
Menjaga Akar, Menjemput Berkah: Bahaya Harta Haram dalam Kehidupan
(Berdasarkan Khutbah Jum’at Ustadz Rayondra, M.Pd di Masjid Syuhada Beringin Taluk)
Di bawah naungan langit Kuantan Tengah, tepatnya di Masjid Syuhada Beringin Taluk pada Jumat yang khidmat ini (17 April 2026), sebuah pesan mendalam mengalun lembut namun menggetarkan jiwa. Ustadz Rayondra, M.Pd, mengingatkan kita tentang sebuah tirai gelap yang seringkali tak kasat mata namun mampu menghancurkan fondasi kebahagiaan seorang hamba: Pengaruh Harta Haram.
Harta, bagi banyak orang, adalah bunga kehidupan. Namun, jika bunga itu tumbuh dari akar yang beracun, ia takkan memberikan keharuman, melainkan membawa layu pada iman dan langkah kaki kita.
1. Ketika Langit Terasa Terkunci
Pernahkah kita merasa doa-doa yang dipanjatkan seolah tertahan di langit-langit rumah? Catatan penting pertama mengingatkan kita pada sabda suci: “Innallaha tayyibat layaqbalu illa tayyibat”—Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan Dia tidak menerima kecuali yang baik.
Harta haram adalah penghalang (hijab) antara hamba dan Tuhannya. Bagaimana mungkin tangan yang menengadah mengharap rahmat, sementara di dalam darah yang mengalir dan perut yang kenyang terdapat tetesan hasil kebatilan?
2. Membatu di Balik Kegelapan Hati
Harta yang tidak suci perlahan akan menyelimuti hati dengan jelaga hitam. Hati yang mulanya lembut akan berubah menjadi keras dan gelap. Ia tak lagi peka terhadap nasihat, tak lagi bergetar saat asma Allah disebut, dan kehilangan kompas nuraninya. Kehilangan kepekaan hati adalah awal dari hilangnya kemanusiaan kita.

3. Hilangnya Cahaya Keberkahan
Banyak namun tak mencukupi, sedikit namun selalu kurang. Itulah ciri hilangnya keberkahan. Sebuah hadits mengingatkan:
“Man jama’a mala min haramin tsumma anfaqahulam yubaraka lahu fihi.”
“Barang siapa yang mengumpulkan harta dari jalan yang haram lalu ia menafkahkannya, maka tidak akan diberkahi baginya.”
Berkah bukan soal angka, tapi soal ketenangan. Tanpa berkah, rumah megah terasa sesak, dan tidur di atas sutra terasa gelisah.
4. Racun bagi Akhlak dan Perilaku
Harta haram bukan sekadar materi, ia adalah energi negatif yang merusak tatanan moral. Ia memicu sifat tamak, sombong, dan menghalalkan segala cara. Ketika sumber penghidupan sudah tercemar, maka buah dari perilaku sehari-hari pun akan ikut membusuk, merusak hubungan antar sesama dan kehormatan diri di mata khalayak.

5. Bayang-bayang Azab di Ujung Jalan
Pada akhirnya, perjalanan dunia ini akan bermuara pada satu titik pertanggungjawaban. Harta haram yang kita kumpulkan dengan peluh kemaksiatan kelak akan menjelma menjadi azab di akhirat. Ia akan menjadi beban yang memberatkan hisab dan api yang membakar ketenangan abadi.
Kembali ke Jalan Cahaya
Sahabat literasi, harta hanyalah titipan yang sebentar. Jangan sampai demi mengejar dunia yang fana, kita menggadaikan kebahagiaan yang baka. Mari kita teliti kembali asal muasal setiap rupiah yang masuk ke saku kita. Biarlah sedikit namun mengalirkan ketenangan, daripada melimpah namun membawa kehancuran.
Semoga dari Masjid Syuhada ini, semangat untuk mencari rezeki yang Thayyib (baik) dan Halal tertanam kuat di hati setiap jamaah, membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat Kuansing, dan bangsa Indonesia.

Penulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Konten Kreator (GKK) Riau, Fasda CBPR Bank Indonesia & BGTK Riau (Duta Literasi Rupiah) , Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya, Blogger, Bisnis Owner Leader, Coach)
Catatan Penulis:
Artikel ini dirangkum dari poin-poin khutbah sebagai bentuk dakwah literasi untuk mencerahkan umat melalui tulisan.
#dakwahliterasi #hartaharam #ustadzrayondra #masjidsyuhadaberingintaluk #pdmkuansing #muhammadiyahkuansing #gurukontenkreatorriau #gurupenulis #ulama










