Terkadang yang membuatmu gelisah bukanlah musibah yang menguji
Ungkapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini mengajak manusia untuk mengubah cara pandang terhadap kegelisahan dan ujian hidup.
Kalimat “Terkadang yang membuatmu gelisah bukanlah musibah yang menguji” menegaskan bahwa kegelisahan tidak selalu bersumber dari besarnya masalah. Banyak musibah yang secara lahiriah berat, tetapi mampu dilalui dengan tenang. Sebaliknya, ada kegelisahan yang muncul meski keadaan tampak baik-baik saja. Ini menandakan bahwa sumber gelisah sering kali bukan peristiwa, melainkan makna yang belum dipahami.
Bagian “tetapi bahasa rindu Allah” memperkenalkan sudut pandang spiritual yang dalam. Dalam ajaran tasawuf, kegelisahan bisa menjadi isyarat bahwa Allah sedang memanggil hamba-Nya untuk lebih dekat. Rasa hampa, resah, dan tidak tenteram kadang muncul bukan karena hukuman, melainkan karena kerinduan ilahi agar hamba kembali mengingat, mendekat, dan bersandar kepada-Nya.
Ungkapan “yang gagal kau pahami” menunjukkan bahwa kegelisahan bertahan karena manusia menafsirkannya semata sebagai penderitaan, bukan sebagai pesan. Ketika bahasa rindu ini tidak dipahami, manusia melawannya, menghindarinya, atau menganggapnya sebagai beban semata. Padahal, jika dibaca dengan hati yang jernih, kegelisahan itu bisa berubah menjadi pintu doa dan kesadaran.
Secara keseluruhan, ungkapan ini mengajarkan bahwa tidak semua kegelisahan harus segera dihilangkan; sebagian perlu dipahami. Dengan memahami bahwa kegelisahan bisa menjadi panggilan cinta dari Allah, hati akan lebih tenang, dan ujian tidak lagi terasa sebagai penindasan, melainkan sebagai undangan untuk pulang, kembali kepada-Nya dengan kesadaran dan kerendahan hati.
#arahbatin #inspiration #motivation #rumi #sufi

Posting Komentar
Komentar ya