Dalam Tawa yang Kita Jaga
Di sebuah sudut kedai malam yang sederhana, sepasang suami dan istri duduk berdampingan dengan penuh kehangatan. Sang suami tampak tertawa lepas sambil menunjukkan sesuatu di ponsel kepada istrinya. Tawa itu begitu tulus, mencerminkan rasa nyaman dan kedekatan yang sudah terbangun lama. Sang istri menatap layar ponsel dengan senyum hangat—senyum yang hanya bisa muncul dari rasa percaya dan kebersamaan.
Di atas meja, segelas teh hangat, cangkir kopi, dan kotak makanan menggambarkan suasana santai bertema "quality time". Tidak ada kemewahan, tetapi kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sederhana: dua hati yang saling menguatkan, saling menghibur, dan menikmati momen tanpa topeng.
Malam itu, mereka bukan sekadar pasangan yang sedang minum di kedai—mereka adalah dua sahabat hidup yang saling menemukan rumah dalam tawa dan kebersamaan.*
**Dalam Tawa yang Kita Jaga**
Di kursi plastik warna merah,
kita duduk tanpa banyak kata,
malam sibuk dengan lalu-lalangnya,
tapi dunia kita cukup di meja sederhana ini.
Segelas teh menghangatkan telapak,
tawamu menghangatkan seluruh jiwa.
Ku tunjukkan sesuatu di layar kecil,
dan kau ikut tertawa - bukan karena lucu,
tapi karena bersamamu selalu terasa indah.
Kita bukan pasangan yang sempurna,
tapi kita selalu kembali pada alasan yang sama:
denganmu, hidup terasa lebih ringan,
ulang tahun masalah selalu kalah oleh rasa saling memahami.
Tak perlu restoran mewah,
tak perlu perjalanan jauh,
karena bahagia ternyata sederhana —
asal kita duduk berdua,
dan saling jaga tawa.*(ald)
#selamat_ber_akhir_pekan
#cerita_anak_kampung_yang_bukan_kampungan
#fyp #fb #reels #pengikut #semuaorang
foto: Ronaldo Rozalino

Posting Komentar
Komentar ya