KUANTAN SINGINGI — Gemuruh riak Batang Kuantan yang senantiasa mengiringi tradisi Pacu Jalur kini akan berpadu dengan keheningan nada spiritual.
Dalam merayakan keagungan tradisi dan mempererat silaturahmi, helat Kuansing Bershalawat siap menggetarkan jiwa rakyat Kuantan Singingi sebagai bagian tak terpisahkan dari perhelatan akbar Festival Pacu Jalur Tradisional Tahun 2026.
Malam pembukaan yang sarat makna ini akan menghadirkan lantunan shalawat dari musisi religi legendaris Tanah Air, Abdullah Haddad Bin Alwi Assegaf yang akrab disapa Abi Haddad Alwi.
Kehadiran sosok penyalur rindu pada Sang Baginda Nabi ini diharapkan menjadi penyejuk hati, membawa kedamaian, serta memancarkan keberkahan di atas tanah budaya Kuansing.
Festival Pacu Jalur tak hanya sekadar ajang adu ketangkasan di atas air, melainkan simfoni persatuan, kerja sama, dan warisan leluhur yang senantiasa dihidupkan dari generasi ke generasi.
Melalui kegiatan Kuansing Bershalawat, ikhtiar kebudayaan ini disempurnakan dengan doa dan puji-pujian, memohon keberkahan agar helat nasional ini berjalan aman, damai, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
"Dayung yang mengayuh di sungai kehidupan membutuhkan haluan doa agar sampai ke tepian harapan dengan selamat dan penuh keberkahan."
Catat Waktu dan Tempatnya
Masyarakat Kuantan Singingi dan para wisatawan dipersilakan untuk hadir dan meramaikan malam penuh berkah ini:
Hari / Tanggal: Rabu, 19 Agustus 2026
Waktu: Pukul 19.30 WIB
Lokasi: Lapangan Utama Astaka MTQ
Acara: Kuansing Bershalawat Bersama Haddad Alwi (Sampena Festival Pacu Jalur 2026)
Mari bersama-sama kita merapatkan barisan, melantunkan puji-pujian, dan menyambut kemeriahan Festival Pacu Jalur Tahun 2026 dengan hati yang bersih dan bergemuruh dalam cinta.
Panitia Jalur Nasional Tahun 2026
Ketua Umum: Andi Cahyadi
Sekretaris Umum: Herika Putra, S.Sos
Reportase: Tim Kreatif dan Promosi Budaya
Seni Menjaga Hati: Ketika Kebaikan Menemukan Pelabuhannya yang Tepat
Dalam riak kehidupan yang dinamis, memberi dan mengasihi sering kali menjadi napas bagi jiwa-jiwa yang lapang. Namun, tidak jarang kebaikan yang diulurkan dengan tulus justru bermuara pada ruang kosong tanpa penghargaan, apalagi sepucuk rasa terima kasih.
Sebuah refleksi mendalam tentang pentingnya menetapkan batas diri (self-boundary) dalam berbuat baik.
Lewat sebuah pesan bijak yang lugas namun sarat makna, mengingatkan agar setiap individu belajar untuk lebih bijak dalam menyalurkan energi kebaikannya:
"Berhenti menyenangkan orang yang tidak pernah menghargaimu. Dan tidak pernah merasa berterima kasih dengan hal yang pernah diberi."
— Coach RR (Ronaldo Rozalino)
Pesan ini bukanlah ajakan untuk menjadi pribadi yang kikir atau penaruh dendam, melainkan sebuah seruan untuk menghargai diri sendiri.
Mengasihi orang lain memang sebuah kebajikan, namun terus-menerus mengorbankan ketenangan jiwa demi mereka yang tak tahu berterima kasih adalah bentuk pengabaian terhadap martabat diri.
Bingkai berukir kain Songket Minangkabau berbalut warna merah marun dan emas yang mengelilingi poster pesan tersebut makin mempertegas makna yang ingin disampaikan.
Dalam filosofi Minangkabau, ukiran songket bukan sekadar perhiasan, melainkan lambang keagungan adat, keteguhan martabat, serta kearifan lokal.
Basandi syarak, syarak basandi Kitabullah sebuah pengingat bahwa kebaikan harus berjalan selaras dengan akal sehat dan kehormatan diri.
Melalui imbauan ini, kita diajak untuk sejenak berhenti dan merenung:
Kepada siapa energi dan keikhlasan kita selama ini ditumpahkan?
Kebaikan yang sejati bagaikan benih unggul; ia akan tumbuh subur dan menyejukkan jika disemai di tanah yang tepat.
