Aku Seperti Lilin_"Aldian Syahmubara"
Aku menyala perlahan, tanpa suara,
membiarkan diriku terbakar demi memberi terang
di ruang yang sering memilih gelap.
Aku tahu, setiap cahaya yang kuberikan
adalah bagian dari tubuhku yang mencair,
adalah waktu yang tak bisa kembali,
adalah tenaga yang diam-diam habis
tanpa tepuk tangan, tanpa pengakuan.
Aku seperti lilin—
tak pernah memilih siapa yang pantas menerima terang.
Siapa pun yang datang,
baik yang singgah sebentar
atau yang lama berteduh,
semuanya kuberi cahaya yang sama.
Kadang angin datang tiba-tiba,
mencoba memadamkan nyala kecil ini.
Fitnah, cemooh, salah paham,
menjadi hembusan yang menusuk sumbu.
Aku goyah, tapi tak padam,
sebab lilin tak diciptakan untuk takut pada angin.
Aku paham,
tak semua orang mencintai cahaya.
Ada yang silau,
ada yang merasa terganggu,
ada pula yang diam-diam berharap aku padam
agar gelap kembali berkuasa.
Namun aku tetap menyala.
Bukan karena aku kuat,
melainkan karena aku tahu
terang sekecil apa pun
lebih bermakna daripada gelap yang sempurna.
Jika kelak aku habis,
biarlah itu karena aku telah menjalankan tugasku.
Biarlah sumbu ini berakhir
dengan kenangan bahwa
aku pernah berdiri di tengah gelap
dan memilih menjadi cahaya.
Aku seperti lilin.
Tak abadi,
tak sempurna,
namun setia pada satu hal:
menyala,
hingga akhir.*(ald)

Posting Komentar
Komentar ya