REKAHAN MEMORI DAN JEJAK PENGABDIAN
Sosok Eka Putra, S.Sos., M.Si. (Camat Kuantan Tengah) di Mata Para Sahabat
Oleh: Ronaldo Rozalino
Bismillahirrohmanirrohim...
Waktu laksana air yang mengalir tenang namun menghanyutkan. Di sudut ingatan tahun 1999, langkah kaki saya menapak di gerbang SMKN 1 Teluk Kuantan. Takdir menuntun saya memilih Jurusan Bangunan Teknik Perkayuan, sebuah tempat yang kelak tidak hanya menempa kayu menjadi berharga, melainkan juga menempa jiwa-jiwa muda menjadi manusia yang bermakna.
Di ruang-ruang kelas penuh debu gergaji dan aroma kayu itulah, saya pertama kali mengenal sesosok remaja bersahaja yang kini mengemban amanah besar: Eka Putra. Kami merajut jalinan karib, duduk berdampingan di bangku yang sama dari kelas satu hingga tamat meniti putih abu-abu.
Memori tentang masa-masa itu bagai album foto lama yang kembali terbuka. Di sana ada kepulan tawa dan bincang hangat bersama sahabat sekelas lainnya: Anes Parian, Wirta Magfirah, Dadang Mutaqiin, Supardi, Edi Suhendra, Edison, Memen Topeace, Wantaila Husin, dan Ardian Candra.
Eka Putra dan Sahabatnya Wirta Magfirah
Kami adalah potret dari beragam watak manusia. Ada yang jenaka, ada yang malas, bahkan terselip kenakalan-kenakalan remaja yang jamak terjadi. Namun, di balik semua riak masa muda itu, kami sejatinya sedang dalam pencarian jati diri, meraba arah menuju sebuah gerbang yang bernama kesuksesan di masa depan. Insya Allah.
Dua puluh tujuh tahun berlalu tanpa terasa sejak tahun 1999 hingga detik ini di tahun 2026. Angin nasib telah menerbangkan kami ke berbagai penjuru daerah dan provinsi di hamparan nusantara. Lama tak bersua raga, jarak sempat menjadi tabir yang membentang sunyi. Beruntung, bentangan zaman digital membawa berkah tersendiri.
Eka Putra dan Sahabatnya Anes Parian, Ronaldo Rozalino
Melalui ruang maya Forum Alumni SMKN 1 Teluk Kuantan, sekat-sekat jarak itu melebur. Di ruang itu, kami berkumpul tanpa ada tendensi maupun kepentingan politik apa pun. Kami hanya datang membawa sekeping rindu, mengetuk pintu masa lalu untuk sekadar bernostalgia dan memelihara jalinan silaturahmi agar tak lekang digilas waktu.
Satu hal yang membuat hati buncah oleh rasa syukur adalah melihat kawan-kawan seangkatan rata-rata telah menjelma menjadi "orang". Mereka telah memetik buah dari pohon perjuangan di bidangnya masing-masing: ada yang mengabdi sebagai guru, bergerak di dunia usaha sebagai pengusaha,Jurnalis Profesional. gagah berseragam TNI dan Polri, mencerdaskan bangsa sebagai dosen, hingga mengabdi untuk masyarakat sebagai pejabat daerah dan publik.
Eka Putra dan Sahabatnya : Aldi, Adi, Nanda
Keberhasilan ini tentu bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah buah dari tangan dingin, didikan penuh disiplin, serta tempaan tulus dari guru-guru hebat SMKN 1 Teluk Kuantan di bawah nakhoda Bapak Drs. H. Suyanto, MH., Kepala Sekolah yang memimpin kami pada kurun waktu 1999–2002.
Di balik seragam sekolah puluhan tahun silam, ingatan saya tentang Eka Putra masih terekam dengan amat jernih. Ia adalah pribadi yang sangat jarang absen dari sekolah. Disiplinnya menonjol, kecerdasannya tampak tanpa harus menyombongkan diri, dan yang paling membekas adalah senyumnya yang murah serta tawa lepasnya yang selalu membahana setiap kali ada sahabat yang melempar lelucon di tengah kelas.
Eka adalah personifikasi dari kesederhanaan. Ia selalu mengedepankan kerja sama dalam setiap kegiatan kelas maupun sekolah. Di luar jam akademik, ia adalah seorang pendekar yang aktif di cabang olahraga karate, sembari tetap mampu mempertahankan posisinya di peringkat lima besar di kelas.
Ada satu ciri khas unik yang tak akan pernah hilang dari ingatan kami: Eka selalu membawa buku yang dilipat rapi dan diselipkan di saku celana bagian belakang. Gaya kasual itu berbanding terbalik ketika ia sudah menghadap meja belajar. Ia akan berubah menjadi sosok yang sangat serius, tekun, dan penuh tanggung jawab.
Eka Putra bersama Kadisdik, Kadis Arsip, Forum Literasi Kuansing
Kegigihan itulah yang mengantarkannya lulus dengan predikat membanggakan, hingga mampu mendaki tangga pendidikan yang lebih tinggi ke jenjang Sarjana (S-1) dan Magister (S-2). Sebuah bukti autentik bahwa ia adalah manusia yang tak pernah lelah belajar demi memantaskan diri menjadi manusia yang terbaik dan bermanfaat bagi khalayak luas.
