Ada masa ketika menjadi orang baik terasa seperti kewajiban moral yang tidak boleh diganggu gugat. Kita diajarkan untuk membantu tanpa hitung-hitungan, mendengarkan tanpa mengeluh, dan menoleransi lebih banyak dari yang semestinya. Namun semakin dewasa seseorang, semakin ia menyadari bahwa kebaikan yang tidak dijaga batasnya justru berubah menjadi beban. Bukan karena kebaikan itu salah, tetapi karena ia diberikan kepada orang yang tidak tahu cara menghargainya.
Pada paragraf ini penting untuk menyebutkan sumber inspiratif yang menguatkan gagasan tersebut. Salah satunya adalah buku Boundaries karya Henry Cloud dan John Townsend yang menjelaskan bahwa tanpa batasan, seseorang dengan cepat kehabisan energi, harga diri, dan arah. Buku lain seperti The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga juga menegaskan bahwa menyenangkan semua orang adalah ilusi yang tidak mungkin dicapai dan justru mematikan keaslian diri. Dari dua rujukan ini, jelas bahwa kebaikan butuh pagar agar tidak berubah menjadi perangkap bagi diri sendiri.
1. Karena Orang Akan Mengira Kamu Tidak Pernah Lelah
Ketika kamu selalu tampil sebagai sosok yang kuat dan siap membantu, banyak orang akan menganggap kamu tidak membutuhkan dukungan. Mereka lupa bahwa kamu juga manusia. Ini membuat kamu sering bekerja lebih keras dari seharusnya hanya untuk menjaga hubungan tetap harmonis. Dan lama-lama, batas energimu runtuh tanpa kamu sadari.
Di balik itu semua, kamu menyimpan kelelahan yang tidak kamu tunjukkan. Kamu belajar menahan cerita, menelan kecewa, dan terus berdiri untuk orang lain sementara duniamu sendiri berantakan. Kelelahan yang dipendam lama-lama berubah menjadi kepahitan. Ketika itu terjadi, kebaikanmu tidak lagi terasa tulus. Kamu menjadi baik karena takut melukai, bukan karena benar-benar ingin memberi.
2. Karena Kebaikan Tanpa Batas Mengundang Orang Memanfaatkannya
Tidak semua orang yang kamu bantu memiliki niat baik yang sama. Ada yang datang hanya ketika butuh, tetapi menghilang saat kamu meminta sedikit pengertian. Mereka melihatmu sebagai sumber daya, bukan sebagai manusia yang butuh dihargai. Ketika kamu tidak menetapkan batas, kamu membuka pintu selebar mungkin untuk orang-orang seperti ini.
Akibatnya, kamu terbiasa memberi lebih banyak daripada yang mampu kamu tanggung. Kamu merasa bersalah ketika menolak, dan merasa jahat ketika ingin istirahat. Padahal orang yang memanfaatkanmu tidak merasa buruk sedikit pun. Inilah mengapa batasan diperlukan. Bukan untuk menjadi egois, tetapi untuk melindungi diri dari hubungan yang tidak sehat.
3. Karena Kamu Diam-Diam Kehilangan Identitas
Ketika kamu terus menyesuaikan diri agar tidak mengecewakan orang lain, kamu perlahan kehilangan siapa dirimu sebenarnya. Kamu belajar untuk menyembunyikan pendapat, mengubah kebiasaan, bahkan mematikan kebutuhanmu sendiri. Semua dilakukan agar hubungan tetap aman.
Namun identitas yang disembunyikan terlalu lama akhirnya terasa asing. Kamu terbangun suatu hari dan tidak mengenali apa yang kamu suka, apa yang kamu inginkan, dan apa yang membuatmu merasa hidup. Kebaikan yang tidak dipagari bisa mengikis jati diri sampai kamu hanya menjadi versi yang diciptakan oleh ekspektasi orang lain.
4. Karena Kamu Jadi Sulit Mengatakan Tidak
Pada awalnya, kamu ingin menjadi orang yang membantu. Tetapi karena terlalu sering mengiyakan, kamu akhirnya kehilangan kemampuan untuk menolak. Tidak lagi punya ruang untuk diri sendiri. Setiap permintaan orang menjadi tugas wajib yang harus kamu penuhi.
Ketika kemampuan mengatakan tidak lenyap, kamu hidup dalam tekanan yang kamu buat sendiri. Kamu takut ditinggalkan jika membantah. Padahal penolakan adalah bentuk kejujuran. Menolak tidak membuatmu jahat. Menolak berarti kamu menjaga batas agar hubungan tetap sehat, bukan hubungan yang menguras habis energi.
5. Karena Kamu Lebih Mudah Disalahkan
Orang yang terlalu baik biasanya menjadi sasaran empuk ketika sesuatu berjalan salah. Mereka dianggap selalu bisa memahami, selalu mengalah, dan selalu bersabar. Akibatnya, ketika ada konflik, kamu yang dijadikan penyangga. Kamu meminta maaf lebih dulu meski bukan kamu yang salah.
Hal ini membuatmu terbiasa memikul tanggung jawab yang seharusnya dibagi. Kamu memikul kesalahan yang bukan milikmu hanya demi menjaga kedamaian. Lama-lama kemampuanmu membedakan batas dirimu dan orang lain menjadi kabur. Kamu bukan lagi baik, kamu menjadi korban dari kebiasaanmu sendiri.
6. Karena Kamu Menekan Emosi Demi Orang Lain
Menjadi terlalu baik membuatmu sering memendam marah, kecewa, dan sedih. Kamu percaya bahwa emosi negatif tidak boleh ditunjukkan karena takut dianggap merepotkan. Akibatnya, kamu tumbuh dengan pola mengabaikan perasaan sendiri demi kenyamanan orang lain.
Namun emosi yang ditekan terlalu lama akan mencari jalan keluar dengan cara yang tidak sehat. Ia bisa muncul sebagai kecemasan, ledakan marah, atau rasa rendah diri yang sulit hilang. Belajar menetapkan batas berarti memberi ruang bagi emosi untuk muncul dengan sehat, bukan membiarkannya menjadi racun di dalam diri.
7. Karena Kamu Menjauh dari Hidup yang Kamu Inginkan
Semakin sering kamu mendahulukan orang lain, semakin kamu menjauh dari jalan hidupmu sendiri. Kamu menghabiskan waktu pada hal-hal yang bukan prioritasmu. Kamu kehilangan kesempatan karena terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain.
Ketika kamu akhirnya berhenti sejenak dan melihat jalanmu, kamu mungkin sadar bahwa kamu sudah terlalu jauh dari tujuan. Kebaikan yang diberikan secara berlebihan dapat mengalihkan fokus dari hidup yang seharusnya kamu bangun untuk dirimu sendiri. Dan tidak ada yang bisa mengembalikan waktu yang terbuang.
_________
Menjadi orang baik bukan masalah. Yang berbahaya adalah menjadi baik tanpa batasan yang jelas. Batasan adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri. Dengan memasang batas yang sehat, kamu tetap bisa memberi, tetapi tidak kehilangan dirimu dalam prosesnya. Kebaikan yang tulus adalah kebaikan yang lahir dari energi yang cukup, dari hati yang tidak dipaksa, dan dari diri yang tidak kehilangan arah.

Posting Komentar
Komentar ya