Welcome My Blog

Tampilkan postingan dengan label Amanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amanah. Tampilkan semua postingan
Coach RR

Menaklukkan Amanah Kursi Kekuasaan: Antara Sanjungan Dunia dan Pertanggungjawaban Abadi

Bismillah. Hidup adalah sebuah panggung sandiwara di mana setiap insan memiliki peran dan masanya masing-masing.

Di antara sekian banyak titipan nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta, kekuasaan dan jabatan adalah salah satu ujian terbesar bagi manusia.

Melalui sebuah kiriman pengingat diri yang sarat makna, kita diingatkan kembali tentang hakikat sebuah kursi kekuasaan:


"Dulu dihormati, disanjung, dicari dan rumah tak pernah sepi dari kunjungan. Kini setelah pensiun, telepon mulai sunyi, rumah jarang dikunjungi. Mereka yang dahulu selalu dekat, satu per satu menghilang. Ternyata, yang mereka hormati & butuhkan bukan dirimu, tetapi jabatanmu!"

Ilustrasi visual yang kuat ini menggambarkan realitas sosial yang sering kali terjadi di tengah masyarakat. Ketika seseorang berada di puncak kekuasaan, dunia seakan berputar mengelilinginya.

Sanjungan datang silih berganti, pintu rumah tak pernah sepi, dan dering telepon berbunyi tanpa henti. Namun, roda kehidupan terus berputar. Ketika masa jabatan itu usai dan kursi kekuasaan telah ditinggalkan, sunyi pun datang menyapa.

Hakikat Kekuasaan di Hadapan Sang Pencipta
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk memandang segala bentuk jabatan, kedudukan, dan kekuasaan bukan sebagai alat untuk membanggakan diri, melainkan sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 26:
"Katakanlah: Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki."

Ayat ini dengan sangat tegas mengingatkan kita bahwa kekuasaan mutlak adalah milik Allah SWT.

Dia-lah yang memberi dan Dia pula yang berhak mencabutnya kapan pun Dia kehendaki dari tangan siapa pun. Manusia hanyalah pemegang titipan sementara.

Rasulullah SAW juga senantiasa mengingatkan para sahabatnya agar berhati-hati dengan kepemimpinan dan jabatan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini memperjelas bahwa sekecil apapun jabatan atau amanah yang diemban baik sebagai pemimpin negara, instansi, kepala keluarga, atau bahkan memimpin diri sendiri semuanya memiliki konsekuensi pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Jangan Jadikan Jabatan Alasan untuk Merasa Hebat
Seringkali manusia tertipu oleh ilusi kekuasaan. Ketika dihormati banyak orang, timbul rasa sombong dan merasa diri paling hebat.

Padahal, yang dihormati orang lain pada hakikatnya bukanlah kemuliaan pribadi kita, melainkan fasilitas, kewenangan, dan atribut jabatan yang sedang melekat pada diri kita.
Oleh karena itu, pesan bijak mengingatkan kita:

Jangan jadikan jabatan sebagai alasan untuk merasa hebat.
Jadikan jabatan sebagai kesempatan untuk berbuat manfaat.

Sebab, tidak ada manusia yang duduk di kursi kekuasaan selamanya. Akan tiba masanya seseorang harus turun, menanggalkan segala atribut duniawi, dan kembali menjadi masyarakat biasa.

Pada saat itu, yang tersisa bukanlah sanjungan atau fasilitas mewah, melainkan kenangan, penilaian manusia, serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Rendah Hati Saat Berkuasa, Bermartabat Saat Tak Berkuasa
Menjaga keseimbangan hati di tengah gelimang kekuasaan adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Orang yang cerdas adalah mereka yang tetap rendah hati (tawadhu') ketika berada di puncak kekuasaan, dan tetap tegar serta bermartabat ketika sudah tidak lagi berkuasa.

Mari kita jadikan setiap amanah dan jabatan yang Allah titipkan sebagai ladang amal saleh untuk menebar kebaikan, menolong sesama, dan mendatangkan kemaslahatan bagi banyak orang.

Semoga kita senantiasa dilindungi dari sifat sombong dan terlena oleh sanjungan dunia yang fana.

