Welcome My Blog

Tampilkan postingan dengan label Rendah Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rendah Hati. Tampilkan semua postingan
Coach RR

Menjadi Padi yang Menyejukkan atau Minimal Tidak Menjadi Ilalang yang Merugikan

Sejak kecil, kita sering kali mendengarkan sebuah filosofi hidup yang sangat indah:

"Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin merunduk."

Filosofi ini mengajarkan kita tentang arti kerendahan hati. Semakin banyak ilmu, semakin tinggi kedudukan, atau semakin luas rezeki yang kita miliki, seharusnya kita semakin rendah hati, bijaksana, dan banyak memberikan manfaat bagi sesama makhluk hidup.

Namun, mari kita berdamai dengan kenyataan. Sebagai manusia biasa, kita tidak selalu berada di puncak energi atau kondisi terbaik kita.

Ada kalanya kita merasa lelah, tertimpa masalah, jatuh, atau bahkan sedang tidak mampu untuk membantu orang lain secara fisik maupun materi.

Dan tahukah Anda? Itu adalah hal yang sangat wajar.

Ketika Belum Bisa Menjadi Padi, Jangan Jadi Ilalang

Melalui pesan inspiratif penulis sebuah pengingat bijak yang sangat menyentuh hati:

"Jika tidak bisa menjadi padi, maka jangan menjadi ilalang. Bila kita merasa tidak mampu memberi manfaat kepada orang lain, maka cukup bagi kita untuk tidak merugikan orang lain."

Padi melambangkan kebaikan, ketulusan, dan sumber kehidupan yang mengenyangkan banyak orang.

Sebaliknya, ilalang sering kali dianggap sebagai gulma yang merusak pemandangan, menyerap nutrisi tanaman lain, dan merugikan lingkungan sekitar.

Dalam Islam, prinsip tidak merugikan dan selalu menyebarkan kebaikan adalah inti dari ajaran kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

"La dharara wa la dhirar" (Tidak boleh melakukan mudarat [merugikan diri sendiri] dan tidak boleh pula memudaratkan [merugikan orang lain]).
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bahwa batasan minimal dalam berinteraksi sosial adalah tidak menjadi sumber masalah atau kerugian bagi orang lain.

Panduan Sederhana: Langkah Mulia Hari Ini
Jika hari ini kita belum sanggup menjadi sosok padi yang luar biasa produktif dan dermawan, jangan berkecil hati.

Kita tetap bisa meraih kemuliaan dengan melakukan hal-hal kecil yang berdampak besar bagi kedamaian sekitar:

Kalau belum bisa memuji, jangan menghina. Menjaga lisan adalah bentuk ketakwaan tertinggi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 11: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka..."

Kalau belum bisa membantu, jangan mempersulit.
Mempermudah urusan orang lain adalah pintu datangnya pertolongan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang mempermudah urusan seseorang di dunia, maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan di akhirat."
(HR. Muslim).

Kalau belum bisa membahagiakan, jangan menyakiti.
Menahan diri dari menyakiti orang lain melalui perbuatan maupun perkataan dinilai sebagai bentuk sedekah.

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang amal yang paling utama, lalu beliau bersabda:

"Hendaklah engkau diam (tidak berbicara) kecuali kebaikan, karena sesungguhnya hal itu adalah sedekah yang engkau berikan untuk dirimu." (HR. Ibnu Hibban).

Mari Memilih Hari Ini
Menjaga energi positif memang melelahkan, tetapi menahan diri agar tidak menjadi sumber kesusahan bagi orang lain adalah pilihan bijak yang bisa kita lakukan kapan saja.

Hari ini, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri:
Apakah kita mau menjadi padi yang menebar manfaat, atau minimal memilih untuk tidak menjadi ilalang yang merugikan?

Yuk, tulis di kolom komentar: "AKU MAU JADI PADI YANG MERUNDUK", dan mari kita saling mendoakan agar senantiasa dimudahkan dalam berbuat kebaikan dan dijauhkan dari sifat yang merugikan sesama.

