
Di Balik Mimbar Syuhada: Getar Muhasabah dan Luka Palestina yang Memanggil
Ustadz Adi Cahyadi, S.Pd Guru Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan Teluk Kuantan
KUANTAN TENGAH – Di bawah naungan kubah Masjid Syuhada Beringin Taluk, suasana Jumat (10/4/2026) terasa berbeda. Semilir angin Kuantan Singingi seolah membawa pesan yang lebih berat dari biasanya, meresap ke dalam sela-sela saf jamaah yang tertunduk khidmat. Di atas mimbar kayu yang berukir indah, hadir sosok Ustadz Adil Cahyadi, S.Pd, seorang pendidik dari Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan, membawa untaian khutbah yang menggetarkan relung jiwa.
Debu di Hadapan Sang Khalik
Dengan nada yang tenang namun penuh penekanan, Ustadz Adil membuka tabir kesombongan manusia. Beliau mengingatkan bahwa segala kemegahan dunia—harta yang berlimpah, jabatan yang mentereng, hingga bisikan terkecil dalam hati—hanyalah titipan yang menanti saat pertanggungjawaban.
“Siapakah kita? Hanyalah debu kecil yang tiada guna di hadapan kemahabesaran Allah,” ungkap beliau.

Kalimat itu bagai cermin bagi para jamaah. Jika hari ini dunia dipenuhi kekhawatiran yang menyesakkan dada, maka bayangan akan hari akhir seharusnya jauh lebih menggetarkan. Beliau melukiskan penyesalan jiwa-jiwa yang telah berpulang; mereka yang meronta ingin kembali ke bumi hanya demi satu sujud, namun pintu waktu telah tertutup rapat.
Luka Palestina dalam Lapar Puasa
Dalam suasana bulan yang suci, Ustadz Adil menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Beliau mengajak jamaah untuk tidak sekadar merasakan lapar sebagai ritual, tetapi sebagai jembatan empati menuju tanah Palestina.
Di tengah penderitaan yang masih menjepit, beliau menggambarkan ketegaran seorang ibu yang mendekap anaknya di bawah bayang-bayang duka. “Bukankah mukmin itu bersaudara?” tanyanya retoris. Beliau mengetuk pintu hati jamaah untuk tidak membiarkan saudara di sana berjuang sendiri. Doa yang disisipkan dan sedekah yang disisihkan adalah bukti bahwa persaudaraan iman melampaui batas geografis.
Warisan Keteladanan: Menanggalkan Kesombongan
Mengambil ibrah dari perjalanan hidup Rasulullah SAW, Ustadz Adil menceritakan momen mengharukan saat Baginda Nabi naik ke mimbar dan menawarkan punggungnya untuk dicambuk bagi siapa saja yang pernah tersakiti olehnya. Sebuah fragmen kepemimpinan yang agung; bahwa tiada tempat bagi kesombongan, bahkan bagi kekasih Allah sekalipun.
“Jika Rasulullah saja begitu khawatir akan hisab, lantas apa yang membuat kita merasa besar?” tuturnya dengan suara yang kian dalam.

Puncak Keheningan
Khutbah diakhiri dengan pemandangan yang menyentuh nurani. Ustadz Adil memanjatkan doa yang bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebentuk rasa syukur, taubat, dan muhasabah yang tulus. Suara “Aamiin” dari para jamaah bergema rendah, menyatu dalam frekuensi yang sama—sebuah harapan agar jiwa-jiwa yang hadir kembali suci setelah dibasuh oleh air mata penyesalan dan semangat untuk berbagi.
Jumat itu, di Masjid Syuhada, jamaah pulang bukan sekadar membawa raga yang segar setelah berwudhu, melainkan membawa hati yang kembali sadar akan hakikat diri sebagai hamba.
Ditulis oleh: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Konten Kreator (GKK) Riau, Motivator Literasi & Edukasi, Guru Penulis, Bisnis Owner Leader, Coach)




Posting Komentar
Komentar ya