Di Meja Kecil, Persahabatan Diuji Waktu
"Aldian Syahmubara"
Tak semua cerita penting lahir di ruang besar dengan lampu terang dan tepuk tangan panjang. Sebagian justru tumbuh diam-diam, di meja kecil, di kursi plastik, di antara gelas minuman yang setengah kosong. Seperti malam itu, ketika Nanda dan Aldhy (baju kuning) memilih duduk, berbagi waktu, dan membiarkan dunia berjalan tanpa harus mereka kejar.
Nanda duduk di sisi kiri, menunjuk ke arah sahabatnya dengan gestur ringan—sebuah isyarat yang tak butuh penjelasan panjang. Seolah ia berkata, “inilah orang yang berjalan bersama saya, tanpa banyak syarat.” Sementara Aldhy, dengan baju kuning yang kontras di antara warna malam, tersenyum sambil menggenggam ponsel, jempol terangkat pelan. Bukan pose yang dibuat-buat, melainkan respons alami dari rasa nyaman.
Meja merah di depan mereka menyimpan detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian: dua gelas minuman, asbak, pemantik api. Benda-benda sederhana, namun justru di situlah cerita berdiam. Tentang obrolan yang mungkin tak selalu berat, namun jujur. Tentang tawa singkat yang tak dipaksakan. Tentang diam yang tak canggung.
Persahabatan, pada akhirnya, bukan soal seberapa sering bertemu atau seberapa besar rencana dibicarakan. Ia lebih sering tentang kesediaan hadir, meski tanpa agenda. Duduk bersama, mendengarkan, dan saling memahami bahwa hidup kadang perlu jeda—bukan untuk berhenti, melainkan untuk menguatkan langkah berikutnya.
Di tengah dunia yang kian riuh dan tergesa, momen seperti ini terasa langka. Nanda dan Aldhy (baju kuning) mengajarkan bahwa kebersamaan tak selalu harus dirayakan dengan kemewahan. Cukup waktu yang jujur, tempat yang sederhana, dan hati yang tak sedang berpura-pura.
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah di mana kita duduk, melainkan dengan siapa kita memilih bertahan dalam satu meja, meski dunia terus berubah di luar sana.*(ald)

Posting Komentar
Komentar ya