
Menjadi Embun yang Luruh Diam-Diam
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd (Coach RR)
Bismillah. Di tengah dunia yang bergerak begitu bising, kita sering kali dipaksa untuk terus bersuara. Panggung-panggung kehidupan dipenuhi oleh sorak-sorai, tempat orang-orang berlomba menepuk dada, memamerkan pencapaian, dan menuntut pengakuan.
Kita seolah diwajibkan untuk terlihat hebat di mata sesama. Namun, di balik riuhnya tepuk tangan yang semu itu, pernahkah kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam:
Apalagi yang tersisa dari hidup ini jika seluruhnya habis hanya untuk mengejar pujian?
Hidup, pada hakikatnya, bukan tentang seberapa megah kita berdiri di atas panggung, melainkan seberapa luas teduh yang bisa kita berikan kepada jiwa-jiwa yang sedang kepanasan di bawah terik ujian.
Jika takdir menuntunmu pada sebuah kesempatan untuk mengulurkan tangan, maka bantulah. Ringankan beban yang menggelayuti pundak sesamamu. Dunia ini sudah cukup berat bagi banyak orang; jangan biarkan mereka merangkak sendirian dalam gelap jika kita memiliki secercah cahaya untuk dibagikan.
Ketulusan dalam Sekecil-kecilnya Rupa
Namun, adakalanya jemari kita terlalu pendek untuk merengkuh semua nestapa. Adakalanya kantung kita terlalu tipis untuk menyelesaikan semua perkara materi. Jika hari itu tiba, jangan berkecil hati. Kebaikan tidak pernah mematok harga. Ia adalah mata uang semesta yang bisa dibayarkan lewat apa saja yang bersumber dari ketulusan hati.
“Kalau bisa menguatkan hati orang, lakukanlah. Walau hanya lewat senyum, lewat doa, atau sekadar menyediakan telinga untuk mendengarkan mereka yang sedang dirundung sedih.”
Sebuah senyuman yang tulus bisa menjadi jembatan bagi jiwa yang hampir putus asa. Sebuah doa yang dibisikkan lirih di sepertiga malam bisa menjadi tameng gaib bagi sahabat yang sedang berjuang di ujung badai. Dan sebuah kesediaan untuk duduk diam, mendengarkan isak tangis tanpa menghakimi, terkadang jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan nasihat medis. Kebaikan-kebaikan kecil inilah yang sering kali menyelamatkan hidup seseorang tanpa pernah kita sadari.
Sunyinya Jalan Keikhlasan
Ada sebuah sunyi yang indah dalam jalan keikhlasan. Ia bagaikan akar pohon yang tertanam jauh di dalam gelapnya tanah. Ia tidak pernah pamer kepada dunia betapa cantiknya bunga yang mekar di ranting, atau betapa manisnya buah yang bergelantungan di dahan.
Namun, tanpa keikhlasan sang akar yang terus bekerja dalam senyap, pohon itu akan tumbang dihantam angin.
Maka, tidak apa-apa kalau hari ini tidak ada satu pun manusia yang menyebut kita hebat.
Tidak apa-apa jika peluh dan air mata yang kita teteskan untuk orang lain luput dari pandangan mata dunia. Orang-orang yang ikhlas memang sering kali berjalan seperti angin—tidak terlihat rupa dan wujudnya, namun kesejukannya bisa dirasakan oleh siapa saja yang dilewatinya.
Pujian manusia hanyalah fatamorgana yang datang dan pergi secepat embusan angin. Ia bisa melambungkanmu ke langit dalam sedetik, namun bisa juga menghempaskanmu ke bumi pada detik berikutnya. Menggantungkan kebahagiaan pada pengakuan orang lain adalah cara paling fana untuk merayakan kehidupan.
Jangan Biarkan Hidup Berlalu Tanpa Makna
Waktu adalah anak panah yang melesat cepat dari busurnya. Ia tidak akan pernah berbalik arah. Setiap detak jantung kita adalah hitung mundur menuju sebuah titik henti yang pasti.
Yang paling menakutkan dari akhir sebuah perjalanan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan sebuah penyesalan yang terlambat:
ketika menyadari bahwa hidup kita telah lewat begitu saja seperti bayang-bayang yang menyapu bumi, lalu hilang tanpa pernah memberi manfaat apa pun bagi orang lain.
Mari merenung sejenak, menatap ke dalam diri. Jangan biarkan kita menjadi manusia yang egois, yang hanya sibuk mengumpulkan dunia untuk kepuasan diri sendiri.
Jadilah seperti lilin yang rela menghabiskan dirinya demi memberi terang pada kegelapan di sekelilingnya. Atau jadilah seperti mata air di tengah gurun, yang tak pernah meminta imbalan dari setiap musafir yang mereguk kesegarannya.
Sebab pada akhirnya, saat seluruh tirai panggung dunia ini ditutup, dan nama kita hanya akan terukir di atas batu nisan yang membisu, hanya ada satu pertanyaan yang benar-benar bermakna:
Sudahkah kehadiran kita menjadi berkah bagi semesta?
