penggerak seorang guru harus lulus seleksi dan mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP). Program Guru Penggerak adalah program Pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring,lokakarya,konferensi, dan pendampingan selama 6 bulan bagi calon guru penggerak.

Pemimpin sekolah, dalam berbagai literatur, disebut berperan besar dalam menentukan keberhasilan sekolah karena ia mempunyai tanggungjawab dalam mensinergikan berbagai elemen di dalamnya. Seorang pemimpin sekolah yang berkualitas akan mampu memberdayakan seluruh sumber daya di ekosistem sekolahnya hingga dapat bersatu padu menumbuhkan siswa-siswa yang berkembang secara utuh, baik dalam rasa, karsa, dan ciptanya. Tak dipungkuri, pemimpin sekolah merupakan salah satu aktor kunci dalam terwujudnya Profil Pelajar Pancasila (PPP).



Untuk dapat menjalankan peran-peran tersebut, seorang pemimpin sekolah perlu mendapatkan Pendidikan yang berkualitas sebelum ia menjabat. Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP), sebagai bagian dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar episode kelima didesain untuk mempersiapkan guru-guru terbaik di negeri ini untuk menjadi pemimpin sekolah yang berfokus pada pembelajaran. Melalui berbagai aktivitas dalam pembelajaran PPGP, kandidat kepala sekolah masa depan diharapkan memiliki harapan besar agar lulusan PPGP dapat mewujudkan standar nasional Pendidikan untuk menjamin mutu Pendidikan diseluruh negeri in, di mana keberpihakan pada siswa menjadi orientasi utamanya.



Untuk pemenuhan kandidat kepala sekolah yang lebih optimal menuntut penyesuaian pada desain pembelajaran PPGP. Karena itu, terhitung dari Angkatan kelima durasi program diefisienkan dari Sembilan bulan menjadi enam bulan. Selain itu, PPGP juga menerapkan diferensiasi proses untuk peserta di daerah yang memiliki akses terbatas, baik dari segi tranfortasi maupun telekomunikasi. Namun terlepas dari moda penyampaian yang beragam, para Calon Guru Penggerak (CGP) di seluruh Ondonesia sama-sama mempelajari materi-materi bekal kepemimpinan dengan system on-the-job learning dimana selama belajar, guru tetap menjalankan perannya di sekolah sekaligus menerapkan pengetahuan yang didapat dari ruang pelatihan ke dalam pembelajaran di kelas. Pendekatan pembelajaran juga tetap menggunakan siklus inkuiri yang sarat dengan refleksi dan praktik langsung, baik bersama sesam CP maupun rekan sejawat di sekolah. Pendampingan dilapangan juga tetap menjadi kunci dari keberhasilan implementasi konsep di kelas atau sekolah CGP.



Pembelajaran bersama pengajar praktik (PP) dilakukan secara individu di satuan Pendidikan masing-masing dan secara berkelompok dalam bentuk lokakarya. Pendampingan pada lokakarya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan CGP untuk menjalankan perannya,menjejaringkan CGP di tingkat kota, menjadi ruang diskusi dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh CGP, serta meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan di tingkat sekolah dan kota.





Dua minggu dari kegiatan lokakarya 6 sebelumnya, Program Pedidikan Guru Penggerak (PGP) menggelar kembali salah satu agenda kegiatannya yaitu lokakarya. Untuk program Pendidikan guru penggerak Angkatan 10 lokarkarya yang diselengarakan adalah Lokakarya 7. Lokakarya 6 Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) angkatan 10 dilaksanakan secara serentak pada tanggal  5 Oktober2024 di Kabupaten/Kota di Provinsi Riau.


Lokakarya 7 berbeda sekali dengan enam lokakarya sebelumnya. Pada lokakarya 7 kegiatanya di laksanakan selama dua hari kegiatan. Kegiatan lokakarya 7 untuk PPGP Angkatan 10 kabupaten Kuantan Singingi di selenggarakan di Gedung SMAN Pintar atas dasar permintaan CGP 10 Kab. Kuantan Singingi mengingat CGP 10 ada 51 orang sehingga membutuhkan tempat yang luas dan Alhamdulillah berjalan sukses dan lancar.







