Ungkapan Syekh Mutawalli Sya’rawi ini mengajarkan cara pandang spiritual yang dewasa dalam menyikapi kegagalan, kekecewaan, dan ketidaktercapaian harapan. Manusia cenderung menilai hidup dari apa yang tampak dan terasa saat ini. Ketika keinginan tidak terwujud, spontanitas yang muncul sering kali adalah menyalahkan nasib, keadaan, atau bahkan mempertanyakan keadilan Tuhan. Padahal, dalam perspektif iman, tidak semua yang kita inginkan benar-benar baik bagi kita.
Pesan utama dari ungkapan ini adalah menggeser sudut pandang dari keluhan menuju keyakinan. Mengatakan “ini nasib burukku” berarti menempatkan diri sebagai korban keadaan, seolah hidup berjalan tanpa makna. Sebaliknya, meyakini bahwa Allah Ta’ala menginginkan yang lebih baik adalah bentuk husnuzan (berprasangka baik) kepada Tuhan, keyakinan bahwa setiap ketentuan-Nya mengandung hikmah, meski belum dapat kita pahami saat ini.
Syekh Sya’rawi ingin menanamkan kesadaran bahwa penolakan Allah bukanlah penelantaran, melainkan perlindungan. Bisa jadi apa yang kita kejar akan membawa mudarat, melalaikan, atau menjauhkan kita dari jalan yang seharusnya. Dengan tidak mengabulkannya, Allah sedang mengarahkan kita pada kebaikan yang lebih sesuai dengan kapasitas, waktu, dan tujuan hidup kita.
Ungkapan ini juga mengajarkan ketenangan batin. Orang yang meyakini bahwa Allah selalu menghendaki kebaikan tidak akan mudah patah oleh kegagalan. Ia tetap berusaha, namun hatinya berserah. Ia tidak berhenti berikhtiar, tetapi tidak hancur ketika hasilnya berbeda dari harapan. Inilah keseimbangan antara usaha dan tawakal.
Pada akhirnya, pesan Syekh Mutawalli Sya’rawi ini menegaskan bahwa iman bukan hanya tentang menerima ketika doa dikabulkan, tetapi juga tentang percaya ketika doa belum dijawab. Karena dalam keyakinan seorang mukmin, apa pun keputusan Allah baik yang memberi maupun yang menahan selalu bermuara pada kebaikan.
#arahbatin #sufi #rumi #inspiration #motivation

Posting Komentar
Komentar ya