Antara Ketulusan dan Takabur: Kala Kebaikan Tak Lagi Dihargai
Pernahkah Anda menyaksikan sebatang pohon yang menjulang tinggi, meneduhkan siapa saja di bawahnya, namun saat angin bertiup kencang, daun-daunnya justru berguguran menutupi dan mengotori akarnya sendiri?
Alih-alih berterima kasih karena telah disuplai nutrisi hingga bisa menyapa langit, sang daun seolah lupa dari mana ia berasal.
Begitulah perumpamaan sebuah peribahasa klasik yang amat masyhur di telinga kita: kacang lupa pada kulitnya.
Di panggung kehidupan hari ini, fenomena ini bukanlah fiksi semata. Betapa sering kita menyaksikan kebaikan tulus yang diulurkan seseorang, justru dibalas dengan rasa tidak tahu berterima kasih.
Lebih menyakitkan lagi, tangan yang dulu merangkul saat jatuh, kini malah ditikam dari belakang dengan bisikan fitnah dan gunjingan.
Seseorang yang dibantu kerap kali merasa dirinya paling benar setelah berada di atas.
Rasa pongah perlahan mengikis rasa hormat, hingga ia meremehkan dan memandang sebelah mata sosok yang pernah menjadi jembatan bagi kesuksesannya. Ini bukan sekadar perkara etika antarmanusia, melainkan penyakit hati yang amat pekat.
Ketulusan yang Dilukai Gengsi dan Kesombongan
Ketika seseorang tenggelam dalam rasa tidak tahu terima kasih, ia sebenarnya sedang mengidap krisis kesadaran. Ia lupa bahwa tidak ada satu pun pencapaian hari ini yang murni berdiri di atas kakinya sendiri.
Selalu ada jemari orang lain yang menopangnya sewaktu rapuh, ada doa yang diucapkan diam-diam, dan ada pengorbanan yang tak pernah meminta pamrih.
Namun, mengapa kebaikan justru sering dibalas dengan rasa tidak menghargai?
Jawabannya adalah kesombongan.
Bagi jiwa yang congkak, mengakui kebaikan orang lain dianggap sebagai bentuk kelemahan. Maka dari itu, cara terbaik untuk menutupi rasa minder dan melanggengkan ego adalah dengan menjelek-jelekkan sang penolong di belakang, mencari-cari celah dan celanya, serta memandangnya remeh.
Padahal, dalam pandangan Islam, menghargai sesama manusia adalah cermin langsung dari kualitas iman dan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta.
Pujian Islam Bagi Jiwa yang Tahu Berterima Kasih
Islam mengajar keindahan bertatakrama dan kemuliaan akhlak. Agama yang mulia ini menekankan bahwa rasa syukur kepada Allah SWT tidak akan pernah sempurna jika seseorang masih mengabaikan kebaikan sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang sangat tegas:
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
"Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia."
(HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menegaskan betapa eratnya hubungan antara hablumminallah dan hablumminannas. Mengabaikan kebaikan orang lain, apalagi membalasnya dengan tusukan dari belakang, adalah tanda tumpulnya rasa syukur di dalam dada.
Lantas bagaimana dengan mereka yang suka menjelek-jelekkan dan mencari-cari kesalahan orang lain di belakang? Al-Qur'an memberikan peringatan keras bagi orang-orang yang gemar mengumpat dan mengeringkan nilai-nilai kebaikan dengan lisan yang tajam:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
"Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela."
(QS. Al-Humazah [104]: 1)
Sifat merasa paling benar dan meremehkan sesama adalah bibit dari sifat takabur. Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang hakikat kesombongan:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
"Kesombongan adalah menolak truth (kebenaran) dan meremehkan/merendahkan manusia."
(HR. Muslim no. 91)
Tetaplah Menjadi Air yang Jernih
Bagi Anda yang mungkin saat ini sedang berada di posisi "sang kulit" yang kebaikannya dilupakan, disalahartikan, atau bahkan dibalas dengan celaan jangan pernah menyesal telah menjadi orang baik.
Kebaikan yang dikeluarkan dari hati yang tulus tidak akan pernah lenyap begitu saja. Jika manusia lupa membalasnya, catatannya tidak akan pernah terhapus di langit.
Biarlah mereka menjadi kacang yang lupa pada kulitnya, namun pastikan kita tidak pernah berubah menjadi pribadi yang berhenti menebar manfaat.
Jadilah seperti pohon buah; walau dilempari dengan batu, ia tetap membalasnya dengan menjatuhkan buah yang manis. Sebab pada akhirnya, setiap orang akan memanen apa yang ia tanam, dan setiap lisan akan mempertanggungjawabkan apa yang ia ucapkan.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dari sifat sombong, lupa diri, dan tidak tahu berterima kasih, serta menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Ditulis oleh:
Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd, C.PS, C.ME, C.TP, C.TCC, C.QEM, C.TM, C.IB, C.HTeach, Etc
(Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretaris Informasi dan Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Koordinator Bidang Guru Konten Kreator Riau, Penulis Puluhan Buku, Motivator Literasi & Edukasi, Composer & Arranger, Business Owner, Blogger, Coach)