Hari Pertama

Kegiatan Lokakarya dihari pertama dilaksanakan pada Hari Jumat, 25 Oktober dengan agenda kegiatan pembelajaran/ruang diskusi di kelas. Ada 10 kelas/ruangan diskusi yang di sediakan. Ronaldo Rozalino CGP 10 Kab. Kuansing bergabung di semua kelas yang h=yang hadir 51 CGP 10 dan 10 PP denganAktivitas Pembelajaran di Gedung SMAN Pintar Provondi Riau  Lokakarya 7

Berbeda dengan lokakarya sebelumnya, kegiatan pembelajaran dikelas langsung dilaksanakan di kelas dengan agenda kegiatan di Lokakarya 7 yang bertemakan “Panen Hasil Belajar“ terbagi secara garis dalam 5 kegiatan/sesi.

1. Pembukaan

2. Kelas Belajar Calon Guru Penggerak

3. Berbagi Aksi Nyata

4. Berbagi Dampak Positif

5. Persiapan Pameran Hasil Program


Kegiatan pembelajaran dikelas dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh PP Rohayati Roeslai, S.Ps.I.

Kegiatan sesi pembukaan dengan tujuan:

1) CGP dapat menciptakan koneksi dengan peserta lain dan Pengajar Praktik;

2) CGP dapat memahami tujuan dan agenda pada lokakarya 7 ini. Setelah kegiatan pembukaan, aktivitas dilanjutkan dengan Ice Breaking yang merubah suasana kelas menjadi lebih cair dan para CGP bergairah dan memberikan respon yang positif.

 

PP Rohayati Roeslai menyampaikan tujuan dari Lokakarya 7

yaitu:

1) CGP dapat menjelaskan proses yang dialami dan praktik baik yang didapatkan dalam mengembangkan program yang berdampak pada siswa;

2) CGP dapat menjelaskan untuk pengembangan program dari para pengunjung;

3) CGP dapat membagikan hasil pembelajaran selama 6 bulan dan dampaknya terhadap diri kepada undangan lokakarya (Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan, Komunitas daerah).

 

Agenda Lokakarya 7 disampaikan ke para CGP dengan alur di hari pertama:

1) Pembukaan

2) Kelas Belajar CGP

 

Di hari kedua

1) Pembukaan

2) Kelas Berbagi CGP

3) Pameran Hasil Belaja

4) Penutupan

Setelah penyampaian alur agenda Lokakarya 7, di pandu PP Rohayati Roeslai

 

Kegiatan Pembelajaran di Gedung SMAN Pintar Provinsi Riau berlanjut pada sesi belajar Calon Guru Penggerak. Tujuan sesi ini adalah:

1) CGP dapat mengevaluasi tugas lokakarya 6;

2) CGP dapat mengevaluasi program pelatihan CGP;

3) CGP dapat merefleksikan capaian dirinya setelah mengikuti program pelatihan Calon Guru Penggerak;

4) CGP dapat merefleksikan berbagai praktik baik yang terjadi di kelas, sekolah, atau lingkungan sehari-hari;

5) CGP dapat membuat bahan pameran untuk kegiatan sesi atau hari ke-2.

 

 

Pada kegiatan ini di pandu oleh PP secara bergantian yang ada 10 PP, para CGP bekerja berdasarkan kelompok. Ada lima aspek yang akan di evaluasi, yaitu:

1) materi pelatihan;

2) Pengajar Praktik;

3) Media Belajar;

4) Bahan Belajar (modul, video atau buku saku).

