
Meniti Jejak Proporsionalitas Hidup:
Seni Merajut Ridha Ilahi dan Keindahan Dunia
Ust. Boby Mulya, Lc., M.S.I
(Sekretaris Komisi Fatwa, Hukum dan Perundang-undangan DP MUI Kab. Kuansing)
Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan
Selasa, 9 Juni 2026
Fajar menyingsing di ufuk timur Taluk Kuantan, menyiram Masjid Raya Pasar dengan keteduhan yang damai. Di dalam ruang suci yang sarat dengan kekhusyukan, untaian puji bagi Allah Sang Maha Rahman mengalir lembut, diiringi selawat bermutiarakan salam yang dihantarkan kepada baginda mulia, Nabi Muhammad SAW.
Pagi itu, sebuah lentera pemikiran Islam diuraikan dengan begitu indah: sebuah refleksi tentang bagaimana Islam memandang kehidupan secara proporsional.
Islam sering kali dipahami secara keliru sebagai agama yang hanya berorientasi pada lembar-lembar kain kafan, sunyinya liang lahat, dan megahnya pengadilan akhirat kelak.
Padahal, sejatinya Islam tidak pernah menghapus jatah manusia untuk menapakkan kakinya dengan bahagia di atas bumi. Islam hadir bukan sebagai tirai besi yang menutup pintu-pintu kenikmatan duniawi, melainkan sebagai kompas yang menuntun manusia agar dapat menikmatinya tanpa tersesat.
Sebuah kisah sarat makna tersimpan dalam lembaran hadis sahih. Suatu ketika, di dalam keheningan masjid, Rasulullah SAW mendapati seutas tali yang terbentang di antara dua tiang.
“Tali apakah ini?” tanya beliau. Para sahabat menjawab, “Itu tali milik Zainab. Jika ia merasa lelah atau mengantuk dalam salat malamnya, ia akan berpegangan pada tali itu agar tidak terjatuh.”
Mendengar hal tersebut, apakah sang kekasih Allah memuji kegigihan yang melampaui batas fisik itu? Tidak. Dengan penuh kelembutan namun tegas, Rasulullah SAW memerintahkan,
“Lepaskan tali itu. Hendaklah kalian salat di saat bertenaga, dan jika merasa lelah, maka beristirahatlah.”
Melalui peristiwa historis ini, terpancar kilau kebijaksanaan nabawi tentang konsep hidup yang proporsional. Tubuh manusia bukanlah mesin tanpa rasa; ia memiliki hak-hak kodrati yang dititipkan oleh Sang Pencipta.
Ada hak mata untuk terpejam, ada hak otot untuk mengendur, dan ada hak ruhani untuk bermunajat. Menuntut tubuh beribadah di luar batas kemampuannya bukanlah bentuk ketakwaan yang sejati, melainkan sebuah kelaliman terhadap diri sendiri.
Konsep proporsionalitas ini selaras dengan firman Allah SWT yang abadi dalam Al-Qur’an:
وَّابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”
Ayat ini tidak menuntut keseimbangan matematis yang kaku sebab porsi urusan dunia dalam hitungan waktu sering kali tampak lebih dominan namun menuntut ketepatan porsi (proporsional).
Ketika azan berkumandang menandakan panggilan akhirat, maka lumatkanlah segala kesibukan duniawi dan berdirilah menghadap-Nya. Namun, tatkala tugas suci itu telah usai, kembalilah membumi.
Manusia diperkenankan untuk merajut asa, mencari nafkah, bahkan menikmati secangkir kopi hangat sembari mensyukuri embus angin pagi.
Dimensi keindahan Islam dalam memandang fitrah manusia juga tergambar unik dalam sebuah dialog antara Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Suatu hari, beliau bersabda,
“Jauhkanlah diri kalian dari duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat yang terbiasa berkumpul pun merasa berat dan berujar,
“Wahai Rasulullah, itu adalah tempat kami berkumpul dan bercengkerama.” Melihat kebutuhan sosial umatnya yang manusiawi, Rasulullah SAW tidak bersikap kaku. Beliau merevisi larangan tersebut dengan memberikan kelonggaran bersyarat:
“Jika kalian menolak (untuk meninggalkan tempat itu), maka berikanlah hak jalan tersebut.”
Yaitu dengan menjaga pandangan, menjawab salam, dan berkata yang baik.
Kisah ini menegaskan kembali bahwa Islam tidak pernah memangkas kebahagiaan sosial manusia. Berkumpul bersama kerabat, bertukar cerita di kedai, dan menikmati dinamika kehidupan adalah hal yang mubah, asalkan pilar-pilar syariat tetap tegak mengawal.
Kini, fajar telah merekah sempurna di Taluk Kuantan. Setelah raga bersujud menunaikan kewajiban subuh dan jiwa direndam dalam telaga ilmu, tibalah saatnya kita melangkah keluar masjid.
Islam telah menitipkan restunya bagi kita untuk menjemput bagian dunia kita hari ini. Mari bekerja, mari berkarya, dan mari menikmati hidup dengan rasa syukur yang mendalam. Karena sesungguhnya, menikmati karunia dunia dengan niat takwa adalah bagian dari ibadah yang luhur.
Ditulis: Ust. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Sekretaris Info dan Komunikasi DP MUI. Kab. Kiansing)