Artikel ini disarikan dari pengingat diri oleh :
Ronaldo Rozalino (Coach RR)
Teacherpreneur, Content Creator, Motivator, Writer, Business Owner Leader, Composer & Arranger, serta Coach.

Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Menaklukkan Amanah Kursi Kekuasaan: Antara Sanjungan Dunia dan Pertanggungjawaban Abadi
Coach RR

Ketika Topeng Itu Lepas: Realitas Pensiun dan Hakikat Hubungan dalam Timbangan Islam


Panggung Kekuasaan yang Berakhir
Bismillah. Dunia ibarat sebuah panggung teater besar, di mana manusia memainkan berbagai peran. Ada yang ditakdirkan duduk di kursi kepemimpinan, memegang kendali kewenangan, dan dikelilingi oleh fasilitas serta sanjungan.

Namun, sebesar apapun megahnya panggung itu, setiap babak pasti akan menemui kata akhir.

Ketika masa jabatan usai dan kursi kekuasaan beralih tangan, sebuah kenyataan yang sering kali mengejutkan pun tersingkap: keramaian mendadak menjadi sunyi, dering telepon berangsur mati, dan orang-orang yang dulu setia mendampingi perlahan-lahan pergi.

Fenomena ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang ketulusan yang sesungguhnya.

Lantas, bagaimana Islam memandang dinamika sosial ketika seseorang kehilangan kedudukan, dan apa petunjuk dari Al-Qur'an serta Hadis dalam menyikapi hubungan antarmanusia yang kerap diuji oleh kepentingan duniawi?

1. Realitas Semu: Ketika Manusia Mencintai Jabatan, Bukan Pribadi
Sebagaimana digambarkan dalam narasi dan ilustrasi yang ada, masa-masa kejayaan sering kali menipu.

Saat seseorang memiliki kuasa, mudah sekali baginya menarik perhatian publik. Sanjungan datang bertubi-tubi, dan keramahan palsu bertebaran di mana-mana.

Namun, Islam jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa ikatan persahabatan yang tidak didasari oleh ketulusan karena Allah SWT kelak akan berbalik menjadi permusuhan atau kekecewaan di kemudian hari.

Al-Qur'an merekam bagaimana hubungan yang hanya berporos pada keuntungan duniawi akan rapuh ketika kepentingan itu hilang.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 28-29:
"Wailata laaitan lam attakhiz fulanan khalila. Laqad adallani 'aniz-zikri ba'da iz jaani, wa kaana syaitanu lil-insani khuzula."

Artinya: "Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan syaitan itu adalah pembiar manusia (tidak mau menolong)."
(QS. Al-Furqan: 28-29)

Ayat ini menggambarkan penyesalan seseorang yang semasa hidupnya salah memilih teman yakni mereka yang mendekat hanya karena status, kekuasaan, atau keuntungan dunia, dan meninggalkan saudaranya saat kesusahan atau ketika kekuasaan itu lenyap.


2. Ujian Keikhlasan dan Hakikat Persahabatan Sejati
Pensiun atau berakhirnya masa jabatan sejatinya adalah sebuah "saringan alami" (natural filter).

Di sinilah topeng-topeng kepalsuan terlepas. Orang yang tulus akan tetap hadir membawa senyum dan kepedulian, sementara mereka yang bermotif pamrih akan mencari panggung baru di tempat lain.

Rasulullah SAW memberikan teladan agung mengenai bagaimana membina hubungan yang bersih dari kepentingan material.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan tentang golongan orang yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, salah satunya adalah:

"Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa persahabatan yang kokoh adalah persahabatan yang dibangun atas dasar keimanan dan kecintaan kepada Allah, bukan karena jabatan, harta, ataupun popularitas yang melekat pada diri seseorang.

3. Ketenangan Hati di Masa Pensiun: Kekayaan yang Sesungguhnya
Kehilangan jabatan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari fase kehidupan yang lebih tenang untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ketika manusia berhenti mengejar pengakuan makhluk, di situlah ia menemukan kemerdekaan jiwa yang seutuhnya.

Rasulullah SAW bersabda mengenai hakikat kekayaan hati:

"Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati yang qana'ah)."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika jabatan berakhir dan rumah mulai sepi dari tamu-tamu yang hanya mencari kepentingan, manfaatkan kesunyian tersebut untuk memperbanyak ibadah, merajut kembali hubungan yang harmonis dengan keluarga inti, serta mensyukuri sisa usia dengan ketulusan hati.

