*Bukan Cinta, Tapi Cipta*
Malam tidak pernah bertanya siapa kita.
Ia hanya menyediakan waktu—dan kursi plastik yang setia menunggu tubuh-tubuh lelah untuk bersandar.
Di sudut jalan Kabupaten Kuantan Singingi, kopi menguap perlahan. Asap rokok naik tanpa arah, seperti pikiran yang akhirnya berhenti berlari. Tidak ada agenda, tidak ada tuntutan, tidak ada siapa yang harus terlihat paling benar. Hanya duduk. Hanya hadir.
Ini bukan cinta— Cerita Indah Namun Tiada Arti, yang sering indah di awal, tapi berakhir sebagai cerita tanpa arti.
Ini bukan kisah yang memaksa kepemilikan, tidak juga menagih janji.
Ini adalah Cipta.
Cerita Indah Pada Tirta Amerta—air keabadian yang tidak diminum, tetapi dirasakan. Ia mengalir dalam tawa yang pecah tanpa sebab, dalam diam yang tak canggung, dalam obrolan remeh yang justru menyelamatkan hari-hari yang hampir runtuh.
Kami tidak sedang membangun mitos tentang persahabatan.
Tidak sedang mengabadikan momen untuk dikenang berlebihan.
Kami hanya sedang menjadi manusia, sepenuhnya.
Di meja kecil itu, terletak sisa-sisa rutinitas: gelas kopi, ponsel, rokok, dan cerita yang tidak akan masuk arsip berita. Tapi justru di sanalah kejujurannya. Bahwa hidup tidak selalu tentang peristiwa besar, melainkan tentang keberanian untuk duduk bersama tanpa topeng.
Tak ada yang paling sukses malam itu.
Tak ada yang paling gagal.
Semua setara di hadapan kopi yang mendingin dan waktu yang berjalan pelan.
Jika cinta sering menuntut arti,
maka Cipta cukup dengan keberadaan.
Ia tidak perlu disahkan, tidak perlu diumumkan.
Ia hidup dalam kesediaan untuk tetap tinggal—
meski dunia di luar terus berisik dan memanggil pulang.
Dan ketika malam menutup dirinya perlahan,
kami bangkit tanpa seremoni,
membawa pulang sesuatu yang tak bisa difoto:
rasa cukup.
Bukan cinta.
Tapi Cipta.
Dan itu sudah lebih dari cukup.*(ald)
#cerita_anak_kampung_yang_bukan_kampungan #fyp #fb #reels #semuaorang

Posting Komentar
Komentar ya