
Menyembelih Ego, Merajut Peduli: Catatan Hikmah dari Mimbar Syuhada_Ustadz H. Irsyad Azizi, Lc.,MA
Bismillah. Suasana khidmat menyelimuti Masjid Syuhada Beringin Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Di atas mimbar, Ustadz H. Irsyad Azizi, Lc., MA, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Syfaaturrasul sekaligus Wakil Ketua MUI Kabupaten Kuansingmenyampaikan untaian khutbah Jumat yang menggetarkan jiwa.
Tepat pada tanggal 29 Mei 2026, yang bertepatan dengan 12 Zulhijah, beliau mengajak jamaah merenungkan kembali hakikat kebahagiaan dan ketundukan seorang hamba di hari-hari tasyrik.
Karakteristik Kegembiraan Umat Islam: Takbir yang Menjaga Batas
Hari raya adalah hari ketika manusia berhak untuk tersenyum dan merayakan kebahagiaan. Namun, Ustadz Irsyad mengingatkan bahwa umat Islam memiliki karakteristik keistimewaan yang membedakannya dengan umat lain, bahkan dalam cara meluapkan kegembiraan.
“Orang beriman segembira apapun dia, dia tahu ada yang tidak boleh dilakukan. Ada batas-batas yang tidak boleh dilewati. Yang haram tetap haram, kendatipun sedang bergembira atau berpesta,” tegas beliau.
Kegembiraan seorang Muslim tidak boleh lepas dari koridor syariat. Tidak ada alasan untuk meliburkan kewajiban, seperti meninggalkan salat, hanya karena alasan sedang bersukacita. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Zayyinidukum bittakbir”—hiasilah hari raya kalian dengan takbir.
Secara khusus pada Idul Adha dan hari tasyrik, umat Islam dianjurkan melantunkan takbir bersama selepas salat wajib, dimulai sejak subuh hari Arafah (9 Zulhijah) hingga salat Asar pada hari tasyrik terakhir (13 Zulhijah). Bahkan dalam mazhab Hanafiyah, mengumandangkan takbir setelah salat di hari-hari ini hukumnya adalah wajib.
Sementara dalam mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali, hukumnya adalah sunah muakkadah—termasuk ketika hari tasyrik bertepatan dengan hari Jumat. Takbir ini adalah pengingat agung: sebahagia apa pun kita, ada Allah Yang Maha Besar yang harus ditaati.

Islam: Aturan Syamil yang Mengatur Hidup dan Mati
Hari tasyrik dinobatkan oleh Nabi ﷺ sebagai ayyamul akli wasyurbi—hari-hari untuk makan dan minum, di mana umat Islam diharamkan untuk berpuasa. Namun, di balik hidangan yang tersaji, terselip pesan bahwa seluruh lini kehidupan manusia tidak pernah bebas dari aturan Allah.
Islam bukanlah agama yang hanya hidup di dalam batas-batas dinding masjid, bukan pula sekadar urusan seremonial khitanan, ijab kabul pernikahan, atau salat jenazah. Islam adalah proklamasi totalitas hidup dan mati, sebagaimana yang diikrarkan oleh Nabi Ibrahim AS dan diperintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ:
Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin
“Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahku, sembelihanku, bahkan hidup dan matiku adalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Islam mengatur bagaimana kita bertetangga, bagaimana seorang pedagang menggelar lapaknya di pasar, bagaimana petani mencangkul sawahnya, bagaimana orang tua mendidik anaknya, hingga bagaimana sebuah pemerintahan dikelola. Idul Adha memanggil kita pada ketundukan yang total (kaffah) kepada-Nya.
Sejadah dan Sosial: Menyeimbangkan Hablum Minallah dan Hablum Minannas
Pelajaran berharga kedua yang didektekan oleh hari raya adalah tumbangnya anggapan bahwa takwa hanya berhenti di atas hamparan sajadah. Rajin salat, tekun tahajud, dan gemar berpuasa belum menjadi jaminan mutlak jika mata dan hati buta terhadap lingkungan sekitar.
Islam dengan keindahannya selalu menyeimbangkan antara hubungan kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan sesama manusia (hablum minannas). Jika Idul Fitri disempurnakan dengan zakat fitrah, maka Idul Adha ditandai dengan pembagian daging kurban.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras melalui sabdanya:
“La yu’minu bi… man bata syab’ana wajaruhu ‘ala janbihi ja’i’un wahuwa ya’lam.”
(Tidak beriman kepadaku, orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangga di sebelahnya kelaparan dan ia mengetahuinya).
Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj, Allah SWT berfirman:
Fa kulu minha wa ath’imul ba’isal faqir
“Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah sebagian lainnya untuk memberi makan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”
Ayat yang singkat ini mengandung makna filosofis yang dalam. Islam tidak melarang umatnya mengumpulkan kekayaan atau menikmati hasil jerih payahnya. Namun, Islam melarang keras sikap egois yang hanya menumpuk harta demi diri dan keluarga tanpa memedulikan orang lain.
Menyembelih Hewan, Membunuh Egoisme
Ketika sebilah pisau tajam digoreskan pada leher hewan kurban di hari raya dan hari tasyrik, sesungguhnya yang sedang kita sembelih bukan sekadar sapi, kambing, atau unta. Yang sejatinya harus luruh bersama tetesan darah hewan tersebut adalah egoisme diri kita sendiri.
Ibadah kurban adalah simbol kesadaran bahwa kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Takwa yang sejati tercermin dari bagaimana kita membangun empati, merangkul masyarakat, dan peduli pada sesama yang kekurangan.
Melalui momentum hari raya ini, mari kita bawa pulang pesan-pesan hikmahnya ke dalam rumah kita, keluarga kita, dan masyarakat kita. Semoga ketundukan total kepada Allah dan kepedulian yang tulus kepada sesama mampu mengantarkan kita menuju rida-Nya yang abadi.

Ditulis oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Sekretaris Komisi Kominfo MUI Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru SMAN 1 Sentajo Raya Riau, Guru Penggerak, Guru Konten Kreator Riau, Blogger, Bisnis Owner & Coach)


Posting Komentar
Komentar ya