Memetik Kebahagiaan Dua Samudra: Tiga Pilar Kehidupan dalam Khutbah Jumat Ustadz Jabrius Jas di Masjid Syuhada Beringin Taluk
TELUK KUANTAN, Kuansing — Di bawah naungan kubah Masjid Syuhada Beringin Taluk, Kota Teluk Kuantan, suasana Jumat (24/7/2026) terasa begitu khidmat.
Angin siang berhembus lembut menyapa ratusan jamaah yang duduk bersila dalam simfoni ketenangan, menyimak petuah kebaikan yang berhembus dari mimbar utama.
Hadir sebagai khatib, Ustadz Jabrius Jas, S.Pd.I, menyampaikan khutbah bermakna mendalam tentang rahasia merengkuh kebahagiaan sejati kebahagiaan yang tidak hanya mekar di alam dunia, tetapi juga abadi hingga ke alam akhirat.
Kebahagiaan yang Harus Diperjuangkan
Dalam mimbar khutbahnya, Ustadz Jabrius Jas menegaskan bahwa di relung hati setiap insan beriman, selalu bersemayam kerinduan akan kehidupan yang bahagia.
Tidak ada satu pun jiwa yang rela kebahagiaannya terputus hanya sampai di pintu kubur, sebagaimana tak ada pula yang ingin mengabaikan kebaikan di atas bumi.
Namun, sang Ustadz mengingatkan bahwa kebahagiaan bukanlah buah gantung yang jatuh begitu saja.
"Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan ikhtiar yang nyata selama helai napas masih dikandung badan," pukas beliau di hadapan jamaah yang menyimak penuh khusyuk.
Ustadz Jabrius Jas kemudian merangkum tiga pilar utama yang menjadi kunci pembuka pintu kebahagiaan di dua alam tersebut:
1. Pelita Ilmu: Penerang Jalan Dunia dan Akhirat
Langkah pertama yang mutlak dimiliki setiap hamba adalah ilmu. Mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani:
Barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan dunia, hendaklah ia memiliki ilmunya. "Barangsiapa menghendaki kebahagiaan akhirat, hendaklah ia memiliki ilmunya.
Dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, hendaklah ia berbekal ilmu."
Menurut beliau, ilmu adalah kompas kehidupan. Tanpa ilmu dunia, manusia akan tersesat dalam pemenuhan kebutuhan lahiriah; dan tanpa ilmu akhirat, jiwa akan tumpul serta kehilangan arah menuju ridha Ilahi.
2. Komitmen Hijrah: Keberanian Mengubah Diri
Pilar kedua adalah komitmen (itikad hati yang kuat) untuk memutus rantai kebiasaan buruk dan menggantinya dengan jejak-jejak kebaikan.
Manusia memang bukan malaikat yang suci dari dosa, bukan pula nabi yang terbebas dari cela. Namun, kekhilafan masa lalu bukanlah alasan untuk mempertahankan keburukan.
Ustadz Jabrius Jas mengetuk kesadaran jamaah dengan menukil firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Ar-Ra'd ayat 11 (yang kerap dirujuk relevansinya dengan Surah An-Nur)
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
Hijrah sejati dimaknai sebagai keberanian untuk berjanji pada diri sendiri: hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih mulia dari hari ini.
3. Pasang Surut Iman dan Keindahan Amal Saleh
Pilar ketiga adalah menjaga iman dan memupuk amal saleh. Sang khatib menggambarkan iman manusia bak gelombang air laut ada kalanya pasang melimpah, ada kalanya surut menjauh.
"Ketika iman kita sedang pasang, pukul sebelas siang kita sudah bergegas melangkah ke masjid. Namun saat iman sedang surut, betapa beratnya tubuh membangkitkan diri meski azan Subuh telah bergema," tutur beliau mengalirkan analogi yang menyentuh realitas kehidupan sehari-hari.
Untuk menjaga agar iman tak hanyut dalam kesurutan, amal saleh harus terus dipupuk. Ladang pahala tersebar luas di sekeliling kita: menyapa tetangga, menyantuni kaum dhuafa, merawat anak-anak yatim, serta mengulurkan tangan bagi orang-orang terlantarkan di sekitar rumah dan surau kita.
Sebagai penutup khutbah, beliau memetik hikmah abadi dari Surah Al-'Asr: bahwa sejatinya seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Khutbah Jumat di Masjid Syuhada Beringin Taluk siang itu tidak sekadar menjadi ritual rutin, melainkan menjadi penyejuk dahaga spiritual di tengah hiruk-pikuk dunia.
Rangkaian pesan yang disampaikan Ustadz Jabrius Jas mengajak setiap jiwa untuk pulang dengan membawa tekad baru: menuntut ilmu, memperbaharui niat, dan memperbanyak bekal amal.
Diberitakan / Ditulis oleh:
Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Sekretaris Informasi & Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing)
