Seni Mengambil Jarak: Kala Al-Qur'an Mengajarkan Kita Menjaga Hati dari Racun Kehidupan
Di tengah riuhnya interaksi sesama manusia, kerap kali kita berpapasan dengan lisan-lisan yang menusuk dan kehadiran yang melelahkan jiwa. Tak jarang, hati yang letih berbisik ingin melangkah pergi, namun nurani ragu: Apakah menjauh adalah bentuk kelemahan, ataukah sebuah keharusan?
Islam, dalam kelembutan petunjuknya, ternyata tidak pernah menuntut hambanya untuk terus bertahan dalam himpitan lingkungan yang merusak. Menjaga jarak dari orang-orang yang membawa racun keburukan atau yang dalam istilah modern kita kenal sebagai pribadi toxic bukan sekadar pilihan logis untuk kedamaian emosional. Lebih dari itu, ia adalah sebuah keanggunan sikap yang dianjurkan dan diperintahkan langsung oleh Sang Maha Pencipta.
Isyarat Suci dari Surah Al-Muzzammil
Mari menepi sejenak pada untaian firman Allah SWT dalam Surah Al-Muzzammil ayat 10:
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
"Wasbir 'ala ma yaquluna wahjurhum hajran jamilan"
Artinya: "Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik." (QS. Al-Muzzammil: 10)
Frasa "Wahjurhum hajran jamilan" menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berhijrah atau menjauh (hajr), melainkan menyertakannya dengan sifat jamilan yaitu dengan cara yang indah, santun, dan bermartabat. Menjauh tanpa perlu menyebarkan dendam, pergi tanpa harus membalas keburukan dengan kejahatan yang serupa.
Lantas, siapakah sosok yang diisyaratkan untuk kita jauhi? Yaitu mereka yang dilukiskan dalam klausa sebelumnya: "Wasbir 'ala ma yaqulun". Mereka adalah pribadi-pribadi yang lisan dan perilakunya tak mampu dijaga. Setiap kata yang terucap kerap menggores luka, setiap kedatangan menyemaikan fitnah baru, dan setiap hadirnya hanya menambah keruhan suasana.
Melindungi Hati, Menutup Pintu Fitnah
Langkah untuk mengundurkan diri dan mengambil jarak bukanlah tanda kekalahan atau keputusasaan. Justru, menghindar dari lingkaran yang penuh racun adalah bentuk ikhtiar menjaga kesucian hati dan kehormatan diri.
Daripada terus berada dalam satu arena yang hanya menjadi bahan bakar munculnya prasangka dan fitnah baru, melangkah pergi adalah keputusan yang paling bijaksana. Menjauh secara anggun memastikan bahwa energi jiwa yang kita miliki tidak habis terbuang dalam drama manusia yang tiada usai.
Ketika Allah 'Pasang Badan' untuk Hamba-Nya
Muncul sebuah keraguan yang wajar dalam diri: Bagaimana jika setelah kita menjauh, mereka justru semakin menjadi-jadi? Bagaimana jika prasangka dan bisik-bisik keji itu semakin kencang bergulir di belakang kita?
Jawabannya terukir indah pada ayat berikutnya:
وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ
"Wazarni wal mukadzibin..."
Artinya: "Dan biarkanlah Aku bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu..." (QS. Al-Muzzammil: 11)
Serahkanlah segalanya kepada Pencipta semesta. Ayat ini membawa ketenangan yang sangat mendalam: "Biar Aku yang menghadapi mereka, jangan kamu."
Allah SWT seolah menegaskan agar hamba-Nya tidak perlu menghabiskan daya, pikiran, dan ketenangan jiwa hanya untuk melayani ketidakbaikan manusia. Biarkan keadilan Ilahi yang bekerja dengan cara-Nya yang paling sempurna.
Sungguh sebuah kehangatan spiritual saat kita menyadari bahwa ketika kita memilih taat untuk menjauh demi menjaga kedamaian hati, Allah sendiri yang 'pasang badan' melindungi hamba-Nya. Tugas kita hanyalah terus melangkah dalam kebaikan, sementara bagian yang menyakitkan biarlah digenggam oleh keadilan-Nya.
Ditulis Oleh: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Diadaptasi dari tausiyah Ust. Hanan Attaki)
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
13 tahun yang lalu