Evaluasi Diri dan Hikmah Kehidupan
Pada akhirnya, apa yang disampaikan oleh penulis dalam pesan inspiratifnya sejalan dengan nilai-nilai Islam: bahwa kekuasaan bersifat sementara, tetapi amal dan ketulusan hati akan abadi.

Jangan bersedih jika hari ini keramaian itu surut. Anggaplah itu sebagai cara Allah menyaring orang-orang terbaik di sekitar kita, sekaligus membebaskan kita dari beban ilusi kepalsuan dunia.

Tetaplah menjadi pribadi yang bermanfaat, rendah hati, dan gantungkan segala Harapan hanya kepada Allah SWT, Zat yang tidak pernah "pensiun" dari mendengarkan hamba-hamba-Nya.

“Karena ketika kekuasaan dan jabatanmu habis, topeng sebagian orang akan ikut terlepas, namun kemuliaan di hadapan Allah justru diukur dari sebersih apa hatinya.”

Penulis:
Ronaldo Rozalino - Coach RR
Teacherpreneur • Writer • Motivator Literation & Education • Content Creator • Business Owner Leader • Composer & Arranger • Coach

Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site : s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Ketika Topeng Itu Lepas: Realitas Pensiun dan Hakikat Hubungan dalam Timbangan Islam
Coach RR

Mahkota Jiwa di Atas Kursi Fana: Ketika Hati Jauh Lebih Mulia dari Jabatan

Bismillah. Di panggung kehidupan yang fana ini, manusia sering kali terjebak dalam silau gemerlap atribut sosial.

Kita kerap mengukur kemuliaan seseorang dari apa yang melekat pada dirinya jabatan yang disandang, kekayaan yang dipamerkan, atau kuasa yang digenggam.

Padahal, alam semesta melalui benda-benda mati di sekitar kita sering kali menyimpan renungan yang jauh lebih jujur daripada ambisi manusia.

Sebagaimana sebuah ungkapan yang terukir penuh makna dari penulis :

"Kursi tidak pernah bertanya siapa yang duduk di atasnya. Tapi manusia sering bertanya: 'Dia punya apa?', 'Jabatannya apa?', 'Bisa kasih apa?'. Beginilah manusia, sering menghargai posisi, tapi lupa menghargai hati. Melihatlah dengan hati, bukan harta dan jabatan. Ingat: Tuhan melihat hati kita."

Hakikat Kemuliaan di Hadapan Sang Pencipta
Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin senantiasa mengingatkan kita bahwa ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala bukanlah terletak pada status sosial, gelimang harta, ataupun singgasana kekuasaan yang bersifat sementara.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Ia melihat kepada hati dan amal kalian."
(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi cerminan agung yang sejalan dengan pesan moral yang diberikan. Kursi jabatan, meja kerja yang megah, atau kedudukan tinggi di masyarakat tidak akan pernah menambah nilai seseorang di hadapan Allah jika rongga dadanya kosong dari ketulusan dan kebersihan hati.

Kursi itu bisu; ia bersedia diduduki oleh siapa saja, baik seorang yang adil maupun yang zalim, tanpa pernah menyeleksi latar belakang penumpangnya.

Namun, Sang Pencipta Maha Mengetahui lagi Maha Teliti terhadap apa yang disembunyikan oleh hati manusia.

Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT juga menegaskan standar kemuliaan sejati melalui firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."

Ayat ini menutup segala celah kesombongan manusia yang suka merendahkan orang lain berdasarkan status materi atau jabatan. Takwa, yang letaknya esensial di dalam hati, adalah satu-satunya mahkota abadi yang dihitung oleh-Nya.




Menghargai Manusia dengan Mata Hati
Sering kali, interaksi sosial kita tercemar oleh virus materialisme.

Kita menyapa seseorang karena kalkulasi keuntungan: “Apa jabatanmu?” atau “Apa yang bisa engkau berikan kepadaku?”.

Ketika seseorang kehilangan posisinya, dunia seolah runtuh dan ia dilupakan begitu saja.
Padahal, merawat kemanusiaan berarti belajar melihat sesama dengan mata batin yang jernih.