Setelah peluit kelulusan berbunyi di tahun 2002, jalinan komunikasi kami sempat terputus total. Saya memilih merantau menuntut ilmu di Padangpanjang, sedangkan Eka melangkah menuju Pekanbaru. Tiadanya aplikasi pesan instan seperti WhatsApp kala itu membuat kami kehilangan kontak untuk waktu yang cukup lama.
Saya bersama berlebaran kekediaman Eka Putra saat lebaran kemarin
Namun, kabar baik selalu menemukan jalannya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, saya mendengar selarik berita yang membanggakan: Eka Putra telah dipercaya menjabat sebagai Kepala PAM Teluk Kuantan, berlanjut menjadi Lurah Sei. Kering, dan kini, sebuah amanah agung diletakkan di pundaknya oleh Bupati Kuansing sebagai Camat Kuantan Tengah ibu kota dari Kabupaten Kuantan Singingi. Sebuah lompatan prestasi yang amat luar biasa!
"Amanah sebagai Camat Kuantan Tengah adalah beban yang teramat berat bagi siapa saja yang tidak memiliki urat kepemimpinan yang kokoh. Namun, di tangan seorang Eka Putra yang berada di usia muda, produktif, energik, dan visioner beban itu dipikul dengan penuh keikhlasan, disiplin, dan profesionalisme sebagai aparatur sipil negara yang merakyat."
Kini, pembuktian itu telah nyata. Berbagai torehan prestasi berhasil ia persembahkan untuk negeri, mulai dari meraih predikat Juara 1 Camat se-Sumatera Barat, menyelesaikan benang kusut persoalan sampah di Pasar Teluk Kuantan, hingga kebiasaannya yang gemar terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat demi mendengar detak nadi dan aspirasi warga Kuantan Tengah secara langsung.Eka Putra bersama Ayahnda Ir Maisir Ketua Muhammadiyah Kuansing
Sebagai sahabat karib yang pernah berbagi cerita di bangku sekolah, tak ada satu pun materi atau keuntungan pribadi yang saya harapkan darinya. Harapan saya sederhana: selagi amanah itu masih bertengger di pundak, jalankanlah dengan sebaik-baiknya kelurusan hati. Kami di sini hanya bisa melangitkan doa dan memberikan dukungan moril terhadap program-program pemerintahan, pendidikan, sosial, dan keagamaan yang ia canangkan demi kemaslahatan umat.
Jalan yang terbentang di hadapan Eka memang masih panjang dan berliku. Namun, saya memiliki keyakinan penuh, selama niat tulus membangun negeri menjadi nakhodanya, Allah SWT akan selalu membukakan jalan kemudahan.
Rintangan dan badai pasti akan datang mendera. Bukankah ada pepatah bijak mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon menjulang, maka akan semakin kencang pula angin yang menerpanya? Begitulah analogi sebuah jabatan publik; semakin tinggi amanah yang diemban, akan semakin berat pula ujian yang musti dilalui.
Saya teringat sebuah momentum syahdu saat kami menikmati secangkir kopi malam di persimpangan dekat kediamannya. Sebuah kalimat bijak mengalir begitu saja:
Leiden is Lijden
memimpin adalah menderita.
Sebuah penderitaan yang bermakna pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran untuk orang banyak. Namun, kita pun tahu bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kemudahan yang menyertai.
Eka Putra dengan sahabat ngopi bareng
Semoga setiap peluh, lelah, dan air mata yang mengucur dari raga Eka Putra dalam memimpin Kuantan Tengah bertransformasi menjadi Lillah menjadi ladang amal jariyah yang akan memperberat timbangan kebaikannya di akhirat kelak.
Teruslah melangkah tegak dan memajukan negeri ini, bergeraklah, Ndan! Sebuah panggilan akrab penuh kehangatan yang saya sematkan kepadanya sejak zaman sekolah hingga hari ini. Allah Maha Baik. Di bawah kendali pemimpin yang berintegritas, energik, dan tulus, negeri ini akan terus bersinar dan memancarkan kemajuan di berbagai lini kehidupan. Insya Allah.
Tulisan ini sengaja saya rakit bukan untuk pamer atau sekadar berbangga diri karena memiliki sahabat seorang Camat. Tulisan ini adalah sebuah refleksi kehidupan: jika kita ingin menjadi hebat, bergaullah dengan orang-orang hebat; jika ingin sukses, dekatilah orang-orang sukses; dan jika ingin menjadi hamba yang taat dan saleh, berkumpullah bersama orang-orang yang senantiasa menjaga kesalehannya.Eka Putra dan Istri Turut Mensukseskan MTQ Riau ke 44 di Kab. Kuansing.
Sukses selalu dalam setiap langkah pengabdianmu, Ndan! Pak Camat Kuantan Tengah!
Dari Sahabatmu, Ronaldo Rozalino Seorang Guru di salah satu sudut negeri Kuantan Singingi.
Eka Putra dan Istri bersama Bupati Kuansing, Kemenag Kuansing

Posting Komentar
Komentar ya