Welcome My Blog

Tampilkan postingan dengan label Anak Shaleh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Shaleh. Tampilkan semua postingan
Coach RR
KISAH INSPIRATIF

               ANAKKU YANG BODOH

*“Goblok kamu ya…”* Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni.
Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras.
Doni meringis.
Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk.

*Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu*
Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus.
Doni menangis “ Ampun, ....ayah..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung.

Doni tegar dengan siksaan itu.
Tapi matanya memandangku.
Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.
“Lihat adik adikmu.
Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar.
Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol,,
Mau jadi apa kamu nanti ?
Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni.
Suamiku terduduk dikorsi.
*Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku*
“ Kamu ajarin dia.
Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk.
*"Dengar itu..!!!“*
Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.
Kupeluk Doni.
Matanya memudar.

Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya.
Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol" Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”
“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri.
Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini.


Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. *Aku menangis “ Doni, pintar kok* Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “
“ Doni bukan anak ayah.”
Katanya dengan mata tertunduk *“ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “*
Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni mengigau terus.
Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni.


Kurasakan badannya panas.
*Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya*
Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas.
*Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga*
Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya.
Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai.
Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ *Bunda, temani Doni tidur ya."* Katanya sayup sayup.
Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.


Doni adalah putra tertua kami.
*Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit*
Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga.
Ketika itulah aku hamil Doni.
Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. *Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana* Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain.
Diapun kurang gizi.


Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN.
Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir, juga laki laki
dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya.
Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula.
Makanya mereka disekolah pintar pintar.
Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku.


Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya.
Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas.
“ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali.
Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas.


*“ Aku ini dari keluarga miskin* *Manapula aku ada gizi cukup.*
*Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi.* Tapi nyatanya aku berhasil.
“ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.?!!!!??
*“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “*
“ Biar dia bisa dididik dengan benar”
*“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”*
“ Ini sudah keputusanku, Titik.
*“ Tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.*
Suamiku hanya diam.
Aku tahu alasannya.
Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami.


Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni.
Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya.
Mungkinkah itu alasannya. *Bagaimanapun , bagiku* *Doni akan tetap putraku*
*dan aku akan selalu ada untuknya* Aku tak berdaya.
Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku.
Dia nampak bingung.
*Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.*
*Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.*
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng.


Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. ...!!!!
Kamu harus ikut kata Ayah.
*Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “*
Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku.
Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok.
Dia harus diajarkan mandiri.
Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.


Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU
dan Rini kelas 2 SLP.
*Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya*
Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk.
Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam.
Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan.


Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. *Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh*
Ku perhatikan tahun demi tahun perubahan Doni setelah mondok.
Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya.
Dia sangat mandiri dan hemat berbicara.
*Setiap hendak pergi keluar rumah,*
*dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku*
Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.
Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah.

Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas.
“ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas.
Sudahlah.
Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “
Demikian alasan suamiku.
Aku dapat memaklumi itu.
*Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok*
Donipun tidak pernah bertanya.
Dia hanya menanti dengan sabar.


Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. *Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek.* Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan.
Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni.
Tapi Doni tetap diam.
Tak sedikitpun dia membela diri.
*Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku*
Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami.
Aku tersentak.
Benarkah itu.
*Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda.*
TIdak, Bunda percayakan dengan Doni.
Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.”
Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi.
Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni.
Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali.
Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.
Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah.
Doni tidak protes.
Dia hanya diam dan menerima keputusan itu.
*Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku.*
Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah.
*Maafkan Doni “* Pesannya.
*Diapun memandang adiknya satu satu.* *Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya.*
*Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni*.


*Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.*
*“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.*
*“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.*
***



Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah.
Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku.
Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota.
*Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri.*
*Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis.*
Aku merindukan putra sulungku. *Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan.*
Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh.
Rinipun sama.
Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan sosial kami semakin berkelas.
Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar.
*Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung.* Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja.
Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat.
*Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “*
***



Prahara datang kepada keluarga kami. *Suamiku tersangkut kasus Korupsi.*
Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan.
Selama proses itupula suamiku nampak murung.
Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi.
Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
*Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara* Media massa memberitakan itu setiap hari.
Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya.
Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.
Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan.

Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku.
Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan.
Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami.
Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku.


*Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.*
Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya.
Dia menghambur kedalam pelukanku. “ *Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “* katanya.
Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku.
Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni.
Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame.
Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami.

Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. *Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah*
Seusai sholat berjamaah Doni tak lupa duduk bersila dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya


*" Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “*


*“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah*
Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan.
Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat.

*Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “*
*Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis*

*Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah*
*Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara*
Kesehatannya membaik.
Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah.

*Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah*


*Sahabatku terdapat beberapa pesan moral dlm cerita itu antara lain* :
*1).Jangan memaksakan kemampuan anak*
*2).Jangan merendahkan kemampuan anak*
*3).Kesuksesan bukan hanya diukur dari kemampuan akademik/nilai raport*
*4).Anak yg kelihatannya "terbelakang" belum tentu gagal*
*5). Kasih sayang yg kita berikan kpd semua anak harus adil sesuai dng porsinya*
*6).Jangan hanya memikirikan uang yg banyak tetapi tidak halal..*
*Semoga bermanfaat buat sahabat semua dan Allah jadikan kita semua dan keluarga kita menjadi hamba yg di rahmati, di Ridhoi, di Berkahi jg di bebaskan dari siksa api neraka...*
Dari Hamba Allah Yang HINA
*Aamiin...*
READ MORE - KISAH INSPIRATIF: ANAKKU YANG BODOH
Coach RR
Lekas Sehat ya Nak, Rindu Gaya Sportifitasmu

Bismillah. Seminggu sudah dirimu berisitirahat dirumah. Cello Yenroza Putra , Cello panggilannya. Kamis nan lalu ketika bersekolah, sekitar pukul 10.00 WIB , wali kelasnya menelpon Mamanya Yeyen Febrina , Memberitahukan kalau Cello sakit perut. Lalu Mamanya kemudian menjemputnya kesekolah untuk dibawa pulang dan diperiksa kedokter sebagai bentuk ikhtihar kami. 

Tak dapat melihatnya ketika ananda Cello karena sedang dalam proses pembelajaran dikelas. Lalu sepulang mengajar , Saya pun bergegas pulang untuk melihat ananda dikamarnya yang sedang menahan sakit perutnya. 

Hari ini Selasa saat diperiksa kembali dokter. Menyampaikan bahwa ananda ada Gejala Usus Buntu. Ya Allah. Astagfirullah Al aziim. Dokter menyarankan untuk dirujuk ke Dokter Bedah untuk diperiksa dahulu. 

Insyaa Allah besok Saya akan merujuk Ananda Cello ke RSUD Teluk Kuantan untuk memastikan sakitnya. Semoga ada solusi terbaik dari pihak rumah sakit. 

Sekuatnya, sekerasnya seorang laki laki. Bila melihat orang yang disayanginya dalam kondisi sakit, tak tega dan mengalir air mata ini. Saya serahkan semuanya kepada Allah SWT. Tempat berharap dan memohon pertolongan. Ya Rabb.

Naak, Lekas Sehat yaa. Kami rindu keceriaan mu dan semangat olah ragamu. 
Kita Ikhtihar untuk periksa. Apapun yang terjadi kami terima sebagai orang tua.
Mohon doa sahabat Muslim dimanapun berada. Semoga Ananda Cello bisa kembali sehat, sekolah lagi bertemu sahabatnya dan bersama shalat jamaah di Masjid kembali bersamaku.

Miss You Cello
Kamu kuat
Kamu hebat
Permata hati kami

 Papamu Naak !



*19.22 WIB, Masjid Syuhada Beringin Taluk, Kota Taluk Kuantan, Selasa 6 Februari 2024

READ MORE - Lekas Sehat ya Nak, Rindu Gaya Sportifitasmu
Coach RR
SHALIHKAN DIRI DEMI BUAH HATI

“Aku bingung banget, Fit. Kenapa ya anak-anak gak mau nurut sama sekali ke aku?” Curhat seorang teman pada suatu ketika. “Setiap aku menasihati sesuatu, anak-anak tidak pernah mau melakukan. Aku gak pingin marah-marah terus tiap hari ke anak. Tapi gimana lagi, mereka susah dibilangin.”

Aku mengangguk kecil mendengar keluh kesahnya. Sungguh, aku pun pernah berada di posisinya, pusing ketika anak susah sekali menurut apa kata orang tua. Dan sampai sekarang pun aku terus belajar untuk menjadi orang tua yang ucapannya berpengaruh pada anak. 

