Malam yang Tidak Perlu Disorot Kamera
Di ruang yang belum sempurna,
di antara dinding yang masih belajar menjadi rumah,
persahabatan menemukan bentuknya sendiri.
Tanpa pengeras suara, tanpa undangan resmi,
cukup kursi kayu, meja kecil,
dan niat baik yang tak pernah ditulis agenda.
Kopi diseduh apa adanya—
kadang pahit, kadang dingin sebelum habis.
Seperti hidup,
tak selalu manis,
tak selalu perlu ditambahi gula agar layak dinikmati.
Kami tak sedang membahas dunia,
tak menyusun solusi untuk konflik global,
tak mengejar judul besar.
Kami hanya menertawakan hari yang panjang,
mengendapkan lelah
yang seharian dipaksa berdiri sendiri.
Di meja kecil ini,
lelah diletakkan perlahan.
Tak dihakimi, tak dipertanyakan asalnya.
Persaudaraan dibiarkan tinggal lebih lama,
menolak pulang meski malam sudah larut.
Bukan gedung megah yang menyatukan kami,
bukan pula kepentingan yang dibungkus rapi.
Hanya waktu yang disisihkan,
dan kejujuran untuk saling hadir
tanpa harus terlihat hebat.
Malam berjalan pelan,
seolah tahu:
di sini tak ada yang perlu dikejar.
Persahabatan menjaga langkah,
agar esok hari kami tak lupa
bagaimana caranya menjadi manusia biasa.
Di antara tegukan kopi
dan camilan sederhana di tengah meja,
ada cerita yang tak perlu dicatat berita,
tak perlu tanggal dan tanda tangan.
Cukup disimpan di ingatan—
sebagai pengingat,
bahwa pulang tak selalu soal tempat,
kadang ia bernama kebersamaan,
dan hati yang kembali ringan
tanpa harus banyak bicara.*(ald)
#cerita_anak_kampung_yang_bukan_kampungan #fb #reels #fyp #semuaorang
foto: Ronaldo Rozalino

Posting Komentar
Komentar ya