Ketika Kehadiran Dibutuhkan
Aku melihat dua orang duduk bersahaja, senyum mereka hadir tanpa panggung—di ruang sederhana dengan kursi kayu, gelas bening, dan obrolan yang tampak hangat. Tak ada kemewahan, tapi ada kehadiran. Dan justru di situlah kontrasnya terasa dengan kata, hadir dan tidak hadir.
Salah seorang dari mereka mengatakan, aku belum sanggup mendengar ketika seorang anak mengatakan "saya tidak sekolah hari ini, karena tiada ayah untuk menjemput raport," dengan nada lirih.
Kalimat itu seolah ada luka yang tidak berteriak, hanya duduk diam di balik kalimat sederhana.
“Aku tidak sekolah hari ini,” terdengar biasa—namun ketika disambung dengan “karena tiada ayah untuk menjemput raport,” dunia seakan berhenti sejenak.
Bukan karena jarak rumah dan sekolah, melainkan karena satu sosok yang hilang, yang seharusnya hadir, yang seharusnya pulang.
Seorang anak tidak sedang meminta belas kasihan. Ia hanya menyampaikan fakta dengan nada lirih, seolah telah terlalu cepat belajar tentang kehilangan.
Pada usia di mana mimpi mestinya lebih besar dari duka, ia justru harus menimbang ketidakhadiran sebagai alasan untuk absen dari bangku sekolah.
Tak semua kemiskinan berbentuk angka.
Ada kemiskinan yang bernama kehilangan, bernama kesepian, bernama ayah yang tak lagi bisa menjemput. Dan di hadapan kalimat seperti itu, wajar bila hati orang dewasa runtuh—karena kita sadar, sistem sering kali tak siap menampung air mata yang jatuh tanpa suara.
Mungkin yang paling menyakitkan bukan alasan ia tak sekolah hari itu, tetapi kenyataan bahwa kalimat tersebut bisa lahir begitu polos dari mulut seorang anak.
Dan kau benar—belum sanggup mendengarnya, karena nurani memang tak pernah benar-benar kebal.*(ald)
#cerita_anak_kampung_yang_bukan_kampungan #reels #fb #semuaorang #fyp
foto: Ronaldo Rozalino

Posting Komentar
Komentar ya