Welcome My Blog

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Coach RR
JADILAH UMAT RABBANI, BUKAN UMAT “RAMADHANI”

Buletin  kaffah , No. 143 (6 Syawal 1441 H - 29 Mei 2020 M)

Ramadhan memang telah berlalu. Namun seharusnya, semangat ketakwaan saat Ramadhan janganlah pudar. Sebabnya, hikmah ibadah shaum selama sebulan penuh justru untuk menguatkan dan menaikkan derajat kita ke level takwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Bisyr al-Hafi, seorang ulama shalih, suatu saat berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya seorang disebut shalih ketika ia beribadah dan ber-mujahadah selama setahun penuh.”

Keharusan Istiqamah
Selama Ramadhan umat diberi riyadhah (pelatihan) yang luar biasa. Mereka ‘dipaksa’ menahan hawa nafsu lapar, haus dan dorongan seksual sejak fajar hingga Maghrib. Mereka didorong untuk melakukan tilawah al-Quran dan qiyamul layl (shalat tarawih), banyak bersedekah dll. Semua itu mereka lakukan sembari mengerjakan aktivitas harian seperti biasa. Pada sepuluh hari penghujung Ramadhan kaum Muslim juga dianjurkan menghidupkan mesjid-mesjid dengan beritikaf. Di antaranya untuk mendapatkan keutamaan

 Lailatul Qadar.
Dengan kadar ibadah seperti demikian semestinya siapa saja akan semakin kuat ketakwaannya kepada Allah SWT. Pada siang hari selama Ramadhan ia bisa melepaskan nafsu makan dan minum, juga berhubungan suami-istri. Di luar Ramadhan seharusnya ia pun bisa mengendalikan diri dari memakan harta yang haram, pergaulan yang haram dengan lawan jenis, dll.

Sayang, pada sebagian Muslim, semangat takwa itu begitu cepat pudar saat Ramadhan berlalu. Tak perlu menunggu sebulan. Hanya selang beberapa hari saja, semangat Ramadhan itu langsung menghilang.
Ibnu Taimiyah mengingatkan, “Siapa saja yang bertekad meninggalkan maksiat pada bulan Ramadhan saja, tanpa memiliki tekad yang sama pada bulan lainnya, ia bukan seorang yang benar-benar bertobat.” (Al-Majmu’ al-Fatawa, 10/743).

Padahal amal yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah keteguhan atau keistiqamahan. Suatu ketika Nabi saw. dimintai nasihat oleh seorang sahabat. Beliau lalu bersabda:
ﻗُﻞْ ﺁﻣَﻨْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ، ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻘِﻢْ

Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah.” Kemudian beristiqamahlah! (HR Muslim).
Allah SWT menyebutkan besarnya keutamaan orang yang istiqamah dalam ketaatan:
ﻓَﺎﺳْﺘَﻘِﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﺃُﻣِﺮْﺕَ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ ﻣَﻌَﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻄْﻐَﻮْﺍ ﺇِﻧَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼِﻴﺮٌ
Beristiqamahlah kamu (di jalan yang benar), sebagaimana kamu diperintah, juga orang yang telah bertobat bersama kamu. Janganlah kalian melampaui batas! Sungguh Dia Maha melihat apa saja yang kalian kerjakan (QS Hud [11]: 112).

Selanjutnya Allah SWT menjanjikan derajat yang agung bagi siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang bisa istiqamah:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑُّﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻘَﺎﻣُﻮﺍ ﺗَﺘَﻨَﺰَّﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤْﺰَﻧُﻮﺍ ﻭَﺃَﺑْﺸِﺮُﻭﺍ ﺑِﺎﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﻮﻋَﺪُﻭﻥَ

Sungguh orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," lalu mereka beristiqamah, kepada mereka malaikat akan turun dengan mengatakan, "Janganlah kalian takut dan jangan pula merasa sedih. Bergembiralah dengan surga yang telah Allah janjikan kepada kalian." (QS al-Fushshilat [41]: 30).