Seperti pesan penutup yang menyentuh jiwa: "Melihatlah dengan hati, bukan harta dan jabatan."
Ketika kita memandang orang lain dengan hati, kita akan melihat mereka sebagai hamba Allah yang memiliki kehormatan, rasa sakit, harapan, dan potensi kebaikan yang sama di hadapan-Nya.

Guru-guru inspiratif, relawan tanpa tanda jasa, hingga orang-orang biasa di pinggir jalan yang tulus berbuat baik, sering kali jauh lebih mulia di langit dibandingkan mereka yang duduk di kursi kekuasaan namun berhati batu.

Kembali kepada Esensi
Mari sejenak merenung di atas kursi kehidupan kita masing-masing. Jabatan, harta, dan popularitas hanyalah titipan sesaat yang suatu hari pasti akan tanggal.

Yang tersisa kelak bukanlah seberapa megah kursi yang pernah kita duduki, melainkan seberapa bersih hati kita dan seberapa banyak kebaikan yang telah kita tebarkan untuk sesama.

Semoga kita senantiasa dijauhkan dari penyakit hati berupa kebanggaan semu atas atribut dunia, dan dianugerahi hati yang senantiasa tunduk serta ikhlas dalam menggapai ridha Allah SWT.

Artikel inspiratif ini disarikan dari karya dan pemikiran:
Ronaldo Rozalino (Coach RR) 

Teacherpreneur, Writer, Motivator Literation & Education, Content Creator, Business Owner Leader, Composer & Arranger, Coach

Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Mahkota Jiwa di Atas Kursi Fana: Ketika Hati Jauh Lebih Mulia dari Jabatan
Coach RR
LOGIKA UAS......
Kemana Kita Berpihak….???

Ustadz ABDUL SOMAD (UAS), 
bertanya kepada jama'ahnya,

UAS ๐Ÿ˜— :
"Andai kita hidup pd zaman Fira'un,
kira-kira kita jadi pengikut siapa, 
Fir'aun atau Nabi Musa?"

Jama'ah: "Musaaaaa."
 (Jawab jama'ah kompak).

UAS ๐Ÿ˜— _"Yakiiin?"_
Jama'ah ๐Ÿ˜— _"Yakiiiiiin....."_

UAS ๐Ÿ˜— 
Tapi yang membangun kota Mesir, Fir'aun.
Yang bangun infrastruktur juga dia.
Yang bangun piramida, Fir'aun. 
Yang paling kaya, Fir'aun.
Yang punya bala tentara banyak 
dan kuat, Fir'aun.
Yang punya banyak pengikut, Fir'aun.
Yang bisa memberi perlindungan 
dan jaminan,
Fir'aun.
Yang Berkuasa, Fir'aun.
Yang bisa menyediakan 
makanan dan minuman, 
Fir'aun.
Yang bisa adakan hiburan, Fir'aun. 
Yang bisa buat pusat perbelanjaan, Fir'aun.
Bahkan jika teknologi nya sudah ada,
mungkin Kartu Mesir Sehat
dan Kartu Mesir Pintar juga dibuatnya."

Sementara Nabi Musa......
siapa dia?
Hanya seorang penggembala kambing. 
Bicara saja tidak fasih alias cadel 
(akibat pernah memakan bara api diwaktu bayi). 
Hanya memiliki sebatang tongkat butut.

Masih yakin mau ikut Nabi Musa........?
Tanya UAS sekali lagi.

Jamaah terdiam... Saling toleh satu sama lain.

UAS ๐Ÿ˜— 
"Kerjaan Nabi Musa hanya 
sebagai penjaga kambing, 
tiba-tiba mau mengajak kita menyeberangi lautan,
tanpa memakai sampan, tanpa perahu, tanpa kapal.
Apakah yakin kita mau ikut Nabi Musa?"

Tak satupun jama'ah berani menjawab.
Semua tertunduk, diam seribu bahasa.