Membatasi diri dari lingkaran yang tidak menghargai bukanlah bentuk kesombongan, melainkan langkah awal untuk menyelamatkan kedamaian hati agar kebaikan kita tetap bernyawa dan tercurah kepada mereka yang benar-benar tahu cara menyambutnya dengan rasa syukur. (RR)
Ronaldo Rozalino
Gedung Baru Bukan Jaminan: Menelisik Esensi Perubahan Sekolah yang Sesungguhnya
Di tengah gempuran modernisasi pendidikan, kemegahan fisik kerap kali dijadikan tolok ukur utama keberhasilan suatu sekolah. Dinding-dinding yang baru dicat, fasilitas laboratorium yang canggih, hingga arsitektur gedung yang megah sering digadang-gadang sebagai penanda kemajuan.
Namun, di balik fondasi beton dan kemewahan visual tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Apakah sekolah benar-benar telah berubah?
Kesadaran kita bahwa perubahan hakiki sebuah lembaga pendidikan tidak terletak pada materi, melainkan pada jiwa dan sikap para penghuninya. Gedung dan anggaran hanyalah wadah; arah dan makna pendidikan tetap ditentukan oleh manusia di dalamnya.
Tiga Pilar Perubahan Sekolah
Sekolah tidak akan pernah berubah hanya karena fasilitasnya bertambah lengkap atau gedungnya diperbarui. Perubahan yang substantif baru akan berhembus ketika pilar-pilar utama di dalam sekolah mulai melangkah bersama:
Guru yang Tak Berhenti Belajar
Pendidik adalah lentera di dalam ruang kelas. Ketika seorang guru memelihara kerendahan hati untuk terus belajar dan mengasah diri, semangat pembaharuan itu akan mengalir lurus ke dalam sanubari para siswa.
Kepala Sekolah yang Membuka Telinga dan Hati
Kepemimpinan yang berjiwa besar lahir dari kebiasaan mendengar. Kepala sekolah yang mau menyimak aspirasi, keluhan, dan ide dari seluruh warga sekolah adalah pemicu lahirnya kebijakan yang adil dan berdampak.
Budaya Saling Menghargai
Pendidikan adalah ekosistem sosial. Ketika seluruh warga sekolah dari siswa, guru, staf, hingga orang tua saling menghormati, lingkungan belajar yang aman dan bertumbuh akan tercipta dengan sendirinya.
"Perubahan besar selalu dimulai dari sikap, bukan dari anggaran."
Kalimat tersebut menjadi pengingat menohok di tengah orientasi pendidikan yang kerap terkecoh oleh angka-angka rupiah. Anggaran yang melimpah tanpa disertai perubahan pola pikir (mindset) hanya akan melahirkan kemewahan yang hampa.
Sebaliknya, sikap pantang menyerah, keterbukaan, dan dedikasi mampu menghidupkan iklim belajar bahkan di tengah keterbatasan.
Langkah awal perubahan tidak membutuhkan formulasi yang rumit, melainkan komitmen pada hal-hal mendasar:
Menghargai guru, mendengarkan ide, membangun kerja sama, dan bersama-sama menciptakan perubahan.
Pendidikan bukanlah tentang seberapa megah tempat kita berdiri, melainkan seberapa jauh kita bersedia melangkah bersama untuk menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, jika kita menengok ke dalam lingkungan sekolah hari ini, perubahan apa yang sebenarnya paling mendesak untuk kita hadirkan? (RR)
Ronaldo Rozalino - Coach RR
Menyemai Jiwa di Balik Papan Tulis: 5 Ciri Guru Sejati yang Menuntun Tanpa Lelah
Di dalam riuh kelas yang tak pernah benar-benar hening, ada sosok-sosok yang hadir bukan sekadar untuk menghabiskan jam mengajar.
Mereka adalah para pendidik sejati jiwa-jiwa luhur yang memilih melangkah lebih jauh dari sekadar menuntaskan kurikulum.
Bagi mereka, mengajar bukanlah rutinitas penggugur kewajiban, melainkan sebuah panggilan jiwa.
Bagaimana kita dapat mengenali sosok guru yang benar-benar memiliki jiwa pendidik sejati.
Berikut adalah lima jejak kebaikan yang mereka tinggalkan dalam perjalanan menemani tumbuh kembang anak didik:
1. Mengajar dengan Hati, Bukan Sekadar Kewajiban
Di mata seorang pendidik sejati, deretan angka di lembar rapor bukanlah takdir akhir seorang anak.
Mereka tidak melihat murid sebagai tumpukan berkas evaluasi, melainkan benih-benih manusia yang sedang merangkak tumbuh.
Setiap sapaan dan penjelasannya dialirkan dari dalam dada, meresap lembut ke dalam sanubari para siswa.
2. Kesabaran Tumpah pada Murid yang "Sulit"
Ketika sebagian orang menyerah pada riak kenakalan dan kepatuhan yang goyah, guru sejati justru membuka lengannya lebih lebar.
