Secercah Senyum di Ambang Idul Fitri: Lazismu Kuansing Basuh Luka Kaum Duafa
KUANTAN SINGINGI – Di sela-sela riuhnya persiapan menyambut hari kemenangan, sebuah momen khidmat menyeruak dari Kantor Layanan Lazismu Pondok Pesantren K.H. Ahmad Dahlan. Di sana, zakat fitrah bukan sekadar perpindahan materi, melainkan jembatan kasih yang menghubungkan hati para dermawan dengan mereka yang terlupakan.
Mengetuk Pintu-Pintu yang Terlupakan
Dunia mungkin melihat kemilau lampu Lebaran, namun di sudut-sudut sunyi Kuantan Singingi, realita berbicara dengan nada yang berbeda.
Laporan penyaluran zakat kali ini mengungkap potret kehidupan yang menggetarkan jiwa:
Kesunyian di Gubuk Tua: Ada saudara kita yang bernaung di bawah atap rapuh di tengah perkebunan sawit milik orang lain, berteman sepi dan deru angin.
Hidup Sebatang Kara: Mereka yang ditinggal keluarga, menjalani hari-hari tanpa sapaan hangat di masa tua.
Dilema Sesuap Nasi: Untuk makan sehari-hari pun, seringkali mereka harus bergelut dengan ketidakcukupan.
Melihat kenyataan ini, kalimat La haula wala quwwata illa billah bukan sekadar ucapan, melainkan pengakuan atas keterbatasan manusia dan harapan akan pertolongan Ilahi.
Kebahagiaan yang Setara
Lazismu Kuansing melalui Kantor Layanan Ponpes K.H. Ahmad Dahlan memastikan bahwa Idul Fitri adalah milik semua orang. Sebanyak 50 penerima manfaat, yang sebagian besar terdiri dari keluarga besar Pondok Ahmad Dahlan dan Perguruan Mu’allimin, kini dapat menatap hari raya dengan binar mata yang berbeda.
"Zakat ini hadir agar tak ada lagi perut yang lapar saat takbir berkumandang. Kita ingin memastikan bahwa di hari raya, semua kaum muslimin bisa makan sepuasnya dan merayakan kemenangan dengan martabat yang sama," ujar perwakilan Amil Lazismu.
Pengingat di Balik Sukacita
Penyaluran ini juga membawa pesan filosofis yang mendalam. Di tengah keriuhan dunia, terselip sebuah pengingat bahwa masa depan manusia yang sesungguhnya bukanlah tumpukan harta, melainkan kematian.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan dunia: Kematian.”
Zakat yang ditasharrufkan hari ini adalah bekal abadi bagi mereka yang memberi, sekaligus pelipur lara bagi mereka yang menerima. Ia adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa diraih ketika kita mampu melihat dan menyentuh luka sesama.
Mari terus ulurkan tangan. Karena setiap butir beras yang kita zakatkan adalah penyambung nafas bagi mereka yang berjuang di tengah keterbatasan.
Ditulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Guru Konten Kreator Riau, Guru Penulis, Blogger, Bisnis Owner, Coach)