Merawat Keistiqamahan
Agar menjadi hamba yang senantiasa istiqamah dalam ketaatan, kaum Muslim perlu menghayati sejumlah hal. Pertama: Mengingat kematian dan tempat kembali kepada Allah SWT. Setiap Muslim mesti meyakinkan diri bahwa kehidupan ini fana. Kelak dia akan kembali kepada Allah SWT. Pada saat itu tak ada yang bisa menyelamatkan dirinya selain ketakwaan. Banyak ayat yang menyebutkan penyesalan manusia di akhirat karena melepaskan diri dari agama Allah SWT. Di antaranya firman Allah SWT:

ﻭَﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻯ ﺇِﺫِ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥَ ﻧَﺎﻛِﺴُﻮ ﺭُﺀُﻭﺳِﻬِﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺃَﺑْﺼَﺮْﻧَﺎ ﻭَﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻓَﺎﺭْﺟِﻌْﻨَﺎ ﻧَﻌْﻤَﻞْ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﺇِﻧَّﺎ ﻣُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ

(Alangkah ngerinya) jika engkau melihat orang-orang berdosa itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka (seraya berkata), “Duhai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Karena itu kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sungguh kami adalah orang-orang yakin.” (TQS as-Sajdah [32]: 12).

Baginda Rasulullah saw. mengingatkan bahwa kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT justru ditentukan di penghujung kehidupan, bukan di awal:

ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟْﺨَﻮَﺍﺗِﻴﻢِ

Sungguh amal-amal itu ditentukan saat penutupan (akhir)-nya (HR al-Bukhari).

Celakalah orang yang bersungguh-sungguh di awal, tetapi tak bisa mempertahankan ketaatan kepada Allah SWT di akhir hayat. Sabda beliau, “Demi Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga hingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga, kecuali sehasta saja. Lalu dia didahului oleh ketetapan Allah. Kemudian dia melakukan perbuatan ahli neraka sehingga dia masuk neraka.” (HR al-Bukhari).

Kedua: Menjadikan Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai satu-satunya yang ditaati secara mutlak. Sikap istiqamah bisa runtuh ketika manusia lebih memilih menaati pihak selain Allah SWT dan Rasul-Nya. Padahal kelak pada Hari Akhir, orang-orang seperti itu akan menyesal. Mereka bahkan akan melaknat para pejabat, pimpinan dan raja yang dulu mereka taati di dunia (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 66-68).

Ketiga: Menaati setiap perintah Allah SWT tanpa memisahkan satu hukum dengan hukum yang lain. Hari ini hukum-hukum Islam dipilah dan dipilih. Sebagian diamalkan. Sebagian ditinggalkan. Ada Muslim yang bisa begitu tekun dan khusyuk beribadah, tetapi kehidupannya berkubang dalam muamalah ribawi. Ada yang bisa menjalin hubungan baik dengan kalangan non-Muslim bahkan penganut LGBT, namun membenci saudaranya yang memperjuangkan syariah Islam secara kaffah. Ada yang bersemangat dalam amal ibadah shaum, shalat berjamaah, tilawah al-Quran, sedekah, umrah dan berhaji. Namun, mereka mengabaikan syariah Islam dalam hukum pidana, muamalah, politik dan negara. Bahkan di antara mereka ada yang menyatakan sebagian hukum Islam mengancam tatanan kehidupan masyarakat. Padahal Allah SWT telah berfirman:

ﺃَﻓَﺘُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺒَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺒَﻌْﺾٍ ﻓَﻤَﺎ ﺟَﺰَﺍﺀُ ﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﺧِﺰْﻱٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺷَﺪِّ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian lainnya? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan dilemparkan ke dalam siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (TQS al-Baqarah [2]: 85).

