
Mensyukuri Nikmat, Menjemput Keberkahan: Catatan dari Sayyidul Ayyam
Ustadz H. Suhelmon, MA
(Kakan Menag Kab. Kuansing)
Masjid Syuhada Beringin Taluk Kuantan, 24 April 2026
Setiap kali fajar menyingsing di hari Jumat, alam semesta sebenarnya sedang menyapa kita dengan sebuah kemuliaan. Jumat bukan sekadar penggalan waktu di kalender; ia adalah Sayyidul Ayyam, tuannya segala hari, hari rayanya umat Islam setiap pekan.
Dalam khutbahnya di Masjid Syuhada Beringin, Kakan Menag Kab. Kuansing, Ustadz H. Suhelmon, MA, mengingatkan kita semua tentang satu hakikat penting: Nikmat Allah itu tak terhingga, namun bagaimana cara kita menyambutnya?
1. Memuliakan Tamu Allah dengan Penampilan Terbaik
Pernahkah kita menyadari bahwa saat melangkah ke masjid di hari Jumat, kita sedang menghadiri sebuah “perayaan”? Ustadz Suhelmon menekankan pentingnya adab menyambut hari raya mingguan ini.
“Pilihlah pakaianmu yang paling indah, paling rapi, bersih, dan pakailah wewangian,” pesan beliau.
Mengapa demikian? Karena saat kita beribadah, malaikat senantiasa mendekat. Mereka mendengar doa-doa yang kita langitkan dan mencatat siapa saja yang datang dengan hati yang tulus. Menjaga kerapihan bukan soal pamer, melainkan bentuk penghormatan kita kepada Sang Pemberi Nikmat.

2. Pesan Mendalam dari Surah Al-Kautsar
Ustadz Suhelmon membedah makna di balik Surah Al-Kautsar yang singkat namun padat makna. Allah SWT berfirman:
“Inna a’thainaakal kautsar, fa shalli li rabbika wanhar…”
Ada pola menarik dalam ayat ini:
Pemberian (Nikmat): Allah telah memberikan nikmat yang sangat banyak (Al-Kautsar).
Respons Seketika: Kata “Fa” dalam Fa shalli menunjukkan perintah untuk segera mendirikan shalat tanpa menunda setelah nikmat diterima.
Pengorbanan: Setelah shalat, disusul dengan perintah berkurban (Wanhar).
Beliau mengingatkan bahwa aman dan tenteramnya negeri kita hari ini—tanpa suara rudal yang berseliweran di langit—adalah nikmat yang mahal. Cara mensyukurinya bukan hanya dengan lisan, tapi dengan tindakan nyata: Shalat dan Berbagi.

3. Kurban: Investasi Abadi di Hari Esok
Menjelang Idul Adha yang akan datang, khutbah ini menjadi pengingat yang menyentuh hati. Jika untuk urusan duniawi seperti pakaian, kendaraan, dan renovasi rumah kita sanggup menyisihkan dana jutaan rupiah, mengapa untuk kurban kita seringkali ragu?
Ustadz Suhelmon mengajak jemaah berhitung secara logis namun spiritual. Jika kita mampu menyisihkan sedikit demi sedikit dari rezeki yang Allah titipkan, nominal 2,5 juta atau lebih untuk satu bagian kurban dalam setahun sebenarnya bukanlah angka yang mustahil.
“Apa yang kita makan akan habis, apa yang kita pakai akan usang. Namun, apa yang kita kurbankan akan menjadi saksi yang kekal di Yaumil Akhir nanti,” tegas beliau.
4. Konsistensi Ibadah: Jangan Hanya “Musiman”
Sebuah pengingat penutup yang cukup menohok adalah tentang konsistensi. Jangan sampai semangat ibadah kita hanya membara saat Ramadhan atau Idul Fitri saja. Masjid yang ramai di bulan suci harus tetap hidup di hari-hari biasa.
Perintah Fa shalli li rabbika wanhar (Maka shalatlah dan berkurbanlah) adalah perintah yang berlaku selamanya, selama nafas masih dikandung badan.
Nikmat Allah itu luas laksana samudra. Jika kita bersyukur dengan cara yang benar—menjaga shalat dan memiliki kepedulian sosial melalui kurban—maka Allah menjamin bahwa mereka yang membenci atau menzalimi kita akan terputus dari rahmat-Nya.
Mari kita jadikan momentum Jumat ini untuk memeriksa kembali daftar syukur kita. Sudahkah nama kita tertulis di daftar peserta kurban tahun ini? Jika belum, masih ada waktu untuk memulainya. Sebab, pada akhirnya, hanya amalan tulus yang akan menemani kita menghadap Sang Pencipta.
Wallahu a’lam bish-shawabi.
Penulis: H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Guru Penulis, Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya, Guru Konten Kreator Riau, Ketua Forum Literasi Kuansing, Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Ketua Komisi Seni Budaya Islam MUI Kab. Kuansing, Motivator Literasi & Edukasi, Bisnis Owner, Coach)











