Menjaga Kesucian Hati di Tengah Duri Pengkhianatan
*Ronaldo Rozalino*
Luka akibat dikhianati atau dikecewakan adalah salah satu ujian paling memar dalam perjalanan hidup manusia. Ketika kepercayaan yang dirajut sekian lama runtuh dalam sekejap, wajar jika rasa pedih menyergap dada.
Namun, menampung rasa sakit itu hingga menjelma kebencian hanya akan memenjarakan jiwa kita sendiri dalam kegelapan yang tak berkeseudahan.
Rasulullah SAW adalah teladan agung yang melintasi samudera ujian tersebut. Beliau dilempari batu di Thaif, dicaci, dan dihianati, namun tak pernah membiarkan ceceran luka itu mengubah hatinya menjadi legam oleh dendam.
Akhlak beliau tetap mekar anggun, menjadi bukti bahwa kemuliaan sejati bukan diukur dari bagaimana orang lain memperlakukan kita, melainkan bagaimana kita menjaga kesucian hati di tengah badai kekecewaan.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur'an untuk senantiasa menolak keburukan dengan cara yang jauh lebih indah:
QS. Fussilat [41]: 34
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia."
Membalas pengkhianatan dengan keburukan yang serupa hanya akan menyamakan kelas kita dengan mereka yang menyakiti. Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadits:
HR. Tirmidzi
"Janganlah kalian menjadi orang yang 'imma'ah' (ikut-ikutan), yang berkata: 'Jika orang-orang berbuat baik kepada kami, kami pun berbuat baik; dan jika mereka berbuat zhalim, kami pun berbuat zhalim.' Tetapi kondisikanlah diri kalian: jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah; dan jika mereka berbuat jahat, janganlah kalian membalas kejahatan itu."
Penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara memaafkan dan membiarkan diri terus disakiti. Memaafkan adalah keputusan melepaskan beban di dada agar jiwa kembali lapang, bukan berarti pasrah tanpa perlindungan.
Kita berhak memaafkan sambil menegakkan batas yang sehat (healthy boundaries) mengambil pelajaran, menjaga jarak yang aman, tanpa harus menyiram benih dendam dalam pikiran.
Ketika bayang-bayang amarah datang mengusik, tundukkan hati dengan melantunkan istighfar, meresapi dzikir, dan mengalirkan shalawat kepada Sang Nabi. Biarkan bait-bait doa itu menjadi penawar yang membasuh jelaga kebencian, hingga hati kita kembali teduh dan dipenuhi kedamaian yang sejati.
Ditulis: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretatis Informasi & Komunikasi DP MUI Kuansing, Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Motivator Literasi & Edukasi, Guru Penulis & Blogger, Guru Konten Konten Kreator Riau, Bisnis Owner Leader, Coach)
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
13 tahun yang lalu

Posting Komentar
Komentar ya