Merajut Ukhuwah di Gerbang SatuMu: Kala Syawal Memanggil Langkah Kader Riau_Silaturahmi Idul Fitri 1447 H, Keluarga Besar Muhammadiyah Riau
PEKANBARU – Di bawah naungan langit Syawal 1447 H yang masih menyisakan wangi fitri, sebuah simfoni pergerakan sedang dirajut oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau. Bukan sekadar pertemuan rutin, agenda bertajuk "Silaturahim Syawal dan Sosialisasi SatuMu" yang digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) ini menjadi sebuah manifesto tentang bagaimana iman dan teknologi berjalan beriringan.
Panggilan Pulang ke Rumah Besar Persyarikatan
Surat bernomor 077/II.0/A/2026 itu bukan sekadar tumpukan kertas dan tinta. Ia adalah "undangan rindu" bagi para pejuang di daerah (PDM) dan cabang (PCM) se-Provinsi Riau. Di tengah kesibukan duniawi, PWM Riau memanggil para nahkoda umat untuk sejenak melingkar, mempererat simpul persaudaraan yang mungkin sempat merenggang oleh jarak.
Gaya bahasa sastra yang tersirat dalam pertemuan ini adalah tentang tajdid (pembaruan).
Muhammadiyah Riau tidak hanya ingin bernostalgia dengan kejayaan masa lalu, tetapi sedang membangun jembatan masa depan melalui SatuMu (Sistem Informasi Terpadu Muhammadiyah), khususnya Modul Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM). Ini adalah langkah digital yang suci—memastikan setiap aset, ranting, dan kader terdata dalam satu nafas koordinasi yang rapi.
Langkah Serempak dari Pelosok Negeri
Denting antusiasme terdengar nyaring dari Kuantan Singingi (Kuansing). Jarak yang membentang dari Pucuk Rantau hingga Singingi Hilir tak menyurutkan langkah para kader. Dari catatan perjalanan yang diterima, rombongan-rombongan kecil mulai bergerak membelah aspal menuju Ibu Kota Provinsi.
Di dalam mobil Pak Anizar (PCM Pucuk Rantau), semangat itu membara bersama Pak Mawardi, Pak Syafri Said, Pak Maisir, dan Mukhlis.
Sementara itu, Mas Tarsupon membawa rombongan yang tak kalah takzim, membawa nama-nama seperti Pak Indra Sukri hingga sang pemuda, M. Rizki Lazuardi.
Ada keindahan dalam daftar nama tersebut; sebuah potret tentang kesetiaan. Mereka adalah orang-orang yang rela meninggalkan kenyamanan rumah demi sebuah frasa: Nashrun minallah wafathun qarieb (Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat).
Filosofi Gerakan: Antara Langit dan Bumi
Dalam paparan materi yang disiapkan, terungkap filosofi mendalam melalui McKinsey 7-S Model yang diadaptasi secara syar'i. Muhammadiyah diingatkan bahwa organisasi yang efektif bukan hanya soal struktur yang kokoh (Hard Elements), tetapi juga tentang ruh, nilai-nilai ideologis, dan kepemimpinan yang aktif (Soft Elements).
"Persyarikatan dan AUM harus sehat dan maju. Inovasi tiada henti, karena haram hukumnya masuk ke zona nyaman," demikian pesan kuat yang tersirat dalam materi sosialisasi tersebut.
Sebuah Harapan yang Bertaut
Silaturahim kali ini bukan sekadar jabat tangan dan santap siang bersama. Ini adalah momen refleksi. Seperti ilustrasi anak panah yang bergerak searah (fokus), Muhammadiyah Riau sedang menyatukan energi.
Di tengah tantangan zaman yang kian menderu, SatuMu menjadi alat perjuangan agar dakwah ini tidak tercerai-berai.
Bagi para peserta yang telah tiba lebih dulu di Pekanbaru, seperti Guspan dari PCM Lubuk Jambi dan Argeonerta Lisva, udara Pekanbaru sore ini terasa berbeda. Ada beban amanah yang mulia, namun terasa ringan karena dipikul bersama-sama.
Syawal kali ini adalah saksi, bahwa di tanah Lancang Kuning, matahari Muhammadiyah tidak pernah terbenam. Ia terus bersinar, mendigitalisasi dakwah tanpa kehilangan marwah.
Catatan: Kegiatan dilaksanakan pada 4-5 April 2026, berlokasi di Kampus Universitas Muhammadiyah Riau.
Penulis: Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Konten Kreator (GKK) Riau, Blogger, Guru Penulis, Bisnis Owner Leader, Coach)

Posting Komentar
Komentar ya