Di Lantai Dingin, Persahabatan Menghangatkan Malam
"Aldian Syahmubara"
Di bawah cahaya lampu yang tak sepenuhnya terang, tiga lelaki duduk bersila di lantai dingin. Malam telah larut di Kuantan Singingi, namun percakapan justru menemukan nadinya. Tak ada meja, tak ada kursi, apalagi jamuan berlebih—hanya makanan sederhana yang dibuka perlahan, seolah ingin dinikmati bersama waktu.
Di sela suapan, cerita mengalir tanpa naskah. Tentang lelah yang tak perlu diumbar, tentang hari-hari yang dijalani apa adanya. Mobil putih yang terparkir di belakang menjadi saksi bisu: bahwa malam ini bukan soal ke mana mereka pergi, melainkan mengapa mereka berhenti sejenak.
Kebersamaan semacam ini tak pernah menuntut banyak. Ia hadir dari kesediaan untuk duduk sejajar, berbagi ruang, dan membiarkan sunyi menjadi bagian dari dialog. Di lantai yang dingin, kehangatan justru tumbuh—dari tawa kecil, dari tatap mata yang saling memahami.
Malam itu, Kuantan Singingi tidak hanya menyimpan gelap. Ia menyimpan cerita tentang persahabatan yang tak perlu panggung, tentang kebersamaan yang lahir dari kesederhanaan, dan tentang manusia-manusia yang tahu bahwa kebahagiaan kadang cukup dengan duduk bersama, tanpa tergesa, tanpa jarak.*(ald)
Oleh: Aldian Syahmubara
#cerita_anak_kampung_yang_bukan_kampungan #fyp #reels #fb #semuaorang #jangkauanluas
foto: Ronaldo Rozalino

Posting Komentar
Komentar ya