Penulis : Ronaldo Rozalino - Coach RR

READ MORE - Menjadi Padi yang Menyejukkan atau Minimal Tidak Menjadi Ilalang yang Merugikan
Coach RR
SOMBONG TERSELUBUNG

Assmualaikum ww 
Seorang pria yang sedang bertamu di rumah seorang Ustadz Kondang tertegun heran,  ketika melihat Sang Ustadz sedang sibuk bekerja sendiri menyikat lantai rumahnya sampai bersih.

Pria itu bertanya,
_"Apa yang sedang antum lakukan Pak Ustadz..?_
_Mengapa bukan pembantu rumah tangga saja yang antum perintahkan untuk mengepel lantai rumah?"_

Pak Ustadz menjawab dengan tersenyum,
_"Tadi saya kedatangan tamu yang meminta nasihat._
_Saya berikan banyak nasihat yang insya Allah bermanfaat._
_Namun, setelah tamu itu pulang di dalam hati saya terbersit penilaian bahwa saya ini orang hebat. Dibutuhkan banyak orang._
_Kesombongan saya pun mulai muncul._
_Oleh karena itu, saya lakukan  pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombong itu."_

Kemudian pak Ustadz melanjutkan penjelasannya . 

*SOMBONG adalah PENYAKIT HATI yang sering menghinggapi kita semua.*

Siapa saja dan apapun statusnya, orang awam atau tokoh masyarakat bisa juga dihinggapi penyakit sombong ini.

Bahkan di kalangan para ustadz, muballigh, kiyai atau habaib,  benih-benih kesombongan bisa muncul tanpa mereka sadari. 

*Ditingkat ke-1*:
Sombong disebabkan oleh *Faktor materi,* di mana kita merasa :
~ Lebih kaya,
~ Lebih berkuasa,
~ Lebih tinggi jabatan,
~ Lebih rupawan &
~ Lebih terhormat daripada orang lain. 

*Ditingkat ke-2* :
Sombong disebabkan oleh *Faktor kecerdasan,* kita merasa :
~ Lebih rajin
~ Lebih pintar
~ Lebih kompeten
~ Lebih berpengalaman
~ Lebih berwawasan dibandingkan dengan orang lain. 

*Ditingkat ke-3:*
Sombong disebabkan oleh *Faktor kebaikan*, kita sering menganggap diri kita:
~ Lebih bermoral
~ Lebih pemurah
~ Lebih banyak amalnya
~ Lebih semangat berjuang dan beribadah
~ Lebih banyak kontribusinya untuk umat.
~ Lebih besar dari orang lain berdasarkan apa yang sudah dicapai, seraya meremehkan orang lain dengan menganggapnya orang kecil.
~ Lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik...
Semakin Tinggi tingkat KESOMBONGAN kita, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

Sombong karena MATERI mudah terlihat.
 
Namun, 

Sombong karena *PENGETAHUAN,* apalagi SOMBONG karena KEBAIKAN, SULIT DILIHAT.

Karena, ....
Seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Cobalah setiap hari kita melakukan INTROSPEKSI DIRI.

Kadang kita butuh orang lain untuk membantu mengintrospeksi diri.

Kita juga butuh kritikan dan masukan dari orang lain. 

Mari kita sadari bahwa setiap hal yang baik, yang bisa kita lakukan itu semua adalah karena izin dan pertolonganNya saja.

Maka hendaklah kita banyak bersyukur kepada-Nya.
Semua itu tidak lain adalah ANUGERAH-NYA.

KESOMBONGAN hanya akan membawa kita pada KEHINAAN DIRI dan KEJATUHAN yang mendalam.

*Tetaplah BERSABAR dan RENDAH HATI.*

Ketika lahir, dua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong...

Waktu datang kita tidak membawa apa-apa, waktu pergi kita juga tidak membawa apapun.

Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan, 
jangan minder karena miskin dan rendah, 
bukankah kita semua hanyalah tamu didunia ini, 
pada waktunya kita pulang ke akherat, dan semua milik kita hanyalah titipan dari Allah SWT yang sewaktu-waktu  diambilNya.

