
LENTERA SUBUH: Mengingat Rumah Masa Depan di Kala Fajar_Ustadz Seprion, S.Ag.,M.Pd (Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Kuantan Singingi)
TALUK KUANTAN — Ketika kabut pagi masih memeluk erat bumi Kota Jalur dan sejuk angin fajar membawa ketenangan yang melenakan, sekelompok hamba yang rindu akan ketenangan melangkah pasti menembus kegelapan.
Langkah kaki mereka bermuara di atas hamparan karpet hijau Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Di hari Jum’at yang penuh berkah, 19 Juni 2026, sebuah oase spiritual tersaji dalam untaian Majlis Ilmu Subuh Jum’at.
Hadir sebagai pembawa pelita ilmu, Ustadz Seprion, S.Ag, M.Pd, Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Kuantan Singingi sekaligus Guru MAN 1 Kuansing.

Dengan tutur kata yang tertata, sarat akan makna sastrawi yang menyentuh sanubari, beliau mengajak jemaah yang duduk bersimpuh merenungi hakikat ruang, waktu, dan kepulangan.
Menghitung Usia dalam Detik Spiritual
Ustadz Seprion membuka tausiyahnya dengan sebuah refleksi yang menggelitik kesadaran modern kita. Di tengah derasnya arus duniawi, manusia kerap kali sangat akrab dengan penanggalan Syamsiyah (Masehi) Januari hingga Desember dihafal luar kepala.
Namun, ketika ditanya kapan jemari takdir mencatat kelahiran mereka dalam kalender Hijriah, ruangan mendadak hening.
“Kita sering merasa masih muda, menghitung sisa umur dengan angka-angka dunia. Padahal waktu bergerak laksana anak panah yang melesat cepat lajak laju tanpa bisa ditahan,” ungkapnya dengan nada yang dalam.
Beliau mengingatkan bahwa pertukaran tahun dan bergulirnya waktu tak lain adalah sebuah runtunan rahasia yang telah digariskan di Lauhul Mahfuz, mengintai di balik tabir kepastian.
Magnet Kesalehan Fajar
Dalam keheningan rumah Allah, sebuah kalimat hikmah meluncur indah dari lisan sang guru:
“Jika kita memulai hari kita dengan amal kesalehan di waktu subuh, maka kesalehan-kesalehan berikutnya akan memanggil kita, ingin hadir ikut bersama kita sepanjang hari.”
Beliau memaparkan bahwa jemaah yang mengikatkan hatinya pada shalat subuh berjamaah, menegakkannya dengan zikir, lalu menyambungnya hingga shalat Isyraq, sejatinya sedang mengamankan perisai langit untuk seluruh aktivitasnya.

Namun, iman manusia laksana pasang surut air muara kadang menggebu, kadang melemah (loma). Ada masanya rajin sebulan, namun abainya tiga bulan. Keadaan naik-turun inilah yang menuntut manusia untuk terus berpegang pada pengingat yang paling kokoh: kematian.
Kematian: Energi di Balik Kejayaan Dunia
Mengingat kematian (dzikrul maut), di mata Ustadz Seprion, bukanlah sebuah jalan keputusasaan yang menghentikan langkah kehidupan. Beliau mematahkan stigma bahwa membicarakan kematian membuat manusia mundur secara ekonomi atau sosial.
Sebaliknya, mengingat akhir perjalanan justru menjadi bahan bakar utama bagi orang-orang saleh untuk menjadi manusia terbaik di bumi.
Beliau mengisahkan bagaimana seorang ulama tabiin, Rabi’ bin Khutsaim, menggali lubang seukuran kuburan di halaman rumahnya demi melihat ‘rumah masa depannya’ setiap kali melangkah keluar untuk urusan dunia.

Beliau juga membawa ingatan jemaah pada sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pemimpin agung yang berhasil membalikkan roda ekonomi hingga Baitulmal kebingungan mencari mustahik (penerima zakat) karena seluruh rakyatnya telah makmur menjadi muzakki (pemberi zakat).
“Tahukah kita apa rahasia di balik kesuksesan sang Khalifah? Hampir setiap malam sebelum memejamkan mata, beliau mengundang para ahli fikih. Bukan untuk merancang strategi politik perangnya, melainkan khusus duduk bersama mengaji tentang kematian,” urai Ustadz Seprion menyentuh hati.
Mengingat kematian melahirkan jiwa yang jujur, amanah, dan tidak rakus terhadap dunia, yang pada akhirnya melahirkan kemakmuran yang berkah.

Menanam ‘Kurikulum Cinta’
Di penghujung majelis, Ustadz Seprion menyampaikan amanah penting dari Kementerian Agama tentang konsep ‘Kurikulum Cinta’ di madrasah dan sekolah.
Para guru diimbau menggunakan lima menit pertama di awal kelas untuk menyiramkan benih-benih kecintaan kepada agama dan pencipta kepada anak didik.
Agar di saat usia mereka bertambah, ingatan mereka akan kewajiban suci tidak luntur oleh gemerlapnya dunia.
Suasana majelis kian syahdu saat jemaah hanyut dalam doa penutup, menyadari bahwa setiap desah napas yang tersisa adalah kesempatan yang kian menyempit.
Riuh rendah pasar Taluk Kuantan di luar masjid seolah meredup, digantikan oleh kesadaran baru di dalam dada setiap jemaah: bahwa hidup ini hanyalah sebuah perjalanan singkat menanti waktu shalat, dan setelahnya, kita adalah jemaah yang akan dishalatkan.
Reportase:
Ust. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Sekretaris Komisi Informasi & Komunikasi MUI Kab. Kuansing)


