Penutupan FLS2N Tingkat Nasional Di Medan, Jum’at, 21 Juni 2013 : Saya nonton bareng Setia Band Bersama Alumni SMAN Pintar di Medan.
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH Salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir baik maupun buruk.
Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan:
1. Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya.
2. Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
3. Mengimani masyi’ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya.
4. Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.
Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj [22]: 70). Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya), “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwir [81]: 29). Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaffaat [37]: 96). Pada ayat ‘Wa ma ta’malun’ (dan apa saja yang kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.
Macam-Macam Takdir
Takdir itu ada 2 macam:
[1] Takdir umum mencakup segala yang ada. Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, “Tulislah”. Kemudian qalam berkata, “Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).
[2] Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum. Takdir ini terdiri dari:
(a) Takdir ‘Umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas’ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara atau berbahagia.
(b) Takdir Tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar mengenai kejadian dalam setahun. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 4). Ibnu Abbas mengatakan, “Pada malam lailatul qadar, ditulis pada ummul kitab segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi dalam setahun.” (Lihat Ma’alimut Tanzil, Tafsir Al Baghowi)
Seorang muslim harus beriman dengan takdir yang umum dan terperinci ini. Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun iman yang wajib diimani.
SALAH DALAM MENYIKAPI TAKDIR
Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula yang terlalu berlebihan dalam menetapkannya.
Yang pertama ini dikenal dengan Qodariyyah. Dan di dalamnya ada dua kelompok lagi. Kelompok pertama adalah yang paling ekstrem. Mereka mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh. Mereka mengatakan bahwa Allah memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang taat dan berbuat maksiat. Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya. Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan tidak ada lagi.
Kelompok kedua adalah yang menetapkan ilmu Allah, namun meniadakan masuknya perbuatan hamba pada takdir Allah. Mereka menganggap bahwa perbuatan hamba adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah tidak menciptakannya dan tidak pula menghendakinya. Inilah madzhab mu’tazilah.
Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan ikhtiyar (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan Jabariyyah.
Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya), “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwir [81]: 28-29). Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua kelompok di atas. Pada ayat, “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” merupakan bantahan untuk jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri. Kemudian pada ayat selanjutnya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” merupakan bantahan untuk qodariyyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.
Keyakinan yang Benar Dalam Mengimani Takdir
Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, kekufuran dan kerusakan terjadi dengan ketetapan Allah karena tidak ada pencipta selain Dia. Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk adalah termasuk makhluk Allah. Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap yang dia kerjakan, bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya.
As Safariny mengatakan, “Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu (salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba. Dan hambalah yang menjadi pelaku perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah menjadikan hamba sebagai pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah” (QS. At Takwir [81]: 29). Maka dalam ayat ini Allah menetapkan kehendak hamba dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Inilah dalil yang tegas yang dipilih oleh Ahlus Sunnah.”
Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir. Mereka menyangka bahwa seseorang yang mengimani takdir itu hanya pasrah tanpa melakukan sebab sama sekali. Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan istrinya berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak meninggalkan sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya. Lalu dia mengatakan, “Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada mereka”. Sungguh ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir.
Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita bermalas-malasan. Apabila kita telah mengambil sebab, namun kita mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa dan bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.” (HR. Muslim)
Buah Beriman Kepada Takdir
Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini. Seseorang yang mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin bahwa hal itu pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya.
Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, “Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka.” (Shohih. Lihat Silsilah Ash Shohihah no. 2439)
Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang merupakan takdir Allah.
Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami adalah baik. Amin Ya Mujibbad Da’awat.
Sumber Rujukan Utama:
[1] Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod, Syaikh Fauzan Al Fauzan
[2] Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin
Dari artikel 'Memahami Takdir Ilahi — Muslim.Or.Id'
Bersama Alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi di Medan Sumatera Utara
Saat even Festival Lomba Seni Nasional, FLS2N SMA Tingkat Nasional yang dilaksanakan 16-22 Juni 2013 di kota Medan Sumatera Utara. Saya bertemu siswa kreatif, alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi yang kuliah di Medan. Suatu kenikmatan bathin dan kebaikan untuk meraih berkah Allah SWT, dengan saling silaturahiim.