*TETAPLAH RENDAH HATI* seberapapun tinggi kedudukan kita.

*TETAPLAH PERCAYA* DIRI seberapapun kekurangan kita.

*HANYA SATU KEPUNYAAN KITA* yang bukan pinjaman, yang akan kita bawa kemana pun kita pergi, yaitu 
*IMAN + AMAL.*

Tidak akan menjadi orang besar jika dalam lubuk hati selalu menganggap kecil orang lain.

READ MORE - SOMBONG TERSELUBUNG
Coach RR
Berbagi Inspirasi Kehidupan. 

ANTARA TANAH DAN EMAS. 

Emas berkata pada tanah, “Coba lihatlah diri mu, engkau kusam, hitam & kasar, apakah engkau memiliki cahaya berkilau seperti aku ? Apakah engkau berharga seperti aku?” 

Tanah pun tersenyum dan kemudian menjawabnya dgn tenang, “Aku memang tak berkilau & berharga seperti mu, namun ketahuilah bahwa aku bisa menumbuhkan bunga & buah, bisa menumbuhkan rumput & pohon, bisa menumbuhkan sayuran dan banyak menghasikan sesuatu yg bermanfaat bagi orang lain, apakah km bisa ?” 

Mendengar jawaban dari tanah Emas pun seketika terdiam, seolah-olah jawaban itu merupakan pukulan keras yg menyadarkannya, dimana ia tadi telah merasa sombong dan memandang rendah tanah, namun sejatinya justru emas lah yg tidak berguna, karena tidak bisa memberi manfaat.

***

Begitulah sahabat ku, Dalam hidup ini banyak orang yg seperti emas, Dia nampak berharga, indah, menyilaukan, memiliki kedudukan yg tinggi & banyak harta, tetapi ia tdk bisa memberi manfaat bagi sesama. Sukses dalam karir, penampilan indah, banyaknya harta, apalah arti semua itu jika itu hanya untuk dirinya sendiri dan ia sukar membantu atau peduli kepada sesama.

Tapi sebaliknya justru ada seseorang yg terlihat seperti tanah, kehidupannya biasa saja, sederhana, tidak menyilaukan, namun ia sangat ringan tangan mudah membantu siapapun, memiliki jiwa sosial yg tinggi & banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Maka perlu untuk kita renungkan, Bahwa sesungguhnya makna dari kekayaan itu bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, Tapi seberapa banyak manfaatnya kita, Bukan terletak pada seberapa banyak yg telah kita miliki, Tapi seberapa banyak yg telah kita bagi.

Harta yg kita simpan akan kita tinggalkan atau menjadi warisan, namun harta yg telah kita sedekahkan itulah yg akan menjadi milik kita.

Kekayaan & kemewahan seseorang, terlihat bukan dari apa yg ia miliki, tapi dari apa yg ia berikan, sebab laut mati di sebut mati karena ia hanya menampung air dan tdk mengalirkan. 

Demikian pula orang kaya adalah orang yg setiap tarikan napasnya bermanfaat bagi orang ramai, sebab sebanyak apapun kekayaan, sejatinya dia tetap miskin jika hartanya hanya untuk dirinya sendiri.

Oleh karna itu hal yg terbaik bisa kita lakukan adalah menjadikan apapun kelebihan yg Allah titipkan kepada kita sebagai sarana untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pahala, bukan memperoleh sebanyak-banyaknya pujian.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Semoga kita termasuk dari orang-orang yg Allah Ta'ala jadikan dapat memberikan banyak manfaat bagi orang lain, memiliki kepekaan sosial, ringan tangan dan mudah membantu orang lain. Aamiin.