Keempat: Bersabar dalam ketaatan. Istiqamah dalam ketaatan membutuhkan kesabaran. Sebabnya, orang yang istiqamah akan dihadapkan pada ragam ujian sampai ia menghadap Allah SWT. Allah SWT berfirman:

ﺃَﺣَﺴِﺐَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﻥْ ﻳُﺘْﺮَﻛُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺁﻣَﻨَّﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻟَﺎ ﻳُﻔْﺘَﻨُﻮﻥَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja berkata, "Kami telah beriman," sementara mereka tidak diuji lagi?” (TQS al-Ankabut [29]: 2).

Sabar yang diperlukan seorang hamba adalah sabar menghadapi musibah, sabar menjalankan ketaatan dan sabar menghadapi kemungkaran. Ketiga jenis kesabaran itulah yang mutlak diperlukan seorang Muslim dalam meniti keistiqamahan.
Pada masa sekarang, ketika umat Muslim ada dalam kemunduran, berpegang teguh pada Islam menghadapi ujian yang sangat berat. Tudingan radikal, fundamentalis, kaku, konservatif dll sering disematkan pada kaum Muslim yang sedang merawat keistiqamahan. Bahkan tidak jarang intimidasi secara fisik pun harus dialami seperti larangan menutup aurat dan bercadar, diberhentikan dari pekerjaan, diusir oleh keluarga dan lingkungan, dsb.

Dalam hal ini Baginda Nabi saw. memberikan motivasi bahwa kesabaran pada akhir zaman mendatangkan kebaikan yang amat besar:

ﻳَﺄْﺗِﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮُ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻛَﺎﻟْﻘَﺎﺑِﺾِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻤْﺮِ
Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api (HR at-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain ada redaksi tambahan, “Untuk orang yang beramal (sabar) di tengah-tengah mereka ada pahala semisal pahala 50 orang yang mengerjakan semisal amal tersebut.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah semisal pahala 50 orang dari mereka?” Beliau menjawab, “Semisal pahala 50 dari golongan kalian (para sahabat).” (HR Abu Dawud).
Kelima: Tetap beramal sekalipun hanya sedikit. Amal yang paling Allah cintai adalah yang terus dilakukan meskipun sedikit. Nabi saw. bersabda:

ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻷَﻋْﻤَﺎﻝ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺩْﻭَﻣُﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻗَﻞَّ

Amalan yang paling Allah cintai adalah yang paling berkelanjutan meski hanya sedikit (HR Muslim).

Khatimah
Demikianlah, keistiqamahan adalah buah yang harus diraih pasca Ramadhan. Ada sebelas bulan lagi yang harus dijalani hingga bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Janganlah kita menjadi ‘hamba Ramadhan’, tetapi jadilah hamba Allah SWT yang senantiasa menaati-Nya sepanjang hayat. []
—*—
Hikmah:
Allah SWT. berfirman:
ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺒُﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺮْﻑٍ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ ﺍﻃْﻤَﺄَﻥَّ ﺑِﻪِ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﺍﻧْﻘَﻠَﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﺧَﺴِﺮَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓَ ﺫَﻟِﻚَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺨُﺴْﺮَﺍﻥُ ﺍﻟْﻤُﺒِﻴﻦُ

Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah dia dalam keadaan itu. Jika dia ditimpa suatu bencana, berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Yang demikian adalah kerugian yang nyata. (TQS al-Hajj [22]: 11). []
—*—
Download File PDF:
http://bit.ly/kaffah143
READ MORE - JADILAH UMAT RABBANI, BUKAN UMAT “RAMADHANI”
Coach RR
*"HUKUM SHAF SHALAT RENGGANG 1 METER KETIKA BERJAMAAH"*
Di tengah wabah corona ini, ada banyak masjid yang menerapkan shalat berjamaah dengan shaf shalat (barisan shalat) yang renggang sepanjang satu hingga dua meter. Sedangkan salah satu kewajiban shalat berjamaah adalah merapatkan shaf. Sebagaimana sabda nabi shallallahu alaihi wa sallam:
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، وَتَرَاصُّوا، فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي
“Sempurnakanlah shaf kalian, dan merapatlah. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku” (HR. Bukhari no.719)
Dan dalam riwayat lain disebutkan:
رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ
“Rapatkanlah shaf-shaf kalian dan mendekatlah sesama shaf dan sesuaikan leher-leher kalian. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangannya, sesungguhnya aku melihat syaithan masuk ke dalam celah-celah shaff kalian seperti anak kambing” (HR. Abu Daud no. 667; shahih sebagaiamana yang dinyatakan oleh Al-Albani)
Lantas bagaimana sikap kita mengenai shalat jamaah di tengah wabah corona seperti ini? Karena kalau saling berdekatan akan memiliki dampak menularkan virus corona lebih efektif. Akan tetapi kalau shalat dengan berjauhan juga masuk ke dalam larangan nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Permasalahan ini insha Allah kita bahas dalam beberapa point:
1. Kembali kepada fatwa para ulama. Di sini saya merujuk kepada 2 fatwa para ulama mengenai hal ini:
Pertama: Guru kita syaikh Ali Hasan Al-Halabi -hafidzahullah- ta’ala. Saya pernah bertanya kepada beliau beberapa hari yang lalu tentang masalah ini via whatsapp, saya bertanya:
السلام عليكم ورحمة الله يافضيلة شيخنا. ما حكم صلاة الجماعة في المسجد وبين كل رجال فرجة نحو متر واحد أو مترين مخافة وقوع فيروس كورونا؟ هل تصح صلاتهم ويؤجرون بصلاة الجماعة؟ أو لا تصح بمعنى يلزمهم تكرار الصلاة أو صحت صلاتهم لكن تعتبر صلاتهم صلاة منفردة ولا يحصلون على أجر الجماعة. أفيدونا يا فضيلة شيخنا أفادكم الله. جزاكم الله خير الجزاء
“Assalamualaikum warahmatullah wahai syaikh kami yang muliau. Apa hukum shalat jamaah di dalam masjid sedangkan jarak setiap orang memiliki renggang sejauh 1 meter atau 2 meter karena takut terkena virus corona? Apakah shalat mereka sah dan diberi ganjaran dengan shalat berjamaah? Atau shalat mereka tidak sah dengan artian mereka harus mengulangi shalatnya atau shalat mereka sah akan tetapi shalat mereka dianggap seperti shalat sendiri dan tidak mendapatkan pahala jamaah? Tolong berikan kepada kami faidah ilmu wahai syaikh yang mulia. Jazaakumullah khairal jazaa”.
Beliau menjawab:
حكمهم حكم صلاة الفرادى
“Hukum shalat mereka adalah seperti shalat sendiri-sendiri”
Silahkan lihat screenshoot di bawah ini:
Kedua: Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -hafidzahullah ta’ala-. Beliau ditanya:
هناك في بعض المساجد رجال يصلون وبين كل شخص وشخص فرجة مترا أو مترين زعما منهم أن هذا لتوقي المرض فما حكم ذلك شيخنا؟
“Di sana ada sebagian masjid, orang-orang melakukan shalat dan di antara setiap orang shaf renggang sejauh satu meter atau dua meter karena klaim mereka bahwa hal ini untuk menghindari penyakit corona. Apa hukum hal ini wahai syaikh kami?”
Beliau hafidzahullah menjawab:
لا تصح الصلاة ويعتبرون أفرادا كما لو صلوا منفردين
“Tidak sah shalat jamaahnya. Dan mereka dianggap sendiri-sendiri sebagaimana mereka shalat sendirian” (Dars al-Muwatha - Sabtu, 19 Rajab 1441H)
2. Shalat di rumah di tengah wabah corona adalah sikap yang tepat. Hal ini sebagaimana yang telah kita bahas pada dua hadits di atas, jika celah shaf yang kecil saja bisa dilewati oleh syaithan untuk mengganggu orang-orang yang sedang shalat, apalagi shaf shalat yang renggang sejauh satu hingga dua meter. Tentu orang-orang yang sedang shalat dengan shaf shalat seperti itu akan terganggu oleh was-was dari syaithan.
3. Orang yang shalat di rumahnya di wabah corona ini juga akan mendapatkan pahala seperti dia shalat berjamaah di dalam masjid. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sedang sakit atau melakukan safar, maka ditulis untuknya pahala sebagaimana dia beramal ketika mukim dan sehat” (HR. Bukhari no. 2996)
Kalau sakit saja seseorang diperbolehkan shalat di rumahnya, apalagi di tengah wabah corona ini yang mana penyakit bukan hanya diidap oleh orang yang sakit saja namun bisa ditularkan kepada orang yang sehat jika mereka saling berdekatan.
4. Dalam kaidah islam, tidak boleh kita membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain” (HR. Ahmad no. 2865; Hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth)
Allahu a’lam,
Abdurrahman Al-Amiry

