Tawa di Pintu Persahabatan
Tampak suasana penuh canda di depan sebuah bangunan berpintu ukiran berwarna cokelat keemasan. Seorang pejabat berseragam dinas cokelat dengan peci hitam terlihat tertawa lepas sambil menutup mulutnya, seolah ada momen lucu yang baru saja terjadi. Di sebelah kirinya, seorang pria berkemeja biru muda dengan topi menunduk sambil memegangi topi seakan malu atau menghindari candaan, ikut tertawa menahan geli. Di sisi kanan, seorang pria berkaus biru dongker membungkuk sambil menopang lutut, juga larut dalam tawa. Suasana tampak sangat akrab, mencerminkan hubungan hangat antara pejabat dan masyarakat di sekitarnya. Di latar belakang, beberapa orang lainnya terlihat ikut tersenyum menyaksikan momen tersebut, menambah kesan keakraban dan kebersamaan dalam suasana informal.
*Tawa di Pintu Persahabatan*
Di depan pintu besi bercorak keemasan,
tiga lelaki larut dalam gelak yang tulus,
tanpa pangkat, tanpa jarak, tanpa sekat jabatan—
hanya manusia yang berbagi cerita dan lelucon.
Seragam dinas tak menghalangi hangatnya hati,
peci dan jabatan tak membendung canda,
tawa pecah seperti hujan pertama,
membasuh penat yang lama singgah di bahu.
Ada yang membungkuk menahan geli,
ada yang menutup wajah malu-malu,
ada yang tertawa sampai lupa dirinya—
semuanya menyatu dalam detik sederhana,
yang tak tercatat dalam rapat maupun laporan.
Inilah bukti:
kerja bukan selalu tentang serius dan tekanan,
kadang, jeda kecil bernama tawa
adalah yang paling membangun kedekatan.
Di depan pintu itu,
bukan sekadar canda yang tercipta,
tapi persahabatan,
kehangatan,
dan cerita yang akan selalu dikenang.*(ald)
#cerita_anak_kampung_yang_bukan_kampungan #fyp #fb #reels #semuaorang Maramis Kuantan
foto: @mojodrock / Zul Achyar Indragiri

Posting Komentar
Komentar ya