
Menenun Kembali Benang Silaturahmi yang Sempat Terurai
Pertemuan Spontan Empat Sahabat di Jantung Kota Jalur
Bismillahirrohmanirrohim.
Malam itu, Ahad, 14 Juni 2026, langit di atas Kecamatan Kuantan Tengah meluruhkan rintik hujan yang tipis, membawa aroma tanah basah dan kesejukan yang tenang.
Di sebuah kedai sederhana di sudut kota Teluk Kuantan kota yang dengan bangga menyandang julukan legendaris, Kota Jalur sebuah kisah klasik tentang persahabatan kembali ditulis.
Tanpa untaian rencana yang rumit, tanpa janji yang diikat jauh-jauh hari, takdir menuntun empat langkah kaki untuk kembali berpijak pada titik temu yang sama.
Semuanya bermula dari sebuah getaran gawai. Sanak Wirta Magfirah mengirimkan pesan singkat, sebuah ajakan hangat untuk sekadar “kopi darat” mengusir penat bersama Memen Topeace.
Di belakangnya, hadir pula Sanak Amar Soleh yang turut serta melangkah bersama. Pada saat yang sama, denyut amanah sedang memanggil.

Sebagai Ketua Harian DKC Kuantan Tengah, saya tengah larut dalam diskusi penting bersama Pak Camat Kuantan Tengah selaku Pelindung DKC, merajut rencana dan arah gerakan ke depan.
Namun, begitu kewajiban itu usai ditunaikan, jiwa saya langsung ditarik oleh magnitudo kerinduan masa lalu. Langkah kaki ini bergegas menuju tempat di mana para konco seperjuangan telah menunggu.

Dua puluh enam tahun. Bukan waktu yang sebentar bagi rindu untuk mengendap. Sejak kami menanggalkan seragam abu-abu di SMKN 1 Teluk Kuantan pada penghujung abad lalu (1999–2001), waktu telah menempa kami menjadi pribadi yang berbeda, menerbangkan kami ke busur takdir masing-masing.
Kami adalah anak-anak Jurusan Bangunan Teknik Perkayuan, yang dahulu akrab dengan aroma serutan kayu dan presisi garis mistar, kini telah menjelma menjadi musafir di belantara kehidupan yang fana.
Di sekeliling meja kayu malam itu, sekat-sekat waktu runtuh seketika. Di sana ada Memen Topeace, sosok yang kini dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses meniti jalan di bisnis jual beli roda dua.
Di sisinya, duduk Amar Sholeh, yang dengan ketekunan dan senyum hangatnya telah berhasil menakhodai usaha travel hingga berkembang pesat.
Tak kalah membanggakan, Wirta Magfirah hadir membawa aroma dedikasi sebagai seorang montir ahli di bawah bendera besar perusahaan Honda.

Sementara saya, Ronaldo Rozalino, berdiri di hadapan mereka sebagai seorang guru seorang hamba yang memilih jalan sunyi untuk mengabdikan diri, mendidik tunas-tunas bangsa di bumi Kuantan Singingi yang kami cintai ini.
Mengingat kembali pesan agung Rasulullah SAW dalam hadits shahihnya, bahwa siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan diluaskan rezekinya hendaklah ia merajut tali silaturahmi, pertemuan malam itu terasa begitu sarat akan berkah.
Beragam profesi, perbedaan strata, dan riuhnya urusan dunia seolah menguap begitu saja. Di bawah naungan atap kedai yang bersahaja, di hadapan gelas-gelas kopi yang mengepul dan sisa hidangan yang melahirkan kehangatan, yang tersisa hanyalah ukhuwah islamiyah yang murni.
Candaan kecil masa sekolah kembali meluncur jenaka, tawa lepas pecah mengingat tingkah konyol kami saat menjadi siswa, melahirkan kembali kedekatan kekeluargaan yang begitu kental dan harmonis.

Pertemuan ini steril dari segala macam tendensi politik, bebas dari motif kepentingan tersembunyi. Ini murni tentang sebuah kepedulian antarsesama alumni, tentang bagaimana merawat akar yang pernah menumbuhkan kita.
Tepat ketika jarum jam berhimpit di angka dua belas malam, kami pun bersiap untuk berangsur pulang ke rumah masing-masing.
Sebelum melangkah pergi, kami mengabadikan momen tersebut dalam beberapa lembar foto bersama sebuah potret sederhana dengan acungan jempol dan senyum merekah, yang kelak akan menjadi saksi bisu bahwa di dunia ini. Kami pernah duduk bersama dalam satu frekuensi komunikasi dan doa yang menjiwa.
Terima kasih yang tak terhingga saya haturkan kepada para sanak, konco, dan sahabat, yang di tengah puncak kesuksesannya yang telah hadir dalam kehidupan dunia yang indah dan sahaja.
Terima kasih pula atas kebaikan hati dan traktirannya yang menambah berkah malam itu. Pertemuan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah babak pembuka yang manis.
Di hari-hari mendatang, kami telah bersepakat untuk kembali mencari waktu yang tepat demi merajut kembali pertemuan yang lebih berkualitas.
Bahkan, sebuah harapan kecil telah diapungkan: semoga pada perjumpaan berikutnya, Sanak Eka Putra, S.Sos., M.Si yang kini mengemban amanah sebagai Camat Kuantan, yang juga merupakan alumni SMKN 1 Teluk Kuantan sekaligus teman sekelas kami berempat dapat hadir melengkapi formasi persahabatan ini.
Kami akan selalu menanti lembaran cerita selanjutnya, barangkali di tempat ngobrol santai yang bernuansa klasik, namun tetap menempatkan keaslian rasa hidangan dan ketulusan obrolan sebagai menu utamanya.
Salam Silaturahmi.
Salam Kayuah, Kayuah, Kayuah!
Dari Kota Jalur, Kabupaten Kuansing.
Konco,
Ronaldo Rozalino
Alumni SMKN 1 Teluk Kuantan 1999-2001
Jurusan Bangunan Teknik Perkayuan