UAS ๐Ÿ˜— 
Betapa  sesungguhnya manusia 
zaman Firaun dan zaman sekarang, 
tidak ada bedanya. 
Di Zaman sekarang ini, mayoritas 
tergila gila pada harta, wanita, pangkat, jabatan, pujian, rayuan. Cinta materi. Al Wahn
(cinta keduniawian)

Sungguh, Fir'aun itu akan tetap ada 
hingga akhir zaman. 
Hanya saja berubah wajah dan bentuknya. 
Juga namanya.
Namun secara hakikat dia akan terus ada. 
Sebab sejarah akan berulang, 
dan kita harus tetap yakin seyakinnya biidznillah
Fir'aun dikalahkan oleh Musa,
karena Kuasa ALLAH AZZA WA JALLA.

Siapapun yang akan jadi PEMIMPIN
itu  sudah menjadi TAKDIR yang Sudah tertulis 
di LAUHUL MAHFUDZ tetapi ALLAH   akan mencatat dimana KITA BERPIHAK๐Ÿ˜Š

Belajarlah dari CICAK dan BURUNG PIPIT

Dahulu saat Nabi Ibrahim Alaihi Salam dibakar oleh Raja Namrud, 
datanglah burung pipit yang 
bolak balik mengambil air 
dan meneteskan air itu di atas api 
yang membakar Nabi Ibrahim AS.

Cicak yang melihatnya tertawa. "Hai pipit, bodoh amat yang kau lakukan itu. 
Paruhmu yang kecil hanya bisa menghasilkan
beberapa tetes air saja, 
mana mungkin bisa memadamkan api itu..?

Burung pipit pun menjawab:
"Wahai cicak, memang tak mungkinlah 
aku bisa memadamkan api yang besar itu, 
tapi aku tak mau jika ALLAH melihat Aku diam saja
saat sesuatu yang ALLAH  cintai dizholimi.
Allah tak akan melihat 
apakah aku berhasil memadamkan 
api itu atau tidak.
Tetapi Allah akan melihat 
di mana aku berpihak.

Cicak terus tertawa, dan sambil
menjulurkan lidahnya ia berusaha 
meniup api yang membakar 
Nabi Ibrahim Alaihi Salam 
agar cepat membesar.

Memang tiupan cicak tak 
ada artinya tak menambah 
besar api yang membakar 
Nabi Ibrahim, 
tetapi Allah melihat dimana Cicak berpihak.

Hikayat ini terjadi sekarang. 
dan akan terus berulang. 
Saat Al-Qur'an dinistakan, 
suara Azan dipermasalahkan,
bendera tauhid dibakar dan 
pembela Agama dikriminalisasi.

Aku bertanya padamu sahabat: 
Dimanakah kau berpihak......?????
Memang, pilihanmu tak akan mengubah sedikitpun takdir Allah. 
Tapi Allah akan mencatat dimana kau berpihak.
Berada di barisan mana dirimu, 
Siapa dan apa yang kamu dukung.

Ingat-ingat... pilihanmu akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.
Jadilah pemilih yg BIJAK , RASIONAL, WARAS  dan CERDAS๐Ÿฅฐ
Semua Paslon punya rekam jejak.rekam digital yg tdk bisa kita hapus tapi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ
Semua Paslon adalah anak bangsa terbaik dan kita memilih siapa yg PALING sedikit membawa kemudharatan๐Ÿ˜˜

Untuk kita Renungkan 
Semoga Kita semua selalu dalam Lindungan ALLAH SWT Aamiin...
Yaa Mujibassa'iliin ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ

#copas
READ MORE - LOGIKA UAS......Kemana Kita Berpihak….???
Coach RR

 RENUNGAN HARI INI 
Amanahmu Membawa Berkah

Masa kampanye sudah selesai dan para calon sudah memaparkan visi dan misi mereka, dan sekarang  tugas kita adalah persiapan untuk menentukan dan memilih pemimpin yang perlu kehati-hatian jika salah dalam memilih tunggulah kehancuran di masa yang akan datang.

Agama Islam juga telah memberikan tatacara memilih yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Bahkan Islam tidak mengenal dikotomi atau sekulerisasi yang memisahkan antara  dunia dan akhirat, termasuk dalam memilih pemimpin.

Pemimpin mulai dari tingkat paling bawah sampai yang paling atas baik formal maupun informal, eksekutif, yudikatif dan legislatif merupakan faktor penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Seorang pemimpin itu haruslah, sederhana, jujur, baik, cerdas dan amanah dan niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup, serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara.