Bertemu Alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi Di Depan Masjid Raya Al Mashun Medan. Merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Sulthan Deli dan masih dipergunakan oleh masyarkat Muslim untuk Sholat Setiap hari. Masjid Raya Al Mashun Medan yang berjarak 200 M dari Istana Maimoen Dibangun pada Tahun 1906 oleh Sulthan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah dan dipergunakan pertama kali pada tanggal 19 September 1909.
Alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi, Andi Kurniawan (Mahasiswa FMIPA USU), Bambang Rewanggi Mahasiswa UISU, Her Apriyandi (Mahasiswa Teknik Sipil USU), Merilin Cahyandini (Mahasiswa Kedokteran) Laila (Mahasiswa Kepustakaan USU), Wilda Fitrani Usman (Mahasiswa Medis), Sri Wahyuni (Mahasiswa Medis), Lilik (Mahasiswa Medis), saya bercengkrama dengan ngobrol-ngobrol ringan didepan Masjid Raya Al Mashun Medan.
Waktu memasuki sholat Magrib jam 18.45 WIB, waktu yang berbeda saat magrib di Kabupaten Kuantan Singingi Riau. Saya pun bersama mereka (alumni) menunaikan sholat berjamaah. Masjid sangat dipenuhi dengan jamaah yang hadir saat itu, karena banyaknya jamaah yang berasal dari 33 Provinsi di Indonesia . Subhanallah, umat muslim berkumpul dengan ramahnya. Dengan beragama budaya yang disatukan dengan tutur kata bahasa Indonesia bahasa persatuan saat komunikasi disana.
Selanjutnya saya bersama Novitania Putri (Peserta FLS2N SMA Tingkat Nasional Bidang Baca Puisi)dan alumni mencari jajanan atau makanan malam disekitar kota Medan, Alumni di Medan umumnya menggunakan kendaraan roda dua, untuk memudahkan perjalanan kuliah yang berjarak cukup jauh. Dengan diboncengi Bambang Rewanggi, dibawanya saya ketempat makanan khas kota jawa, Ayam Penyet, yang saya lupa namanya .(Maaf). Bersama mereka, saya makan malam bersama, saling ngobrol-ngobrol ringan mengingat kejadian semasa sekolah di SMAN Pintar Kuantan Singingi tahun 2007 hingga sekarang. Banyak cerita-cerita konyol yang keluar dari mulut alumni, membuat perut sakit dan airmata saya keluar dengan tertawa dan bahagia. Terima Kasih ya Allah, Engkau telah pertemukan saya dengan Alumni yang masih menjaga ahklaknya sebagai umat Muslim yang baik dan berkualitas (Sukses dan berkah buat alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi yang sedang kuliah di Medan)
Alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi di Medan yang telah kuliah, titip salam buat Guru dan Civitas SMAN Pintar, memohon doanya agar menjadi mahasiswa yang terbaik dan berprestasi dalam kuliahnya. Insya Allah. Aamiin. Salam alumni akan saya sampaikan sesampainya di SMAN Pintar Kota Teluk Kuantan Kab. Kuantan Singingi Riau.
Mohon maaf lahir dan bathin buat Alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi khususnya di Kota Medan Sumatera Utara, dan Alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi Generasi I, II, III, IV. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kebaikan, rahmat dan berhkahnya, dalam menjalani aktifitas dan kreatifitas kuliah. Kembali membangun negeri Kuantan Singingi!!! Salam AKI.
Bersama Kontingen FLS2N SMA dari Riau di Hotel Madani Kota Medan
Kiri Ke Kanan: M.Khairil (Seni Kriya), Intan (Seni Tari Berpasangan), Tri Kurniati (Seni Tari Berpasangan), Dila (Seni Kriya), Ronaldo Rozalino S.Sn (Pendamping, Pembimbing, Pelatih), Fauziah (Seni Baca Qur’an), Novitania Putri (Seni Baca Puisi), Annisa (Seni Cipta Puisi), Raihan (Seni Baca Qur’an)
Untuk kontingen Riau dibidang Seni Drama, Seni Desain Poster, Seni Vokal saat itu tidak bersama kami karena hotel penginapan yang berbeda dan kegiatan lomba yang berbeda pula. Mendapat kelaurga kecil baru saat mendampingi siswa dari Riau. Sungguh pengalaman yang takkan pernah terlupakan dalam mendampingi FLS2N SMA, siswa kreatif (otak kanan), yang memiliki bakat dibidang seni. Salam Aktif Kreatif Inovatif (AKI)
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
