Di Antara Malam dan Aksara
"Aldian Syahmubara"
Ketika Buku Menjadi Salam Persahabatan.
Malam tidak selalu datang membawa sunyi. Kadang ia hadir sebagai ruang perjumpaan—tempat kata-kata menemukan rumahnya. Di sebuah ruang sederhana, dua sahabat duduk berdampingan, dipisahkan hanya oleh jarak sedepa dan disatukan oleh gagasan yang telah lama bertumbuh.
Di sisi kiri, Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Si, menyerahkan dua buku karyanya. Bukan dengan seremoni besar, melainkan dengan ketulusan yang lahir dari perjalanan panjang perenungan. Sayatan Nada Menuju Surga dan Pesona Indah Negeri Melayu bukan sekadar kumpulan tulisan; ia adalah jejak rasa, denyut kebudayaan, dan doa yang disematkan melalui aksara.
Di hadapannya, Eka Putra, S.Sos., M.Si, menerima buku-buku itu dengan sikap tenang. Seolah memahami bahwa yang berpindah tangan bukan hanya lembaran kertas, melainkan pengalaman batin—tentang musik yang disayat oleh spiritualitas, tentang Melayu yang dirawat melalui kata dan ingatan. Sebuah kepercayaan bahwa tulisan mampu menjaga nilai, ketika zaman kerap tergesa melupakannya.
Pertemuan ini tidak berlangsung di ruang resmi, tanpa panggung dan tanpa sorotan. Justru di situlah maknanya tumbuh. Buku menjadi bahasa paling jujur untuk menyampaikan apa yang tak selalu sanggup diucapkan. Ia menjelma salam persahabatan—diam, namun mengakar.
Di tengah dunia yang bising oleh kepentingan, dua sahabat memilih berbagi karya. Sebuah penanda bahwa persahabatan sejati tak selalu diikat oleh janji, melainkan oleh kesediaan berbagi pikiran dan menjaga nilai. Dan malam itu, kata-kata menemukan jalannya sendiri—menuju ruang hati, menuju surga kecil bernama keikhlasan.*(ald)
source: aldian syahmubara

Posting Komentar
Komentar ya