Kesalahan terburuk kita adalah ketertarikan kita pada kesalahan orang lain.
Ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini adalah teguran tajam tentang kecenderungan manusia mengabaikan diri sendiri demi mengurusi kekurangan orang lain.
Kalimat “Kesalahan terburuk kita” menegaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar kekeliruan biasa, melainkan sumber kerusakan batin yang serius. Sayyidina Ali tidak menunjuk dosa lahiriah, tetapi penyakit hati yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya besar.
Bagian “ketertarikan kita pada kesalahan orang lain” mengungkap kecenderungan manusia untuk fokus pada aib, kekhilafan, dan kelemahan sesama. Ketertarikan ini sering muncul dalam bentuk gosip, cibiran, penilaian cepat, atau rasa puas ketika melihat orang lain jatuh. Tanpa disadari, perhatian yang berlebihan pada kesalahan orang lain membuat hati sibuk menghakimi, bukan memperbaiki diri.
Ungkapan ini juga menyingkap ironi: ketika seseorang sibuk mengamati kesalahan orang lain, ia justru lalai terhadap kesalahan dirinya sendiri. Padahal, memperbaiki diri adalah kewajiban yang pasti, sementara menilai orang lain bukan tanggung jawabnya. Ketertarikan pada aib orang lain sering menjadi cara halus untuk merasa lebih baik tanpa benar-benar menjadi lebih baik.
Secara spiritual, Sayyidina Ali mengajarkan bahwa keselamatan batin terletak pada muhasabah (introspeksi). Hati yang sibuk memperbaiki diri akan semakin peka, rendah hati, dan dekat kepada Allah. Sebaliknya, hati yang gemar mengorek kesalahan orang lain akan mengeras, dipenuhi prasangka, dan jauh dari kedamaian.
Secara keseluruhan, ungkapan ini mengingatkan bahwa energi hidup seharusnya diarahkan ke dalam, bukan ke luar. Dengan melepaskan ketertarikan pada kesalahan orang lain dan menggantinya dengan kesungguhan memperbaiki diri, manusia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bersih, bijak, dan beradab—sebagaimana dicontohkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
#arahbatin #inspiration #motivation #rumi #sufi

Posting Komentar
Komentar ya