✍ Habibi Quotes
READ MORE - Berbagi Inspirasi Kehidupan, ANTARA TANAH DAN EMAS.
Coach RR
DI DUNIA INI,

Ada banyak orang yang terlihat amat bersahaja, duduk di pojokan bandara, membawa koper kecil, wajahnya biasa-biasa saja, pakaiannya seperti orang kebanyakan, tampilannya tidak penting, dan tidak akan membuat kita takjub, duduk takjim menunggu panggilan boarding pesawat terdengar. Dia tidak sibuk dengan gagdet, apalagi selfie. Tapi sejatinya, orang ini bahkan sudah mengelilingi 100 negara, ribuan kota. Dia tidak perlu koar-koar, dia tidak membutuhkan selfie, dia tidak memerlukan pamer di media sosial. Karena sejatinya, PERJALANAN terbaik ada di dalam hatinya. Bahkan saat antrian boarding diserobot, bahkan saat langkah kakinya hendak naik pesawat terganggu--gara2 orang2 bukannya naik pesawat segera, eh malah sibuk selfie. Dia hanya mengangguk takjim, berbelok dikit, meneruskan langkah naik pesawat.

DI DUNIA INI,

Ada banyak orang yang terlihat begitu sederhana, pakaiannya tidak putih-putih, tidak besar dan berjubah. Penampilannya jauh dari membuat kita terpesona. Lebih banyak diam dan mengangguk mengalah. Lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan. Tapi sejatinya, saat dia bicara, samudera pengetahuan terbentang luas dari kepalanya. Menghafal 30 juz Al Qur’an, juga ribuan hadist2 sahih. Belum lagi kitab2 lain, tak terbilang. Amal ibadahnya sungguh menakjubkan, kebermanfaatannya bagi orang lain tak terbilang. Tapi dia tidak perlu lapor saat lagi sujud shalat subuh, tidak perlu lapor saat lagi puasa, dsbgnya. Karena sejatinya, KEIMANAN ada di dalam hatinya.

DI DUNIA INI,

Ada banyak orang yang hanya memakai sendal jepit, celana lusuh seolah tak disetrika, pakaian biasa-biasa saja. Rumah amat sederhana, kendaraan itu-itu saja tak pernah diganti, gaya hidupnya apalagi, makan di rumah, jalan2 dekat rumah. Tidak akan membuat kita jadi bilang wow saat bertemu dengannya. Tapi sejatinya, dia bisa menuliskan cek milyaran dengan sangat mudah. Kekayaannya ujung ke ujung tak terkira. Aset produktifnya tak cukup ditulis di satu lembar kertas. Kita sudah merasa paling banyak penghasilannya, itu ternyata cuma penghasilan sehari saja bagi orang tersebut. Tapi dia tidak perlu lapor, umumkan, dan heboh sekali. Buat apa? Karena KEKAYAAN terbaik ada di dalam hatinya.

DI DUNIA INI,

Ada banyak yang terlihat biasa saja seperti kebanyakan tetangga kita di kampung, di gang-gang perkotaan. Tapi dia sangat berilmu pengetahuan. Wawasannya luas, pernah kuliah di kampus2 top dunia, bahkan sudah Doktor bahlan  profesor. Namun dia tidak pernah perlu mengumumkan kemana2 betapa hebat pendidikannya, betapa jenius kepalanya. Dia memilih terus fokus mengembangkan ilmunya, melakukan riset, menulis, membuat penemuan, membagikan gagasan terbaik bagi manfaat umum. Karena KEPINTARAN sejati memang ada di kebermanfaatan bagi orang banyak, bukan sibuk pamer.

Sungguh, di dunia ini, kita kadangkala tertukar sekali memahami hidup. Kita merasa sudah paling oke, sudah merasa paling keren, lupa jika kita hanyalah satu butir pasir di pantai luas. Tidak ada yang ngeh, tidak ada yang peduli dengan butir pasir kita, terbenam paling dalam. 

Maka, tidakkah kita mulai mau memahami hakikat sesuatu? Bahwa PERJALANAN terbaik ada di hati kita. KEKAYAAN terbaik juga ada di dalam hati kita. Termasuk KECANTIKAN, KETAMPANAN, KEPINTARAN, ada di dalam hati kita masing-masing. Bukan di foto yang sudah dipermak habis2an oleh aplikasi--pun tambahkan, sudah dipilih pula yang paling bagus sebelum diposting.

#coolmans
READ MORE - DI DUNIA INI

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777