Lima aspek tersebut sudah dituliskan di 5 poster yang telah di tempel di ruangan kelas/dinding. Para CGP menuliskan hal yang sudah baik dan hal yang dapat ditingkatkan di tiap aspeknya. Hal yang sudah baik dituliskan di post-it berwarna hijau, sementara hal yang dapat ditingkatkan dituliskan di post-it berwarna kuning. Tiap kelompok terdiri dari tiga orang.

Ada 10 kelompok, tiap kelompok bergantian mengisi tiap aspek.

Kegiatan berjalan sesuai dengan agenda yang telah disusun oleh para PP. Setelah kurang lebih 90 menit, kegiatan berlanjut pada sesi berbagi aksi nyata.

Dikegiatan berbagi aksi nyata yang dipandu oleh PP, para CGP diminta untuk mengeluarkan foto/poster aksi nyata yang pernah dilakukan di program Guru Penggerak, yang sudah ditugaskan untuk dibawa di Lokakarya 6. Setelah itu, masing-masing CGP menceritakan aksi nyatanya dalam durasi maksimal 5 menit, dimana para CGP yang sedang mendengar bisa bertanya kepada yang bercerita. Setelah semua CGP bercerita tentang foto/poster masing-masing, aktivitas berlanjut pada sesi berikutnya yaitu Berbagi Dampak Positif.

Dikegiatan Berbagi Dampak positif, masing-masing CGP mengidentifikasi hal-hal bai kapa yang sudah terjadi atau perubahan positif apa yang di alami CGP selama 6 bulan.

Terdapat 5 aktor atau lingkup yang akan di lihat hal-hal baik yang sudah terjadi yaitu:

1) Murid di kelas;

2) Rekan guru di 1 sekolah;

3) Kepala Sekolah;

4) Komunitas praktisi;

5) Ekosistem belajar (lingkungan sehari-hari, pengawas, dinas).

Dengan menuliskan hal baik yang sudah terjadi atau perubahan baik yang sudah dilakukan di tiap aktor atau lingkungan di post-it yang dibagikan oleh PP, para CGP dengan teliti dan antusias serta secara bergiliran menempelnya di kertas plano yang sudah di pasang sebelumnya di dinding kelas.

Kegiatan di hari pertama Lokakarya 7 di tutup dengan sesi persiapan pemeran hasil belajar tepat pukul 11.30 WIB karena dicepatkan pada hari Juma.

 

 

 

 

Produk Yang Dihasilkan dan Ketercapaian Tujuan Belajar

Berdasarkan tujuan dari Lokakarya 7 ini, maka produk yang dihasilkan dan ketercapaian tujuan pembelajaran bisa dilihat dari :

1)   Rangkuman materi kunci per sub modul, yang dikaitkan dengan perubahan perilaku dan nilai guru penggerak untuk "berpihak pada murid" (dipaparkan di kelas berbagi)

2)  Ringkasan ide pengembangan program berdasarkan masukan dan info dukungan pengunjung

3)   Persiapan: media presentasi praktik baik di lingkungan belajar sekolah dan paparan untuk kelas berbagi

 

Kesimpulan dan Refleksi Pembelajaran

Seorang pemimpin sekolah yang berkualitas akan mampu memberdayakan seluruh sumber daya di ekosistem sekolahnya hingga dapat bersatu padu menumbuhkan siswa-siswa yang berkembang secara utuh, baik dalam rasa, karsa, dan ciptanya. Tak dipungkuri, pemimpin sekolah merupakan salah satu aktor kunci dalam terwujudnya Profil Pelajar Pancasila (PPP).

Pendidikan Guru Penggerak telah tuntas namun bersiaplah menghadapi yang lebih lugas.Transformasi Calon Guru Penggerak kini dinanti untuk menghasilkan berbagai inovasi, memberikan yang terbaik untuk pendidikan ini,  dan selalu menjadi guru penggerak sejati.

“Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak” – Nadiem Makarim.