READ MORE - HUKUM SHAF SHALAT RENGGANG 1 METER KETIKA BERJAMAAH
Coach RR
*TULISAN YANG SANGAT BAGUS UNTUK KITA SEMUA.......*

*TIDAK SEPANTASNYA KITA BERSELISIH....!!!*

Di saat seperti ini, bukan saatnya lagi kita berselisih, apakah harus tetap di rumah atau tetap ke masjid untuk shalat berjama'ah. Bukan, bukan itu pertanyaan besar yang harus kita tanyakan!

Seharusnya yang kita tanyakan, "Masih pantaskah kita berpecah belah di tengah meluasnya wabah?!"

Seharusnya yang kita tanyakan, "Masih harus kah kita bercerai berai di tengah banyaknya air mata yang terburai?!"

Wahai saudaraku, tak sadarkah kalian, bukan kalian saja yang bersedih hati! Kita semua merasakan kesedihan yang sama dalam masalah yang berbeda-beda.

~. *KAMI YANG TETAP KE MASJID*

Taukah kalian, bagi kami yang tetap melangkahkan kaki kami ke masjid, bukan semata-mata ingin melakukan ibadah dan mengikuti sunnah. Namun kami mencoba bermunajat bersama-sama demi diangkatnya musibah. Maka dari itulah, sebagian kami melakukan qunut nazilah saat shalat berjama'ah.

Bagi kami yang tetap ke masjid, kami bersedih karena rumah Kekasih kami perlahan menjadi sepi, padahal tempat-tempat hiburan di tengah kota seperti tempat Karaoke dan Bioskop, sebagiannya masih ramai dipadati. Padahal, tempat ibadah tentu lebih baik dan utama untuk dikunjungi. Kata teladan kami, Rasulullah ﷺ,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

"Di antara tanda baiknya Islam seseorang, adalah meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi no. 2239 dan Ibnu Majah no. 3966)

Sudahlah, hentikan memaki kami dengan hal-hal yang tak kalian mengerti. Karena cinta kami pada masjid, sudah sangat terpatri di hati.

Tak bolehkah kami mengikuti shahabat Nabi, Abu Ubaidah Al jarrah رضي اللّٰه تعالى عنه yang tetap bertahan hingga akhirnya mati syahid di tengah wabah yang ganas menjangkit?!

Karena, meski pun ada resiko kematian yang akan mengintai kami, namun tak bolehkah kami berharap mati syahid sebagaimana shahabat Rasulullah di atas?! Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِي بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ وَيَمْكُثُ فِيهِ لَا يَخْرُجُ مِنْ الْبَلَدِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

“Dan tidaklah seorang hamba di suatu negeri yang terkena penyakit tha'un dan ia tinggal di sana, ia tidak mengungsi dari negeri itu dengan sabar dan mengharap pahala di sisi ALLAH, ia sadar bahwa tak akan menimpanya selain yang telah digariskan-NYA baginya, selain baginya pahala seperti pahala syahid." (HR. Bukhari no. 6129 dan Ahmad no. 24056)

Saya sangat berharap, bahwa kalian yang memilih tetap melaksanakan shalat berjama'ah dan shalat Jum'at di masjid, apabila ALLAH ﷻ menakdirkan bagi kalian wafat karena virus ini, mudah-mudahan kalian bisa mendapatkan predikat mati syahid.