Islam melalu Hadits Rasulullah sebagai salah satu bukti begitu seriusnya Islam memandang persoalan kepemimpinan ini. _Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya_ (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Konsep Islam tentang kepemimpinan sebenarnya sudah ideal. Contoh paling ideal pemimpin islam tentu saja Rasulullah. Baginda  merupakan seorang yang memimpin dengan hati. _Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah_. (QS Al-Ahzab:21).

Islam juga memiliki tata cara bagaimana memilih pemimpin yang baik, diantaranya: 

✅ *Mukmin*
Beriman kepada Allah (Mukmin) dan beragama Islam (Muslim) yang baik. “Yakni seorang Muslim yang memiliki dua sifat, seperti disebutkan dalam Alquran Surah Yusuf ayat 55, _hafizhun ‘alim_ Hafizhun” artinya adalah seorang yang pandai menjaga. Yakni, seorang  yang punya integritas, kepribadian yang kuat, amanah, jujur dan akhlaknya mulia, sehingga patut menjadi teladan bagi orang lain atau rakyat yang dipimpinnya sebagai dasar kepemimpinan dalam islam.

✅ *Amanah*
Seorang pemimpin yang amanah kan berusaha sekuat tenaga untuk menyejahterakan rakyatnya, walaupun sumber daya alamnya terbatas seperti pada ayat ayat alquran tentang amanah. Sebaliknya pemimpin yang khianat sibuk memperkaya diri sendiri dan keluarga serta kolega-koleganya, dan membiarkan rakyatnya tak berdaya. “Rasulullah mengingatkan, sifat amanah akan menarik keberkahan, sedangkan sifat khianat akan mendorong kefakiran,”

✅ *Alim/Berilmu*
Seseorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang memadai untuk memimpin rakyatnya dan membawa mereka hidup lebih sejahtera, seorang pemimpin  yang amanah dan berpengetahuan tinggi (hafizhun ‘alim), 

✅ *Ibadahnya Rajin*
Shalat adalah barometer akhlak manusia. “Pemimpin yang baik dan layak dipilih adalah pemimpin yang menegakkan shalat. Shalat melahirkan tanggung jawab. Kesadaran keimanan / tauhid / transendental dibangun melalui shalat sebagimana doa pemimpin dalam islam.

✅ *Gemar Berbagi*
Zakat itu bukan membersihkan harta yang kotor, melainkan membersihkan harta kita (harta yang bersih) dari hak orang lain. seorang pemimpin yang rajin berzakat dan berinfak, tidak akan korupsi. ”Sebab  dia yakin Allah sudah menjamin rezekinya, dan sesungguhnya rezeki yang halal lebih banyak daripada rezeki yang haram. Kalau sudah yakin seperti itu, untuk apa melakukan korupsi yang sangat dibenci Allah?

✅ *Suka Bergaul dengan Masyarakat*
Suka bergaul dengan masyarakat, suka berjamaah berusaha mengetahui keadaan rakyatnya dengan sebaik-baiknya, dan mencarikan jalan keluar atas persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Sifat suka berjamaah atau memperhatikan masyarakat ini ditunjukkan dalam shalat fardhu berjamaah. Rasulullah setiap selesai shalat fardhu berjamaah lalu duduk menghadap kepada jamaah sebagai cara menguatkan iman dan taqwa.

Fakta ini bertujuan untuk mengetahui kondisi jamaah, termasuk memperhatikan apakah jumlah jamaah tersebut lengkap atau tidak. Kalau ada yang tidak hadir shalat berjamaah, ditanya apa penyebabnya. Kalau ternyata orang tersebut sakit, Rasulullah bersama para sahabatnya lalu menjenguk orang yang sakit tersebut. 

Sebagai masyarakat awam, tentu kita berharap kepada masyarakat dalam menentukan pilihan agar mempertimbangkan masalah ketaqwaan, rajin menunaikan shalat lima waktu dalam sehari. 

_*Pemimpin yang Amanah pasti membawa berkah dan inilah yang kita minta pada Allah*_

Wallahu a'lam bish-showab
READ MORE - RENUNGAN HARI INI, Amanahmu Membawa Berkah

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777