
Membasuh Jiwa di Rumah Allah: Memetik Hikmah Kurban dan Cermin Keluarga Ibrahim_Ust. Candidat Dr. Hendio Anjasmara, M.Pd
Fajar yang Teduh di Pasar Taluk
Ketika kabut subuh masih memeluk erat benda-benda di bumi Kota Jalur, langkah kaki para hamba yang rindu akan ketenangan berayun menuju sebuah oase spiritual. Hari itu, Jum’at, 22 Mei 2026, Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, menjadi saksi bisu berkumpulnya jiwa-jiwa yang haus akan telaga ilmu.
Di atas hamparan karpet hijau yang membentang rapi, para jemaah duduk bersimpuh, melingkar dalam keheningan yang khusyuk. Di depan mihrab yang megah, berdirilah Al Ustadz Hendio Anjasmara, M.Pd, seorang pendidik sekaligus Wakil Kepala Pimpinan Bidang Kurikulum Perguruan Mualimin Muhammadiyah Teluk Kuantan. Dengan untaian kata yang tertata, beliau menyapa subuh yang cerah itu dengan untaian Majlis Ilmu Subuh yang menggetarkan sanubari.
Melampaui Batas Formalitas Ibadah
Ustadz Hendio mengawali untaian nasihatnya dengan sebuah kegelisahan yang mendalam. Sebuah refleksi bagi kita semua yang sering kali terjebak dalam lingkaran ritus tanpa makna.
“Kita khawatir,” ujar beliau dengan nada yang lembut namun menghujam, “Banyak di antara hamba Allah yang beribadah baru menyentuh dinding-dinding formalitas semata. Seperti pergi ke pasar, sekadar menunaikan rutinitas tanpa membawa pulang esensi.”
Beliau mengingatkan betapa salat yang kita dirikan belasan kali dalam sehari, atau ayat-ayat suci yang kita lafalkan, kerap kali lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas di dalam dada. Begitu pula dengan ritual Idul Adha dan kurban yang kian mendekat.
Tanpa pemahaman, kurban hanya akan menjadi ritual penyembelihan tahunan, kehilangan ruh utamanya: Qoruba, yakni jalan sunyi untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.
Pelajaran Pertama: Memangkas ‘Asy-Syuhha Nafsi’ (Kekikiran Jiwa)
Ibadah kurban, sejatinya adalah sebilah pedang yang diturunkan Allah untuk memotong satu penyakit akut di dalam dada manusia: Asy-Syuhha Nafsi—sebuah perpaduan pekat antara sifat kikir, pelit, dan ketamakan yang rakus.
Menukil firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 128:
“…dan manusia itu menurut tabiatnya adalah kikir.”
Ustadz Hendio mengajak jemaah berkaca. Untuk urusan dunia, manusia sering kali tanpa berpikir panjang. Membeli joran pancing yang mahal, mengoleksi jam tangan yang berganti-ganti setiap hari, atau memburu fasilitas duniawi yang mewah. Namun, ketika panggilan berkurban tiba—ketika nominal dua jutaan rupiah disodorkan untuk jalan Allah—tiba-tiba akal kita dipenuhi kalkulasi, langkah kita tertahan oleh sejuta pertimbangan.
Di sinilah setan bekerja dengan sangat halus, sebagaimana firman-Nya: “Asy-syaitanu ya’idukumul faqru” (Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan). Setan membisikkan ketakutan agar kita tidak memberi, atau jika pun memberi, kita memilih yang paling minimal, bukan yang maksimal.
Oleh karena itu, ketika sebilah pisau tajam memutuskan urat leher hewan kurban besok, hakikatnya kita sedang memohon kepada Allah agar menyembelih pula sifat-sifat kebinatangan, ketamakan, dan kerakusan yang selama ini bersemayam di dalam hati kita.
Pelajaran Kedua: Menjadi Ibrahim Sebelum Menuntut Ismail
Bila bicara tentang kurban, ingatan sejarah kita pasti terbang melintasi ruang dan waktu menuju hamparan tandus Makkah, tempat di mana cinta Nabi Ibrahim alaihissalam diuji lewat putranya, Ismail.
Kita kerap berdecak kagum dan mendambakan anak se-saleh Ismail—seorang anak yang patuh, sabar, dan rida bahkan ketika nyawanya hendak diserahkan sebagai bentuk ketaatan.
Namun, Ustadz Hendio melontarkan sebuah pertanyaan retoris yang menembus benteng keangkuhan kita sebagai orang tua:
“Kita sering menuntut anak kita berubah menjadi baik, menuntut mereka seperti Ismail. Namun pertanyaannya, sudahkah kita menjadi ayah sekelas Ibrahim? Sudahkah para ibu menjadi setegar Siti Hajar?”
Ibrahim tidak mendapatkan Ismail yang saleh secara instan. Ada rangkaian doa panjang puluhan tahun yang tiada putus dibubungkannya ke langit: “Rabbi habli minassolihin.” Ada teladan nyata yang ditunjukkannya.
Sungguh ironis, kata Ustadz, jika hari ini kita menuntut anak-anak kita mencintai masjid dan Al-Qur’an, sementara kita sendiri hanya mengantarkan mereka sampai di depan gerbang, lalu kita menunggu di luar tanpa ikut bersujud.
Kita ingin anak sekukuh Ismail, namun kita enggan menempa diri sekukuh Ibrahim dan seikhlas Hajar yang membesarkan anaknya di tengah lembah kering tanpa keluhan.
Mengetuk Pintu Langit di Akhir Fajar
Majlis Ilmu Subuh itu pun diakhiri dengan sebuah kesadaran baru yang merayap di hati para jemaah. Kurban bukan sekadar tentang daging yang dibagikan atau hewan yang ditumbangkan. Ia adalah cermin kehidupan.
Melalui momentum Zulhijah ini, mari kita luruskan niat, berusaha, dan bertawakal. Semoga Allah menyucikan jiwa kita dari sifat kikir, membebaskan kita dari belenggu perbudakan harta dunia, serta menganugerahkan kita kekuatan untuk membangun keluarga-keluarga yang berkarakter Ibrahim, berjiwa Hajar, dan berbakti laksana Ismail.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ditulis Oleh: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis Riau, Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Guru Konten Kreator Riau, Motivator Literasi & Edukasi, Blogger, Bisnis Owner, Coach, Fasda CBP Rupiah Riau)
Dokumentasi Kegiatan Subuh Berkah
Berikut adalah potret kebersamaan dan kekhusyukan jalannya Majlis Ilmu Subuh di Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan:
Al Ustadz Hendio Anjasmara, M.Pd saat menyampaikan materi tafsir dan hikmah kurban.

Para jemaah menyimak dengan saksama di atas hamparan karpet hijau.

Suasana kemegahan interior Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan yang dipenuhi jemaah subuh.

Senyum kebersamaan para penuntut ilmu setelah mereguk hikmah subuh.


Ketua Pengurus Masjid saat memberikan sambutan dan laporan kegiatan.

