Kesenangan yang Tak Bisa Dibeli
Aldian Syahmubara
Awal tahun 2026 datang tanpa aba-aba. Ia tidak mengetuk pintu dengan gegap gempita, tidak pula menunggu kesiapan siapa pun.
Seperti biasa, waktu berjalan begitu saja—meninggalkan angka lama dan menyodorkan harapan baru. Di tengah suasana itu, di jantung Kota Teluk Kuantan, seorang bapak duduk bersahaja. Tidak membawa resolusi tertulis, tidak sibuk menghitung capaian. Ia hanya memegang sebotol air mineral yang airnya tinggal sedikit, lalu melemparkannya perlahan, berulang kali, berharap botol itu berdiri tegak.
Entah apa yang sedang ia pikirkan. Entah pula apa yang sedang ia kejar. Di sekelilingnya, orang-orang berlalu lalang: ada yang tergesa pulang, ada yang singgah sekadar melepas lelah, ada pula yang sibuk menatap layar ponsel—mengejar kabar, angka, dan validasi.
Namun bapak itu tetap di sana, setia pada permainan kecilnya, seolah dunia yang lebih besar tak sedang berlomba meninggalkannya.
Permainan sederhana itu tampak remeh. Tak menghasilkan uang, tak mengundang tepuk tangan, tak pula layak diabadikan dalam perayaan apa pun. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tidak sedang berpura-pura bahagia, tidak pula sedang mempertontonkan kesedihan. Ia hanya menikmati satu hal kecil yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh mereka yang terlalu sibuk merencanakan hidup.
Kita hidup di zaman ketika kebahagiaan sering diukur dengan sesuatu yang bisa dibeli. Tahun baru kerap dimaknai sebagai daftar target: rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baru, jabatan yang lebih tinggi, atau pengakuan yang lebih luas. Media sosial menampilkan kebahagiaan dalam bentuk visual yang rapi dan mahal, seakan senyum hanya sah jika berlatar tempat indah dan pencapaian gemilang.
Namun bapak itu, dengan botol plastiknya, seolah membantah semua narasi itu. Ia menemukan kesenangan di luar katalog, di luar etalase, di luar iklan. Kesenangan yang tak bisa dibeli, tak bisa dicicil, dan tak bisa dipamerkan.
Barangkali, hidup memang sesederhana itu sebelum kita membuatnya rumit. Sebelum ambisi menjadi beban, sebelum harapan berubah menjadi tuntutan. Botol yang berdiri tegak atau jatuh terguling tak lebih dari permainan, tetapi di sana ada tawa kecil yang tak perlu disuarakan, ada kepuasan yang tak perlu disahkan oleh siapa pun.
Awal tahun sering kali membebani manusia dengan keharusan untuk berubah. Kita dipaksa lebih baik, lebih cepat, lebih sukses. Gagal di tahun lalu harus ditebus dengan target baru. Padahal tidak semua orang butuh lompatan besar. Sebagian hanya ingin bertahan dengan waras, menikmati hari tanpa tekanan, dan menemukan makna dalam hal-hal yang paling sederhana.
Mungkin bapak itu mengajarkan sesuatu yang kerap kita lupakan: bahwa hidup tak selalu soal menaklukkan, kadang cukup merayakan. Bahwa kebahagiaan tidak selalu berada di ujung pencapaian, melainkan di sela-sela waktu yang kita izinkan untuk berjalan pelan.
Di tengah kota yang terus bergerak, ia memilih diam. Di tengah tahun baru yang penuh tuntutan, ia memilih bermain. Dan di situlah ironi sekaligus pelajaran itu lahir—bahwa mereka yang tampak paling sederhana, sering kali justru paling merdeka.
Awal 2026 semestinya tidak hanya diisi dengan daftar keinginan, tetapi juga keberanian untuk merasa cukup. Keberanian untuk berhenti sejenak, menoleh ke sekitar, dan bertanya: kapan terakhir kali kita bahagia tanpa alasan besar?
Seperti bapak itu, barangkali kita tak perlu banyak untuk merasa hidup. Cukup satu botol kosong, satu waktu luang, dan satu kesadaran bahwa kesenangan sejati sering kali hadir diam-diam—tanpa harga, tanpa syarat, dan tanpa perlu dibeli.
Dan mungkin, di sanalah makna tahun baru yang paling jujur bermula.*(ald)
#cerita_anak_kampung_yang_bukan_kampungan #fyp #reels #fb #semuaorang

Posting Komentar
Komentar ya