Teruslah belajar sampai Allah mengatakan saatnya untuk pulang - Ronaldo Rozalino

 

Hari Kedua

Sabtu, 26 Oktober 2024. Bertempat di Gedung SMAN Pintar Provinsi Riau dilaksanakan Lokakarya 7 hari kedua. Hadir pada kegiatan tersebut yakni Pjs. Bupati Kuantan Singingi drg. Sri Sardono Mulyanto, M.Han,  Tim BGP Provinsi Riau Rizki, Ikhwan, S.Hum Fasilitator BGP Riau, PLt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi Bapak Hervion, S.Pd,SD, Ketua MKKS SMA Provinsi Riau Bapak Rohandi Abu Bakar, S.Pd,MM,  Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi Bapak Armalis selaku Kasi SMP dan Penanggjung Jawab Guru penggerak dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi, Kasi SD Bapak Mukzelan, S.Pd, Panitia dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuantan Singingi, Para pejabat dilingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi , para Pengawas, para kepala sekolah CGP, 10 Pengajar Praktik (PP), dan 51 CGP 10 Kabupaten Kuantan Singingi




Seperti hal nya pada lokakarya sebelumnya, kegiatan Lokakarya 7 diawali dengan acara pembukaan dengan penampilan Tari Somba Cerano dari CGP 10 Kuansing, menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai dirigen Ronaldo Rozalino, S.Sn.MPd CGP 10 Kuansing, pembacaan doa dari Riffi Maulidri, M.Pd CGP 10,Sambutan dari BGP Rizki Ikhwan, S.Hum Fasilitator BGP Riau, Sambutan dari Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Hervion, S.Pd.SD, dan Sambutan dari Pjs. Bupati Kuantan Singingi drg. Sro Sardono Mulyanto, S.Han.

Lokakarya 7 dikabupaten Kuantan Singingi  dibuka secara resmi langsung Pjs. Bupati Kuantan Singingi drs. Sro Sardono Mulyanto, S.Han oleh tepat pukul 10.00 WIB. Dalam sambutannya beliau menyampaikan harapannya bahwa yang paling pokok dari kegiatan PPGP ini adalah bagaimana para CGP mengaktualisasikan dan mempraktikannya dalam keseharian, bagaimana pembelajaran berpihak pada siswa, apa yang sudah didapatkan selama PPGP berjalan benar-benar tercermin dan ada aksi nyatanya.




Kegiatan Lokakarya 7 di hari kedua sebelum ditutup di tampilkan kelas berbagi Calon Guru Penggerak yang menampilkan perwakilan CGP masing-masing jenjang TK,SD,SMP,SMA/SMK dan SLB. Masing-masing CGP menampilkan hasil praktik baiknya/program  pada aksinyata yang sudah dilakukan oleh para CGP.

 







Kesimpulan dan Refleksi Pembelajaran

Peranan guru sebagai pendidik tidak hanya sekedar membahas kurikulum melainkan melahirkan masa depan serta membangun peradaban

Guru yang berkualitas akan membuat anak didiknya berkualitas. Siswa berkualitas akan menjadikan generasi yang berkualitas. Kabupaten Kuantan Singingi ini mau jadi apa ke depan tergantung pada ibu bapak sekalian para guru.

Kunci rahasia dunia itu ilmu, kunci akhirat itu juga ilmu. Jika ingin mendapatkan keduanya yaitu dengan Ilmu atau pendidikan. Insya Allah pelaksanaan sekolah penggerak ini menjadi langkah maju kita bersama dalam meningkatkan mutu dan kualitas SDM, khususnya bagi para guru agar memberikan layanan pendidikan yang lebih baik.

Salam Guru Penggerak! Tergerak Bergerak dan menggerakkan.

Salam dan Bahagia.





Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd, Kelas 10.43 BGP Riau, CGP 10 Kab. Kuantan Singingi, SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau.































































































































 


READ MORE - Laporan Lokakarya 7 Panen Hasil Belajar Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 10 Kuansing_Ronaldo Rozalino,S.Sn.,M.Pd

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777