Bagi mereka, anak yang "sulit" bukanlah beban yang menguras tenaga, melainkan sebuah teka-teki kehidupan yang menanti untuk dipahami dengan kasih sayang.
3. Menemukan Cahaya di Balik Redupnya Kekurangan
Tidak ada anak yang lahir tanpa keistimewaan. Guru sejati memegang teguh keyakinan ini. Ketika dunia menilai seorang anak dari keterbatasannya.
Sang pendidik justru sibuk merajut metode yang tepat agar potensi tersembunyi sang murid dapat menembus kegelapan dan bersinar terang.
4. Merunduk untuk Terus Belajar dan Berubah
Zaman terus berjalan, zaman terus berganti, dan karakter anak didik senantiasa bertransformasi.
Pendidik sejati tak pernah mengurung diri dalam kesombongan ilmu masa lalu. Mereka memilih untuk terus merunduk, belajar, dan beradaptasi agar tetap relevan dalam menuntun langkah generasi baru.
5. Menjadi Pelita Melalui Teladan
Pelajaran terhebat seorang guru acap kali tidak tertulis di papan tulis atau buku teks, melainkan terpancar dari gerak-gerik hidupnya sehari-hari.
Baginya, integritas dan kebaikan di luar ruang kelas adalah kurikulum kehidupan yang sesungguhnya.
"Beliau tak butuh riuh tepuk tangan atau megahnya pujian. Cukuplah melihat murid-muridnya tumbuh menjadi manusia yang berhati baik dan bermakna di sanalah letak kebahagiaan tertinggi seorang guru sejati." (RR)
Ronaldo Rozalino - Coach RR
Rahasia Kemenangan Lamine Yamal: Filosofi Doa dan Ikhtiar di Atas Rumput Hijau
Di tengah gemuruh sorak-sorai penonton dan megahnya panggung sepak bola dunia, ada satu pemandangan menakjubkan yang melampaui sekadar olah bola dan taktik permainan.
Ialah Lamine Yamal, bintang muda Timnas Spanyol yang mengenakan jersey bernomor punggung 19, menunjukkan bahwa keagungan sejati lahir dari kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.
Doa Sebagai Langkah Awal: Pesan Kasih Seorang Nenek
Sebelum peluit pertama dibunyikan dan kakinya menyentuh rumput lapangan, Lamine Yamal selalu menyempatkan diri untuk menengadahkan kedua tangannya.
Momen hening itu menjadi ruang privatnya bersama Tuhan di tengah riuhnya stadion.
"Aku membaca Surat Al-Fatihah dan juga mengucapkan beberapa doa yang nenekku ajarkan. Beliau selalu menasihatiku untuk membacanya sebelum setiap pertandingan agar Allah selalu memberkahiku."
Lamine Yamal, Pemain Timnas Spanyol
Warisan spiritual dari sang nenek menjadi fondasi yang kokoh bagi Yamal.
Membaca Al-Fatihah dan untaian doa bukan sekadar ritul rutin, melainkan pengakuan jujur akan keterbatasan diri sebagai manusia bahwa tanpa keberkahan dan pertolongan Allah, segala bakat dan latihan keras takkan berarti apa-apa.
Ikhtiar Tanpa Batas dan Ketundukan Akhir
Di antara awal dan akhir pertandingan, Yamal adalah sosok pemuda yang berlari sekuat tenaga. Ia memberikan seluruh keringat, fokus, dan perjuangannya tanpa kenal menyerah.
Namun, begitu pertandingan usai ketika kemenangan berhasil diraih dan trofi kejuaraan berada di genggaman ia tidak jumawa.
Yamal menutup perjuangannya dengan bersujud di atas lapangan hijau. Kepala yang menunduk hingga menyentuh rumput menjadi simbol kepasrahan dan rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat yang diterimanya.
Pembelajaran Hidup: Pelajaran dari Lapangan Hijau
Perjalanan Lamine Yamal mengajarkan sebuah filosofi hidup yang sangat indah dan bermakna:
Awali dengan Doa: Mulailah setiap ikhtiar dan cita-cita dengan memohon pertolongan Allah.
Jalani dengan Ikhtiar: Berjuanglah sekuat tenaga, berikan kinerja terbaik, dan jalani proses dengan kerja keras serta kerendahan hati.
Akhiri dengan Syukur: Tutup setiap perjuangan dengan kepasrahan, doa, dan rasa syukur atas apa pun hasil yang diberikan.
Kemenangan sejati pada akhirnya bukan hanya tentang deretan piala atau riuh tepuk tangan manusia, melainkan tentang hati yang selalu terhubung kepada Sang Pencipta sebelum, selama, dan sesudah perjuangan. (RR)
Ronaldo Rozalino - Caoch RR
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
