Ungkapan Imam Syafi’i ini mengajarkan kejernihan orientasi hidup dan kematangan iman.
Kalimat “Engkau tidak akan mampu menyenangkan semua orang” adalah pengakuan jujur tentang realitas manusiawi. Setiap pilihan, sikap, dan keputusan, betapapun baik niatnya akan selalu melahirkan penilaian yang beragam. Berusaha memuaskan semua orang justru akan melelahkan, mengaburkan prinsip, dan sering berujung pada kehilangan jati diri.
Karena itu, Imam Syafi’i menegaskan, “cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah”. Ini adalah ajakan untuk menjadikan ridha Allah sebagai pusat orientasi hidup. Hubungan yang baik dengan Allah dibangun melalui niat yang lurus, ketaatan, kejujuran, dan akhlak yang baik. Ketika hubungan vertikal ini terjaga, seseorang memiliki kompas moral yang jelas, tidak mudah goyah oleh pujian maupun cercaan.
Bagian “jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia” bukan berarti mengabaikan etika sosial atau nasihat yang baik, melainkan tidak menggantungkan nilai diri pada opini orang lain. Penilaian manusia sering berubah, dipengaruhi kepentingan, emosi, dan keterbatasan pengetahuan. Jika hidup dikendalikan oleh penilaian tersebut, batin akan terus gelisah dan tidak pernah merasa cukup.
Secara keseluruhan, ungkapan ini menuntun pada kemerdekaan batin: bahwa ketenangan hidup lahir ketika seseorang berhenti mengejar pengakuan manusia dan mulai menata hubungannya dengan Tuhan. Dalam pandangan Imam Syafi’i, ridha Allah adalah tujuan yang pasti, sementara ridha manusia adalah tujuan yang semu dan tak pernah selesai.
#arahbatin #sufi #rumi #motivation #inspiration

Posting Komentar
Komentar ya