~. *KAMI YANG MEMILIH SHALAT DI RUMAH*

Namun, taukah juga kalian, bukan pula berarti, bagi kami yang memilih untuk tetap di rumah selama masa inkubasi, artinya kami takut mati. Bukan berarti kami yang tetap di rumah selama masa inkubasi, artinya kami tak punya rasa sedih.

Kami yang memilih untuk tinggal di rumah, turut bersedih karena harus berpisah sementara dengan rumah Sang Kekasih sejati. Kami yang memilih tetap di rumah, turut bersedih karena harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan sahabat-sahabat kami yang shalih.

Kami yang memilih tetap di rumah, mengupayakan agar virus ini tidak semakin mewabah. Karena kami peduli dengan kesehatan kalian semua, bukan semata ingin menyelamatkan diri sendiri. Begini lah yang dilakukan shahabat Amr bin Ash رضي اللّٰه تعالى عنه dan rakyat Syams ketika di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab رضي اللّٰه تعالى عنه terjadi wabah tha’un yang menewaskan sekitar 20 ribu jiwa, hampir separuh dari jumlah penduduk Syams kala itu.

Kami yang memilih tetap di rumah, juga tetap bermunajat kepada ALLAH ﷻ agar segera menyudahi wabah ini, demi kebaikan kita bersama.

Jangan lah ada di dalam hati kalian rasa benci terhadap kami. Apalagi menuduh kami sebagai orang munafik dan antek PKI. Jelas ini adalah tuduhan yang amat keji. Apalagi mendoakan kami mati karena terjangkit virus ini. Alangkah lebih baiknya bagi kalian untuk senantiasa mendoakan kebaikan bagi semua. Karena doa kalian kepada saudara kalian, adalah doa kalian kepada diri kalian sendiri.

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) yang berjauhan, melainkan malaikat akan mendoakannya pula, 'Dan bagimu kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Tak bisa kah kalian berpikir positif bahwa kami hanya mengikuti ahli ilmu di antara kami, yang telah mengeluarkan fatwa tentang hal ini?! Sungguh Maha Benar ALLAH ﷻ yang telah berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah pada ahli dzikir (ahli ilmu), jika kalian tidak mengetahui." (QS. Al Anbiya: 7)

Atau kalian tak punya rasa husnuzhan pada ulama dan menuduh mereka lebih takut pada Corona daripada kepada ALLAH ﷻ?! Padahal ALLAH sendiri telah berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang paling takut kepada ALLAH di antara hamba-NYA adalah para ulama." (QS. Fathir: 28)

Jangan lah keangkuhan dan ketidaktahuan kita, membuat lisan kita mudah mencela. Jangan pula semangat kita dalam melawan ketakutan, membuat kita malah mudah memandang orang yang berbeda dengan pandangan yang rendah.

Kami yang berdiam di rumah, bukannya tidak mengetahui, bahwa,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

"Shalat berjama'ah itu lebih utama 27 derajat dari Shalat sendirian." (HR. Bukhari no. 609 dan Muslim no. 1038)

Namun Rasulullah ﷺ juga memerintahkan kita untuk berikhtiar menjauhi wabah sebisa mungkin. Makanya beliau bersabda,

و فِرَّ مِنَ المجذومِ كما تَفِرُّ مِنَ الأسدِ

"Dan larilah kalian dari kusta sebagaimana kalian lari dari singa!" (HR. Bukhari no. 5707)

Tawakkal itu bukan berarti kita bisa pasrah tanpa ada usaha. Dahulu di zaman Nabi ﷺ, ada seorang shahabat yang hendak meninggalkan untanya begitu saja tanpa diikat, dengan alasan untuk ber-tawakkal kepada ALLAH ﷻ. Namun Nabi ﷺ malah bersabda,

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

"Ikatlah lalu ber-tawakkal lah! " (HR. At Tirmidzi no. 2441)

Tak bolehkah kami melakukan daya upaya demi menghindari bahaya yang lebih besar? Bukankah dalam kaidah fiqh disebutkan,

درأ المفاسد مقدم على جلب المصالح

"Menolak mafsadat lebih didahulukan dari mengambil manfaat."

