Saat Jari Menari, Tradisi Lestari: Menanti Wajah Baru Logo Festival Pacu Jalur 2026
TELUK KUANTAN — Di bawah naungan langit malam yang tenang, aroma tanah berpadu syahdu dengan riuh rendah diskusi yang hangat di Kafe Tepi Sawah. Pada Selasa malam, 7 Juli 2026, tepat pukul 20.00 WIB, sebuah momentum penting bagi perhelatan akbar Festival Pacu Jalur Tradisional 2026 resmi bergulir.
Di sanalah, nakhoda pemikiran dan kreativitas berkumpul dalam agenda Rapat Penilaian Sayembara Logo Pacu Jalur Nasional.
Dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Juri Drs. Azhar,MM yang juga sebagai Asisten 3 Setda Kuansing , bersama 4 Dewan Juri Pacu Jalur 2026 lainnya.
Turut hadir Andi Cahyadi atau yang lebih karib disapa Bang Aheng Ketua Panitia Pacu Jalur 2026 bersama jajaran kepanitiaan, suasana malam itu terasa begitu khidmat sekaligus mendebarkan.
Di atas meja juri, tumpukan berkas karya bukan sekadar tumpukan kertas digital yang dicetak; mereka adalah perwujudan mimpi, curahan keringat, dan tafsir visual dari para kreator dari seantero negeri.
Goresan Jiwa dari Penjuru Nusantara
Antusiasme yang meledak melampaui batas-batas geografis. Sayembara ini tak lagi sekadar riak lokal, melainkan gelombang nasional.
Sebanyak 78 peserta dari berbagai kabupaten di Provinsi Riau hingga berbagai sudut di Indonesia turut mengirimkan bait-bait visual terbaik mereka.
“Ini adalah bukti nyata betapa cintanya anak bangsa terhadap warisan budaya Pacu Jalur. Sebanyak 78 karya dari seluruh penjuru Indonesia bertarung menunjukkan identitas terbaiknya,” ungkap Bang Aheng dengan binar mata penuh kebanggaan.
Guna menjaga kesucian sebuah karya seni tradisi, panitia menetapkan aturan yang kokoh: murni hasil kreativitas tangan dan pikiran manusia. Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) disingkirkan jauh-jauh. Di era ketika mesin begitu mudah meniru, kepanitiaan Pacu Jalur 2026 memilih setia pada ketulusan rasa dan kedalaman orisinalitas manusia.
Ketajaman Rasa Lima Dewan Juri
Malam itu, lima pasang mata dari Dewan Juri profesional yang disumpah melalui Surat Keputusan (SK) bekerja dalam kesunyian yang penuh ketelitian diantaranya Drs. Azhar, MM, (Ketua Dewan Juri), Darwis DT (Anggota Dewan Juri), Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd (Anggota Dewan Juri), Buyong Timadija (Anggota Dewan Juri), Surya Kurniawan, SH (Anggota Dewan Juri).
Mereka membedah lembar demi lembar karya melalui lima lensa objektif: orisinalitas murni, kedalaman makna dan filosofi, kejelasan deskripsi, kekuatan daya tarik visual, serta relevansi logo terhadap tema besar tahun ini: "Budaya Lestari Ekonomi Berseri".
Melalui dialektika yang panjang, saling tukar pandangan, serta benturan argumen keilmuan yang sehat, para juri menepis segala bentuk intervensi. Langkah demi langkah ditempuh dengan penuh kehati-hatian demi sebuah amanah kebudayaan. Dari puluhan karya tersebut, disaringlah 10 besar terbaik, hingga akhirnya mengerucut pada tiga takhta tertinggi: Juara 1, 2, dan 3.
Nantinya, sang pemenang utama tidak hanya membawa pulang uang pembinaan dan sertifikat. Karya emas sang Juara 1 akan diabadikan dalam lembaran sejarah, menjadi logo resmi Festival Pacu Jalur Tradisional 2026 yang akan melekat di setiap kaus, topi, kendaraan panitia, hingga cap resmi yang mengesahkan setiap jengkal administrasi perhelatan di Tepian Narosa pada 19–23 Agustus 2026 mendatang.
Seni adalah Proses yang Abadi
Bagi mereka yang menanti dengan dada berdebar, panitia menjadwalkan pengumuman resmi pemenang pada Jumat, 10 Juli 2026, melalui akun media sosial resmi panitia serta jaringan media online yang bekerja sama.
Apresiasi setinggi langit ditiupkan panitia kepada seluruh kreator yang telah menitipkan buah pikirannya lewat surat elektronik.
Seluruh karya yang masuk kini telah bertransformasi menjadi aset sejarah catatan abadi bahwa mereka pernah menjadi bagian dari gelombang pelestarian budaya bangsa.
Sebab bagi seorang desainer sejati, menang atau kalah hanyalah perhentian sejenak, bukan akhir perjalanan. Seni di era digital adalah proses merawat ide, mengasah rasa, dan menggoreskan makna pada kanvas zaman.
Seperti riak air yang didorong sebilah dayung di Sungai Kuantan, kreativitas tidak akan pernah berhenti mengalir. (RR)
Salam Desainer Budaya.
Salam Kayuah, Kayuah, Kayuah!
Berkarya Untuk Negeri.

Posting Komentar
Komentar ya