Aku tidak sebaik yang kau ucapkan
Ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini adalah pelajaran tentang kerendahan hati, kejujuran diri, dan keadilan dalam menilai manusia.
Kalimat “Aku tidak sebaik yang kau ucapkan” menunjukkan sikap tawadhu’ yang mendalam. Sayyidina Ali menolak pujian berlebihan, karena ia menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan sisi gelap yang tidak diketahui orang lain. Pujian yang melampaui kenyataan bisa menjerumuskan pada kesombongan dan ilusi kesucian diri.
Namun ia melanjutkan dengan keseimbangan yang bijak: “tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas di hatimu.” Kalimat ini adalah teguran terhadap prasangka dan penilaian negatif yang tergesa-gesa. Manusia sering menilai berdasarkan potongan perilaku, gosip, atau persepsi subjektif, lalu menggeneralisasikannya sebagai kebenaran utuh tentang seseorang.
Ungkapan ini menegaskan bahwa manusia berada di antara dua ekstrem: tidak sepenuhnya suci, dan tidak sepenuhnya hina. Setiap orang adalah makhluk yang berproses, berjuang antara niat baik dan kelemahan, antara cahaya dan kekhilafan. Hanya Allah yang mengetahui keadaan hati dan amal seseorang secara sempurna.
Secara keseluruhan, nasihat ini mengajarkan dua hal penting sekaligus: kerendahan hati dalam menilai diri sendiri, dan keadilan serta kehati-hatian dalam menilai orang lain. Dengan memahami ini, manusia tidak mudah terbuai oleh pujian, tidak pula hancur oleh prasangka. Ia berdiri di posisi yang lebih jujur, seimbang, dan beradab—sebagaimana diajarkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
#arahbatin #inspiration #motivation #rumi #sufi

Posting Komentar
Komentar ya