Seandainya banyak di antara kami yang malah mati, bukankah masjid pun akan semakin sepi nanti?!

Kami tak lebih hanya mengikuti himbauan dari para pemimpin kami. Himbauan pemimpin kami yang mengikuti himbauan dari para ahlul 'ilmi. Bukan kah kata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah رحمه اللّٰه تعالى,

فكما أن طاعة العلماء تبع لطاعة الرسول، فطاعة الأمراء تبع لطاعة العلماء، ولما كان قيام الإسلام بطائفتي العلماء والأمراء

"Sebagaimana menaati ulama mengikuti ketaatan pada Rasulullah, maka taat kepada umara' (pemerintah) mengikuti ketaatan kepada ulama. Dikarenakan penegakan Islam dilakukan oleh dua golongan yakni ulama dan umara'.” (I'lamul Muwaqqi'in 'an Rabbul 'aalamin: 2/16)

Maka sudahilah merendahkan dan meremehkan upaya kami. Jangan ada lagi yang menuduh kami menjauhi ALLAH ﷻ meski untuk sementara waktu, tidak lagi hadir di rumah-rumah-NYA yang mulia.

Jangan pula menuduh ulama kami bersepakat dalam kebathilan, karena apa yang mereka lakukan adalah ijtihad. Apabila ijitihad-nya benar, maka mereka akan mendapatkan dua pahala. Apabila mereka ijtihad-nya salah, mereka tetap mendapatkan satu pahala. Akan tetapi, apa yang akan kalian dapatkan dari cemoohan dan celaan kalian terhadap fatwa mereka, selain dosa?!

Saya sangat berharap, bagi kaum Muslimin yang memilih tidak ke masjid dalam beberapa waktu ke depan karena udzur ini, semoga ALLAH ﷻ senantiasa menjaga kalian dan kalian tetap bisa mendapatkan pahala yang sama sebagaimana dulunya kalian tetap ke masjid. Hal ini sesuai dengan apa yang Rasul-NYA sabdakan,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

"Jika seorang hamba sakit atau bepergian (lalu beramal) ditulis baginya (pahala) seperti ketika dia beramal sebagai muqim dan dalam keadaan sehat." (HR. Bukhari no. 2774 dan Ahmad no. 18848)

~. *MEREKA YANG MASIH BEKERJA DI LUAR*

Ada di antara manusia yang masih berjuang demi kehidupan keluarganya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Yakni mereka yang masih mencari nafkah tanpa lagi peduli, bahwa virus Corona ini senantiasa mengintai di sekitar mereka.

Mereka tetap keluar mencari nafkah demi piring-piring nasi keluarganya yang harus mereka isi.

Tidakkah kalian berempati pada nasib mereka, yang apabila mereka tetap di rumah, bisa saja mereka selamat dari virus Corona, tapi apa mereka sanggup menahan perut-perut mereka yang terus meronta karena tak mendapat asupan makanan?!

Apalagi, sebagian dari mereka, menjual apa yang sehari-hari dibutuhkan masyarakat lainnya yang tetap di rumah. Mereka rela masih berjual-beli di kerumunan pasar, agar tetap ada suplai kebutuhan pokok kalian yang memilih tetap di rumah. Atas izin ALLAH ﷻ, keberadaan mereka di luar sana, bisa menjadi sebab kalian yang di rumah masih bisa memasak dan menikmati makanan untuk keberlangsungan hidup kalian.

Masih pantaskah kita berdebat tentang kondisi kita sendiri, sementara banyak di antara saudara kita yang bahkan konidisinya tak memungkinkan untuk hanya berdiam diri di dalam rumah?!

