Ketika Aku Kecewa
Ungkapan Jalaluddin Rumi ini adalah lukisan halus tentang bagaimana cinta ilahi menyembuhkan luka batin manusia.
Kalimat “Ketika aku kecewa” menggambarkan keadaan paling manusiawi: rasa letih, sedih, dan patah harap. Rumi tidak menafikan kekecewaan; ia mengakuinya sebagai bagian dari perjalanan batin. Namun yang menarik, ia tidak berhenti pada luka itu.
Ia melanjutkan, “aku hanya mengingat bahwa Engkau pernah membuatku tertawa.” Ingatan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan kesadaran akan kasih Tuhan di masa lalu momen-momen ketika Allah menghadirkan kebahagiaan, kemudahan, dan kegembiraan tanpa disangka. Dengan mengingat nikmat yang telah berlalu, hati diajak kembali pada rasa syukur dan kepercayaan bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan hamba-Nya.
Kalimat “Dari situ aku lupa dengan rasa kecewaku” menunjukkan kekuatan ingatan spiritual. Kekecewaan sering membesar karena manusia terperangkap pada satu titik sakit, lupa bahwa hidup juga penuh dengan karunia. Mengingat kebaikan Tuhan membuat luka tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Puncaknya ada pada ungkapan “dan ia berganti rindu.” Di sini Rumi mengubah kesedihan menjadi kerinduan. Kekecewaan tidak dilawan, tetapi ditransformasikan. Rindu kepada Tuhan yang pernah memberi tawa, menjadi energi baru yang lebih lembut, lebih dalam, dan lebih menenangkan daripada sekadar kebahagiaan sesaat.
Secara keseluruhan, ungkapan ini mengajarkan bahwa jalan keluar dari kekecewaan bukanlah melupakan Tuhan, tetapi justru mengingat-Nya lebih dalam. Dalam ingatan akan kasih-Nya, luka berubah menjadi doa, sedih menjadi rindu, dan kecewa menjadi pintu menuju kedekatan yang lebih intim dengan Sang Maha Pengasih.
#arahbatin #inspiration #motivation #rumi #sufi

Posting Komentar
Komentar ya