Hingga suatu hari, sekolah tempatku mengajar mengadakan acara parenting via Zoom. Pembicaranya Ustadz Ahmad Arqom, founder lembaga pelatihan kepribadian Trustco. 

“Setidaknya ada 3 kaidah dalam bahasa Arab, yang bila kita memahami serta melaksanakan kaidah ini, insyaAllah ucapan kita akan punya ‘power’ terhadap anak.” Aku menyimak baik-baik pesan Ustadz Ahmad Arqom.

Apa saja kaidah itu?

Pertama, Annaasu atba’a man gholaba, manusia itu cenderung akan mengikuti siapa yang lebih kuat, lebih sholih, lebih pintar, dan lebih banyak jasa terhadapnya.

Orang tua yang ingin diikuti ucapan dan sikapnya oleh anak, tentu wajib menunjukkan kelebihannya pada anak. Bila anak sholat wajib 5 kali sehari, maka orang tua harus tambah dengan sholat sunnah. Bila anak baca Quran satu lembar, orang tua harus baca Quran minimal 5 lembar. Bila anak bisa matematika dasar, orang tua harus berusaha jauh lebih memahami matematika ketimbang anak. Maka, ketika anak melihat orang tua ternyata punya ‘segala sesuatu yang lebih’ dibanding dirinya, baik itu dalam bentuk ibadah atau ilmu pengetahuan, mau tidak mau anak akan menjadi segan, respek, dan ucapan kita akan berbekas di hatinya.

Jadi, sudah bukan masanya lagi kita sebagai orang tua hanya bermodal ‘lebih duluan lahir’ lalu gampang menyuruh anak untuk ini dan itu. Pingin anak rajin sholat tepat waktu, orang tua harus rajinkan diri sholat tepat waktu terlebih dahulu. Jangan bisanya bilang, “Nak, ayo sholat. Sudah adzan.” Tapi setelah itu sang orang tua malah asyik nonton sinetron “Kumenangiiiis … Membayangkan…”.

Kaidah kedua, Ashlih nafsaka yasluh lakannaas. Perbaiki dirimu, maka orang lain akan berbuat baik padamu.

Dalam konteks pendidikan anak, jika kaidah ini dibalik, mengapa anak tidak mau berbuat baik pada orang tua? Ya, bisa jadi karena sang anak tidak mellihat kita sebagai orang tua yang mau memperbaiki diri.

Pertanyaannya sekarang, apakah sudah maksimal kita memperbaiki diri? Jika belum, mungkin itulah yang menyebabkan anak tidak mau nurut pada kita.

Ada sebuah kisah dari seorang sahabat. Sahabat ini aku lihat begitu disegani oleh anaknya. Ketika aku tanya apa rahasianya? Sambil tersenyum ia jawab, 

“Gak ada rahasia khusus, sih. Tapi dari sejak anakku lahir, aku punya kebiasaan tidak pernah sekalipun ngentut / buang angin atau mengupil di depan anak.”

Sederhana banget. Tapi dampaknya begitu luar biasa. Betapa hal-hal kecil yang sering kita abaikan, ternyata bisa berpengaruh pada hormat tidaknya anak ke orang tua. 

Sekarang, kita tanyakan pada diri sendiri, betapa sering kita “Brat brot bret brut” di depan anak tanpa sungkan, atau garuk-garuk ketiak tanpa mempedulikan anak melihat tingkah bapak emaknya. Kita bahkan menganggap hal itu sebagai lelucon, tapi hasilnya anak akan memandang diri kita rendah. Naudzubillah.

MasyaAllah, sebelum mendengar kajian ini, aku termasuk orang tua yang “brat brot bret brut” di depan anak. Tapi setelah mengaji, aku berhenti melakukan hal itu. Sekarang lebih sering “brat brot bret brut” di depan istri. Wkwkwk.

Ayo bareng-bareng memperbaiki diri. Karena setiap perbaikan bukan hanya membuat diri kita menjadi nyaman, tapi bisa membuat orang lain senang.

Kaidah ketiga yaitu, Qiimatul mar’i biqodri ma yuhsinuhu, nilai seseorang itu sangat ditentukan oleh seberapa banyak kebaikan yang bisa ia kerjakan. 

