
Memetik Hikmah Kesalehan: Meneladani Bakti Nabi Ibrahim dan Ismail AS
Ditulis Oleh: Ustadz H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Ketua Forum Literasi Kuansing & Guru Penulis)
TELUK KUANTAN – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Syuhada Beringin Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, pada Jumat (08/05/2026). Di atas mimbar, Ustadz Seprion, M.Pd, seorang guru di MAN 1 Kuansing sekaligus pengurus MUI Kabupaten Kuantan Singingi, menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh relung hati para jamaah.
Menjelang tibanya bulan haji atau Idul Adha sekitar tiga pekan ke depan, Ustadz Seprion mengajak umat Islam untuk kembali menengok lembaran sejarah tentang arti sebuah kesalehan dan bakti yang tak bertepi.
Doa Abadi Nabi Ibrahim dan Ujian Kesetiaan
Fokus utama khutbah kali ini adalah sosok Nabi Ibrahim AS. Beliau dikenal sebagai ayah yang tidak pernah putus asa memohon kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang shaleh. Doanya terkabul dengan lahirnya Ismail AS. Namun, kasih sayang itu diuji dengan perintah yang maha berat.
Ustadz Seprion menekankan bagaimana respon Ismail AS saat mendengar perintah Allah melalui ayahnya.
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan menemukanku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar.”
Sebuah jawaban yang menunjukkan bahwa kesalehan seorang anak adalah buah dari ketauhidan yang ditanamkan sejak dini.
Lembutnya Hati Ibrahim kepada Sang Ayah
Ada pelajaran berharga yang sering terlupa: bagaimana Nabi Ibrahim bersikap kepada ayahnya sendiri, meskipun sang ayah adalah pembuat berhala. Beliau tetap berkata lembut dan mendoakan keselamatan bagi ayahnya.
“Jika kepada orang tua yang berbeda keyakinan saja kita diperintahkan untuk berbuat baik dan berkata santun, lantas bagaimana dengan kita terhadap orang tua yang seakidah?” tanya Ustadz Seprion retoris di hadapan jamaah.
Menghargai Masa Tua Orang Tua: Kunci Surga
Waktu terus berjalan. Ustadz Seprion mengajak jamaah merenungkan perubahan fisik orang tua mereka. Dulu mereka kuat menggendong kita, kini langkah mereka mulai melemah. Rambut yang dulu hitam kini telah memutih, dan kulit yang dulu kencang kini telah keriput.
Beliau mengutip peringatan keras dari Rasulullah SAW:
“Celakalah seseorang… yang mendapati orang tuanya di usia tua, salah satu atau keduanya, namun (keberadaan mereka) tidak memasukkannya ke dalam surga.”
Pesan ini menjadi tamparan halus bagi kita semua. Bahwa melayani orang tua di masa senja mereka bukanlah beban, melainkan “tiket emas” menuju surga Allah SWT.
Doa Anak Shaleh: Satu-satunya Harapan di Alam Kubur
Bagi mereka yang orang tuanya telah tiada, Ustadz Seprion mengingatkan agar jangan pernah menghapus nama mereka dari setiap doa. Mungkin orang tua kita dulu hidup dalam keterbatasan ekonomi sehingga tidak sempat meninggalkan sedekah jariyah yang besar. Mungkin mereka juga tidak berkesempatan sekolah tinggi untuk meninggalkan ilmu yang luas.
“Satu-satunya yang mereka nanti-nantikan di alam kubur adalah doa dari anak-anak yang shaleh,” tegasnya.
Khutbah Jumat ini ditutup dengan ajakan untuk bermuhasabah. Sesukses apa pun kita hari ini, setua apa pun usia kita sekarang, kita tetaplah seorang anak. Maka, memberikan bakti terbaik adalah kewajiban yang tak akan pernah usai hingga napas terakhir.
Semoga di momentum menjelang bulan kurban ini, kita tidak hanya bersiap menyembelih hewan ternak, tetapi juga mampu menyembelih ego kita untuk bersimpuh memohon ampun dan memberikan bakti terbaik kepada kedua orang tua.
Narasumber: Ustadz Seprion, M.Pd (Guru MAN 1 Kuansing)
Lokasi: Masjid Syuhada Beringin Taluk, Kuantan Singingi
Hari/Tanggal: Jum’at 8 Mei 2026