Belum lagi nasib petugas serta relawan kesehatan dan kemanusiaan. Mereka rela harus tetap berada di luar demi mengatasi wabah yang mendunia ini.

Mereka rela meluangkan banyak waktunya untuk menangani kebutuhan medis sebagian saudara kita yang terkena wabah.

Mereka rela berpisah sementara dari keluarga yang mereka sayangi, demi kita semua!

Mereka harus berani menghadapi resiko besar tertular virus dalam rangka menangani wabah mematikan ini.

Masih kah kita tega berdebat akan apa yang menjadi pilihan kita, sementara mereka yang menjadi garda terdepan dalam melawan virus ini, hampir-hampir kehilangan pilihan pribadinya?!

Mereka sedang berjuang untuk kita. Tak bisakah kita menahan lisan kita untuk tidak lagi saling menggunjing pilihan masing-masing dan turut fokus mendukung perjuangan mereka di luar sana?!

Mereka lebih layak takut daripada kita. Mereka lebih layak mendapatkan dukungan daripada kita. Mereka lebih layak dilindungi, didoakan dan dibantu. Mereka boleh jadi lebih mulia kedudukannya daripada kita. Namun mereka tak pernah memperdebatkan apa yang hari ini menjadikan hati kita berpecah serta menjadikan barisan kita melemah.

Saya berharap ALLAH ﷻ melapangkan rizqi mereka, memudahkan urusan-urusan mereka dan mengganjar mereka dengan pahala yang berlipat ganda.

*KABAR GEMBIRA UNTUK KAUM MUSLIMIN*

Hendaknya, ujian kali ini bisa menjadikan kita bersatu dalam berperan positif mencegah dan mengatasi penyebaran virus yang ada.

Dan jadikan moment ini sebagai moment untuk ber-muhasabah. Hisablah dosa-dosa kita sendiri. Jangan-jangan karena dosa dan maksiat kita sendiri lah, ujian ini melanda. ALLAH ﷻ berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan ALLAH memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Perbanyaklah memohon ampunan kepada ALLAH ﷻ. Siapa tahu, dari istighfar dan taubat kita ini, ALLAH memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi, sebagaimana firman-NYA,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan ALLAH sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) ALLAH akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)

Tak perlu takut berlebihan dan jangan juga meremehkan. Karena segala sesuatu tentu sudah diatur oleh-NYA. Ber-husnuzhan lah kepada ALLAH ﷻ, karena kata Nabi ﷺ,

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

"Tidaklah ALLAH menurunkan suatu penyakit, kecuali DIA pula yang menurunkan obatnya." (HR. Bukhari no. 5246, Abu Daud no. 3357 dan Ibnu Majah no. 3429)

Bersabarlah wahai saudara-saudaraku yang kucintai. Karena sesungguhnya setiap keadaan adalah baik bagi kaum Muslimin. Sesuai sabda Rasulullah صلى اللّٰه عليه و سلم,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Perkara orang mukmin itu mengagumkan, sesungguhnya semua keadaannya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin. Bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Muslim)

Dan sesuai janji ALLAH ﷻ dalam firman-NYA,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Waha orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya ALLAH bersama orang-orang yang bersabar." (QS. Al Baqarah: 153)

Mari kita satukan kembali hati kita yang berserakan. Jauhkan diri dari rasa dengki dan benci. Kita sama-sama berupaya dengan segala sarana yang ALLAH telah jadikan sebab, sembari terus bertawakkal kepada-NYA. Kita melangkah bersama untuk mendukung setiap gerakan positif yang dilakukan saudara-saudara kita, demi kebaikan yang akan kita tuai bersama.

بارك اللّٰه فيكم جميعًا

Source: Grup WA

Salam Dakwah  & Syiar Islam
My  Website : ronaldorozalino.blogspot.com

READ MORE - *TULISAN YANG SANGAT BAGUS UNTUK KITA SEMUA.......* *TIDAK SEPANTASNYA KITA BERSELISIH....!!!*

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777