Artinya, keterlibatan kita di dalam membersamai anak saat ia punya masalah, akan berpengaruh besar pada sikap hormat anak pada orang tua. Dengan selalu membersamai anak, terutama ketika ia tertekan oleh suatu hal, maka anak akan merasakan bahwa dia tidak sendiri, dia punya tempat curhat, dia punya sahabat, dan dia punya cinta pertama di dunia ini: ayah ibunya. Dan bila anak sudah merasakan hal ini, insyaAllah ia tidak akan berbuat sesuatu yang bakal mengecewakan orang tuanya.

Izinkan aku mengulang kisah Nabi Yusuf dan ayahnya, Nabi Ya’kub. Dan semoga dari kisah ini kita akan melihat betapa keshalihan orang tua, terutama seorang ayah, mampu mengeluarkan anak dari jerat kemaksiatan.

Kisah ini kita bisa baca secara lengkap di Surat Yusuf. Di sini aku mau paparkan poin pentingnya saja. 

Saat itu, Nabi Yusuf dijebak di dalam sebuah kamar oleh istrinya raja. Istri raja itu sungguh cantik jelita, badan seksi tinggi semampai, rambut lurus tergerai, semua orang tergila-gila padanya. Bahkan orang sesholih Yusuf pun tak kuasa menahan tarikan nafsu syahwat ketika digoda untuk berzina oleh sang ratu. 

“Marilah mendekat padaku,” desah perempuan cantik itu.

Berdua di dalam kamar yang sunyi itu, membuat Nabi Yusuf sudah kehilangan akal sehat, otaknya telah tersumbat nafsu. Di dalam Surat Yusuf ayat ke 24 digambarkan detailnya,

“Dan sungguh, perempuan itu sudah ingin sekali berzina dengan Yusuf, dan Yusuf pun juga punya keinginan yang sama padanya.”

Lalu apa yang membuat Yusuf akhirnya selamat dari rayuan maut wanita itu? Jawabannya ada di keterangan selanjutnya.

“(Yusuf akan melakukan zina itu) Seandainya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikian, Kami palingkan keburukan dan kekejian darinya. Sungguh, Yusuf termasuk hamba Kami yang terpilih.”

Yang jadi pertanyaan pentingnya adalah, tanda apa yang diberikan Allah pada Yusuf hingga beliau bisa selamat dari lilitan tali nafsu yang begitu kuat itu? Para ahli tafsir Quran menjelaskan bahwa Sang Ayah-lah tanda yang dimaksud.

Jadi, ketika Nabi Yusuf tinggal selangkah lagi melakukan zina dengan istri tuannya. Tiba-tiba beliau melihat  Nabi Ya’kub di samping pintu dan berteriak, “Yusuf!” 

Setelah seperti mendengar ayahnya berteriak, Nabi Yusuf juga melihat ayahnya menggigit jarinya sendiri. Dalam adat di daerah tinggal Nabi Ya’kub, menggigit jari tangan adalah simbol kekecewaan dan kemarahan. 

Maka kembalilah kesadaran Nabi Yusuf, hingga beliau segera lari keluar kamar meski sempat ditarik bajunya dari belakang oleh sang ratu yang hatinya masih dipenuhi nafsu.

Lihat! Betapa keshalihan seorang ayah dapat menyelamatkan anaknya dari perbuatan keji. Padahal kita tahu, Nabi Yusuf berpisah dengan ayahnya ketika ia masih kecil karena dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, ditemukan oleh pedagang budak, lalu dijual ke Mesir. Selama bertahun-tahun Nabi Yusuf putus kontak dengan Nabi Ya’kub. Zaman itu belum ada WA, belum bisa video call-an.

 Lalu mengapa Nabi Ya’kub masih berkesan dan punya pengaruh kuat di hati Yusuf? Keshalihan! Ya, karena keshalihan sang ayah lah yang menyelamatkan sang anak. Dalam masa perpisahan mereka, Nabi Ya’kub tak henti berdoa khusus untuk keselamatan Yusuf.

Sekarang, seberapa shalih kita beribadah? Seberapa sering kita mendoakan anak? 

Semoga dengan keshalihan dan doa-doa yang selalu melangit untuk sang anak, membuat buah hati kita menjadi anak yang dapat menyejukkan mata dan hati bagi orang tuanya. Repost

Ronaldo Rozalino



READ MORE - SHALIHKAN DIRI DEMI BUAH HATI

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777