
Tausiyah Ustadz Dr. Irfandi, M.Pd di Masjid AR Rahdha Kuantan Singingi dilaksanakan Qobliyah Zuhur, Senin, 16 Maret 2026
Memetik Kebeningan Hati: 2 Cahaya Kebahagiaan bagi Sang Penanti Berbuka
Oleh: Ustadz H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Berdasarkan Tausiyah Ustadz Dr. Irfandi, M.Pd)
Senin, 16 Maret 2026—di bawah naungan kubah Masjid Agung Ar Raudha Kuantan Singingi, sebuah pesan menyejukkan mengalir. Puasa bukan sekadar menahan dahaga di tenggorokan, melainkan sebuah perjalanan menuju puncak kebahagiaan yang hakiki.
Ada dua jenis senyum yang hanya dimiliki oleh mereka yang tulus melabuhkan lapar dan dahaganya karena Allah.
1. Kebahagiaan Menikmati yang Halal: Getaran Doa yang Menembus Langit
Pernahkah Anda merasakan betapa seteguk air putih terasa jauh lebih nikmat daripada perjamuan megah saat mentari terbenam? Itulah kebahagiaan pertama.
Bagi mereka yang berpuasa, ada rasa syukur yang membuncah saat dipertemukan kembali dengan hal-hal yang halal. Kebahagiaan ini bersifat eksklusif; ia tidak akan pernah singgah di hati mereka yang sengaja meninggalkan perintah-Nya.
Di sela-sela rasa lapar itu, tersimpan kekuatan dahsyat. Ingatlah, doa orang yang berpuasa adalah satu dari tiga doa yang takkan tertolak, bersanding dengan doa pemimpin yang adil dan doa anak yang shaleh. Inilah mengapa mereka yang benar-benar meresapi Ramadhan seringkali merasa berat hati untuk berpisah. Ada rindu yang mulai tumbuh bahkan sebelum bulan suci ini berlalu.

2. Puncak Kerinduan: Berjumpa dengan Sang Khalik di Hari Akhir
Jika kebahagiaan pertama dirasakan di dunia, maka kebahagiaan kedua adalah janji yang melampaui waktu. Puasa adalah madrasah penyucian jiwa. Setiap detik yang kita lalui dengan kesabaran adalah penghapus noda-noda dosa yang selama ini mengerak di dinding hati.
Puncak dari segala kebahagiaan adalah saat seorang hamba berdiri di hadapan Allah SWT tanpa sekat, dengan wajah yang berseri-seri karena dosa-dosanya telah luruh dalam dekapan ampunan Ramadhan.
“Sudahkah di penghujung hari-hari ini kita bersimpuh meminta ampun kepada Allah?”
Mari kita renungkan sejenak. Jangan biarkan Ramadhan berlalu hanya sebagai ritual tanpa makna. Semoga Allah membukakan pintu ampunan seluas-luasnya bagi kita semua. Target kita satu: ketika takbir kemenangan berkumandang nanti, kita kembali menjadi pribadi yang suci, putih bagai bayi yang baru lahir, dan menjadi insan yang paling bahagia di hadapan semesta.
Semoga Ramadhan ini tidak sekadar singgah, tapi menetap dalam perubahan akhlak kita selamanya.
