
Memulangkan Hati yang Tersesat: Kalam Langit di Masjid Raya Pasar Taluk _ Ustadz Dr. Irfandi, M.Pd
Ditulis: Ronaldo Rozalino
Mentari belum lagi menampakkan wajahnya secara utuh di ufuk timur Kuantan Singingi, namun denyut spiritualitas telah terasa hangat di Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan. Pada Ahad pagi yang tenang, 26 April 2026, untaian nasihat mengalir lembut bak embun yang membasahi dahaga jiwa dalam sebuah Majlis Ilmu Tausiyah Subuh.
Di balik pengeras suara, Ustadz Dr. Irfandi, M.Pd duduk dengan takzim, menyampaikan mutiara hikmah yang menggetarkan sanubari para jemaah yang bersimpuh di atas hamparan karpet hijau masjid yang megah.

K6erak Dosa dan Pintu Langit yang Terbuka
Ustadz Irfandi mengawali tausiyahnya dengan sebuah refleksi mendalam tentang kondisi batin manusia. Beliau mengingatkan bahwa sejatinya hati seseorang rusak karena kerap kali dicoreng oleh noda dosa. Dosa-dosa kecil yang dianggap lumrah, jika dilakukan berulang kali, akan menjelma menjadi kerak yang menutupi cahaya ilahi dalam dada.
Namun, di balik kegelapan itu, kasih sayang Allah tak pernah bertepi. “Allah senantiasa membukakan pintu taubat bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh,” tutur beliau. Sang uswah hasanah, Rasulullah SAW, yang telah dijamin kemuliaannya saja tetap bertaubat hingga 100 kali dalam sehari. Lantas, bagaimanakah dengan kita yang bergelimang alpa?

4 Wasiat Penyejuk Jiwa
Dalam suasana penuh kekhusyukan tersebut, terpancar empat nasihat penting sebagai lentera bagi langkah hidup kita ke depan:
1. Membentengi Diri dari Kelalaian Janganlah sekali-kali kita meremehkan maksiat dengan berpikir, “Esok aku bisa bertaubat.” Ustadz Irfandi menekankan agar kita tidak hanya menjauhi dosa besar, namun juga waspada terhadap dosa kecil seperti bergunjing. “Jangan lihat kecilnya dosa yang kau perbuat, tapi lihatlah kepada siapa kau berbuat dosa,” pesan beliau. Menghindari dosa adalah bentuk penghormatan tertinggi seorang hamba kepada Sang Khalik.
2. Kesabaran dalam Ujian dan Ibadah Sabar bukan hanya saat ditimpa sakit atau kehilangan materi. Kesabaran yang jauh lebih berat adalah saat kita berjuang melawan rasa malas agar tidak tertinggal dalam ibadah. Beliau mengingatkan bahwa penyesalan terdalam bagi penghuni neraka adalah kelalaian mereka terhadap sholat.
3. Manusia, Bukan Zamannya yang Aneh Seringkali kita mengeluh betapa “anehnya” zaman sekarang. Namun, hakikatnya zaman hanyalah putaran waktu. Yang berubah hanyalah pelakunya. Sifat zalim layaknya Fir’aun, sombongnya Namrud, atau tamaknya Qorun tetap ada, hanya berganti rupa dan nama di tiap generasi. Kesalahan bukan pada masa, melainkan pada hati manusia yang berpaling dari kebenaran.
4. Mengingat Sang Penjemput yang Paling Dekat Nasihat terakhir yang paling menyentuh adalah tentang Kematian. Ia adalah kepastian yang paling dekat, lebih dekat dari urat nadi kita. Segala perbuatan, sekecil debu sekalipun, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Bersimpuh Sebelum Berpuluh
Tausiyah pagi itu di Kecamatan Kuantan Tengah bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia dan pasar kehidupan, ada jiwa yang harus dirawat dan ada bekal yang harus disiapkan.
Semoga petuah dari Ustadz Dr. Irfandi menjadi kompas yang menuntun kita kembali pada fitrah, menjadikan setiap helaan nafas sebagai langkah menuju ampunan-Nya. Sebelum fajar benar-benar menyingsing, mari kita tanyakan pada hati:
Sudahkah kita bertaubat hari ini?
Tentang Penulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino,S.Sn., M.Pd adalah seorang Guru Penulis dari SMAN 1 Sentajo Raya yang aktif dalam gerakan literasi dan edukasi di Kabupaten Kuantan Singingi. Selain sebagai abdi negara, ia juga seorang kreator konten dan penggerak sosial di berbagai organisasi keagamaan dan seni.





