Membuka Tirai Langit: Ketika Doa Terhijab oleh Kelalaian Hamba
TELUK KUANTAN – Fajar sabtu di pertengahan bulan Juli membawa keteduhan yang tak biasa di Masjid Raya Pasar Teluk Kuantan. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, hembusan angin subuh yang dingin seolah menuntun langkah kaki ratusan jemaah untuk merapatkan saf.
Kehadiran mereka bukan sekadar menunaikan kewajiban dua rakaat, melainkan rindu akan tetesan embun spiritual dalam Majlis Ilmu Subuh.
Majlis ilmu kali ini menghadirkan narasumber religius, Ustadz Dr. Irfandi, M.Pd., seorang akademisi dan dosen dari Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS).
Dengan tutur kata yang lugas namun kaya akan makna, ia membentangkan sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat nikmat, rasa syukur, dan misteri di balik doa-doa manusia yang kerap kali terasa tak berbalas.
Antara Limpahan Nikmat dan Jiwa yang Kufur
Mengawali untaian ceramahnya dengan hamdalah dan salawat yang menggetarkan sanubari, Ustadz Irfandi langsung menyentuh titik paling rapuh dalam diri manusia modern: ketidakmampuan untuk bersyukur secara utuh.
"Begitu banyak nikmat yang telah Allah hamparkan untuk kita hari ini. Udara segar yang mengalir ke paru-paru, detak jantung yang masih berirama, hingga kesadaran untuk melangkah ke rumah-Nya," tuturnya lembut, namun sarat penekanan.
Beliau kemudian menyitir ayat suci Al-Qur'an yang legendaris, sebuah pertanyaan retoris dari Sang Pencipta yang diulang berkali-kali: “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”—Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Ustadz Irfandi mengingatkan bahwa dalam realitas kehidupan, terlalu banyak manusia yang justru memanusiakan egonya hingga berujung pada kufur nikmat.
Meneladani Ibrahim bin Adham: Pangeran yang Memilih Jalan Zuhud
Guna memperjelas risalah takwa, sang ustadz memutar jarum sejarah menuju kisah klasik yang abadi: transformasi spiritual Ibrahim bin Adham. Dikisahkan kembali secara memikat bagaimana seorang putra mahkota kerajaan yang bergelimang kemewahan dan hobi berburu di tengah hutan belantara, tiba-tiba disentak oleh sebuah bisikan gaib yang merasuk langsung ke telinganya.
Bisikan itu mempertanyakan esensi keberadaannya di dunia: Apakah untuk ini engkau diciptakan?
Pertanyaan mistis itu meruntuhkan keangkuhan sang pangeran. Kesadaran fitrahnya bangkit. Ia menyadari bahwa dunia dan segala kesenangan fatamorgananya bukanlah tujuan akhir.
Merujuk pada firman Allah, “Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun” (Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku), Ibrahim bin Adham seketika menanggalkan jubah kebesarannya. Ia membuang waktu-waktu sia-sia yang bergelimang kelalaian dan memilih jalan sunyi sebagai seorang ahli zuhud.
Mengapa Doa Kita Terhijab?
Inti dari majlis subuh ini membedah sebuah tanya yang sering mengganjal di hati setiap mukmin:
"Mengapa doa kami yang dipanjatkan bertahun-tahun lamanya belum juga dikabulkan oleh Allah?"
Ustadz Irfandi mengajak jemaah membuka lembaran kitab Nasaihul Ibad. Di dalam kitab monumental tersebut, Ibrahim bin Adham memberikan jawaban menohok yang melintasi zaman. Sebab utama doa tidak terkabul adalah karena manusia mengenali Allah, namun tidak menunaikan kewajibannya kepada-Nya.
"Kita percaya sifat-sifat Allah, kita mengamini kebenaran-Nya, tetapi apa yang kita lakukan dalam keseharian? Kita memilah-milah ibadah sesuai selera kita," papar Ustadz Irfandi dengan nada prihatin. "Salat mau, sedekah tidak mau.
Sedekah rajin, tapi salat ditinggalkan. Puasa mau, tapi berbuat baik pada sesama enggan. Kita memperlakukan syariat seperti menu prasmanan."
Lebih jauh, ia menyoroti fenomena "ibadah musiman" atau ibadah yang didorong oleh motif-motif pragmatis keduniawian, seperti saat seseorang sangat rajin berdoa dan beribadah di kala mengikuti kontes seleksi pegawai (seperti P3K), namun seketika menarik tangannya ke bawah dan melupakan malam-malam sujudnya begitu hajatnya telah terpenuhi.
"Banyak dari kita yang bisa membaca Al-Qur'an secara fasih, namun hatinya tak tersentuh oleh peringatan azab yang tertera di dalamnya. Al-Qur'an hanya berada di kerongkongan, tidak meresap menjadi penuntun jiwa, sehingga maksiat jalan terus dan arti sabar saat diterpa musibah hilang tak berbekas," pungkasnya.
Catatan Akhir dan Nilai Literasi
Majlis ditutup dengan doa bersama yang khusyuk, menyisakan ruang kontemplasi bagi para jemaah yang hadir. Acara yang berlangsung tertib dan syahdu ini turut disaksikan oleh tokoh-tokoh literasi daerah.
Ditulis oleh: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. (Sekretaris Informasi & Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing).

Mashalaah tabarakallah ustadz... bagai siraman qolbu manusuk hati nan dalam sanubari , mengingtkan kita akan nikmat Allah SwT. Yang tak pernah putus pada seorang hambanya.